Sambil berpikir keras dan duduk tegang di kursi, aku tanpa sengaja melirik ke arah jam yang ada di dinding kamar Maxim. Aku terkejut saat menyadari kalau sekarang sudah hampir pukul tiga. Biasanya aku sudah shalat tahajud beberapa rakaat.
Dengan tergopoh aku beranjak, ke kamar mandi Maxim dan bergegas mengambil wudhu. Ketika masuk ke dalam kamar mandi, aku kembali terkejut saat melihat alat perawatan yang di gunakan Maxim. Ada sabun susu kambing, ada lulur mandi, dan.. Aku tak terlalu mengerti benda-benda ini. Ternyata dia perawatan sebegitunya? Mana yang di gunakan produk untuk memutihkan kulit semua. Haha, apa karena dia bule berkulit coklat, jadi dia ingin putih???
Aku menggeleng sambil berwudhu, bergegas melaksanakan shalat sunah. Anehnya, di kamar Maxim tidak ada sajadah. Aku tak bisa menemukannya. Jadi, aku shalat dengan sehelai kain yang ku yakini masih bersih. Palingan aku di marahi Maxim karena sembarangan membuka lemarinya.
Di kamarnya juga tak ada Al Qur'an, sementara ponsel ku tertinggal di kamar. Jadi selepas subuh, aku mengaji dengan hafalanku. Surah Al Kahfi.
Selepas mengaji, aku melihat ke arah jendela kamar sembari melipat kain Maxim. Tak terasa ternyata hari sudah terang. Bagaimana keadaan Maxim? Apa dia bisa tidur nyenyak??
Aku keluar dari kamar Maxim, bersamaan dengan Ciko yang rambutnya acak-acakan, belekan memenuhi matanya dan ada bekas air liur yang hampir mengering di pipinya. Aku diam dan mengamatinya, bisa-bisanya ia keluar kamar sebelum cuci muka.
Ciko hanya diam sambil memandangiku dengan wajah cengo. "Loh, Max. Kok sekarang muka elu udah mirip Agam? Apa luluran yang lu beli pakai grab kemarin ampuh??" tanyanya polos, sepertinya belum siuman.
"Ampuh kok, lu mau make juga?" tawarku, meladeninya.
"Tapi.. Kok terlalu mirip sih sama Agam?" ucapnya sambil mengerjap dan berjalan mendekatiku. Tiba-tiba saja Max dan Kun keluar bersamaan dari kamar yang berdampingan. Mereka saling berpandangan dan Ciko ikut terkejut sambil memandangi wajahku dan juga Maxim. "Loh, kok Agam berubah jadi Maxim sih? Gak putih merona lagi?! Jadi Oren!!" pekiknya rusuh.
"Oren Oren!! Lu kira gue monyet!! Gue Max, dia bulan sabit!! Masa' lu gak bisa bedain?!" bentak Maxim, dan seketika ia terdiam lalu meringis. Dasar ceroboh, sudah tau sedang terluka, tapi susah sekali mengendalikan emosinya. "Oi, bulan sabit. Gue pinjem baju kaos elu." sambungnya sambil menyentuh perut, dan aku mengiyakan dengan mengangkat alis.
"Lah?! Kok tukeran kamar? Jangan-jangan kalian berdua," Kun menghentikan ucapannya. "Bertukar menu makanan ya?! Curang sekali!! Kenapa tak ajak-ajak saya?!" protesnya sambil menggembungkan pipi, membuatku mengernyit bingung. Ku pikir mau bilang apa, ternyata perihal makanan saja yang membuatnya tak terima.
"Oh? Jadi, kalian tukeran kamar?? Tapi.. ngapain tukeran kamar? Beneran tukeran makanan, ya?" timpal Ciko sambil planga-plongo.
"Cih!! Yang bikin lu berdua mau tau banget urusan orang tuh kenapa??" gerutu Maxim.
Tak lama berselang, muncul suara pengumuman waktu sarapan kami di speaker. Mendengar hal itu, Kun langsung berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Yeaaah!! Sarapan pagi!!" pekiknya.
"Wuhuuuuu!! Gue laper banget. Dari malam tadi puasanya!!" seru Ciko juga.
Kun langsung terdiam dan melirik Ciko dengan kernyit. "Kamu puasa di malam hari? Puasa apa itu memangnya?"
"Puasa mengirit jatah bulanan! Hahaha!!" ucap Ciko sambil tertawa puas.
Merasa di permainkan, Kun hanya diam dan menatapnya. Tiba-tiba saja ia memasang wajah jahil sambil berteriak. "Yang paling lambat sampai ke kantin pacarnya Mar (Orang gila di kampung kami)!!" pekik Kun sambil hendak berlari, membuat Ciko segera menyusul.
