Ia tersentak, mundur perlahan dari hadapanku. Ku pikir karena dia begitu jago bermain wanita, dia adalah lelaki yang maju paling depan saat di tantang berkelahi, tapi ternyata ia malah takut dan memilih mundur seperti itu.
"Heh?! Mau ngapain lu? Ngajak gue berantem di dalem asrama? Gak salah lu?!" ujarnya meremeh, dan aku bisa melihat raut takut dari wajahnya. "Murid ajaran baru aja sok-sokan nantangain gue. Lu pikir kalau berantem di ruang lingkup asrama adalah hal yang di bolehin?" lanjutnya. "Jangan sampai karena hal ini, lu jadi nyesel seumur hidup!"
Aku mendecakkan lidah, "Justru kalau ngebiarin elu, gue bakalan nyesel seumur hidup." sahutku. "Dan lu pikir, apa yang lu lakuin itu di bolehin di asrama ini?" balasku sambil memiringkan senyum. "Kalau iya, gak apa-apa. Kalau keadilan itu gak ada.."
Aku mengangkat kedua kepalan tanganku sejajar dengan wajah. "Biar gue yang nyiptain keadilan itu sendiri!" lanjutku sambil membelalakkan mata, dan menyergah ke hadapannya.
Di luar dugaan, ia takut bukan kepalang ketika menerima serangan cepat dari tanganku. Ia jatuh terduduk di conblok, dan aku membiarkan gadis yang terluka ini menontonnya sebagai hiburan.
Sambil lesehan, lelaki ini memundurkan langkahnya bak suster ngesot, lelaki ini merogoh ponsel di sakunya, lalu menghubungi seseorang. "O.. Oi, Dateng ke koperasi sekarang!! Ada anak resek yang bikin masalah ke gue!!" ucapnya dengan begitu panik, sambil sesekali berjaga dan melirikku.
Dia memanggil temannya??
"Heh, kayaknya gue bakalan nunjukin power gue ke elu. Dan siapapun yang bermasalah sama gue, gak akan tenang tinggal di asrama ini sampai kapan pun." ucapnya merasa sombong.
Aku menurunkan tanganku. "Ternyata, gue salah lawan ya?" tanyaku, membuatnya tersenyum menang.
"Kalau baru nyadar sekarang?? Kayaknya telat banget. Gue gak akan maafin elu dan gak akan segan-segan buat ngeremukin muka elu yang cantik itu!!" kecamnya sambil mengepalkan tangan.
"Jangan salah paham." sahutku, membuatnya mengernyit. "Salah lawan yang gue maksud, bukan seorang lelaki..." Ia terdiam sambil melongo, seolah bingung dengan perkataan ku. "...tetapi adalah seorang pengecut." sergahku dengan wajah datar, membiarkan angin menyapu rambut ku dengan lembut dan memperlihatkan dahiku yang tertutup poni. Aku mengerjap pelan, merasakan angin yang selaras dengan perasaanku. Rasanya sejuk dan menenangkan di cuaca yang lumayan panas.
Lelaki ini terkesiap sesaat menatapku, begitu juga dengan gadis yang terduduk ini. "Masya Allah, indah banget." ujar si perempuan tanpa mengedip.
"Brengs*k!!" kecam si lelaki ketika berusaha menyadarkan diri dari lamunannya.
Tak lama berselang, beberapa orang muncul dan berlarian ke arah kami. Satu.. Dua.. Lima.. Sepuluh... Begitu banyak dan aku tak bisa lagi menghitung jumlahnya.
Ternyata, bukan tanpa alasan lelaki ini berlagak berkuasa di asrama. Power yang ia maksud bukan hal yang remeh, ia memang memilikinya.
"Woah!! Ada yang berantem!! Ada yang berantem!!" pekik beberapa orang yang hendak pergi ke koperasi, hingga bertambah banyak orang yang berkumpul di dekat kami.
Lelaki ini tersenyum menang, saat teman-temannya mulai mengurungku dalam sebuah lingkaran manusia. Aku melirik ke segala sisi, tak ada spasi sama sekali.
"Keadilan sampah yang lu bilang tadi, sebaiknya lu telen sendiri. Karena di mana pun, kekuasaan mengalahkan keadilan!" ujarnya sombong sambil beranjak usai terjatuh tadi.
Sorot mata yang tadinya ketakutan kini mulai menajam. Ia mendapatkan keberanian karena di bantu oleh banyak orang.
Apa karena memiliki banyak teman, ia jadi merasa bisa melakukan apapun? Bisa menindas siapa pun? Kalau memang iya, aku tak perlu meminta bantuan manusia.
Cukup yakin bagiku, segala hal yang baik di sisi Allah, akan mendapatkan bantuanNya.
وَجَعَلۡنَا مِنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ سَدًّا وَّمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّا فَاَغۡشَيۡنٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُوۡنَ
...'Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.'...
"Jadi ini bocah brengs*k yang sok iye??"
"Mukanya sih muka-muka maho, yang biasa jadi ceweknya."
"Hahahaha, Nik.. Gue heran, kok bisa lu takut ama yang ginian ampe nelpon kita-kita?" ujar mereka sombong.
"Yaudah sih, sekarang aja kita tunjukin, siapa murid yang berkuasa di asrama ini!" lanjut mereka sambil membunyikan tulang-tulang jarinya.
Aku tak gentar, dan merasa tenang. "Ck, banyak omong!" tukasku sambil kembali mengangkat kepalan tangan.
