Terselamatkan

*Maxim POV

Aku mengerjap, ketika rasa sakit di perutku menjadi kian sangat. Seorang lelaki yang tampaknya seangkatan denganku mundur perlahan, tampak ketakutan ketika melihat gunting telah tertancap di perutku serta darah yang berlinang membasahi bajuku.

"Arrrgh!!" Aku mengerang, saat merasakan sakit yang terasa menghantam perut sampai ke otak. Buru-buru aku menyentuh gunting tersebut, tapi tak kuasa mencabutnya.

Sungguh, aku tak pernah merasakan sakit seperti ini. Ulu hatiku terasa ikut ngilu, rasanya lebih sakit ketimbang sakit perut. Aku.. Aku tak tahan, aku benar-benar tak tahan lagi.

"Arggh!! Papi... Papi... Sakit sekali!! SAKIIITTT!!" Aku memekik, sampai air mata keluar dari sudut mataku.

Lelaki yang berada di ruanganku ini semakin panik, tapi ia seolah tak berani mendekatiku. Ia mundur, benar-benar terlihat was-was dan ketakutan.

"Elu... Ngapain elu nusuk gue?! BAJING*N!!" bentakku sekuat tenaga, namun seketika aku terdiam ketika denyutan panjang terasa menikam perutku bertubi-tubi. Darah semakin mengalir, dan tentu tak seharusnya aku begitu.

Aku hendak beranjak, membuat lelaki ini terbelalak. "JANGAN!! JANGAN MENDEKAT!!" pekiknya histeris.

Aku meringis, karena rasa sakit ini semakin menjalar ke sekujur tubuh. Lelaki ini tak punya pilihan, kami sudah terlanjur bertatap muka dan aku yakin, tak ada cara lain selain kabur setelah membunuhku.

Dengan gemetaran ia mengambil setrika yang ada di dekat meja. Menggenggam talinya dengan kuat, dan menatapku dengan mantap. Aku hendak beranjak, tapi tak punya kekuatan untuk itu. Darahku sudah mengalir sampai kaki ku, bergerak akan membuatku kehabisan darah. Tapi tak bergerak, membuat ku akan mati juga.

Aku gemetar, sungguh aku gemetaran karena takut. Aku takut mati.. Aku benar-benar takut mati.

"Kita gak saling kenal, tapi maaf.. Ketimbang gue, mendingan elu yang harus mati. Hiyaaaaah!!" Ia berteriak sambil mengayunkan setrika besi ke arahku.

Aku terbelalak, tubuhku tak dapat bergerak, dan....

BRAAK!!!

Aku memejamkan mata, tak kuasa melihatnya. Suara hening sejenak, membuatku mengintip dari balik bulu mata ketika tak ada yang terjadi. Seketika aku mengerjap, saat melihat sosok yang seolah bercahaya di ruangan remang-remang yang tak ku nyalakan lampu utamanya.

Aku terbelalak, saat melihat Agam datang dan mencengkeram pundak lelaki tersebut, membuat setrika yang berada di genggamannya terjatuh.

"Arrrgh!!" lelaki ini meringis kesakitan, padahal Agam hanya menatapnya dengan santai. Tanpa bersuara, di angkatnya tubuh lelaki ini dan...

Buaggh!!

Agam menghempaskannya ke atas lantai dengan satu tangan. Aku terenyak, ternyata.. Lelaki yang ku kira banci dan lembut ini, bisa punya kekuatan sebesar itu?? Dia pasti atlit bela diri atau semacamnya, sungguh di luar dugaanku.

"Lu punya niat apa?" tanya Agam dengan suara rendah namun tatapannya benar-benar mematikan.

Lelaki tadi terpaku, ia menelan ludah sambil berteriak ketakutan. "Gue gak tau apa-apa!! Gue cuma dapat perintah!! Kalau gak bunuh dia, gue yang bakalan mati!! Gue cuma disuruh!!" ujarnya.

"Maksud elu?"

"Gue punya kartu, kartu gue killer!!" ucapnya, membuatku seketika terbelalak. Jadi, orang ini juga punya kartu? Sama sepertiku? "Dan dia, dia human!!" ia menunjukku.

Dari mana ia tau kartu milikku adalah human?? Apakah ada yang memberitahu??

"Jadi, killer harus memangsa human. Kalau enggak, kami bakalan binasa!!" lanjutnya.

Dalam kebingungan kami, tiba-tiba saja lelaki ini mengerang kesakitan sambil menyentuh kepalanya, bersamaan dengan darah yang keluar dari hidungnya. Ia langsung beranjak dan menabrakkan dirinya ke tubuh Agam. Ia lari tunggang-langgang, bahkan seolah kesulitan mencari keberadaan pintu keluar, yang padahal sudah di biarkan terbuka oleh Agam.

Dengan sigap Agam berbalik, mengejar lelaki itu dan meninggalkan ku. Dasar brengs*k! Aku di lupakan olehnya, padahal aku sudah terluka parah. Apa dia mau membiarkan aku mati kehabisan darah??

Tak lama berselang, Agam kembali. Ini di luar dugaanku. Ia masuk ke kamarku dan membiarkan orang tadi lolos begitu saja.

