Kami berempat duduk di meja yang sama. Aku bersebelahan dengan Kun, sementara Max dengan Ciko. Max mengambil tempat duduk di depanku, menaruh nampan dengan penuh gaya, sambil duduk dengan wajah angkuhnya.
Sementara Kun yang duduk di depan Ciko hanya bisa memandangi wajah Ciko. "Kamu punya hobi baru sekarang?" tanya Kun, membuat Ciko mengernyit bingung.
"Hobi apa, Dam?" tanya Ciko. Sepertinya mereka bertiga saling kenal, hanya aku yang orang baru di antara mereka.
"Itu, kolektor taik mata." tunjuk Kun pada wajah Ciko, membuatku menyembur tak sanggup menahan tawa. Bisa-bisanya ia bicara begitu dengan wajah tanpa dosa, sekarang Ciko kalang kabut mencongkel belekan di matanya.
Max menoleh dengan wajah kesal. "Ileran lagi!! Lain kali kalau mau keluar kamar tuh minimal cuci muka sama gosok gigi!! Jorok banget lu!!" gerutu Maxim.
"Gue niatnya kan ke kamar lu dulu tadi, mau nyobain software." balas Ciko pelan.
"Software mbahmu!! Softex!!" Kun malah sok membenarkan.
"Lu berdua bisa diem gak sih? Lagian mana ada software sama softex di pake di muka." ujar Max dengan gumaman pelan, nyaris tak terdengar. "SKINCARE!!" pekiknya, membuat Kun dan Ciko terperanjat dari tempat duduknya.
"Galak sekali!! Hampir melompat kopongan telinga saya!! Yang begini malam-malam mengejar tidak sih?" tanya Kun padaku, dan aku hanya mengendikan bahu.
"Sssst!! Makan aja, jangan berisik!" tegur beberapa orang lelaki yang berada di seberang meja kami, membuat Max langsung melotot menatap mereka.
"Oke, Maaf ya.." balasku pada mereka sambil mulai mengambil sendok, membuat Max melotot tak terima.
"Kok lu minta maaf sih?! Ini kan tempat umum, ya terserah lah mau berisik atau enggak! Biar gue tunjukkin ke elu, apa yang seharusnya di lakuin lelaki sejati!!" protes Max sambil hendak beranjak.
Aku mengganti sendok dengan garpu dan menusuk daging di nampanku sambil menatap tajam ke arah Maxim, seolah perutnya yang di tusuk kemarin. "Duduk!" ujarku dalam, membuat Max terdiam sambil menyentuh perutnya yang terluka. Sepertinya ia memang pintar, dengan mudah menangkap gelagatku yang bermaksud menyindir lukanya. Dan ia benar-benar duduk di bangkunya.
Lagipula dalam keadaan tubuh terluka dalam, bisa-bisanya ia ingin beranjak dan adu otot dengan orang lain.
"Wah!! Max menurut?? Tidak biasanya. Ini di luar jangkauan!!" Kun memasang wajah berlebihan. "Sepertinya saya harus bernyanyi sekarang. Ehem ehem.." Kun mengambil aba-aba. "Demi penguasa bumi dan syurghaaaa, kau Jubaedah wo o o!!"
Aku melirik sinis. Bukannya lirik lagu itu harusnya, 'kau juga indah??'
"Diem beg*!! Makan aja, pake nyanyi segala kayak biduan!!" geram Max sambil melemparkan sepotong bakso ke mulut Kun.
"Hap!!" Kun menyantapnya dengan tepat menggunakan mulut. Sebenarnya aku ini berada di mana sih? Mereka bertiga abstrak semua. "Lemparan bagus, anak Agus!!"
"Bapak gue Alexander!!" Pekik Max sambil mengambil dan meleparkan sendok milik Kun saat hendak menyuapi makanan.
"Adoi kepala gue!! Siapa yang ngelempar sendok?!" pekik seseorang yang berada di belakang Kun.
"Enak aja lu, Agus Agus!!" protes Maxim sambil mulai mengambil sendoknya sendiri, dan mengabaikan ocehan orang lain.
Ciko pun melakukan hal demikian, buru-buru makan karena sudah mengganggu beberapa orang, dan aku bisa bernafas sedikit lega karena mereka menyudahi tingkah konyolnya, meskipun sekarang Kun kehilangan sendoknya.
Ketika aku mulai menyuapi mulutku dengan nasi, aku melirik ke arah Kun karena ia tak bersuara. Apa jangan-jangan dia marah dan tersinggung karena sendoknya di buang Maxim??
"Buang saja sendok saya, saya kan bawa sendok sendiri dari rumah." ujarnya.
Ketika aku menatapnya, "Bruaaaah!!" Aku menyemburkan makananku ke muka Maxim, saat melihat Kun memakai sendok nasi untuk memakan makanannya.
"Hahaha, Max.. lu dapat kucuran dana ya dari Agam?? Tapi dalam bentuk nasi?" ledek Ciko sambil tertawa.
"Wah!! Itu namanya semburan bulir-bulir nyawa naga!" timpal Kun takjub.
"Bulan sabit kurang ajar!!" geram Max, dengan wajah memerah yang di penuhi semburan nasi dari mulutku.
.........
Belum selesai sarapan, kami berempat di usir dari kantin karena berisik. Kami bersama-sama memutuskan untuk kembali ke kamar. Ketika keluar lift, Max dan Ciko berhenti bersamaan, membuat aku dan Kun ikut berhenti.