"Oi!! Curang itu!! Gue gak mau jadi pacar Mar!!" Pekik Ciko di belakang Kun. Mereka malah main kejar-kejaran di koridor asrama, membuat beberapa orang yang lewat dan keluar kamar terjungkal karena di dorong oleh Kun.
"Huh! Kekanakan banget!" ujar Max sambil sok keren dan sesekali melirik ke arahku.
"Lu bisa jalan sendiri gak? Soalnya kalau di papah, nanti orang-orang bakalan tau kalau elu terluka."
Max menatapku dengan sinis. "Lu pikir gue ini cengeng!! Cuma di tusuk gunting doang mah gak ada apa-apanya bagi gue. Gak sakit sama sekali!" ujarnya angkuh, sambil berjalan mendahului ku.
"Yaudah, entar gue yang tusuk pakai linggis." Max langsung terkesiap dan menoleh ke arahku dengan wajah polos. "Becanda doang." balasku datar.
Kami berjalan bersama ke kantin asrama. Di sana, Ciko dan Kun telah tiba duluan. Mereka juga membawa nampan kami berdua, dan ketika kami mendekat, Kun langsung memberikannya padaku.
Ciko melakukan hal yang sama, memberikan nampan kepada Maxim. Tapi saking grasak-grusuknya, aku terkesiap kala melihat nampan Ciko mengarah ke luka di perut Max, dan...
Ctang!!!
Suara benturan nampan stainless terdengar, membuat seisi kantin menoleh ke arah kami sekelabat. Para gadis yang awalnya terlihat marah, malah langsung terbelalak lalu tersenyum.
"Kun, ngapain sih?!" keluh Ciko karena merasa malu di perhatikan orang-orang.
"Tidak sengaja." sahut Kun dengan wajah datar.
Baik aku dan Max langsung berpandangan. Bukankah yang mengetahui luka di perut Max, hanya aku dan ibu asrama. Lalu Kun?? Kenapa ia melindungi Max dengan nampan miliknya, seolah tau kalau perut Max sedang terluka dan Ciko hampir melukainya lagi.
Jangan-jangan, semalam Kun menguping pembicaraan kami. Atau dia tak tidur??
Ngomong-ngomong tentang itu, aku mulai melihat sekeliling kantin, mencari sosok yang ku pikirkan sebelum shalat tahajud.
Aku berbaris di belakang Kun, dan ia fokus melihat antrian. "Kun.." sapaku, membuatnya menoleh.
"Apa?" sahutnya.
"Cewek yang kemarin ke kamar Max, kok gak keliatan ya?" tanyaku, membuat Max dan Ciko menoleh serentak, dan memandangku dengan penuh curiga.
"Elu nanya Dara??" tanya Max seolah tak percaya.
"Ya, kenapa emangnya?" sahutku.
"Kok nanya Dara sih?! Dia anaknya jutek, gak bakalan bisa lu dapetin! Syukur-syukur kalau dia mau ngomong sama lu, biasanya sih cuek abis. Apalagi modelan bad boy kayak elu!" timpalnya.
Memangnya siapa juga yang mau mendekati gadis itu. Aku hanya bertanya karena penasaran, kenapa dia tak datang ke kantin hari ini. Bukankah itu aneh?? Harusnya semua siswa datang ke kantin untuk sarapan.
Jangan-jangan memang benar, kalau ternyata dia....
"Kamarnya dimana sih?" tanyaku tiba-tiba, membuat Max dan Ciko terperanjat dan menjelekkan wajahnya.
"Gila banget lu!! Mau ngapain?!" balas Max lagi.
"Gam, jangan langsung trabas juga kali!! Emang sih lu ganteng, tapi kasih jeda lah. Seenggaknya kenalan dulu, baru bisa memadu kasih, acikiwiir!!" timpal Ciko.
"Yang mau pedekate siapa sih? Gue cuma nanya gitu doang." balasku bingung.
Kun yang awalnya menoleh, kini langsung berbalik memunggungiku. "Saya juga mau kesana selepas makan. Kalau mau ikut, ayo." balas Kun.
Dia juga mencari Dara?? Untuk apa?? Jangan-jangan memang benar, diam-diam.. Anak ini mengetahui sesuatu, atau dia juga sedang menyelidiki kasus ini. Dan dia, tak menganggap ucapan Dara sebagai bualan semata.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Teni Fajarwati
Oren🤣🤣
2024-09-20
0
Zuhril Witanto
ang jeruk🤣🤣🤣
2024-06-02
0
Ali B.U
next.
2024-03-06
1