Sambil berjalan Agam bergumam, seolah sedang menghafal sesuatu, tapi.. apa itu?

"Brengs*k!! Gue kira lu mau ngejer orangnya!! Kok lu lepasin?!" protesku ketika Agam mendekat.

"Emangnya lu mau mati kehabisan darah?" tanyanya datar, membuatku terdiam dan menatap gunting yang masih tertanam di perutku.

"Cih, gunting kayak gini gak bakalan bisa matiin gue! Dan ini gak sakit sama sekali! Cu.. Cuma banci aja yang ngerasa luka begini sakit!" ucapku, membohongi Agam, dan juga diriku sendiri. Sungguh, aku hampir mati rasanya karena sakit.

"Mulut sama hati gak seirama. Muka lu udah pucet masih aja sok jagoan!" Aku tertohok mendengar perkataannya.

"Cih!! Lu ngatain gue sok jagoan!! Lu liat nih, gue emang gak ngerasa sakit!" ujarku sambil berusaha mencabut gunting yang ada di perutku, namun dengan sigap Agam langsung menangkapnya.

"Konyol! Nyabut benda yang nancap di tubuh bisa bikin pendarahan! Biarin aja sampai dokter datang dan menangani. Lu pindah ke kamar gue, biar gue nyari bantuan. Kamar elu gak aman, karena kuncinya udah di pegang orang lain. Seenggaknya kamar gue masih aman." ucapnya sambil mengambil tanganku dan mengalungkan ke lehernya.

"Oi anj*Ng!! Pelan-pelan bego!!" protesku sambil menatapnya dengan sadis. Ia hanya membalas tatapanku dengan wajah sinis tanpa mengatakan apapun.

Ia pun pergi dengan meninggalkan aku di kamarnya, dan mengunci pintu kamar. Sebenarnya dia lumayan pintar melihat situasi dan kondisi. Tidak panik.

Dia tau kalau mencabut benda tajam yang tertancap di tubuh bisa membuat pendarahan. Dan kalau banyak bergerak pun aku akan kesakitan dan luka akan semakin melebar. Jadi dia membiarkan aku tinggal di kamarnya, agar tak banyak bergerak dan agar lebih aman.

Sepertinya dia anak pintar, akan benar-benar menjadi sainganku di sekolah. Aku yang di tinggalkan Agam di kamarnya pun mulai melirik sekeliling, dan tanpa sengaja menemukan secarik kertas di atas kasurnya.

"Apa nih?" gumamku sambil mengambil kertas tersebut dengan ringisan, bergerak sedikit saja sudah membuatku merasa kesakitan.

Aku membaca isinya. Tulisannya rapi, seperti di ketik dengan laptop. Ketika melihat isi dari kertasnya, aku terbelalak. Tulisannya...

Dosa yang gue lakuin hari ini.

1. Enggak doa, dzikir dan mengaji setelah subuh karena mendengar suara teriakan dari luar.

2. Membuat teman seangkatan (Maxim) marah, karena bertindak angkuh di depan umum.

3. Menendang Kun saat hendak duduk di baju bapak kuli.

4. Berbohong pada bagian bidang pelayanan tentang kunci kamar.

5. Berbohong pada Maxim ketika terlambat memberikan kunci duplikat.

Aku mengerjap melihat catatannya. Ia membuat catatan dosanya sendiri? Dan ini... Di anggap dosa olehnya?? Padahal, bagiku ini adalah hal sepele yang selalu ku abaikan.

Anak ini.. Sepertinya baik. Dia juga merasa bersalah karena membuatku malu di depan umum usai menangkap tanganku. Berarti, dia melakukan tanpa sengaja dan tak berniat pamer.

Aku, jadi merasa bersalah padanya. Di tambah, hanya dia yang menolongku saat kejadian tadi. Artinya dia khawatir dan tak meremehkan perkataan Dara.

Tengah sibuk merenung, tiba-tiba saja suara gaduh terdengar dari luar kamar. Buru-buru aku melempar kertas itu sembarang, lalu melihat Agam datang bersama ibu asrama.

Mereka panik dan menghampiri ku yang terluka parah. "Maxim, kamu terluka? Tunggu sebentar lagi, ibu udah manggil dokter! Tunggu ya, jangan banyak bergerak dulu." ucap ibu asrama sambil berdiri di dekatku.

Aku melirik ke arah Agam, entah kenapa wajah tenangnya terlihat gusar. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Ia terus melihat keluar.

"Agam.. Maxim.. Ibu mau ngasih tau sesuatu ke kalian, tapi tolong.. Jangan katakan ini ke siapapun." ujarnya, membuat kami terdiam.

"Perihal apa, Bu?" tanya Agam.

"Masalah kasus percobaan pembunuhan ini, kalian.. Harus tutup mulut."

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Arun_Atheas

Arun_Atheas

mirip game mafia ya?

2024-10-24

1

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

kenapa begitu

2024-06-01

0

Ali B.U

Ali B.U

woi nyawa lo itu, kok mlah suruh tu2p mlut seharusnya tu lpor pulisi

2024-03-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!