"Kalian mau ke zona cewek, kan?? Ke kamar Dara?" tanya Max.
"Memangnya masalah buat mu?" sambar Kun.
"Gue nanya doang, tuyul! Gue sleding juga lu!! Kalau kalian mau kesana, gue sama Ciko balik ke kamar. Gak mau ikutan." ujarnya.
Kun langsung menjelekkan wajahnya. "Yang mengajak kamu siapa, gunderwowo?! Sana pergi ke kamarmu sebelum saya gelinding!!" ancamnya. Tidak sadar diri kalau dia yang lebih mungkin di gelindingkan Maxim.
Max dan Ciko berlalu. Melihat cara berjalannya, sepertinya Max memang cukup kuat menahan rasa sakit. Perut yang baru tertusuk gunting, di jahit dan dia malah keliling-keliling asrama sambil berjalan seperti orang yang tidak sakit. Mungkin saat sampai di kamar, baru lah ia akan menunjukkan ringisannya.
Kini perhatian ku tertuju pada Kun yang berjalan di depanku. Suasana koridor asrama tampak sepi, karena sekarang semua orang sedang menikmati sarapan yang gagal kami makan tadi.
Kira-kira, ada perlu apa dia menemui Dara?? Aku ingin tahu juga, apakah dia akan membahas perihal kemarin, seperti yang akan ku lakukan kini?
"Loh, itu kan Dara?" gumam Kun sambil menatap ke satu titik dengan kernyit, membuatku menoleh ke arah yang ia tatap. Apa tak terjadi apa-apa padanya usai mimisan kemarin?
Gadis mungil dengan baju tidur berwarna peach dan putih sedang berdiri kaku di depan pintu kamarnya. Rambutnya panjang tergerai, dan itu memberikan kesan horor karena hanya ada dia seorang di koridor kosong dan panjang ini. Aku melirik bingung, karena ia sama sekali tak bergerak dari posisinya.
"Ssst!! Biar kita kejutkan selayaknya kuntilanak! Kihihi..." bisik Kun dengan wajah lucu yang sok ia seramkan.
Aku berjalan gontai di belakangnya, melihatnya mengendap-endap tapi aku tak melakukan hal yang sama. Ketika ia bersiap mengejutkan Dara, tiba-tiba saja gadis ini mendadak berbalik, membuat Kun yang malahan terperanjat karena terkejut.
"Paman!! Ngapain sih?!! Ngagetin tau!!" geramnya dengan suara pelan.
Kun mengusap dadanya. "Harusnya saya yang marah begitu!! Kenapa kamu tiba-tiba berbalik?!" balasnya kesal.
"Ssssttt ssstttt!!" Dara mendesis, membuat Kun langsung menutup mulut.
"Kamu kenapa sendirian disini? Tidak sarapan kah?" tanya Kun lagi.
"Sebenarnya tadi mau sarapan, tapi tiba-tiba aja denger suara aneh di dalam kamar ini. Kek orang lagi apa gitu.." bisik Dara dengan wajah memerah.
"Masa' sih.. Minggir!" Kun menempelkan telinganya ke daun pintu sambil mendorong Dara menjauhi pintu. "Ooh, ini sih suara orang mukbang pedas. Huh hah huh hah kan?" ujarnya polos, membuatku menarik Kun dari pintu dan berganti menempelkan telingaku.
Ketika aku melakukannya, aku tersentak saat pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Seorang lelaki tanpa baju atasan dan hanya mengenakan handuk perempuan untuk menutup aurat bagian bawahnya.
Matanya melotot kala melihat kami, rambutnya acak-acakan dan tubuhnya lemas serta ngos-ngosan. "Ngapain kalian di depan pintu kamar orang lain?!" kecamnya saat bertatapan denganku.
"Bukannya kami yang harus ngomong begitu? Ngapain kalian gak sarapan? Dan ngapain, cowok masuk ke kamar cewek? Tanpa baju pula?" balasku santai, membuat orang ini terlihat marah.
Ia langsung mencengkeram kerah bajuku, membuat Dara dan Kun terkesiap melihatnya. "Gak usah sok ikut campur urusan orang lain, kalau elu gak mau mati!!" ancamnya padaku.
Aku mengedip pelan, dan tak ada rasa takut sedikitpun padanya. "Yang harus mati karena udah berzina itu, adalah kalian!!" ucapku sambil menatap tajam ke arahnya, membuatnya terbelalak dan melepaskan cengkeramannya dariku.
"Bisa-bisanya kalian ngelakuin hal gak senonoh di asrama ini. Kalau Allah menurunkan azab untuk semua orang di asrama ini, maka yang harus mati duluan itu.. Kalian berdua!!" kecamku, membuat kaki lelaki ini gemetaran, tapi masih sok angkuh di depan gadis yang sembunyi di belakangnya.
"Urusi aja urusan kalian!! Dan kalau sampai hal ini nyampe ke telinga ibu Nadya, elu, elu dan elu!!" Ia menunjuk kami bertiga dengan tangannya. "Gak bakalan tenang tinggal di asrama ini."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Teni Fajarwati
🤣🤣
2024-09-20
0
Zuhril Witanto
kirain nyanyi sukur
2024-06-02
1
Zuhril Witanto
astaghfirullah 😂
2024-06-02
0