"Hajaaaar!!" pekik lelaki yang bermasalah denganku, membuat teman-temannya lari ke arahku.
"Nggak!! Berhenti!!" pekik perempuan yang terluka itu sekuat tenaga.
Seketika, aku merasa teraliri energi tak biasa. Mereka yang harusnya memukul ku, kini entah kenapa jadi kebingungan. Mereka celingak-celinguk seolah aku adalah sosok yang tak kasat mata.
Tentu saja dengan mudah aku menghajar dan memukul mereka. Bahkan meski ada yang saling bertatapan denganku, anehnya mereka mematung seolah tak bisa bergerak.
Beberapa orang terpelanting setelah ku pukuli, jatuh terjerembab dan menimpa teman-temannya. Mereka terkesiap, saling toleh dengan wajah ketakutan.
"Dimana dia?? Dia dimana?" tanya mereka seolah buta.
Aku mengernyit, dan seketika tubuhku merinding saat menyadari, perkataan itu muncul dari orang yang tepat berada di hadapanku.
Dasyatnya surah Yasin ayat ke sembilan, mampu menutup mata dan membutakan mereka semua.
Karena hal tersebut, mereka berteriak masing-masing, sementara orang yang menonton tampak heran karena mungkin.. mereka bisa melihat keberadaan ku, sementara orang-orang ini tidak.
"Pada buta kali ya? Gue kelietan banget tuh cowok ganteng masih berdiri di sana!"
Belum sempat menyelesaikan kebingungan, tiba-tiba saja kak Juniza yang menjadi kasir koperasi datang membawa ibu Nadya. Melihat hal ini, para berandalan lari tunggang langgang ke segala arah.
Aku menyergap, saat melihat si pembuat onar hendak kabur dari tempat ini. Ku tarik kerah baju bagian belakangnya, membuatnya kalang kabut dan hendak melepaskan diri.
"Apa-apaan ini?!" sentak Bu Nadya, membuat ku menatap datar ke arahnya dan melepaskan cengkraman ku.
"Dia Bu!! Dia yang mulai!!" pekik lelaki ini menuduhku.
"Niki?? Anak salah satu donatur terbesar di asrama ini?" tanya Bu Nadya ketika melihatnya, membuat lelaki bernama Niki ini tersenyum senang saat ibu Nadya mengetahui siapa dirinya.
Jadi dia anak donatur terbesar?? Pantas saja ia begitu, karena merasa punya kuasa di tempat ini.
"Iya!! Anak ini cari gara-gara disini!! Dia mukul saya di ruang lingkup asrama, Bu!! Perbuatan yang gak di benerin di asrama ini!!" ujarnya mengompori.
Bu Nadya menatapku, diam beberapa saat lalu menghela nafas panjang. "Agam toh?" singkatnya. "Udah jangan berkelahi. Agam kembali ke kamar kamu ya, jangan menarik perhatian orang-orang disini." ucapnya lembut, membuat Niki terbelalak. Mungkin ia akan mengira kalau Bu Nadya akan membentak ku.
"Loh, Bu? Ibu kenapa? Bukannya harus membela saya ya?" protesnya.
"Ibu udah datang dan nolong kamu juga harusnya kamu bersyukur. Sekarang kalian semua bubar!! Dan ibu ingetin sekali lagi, jangan pernah ada.. Yang bermasalah dengan Agam di asrama ini!" lanjutnya, membuatku tersentak bingung.
Ibu Nadya melindungi ku?? Apakah karena aku menyimpan rahasianya bersama Maxim??
"Ayo semua bubar!! Bubar!!" pekiknya sambil mendorong beberapa berandal termasuk Niki agar menjauhiku, dan membawanya pergi.
Ketika suasana mulai sepi, aku bersama kak Juniza membantu gadis yang kini terluka di bagian wajah dan sela bibirnya karena di pukuli tadi.
"Oi, lu gak apa-apa?" tanyaku mendekatinya.
Ia mengangguk sambil tersenyum, berusaha menyeka air matanya yang hampir jatuh. "Makasih.. Makasih banyak, gue takut banget. Makasih banyak." ujarnya berulang-ulang, seolah apa yang aku lakukan telah menyelamatkan hidupnya.
"Ya, gak apa-apa. Jangan takut ya." ujarku lembut, sambil menatap penuh khawatir, kak Juniza hanya mengangguk setuju.
Ia terus mengatakan hal yang sama, dan sejujurnya aku bingung ingin merespon tangisannya seperti apa.
"Nama elu siapa?" tanyaku berbasa-basi.
Ia tersenyum lagi sambil menatapku. "Rara, nama gue Rara. Makasih, gue takut banget. Makasih." lanjutnya.
Aku menghela napas panjang dan membalas senyumannya. "Sekarang udah aman ya, gue pastiin.. Dia gak bakalan gangguin elu lagi."
Perempuan ini menatapku tak percaya. "Emangnya lu siapa? Lu bisa ngelawan dia dan temen-temennya, ngelawan kekuasaannya?" tanyanya ragu.
"Gue gak bisa. Tapi gak ada yang mustahil bagi Allah. Karena Dia yang maha kuasa. Sekarang, gue bakal bantuin elu, menjalani hal yang selama ini ngeberatin pundak lu, ya Rara." ujarku, membuat gadis ini memecah tangis.
Sebenarnya, apa yang di lakukan Niki sampai-sampai dia ketakutan setengah mati??
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Ira Resdiana
kayaknya background pemerannya beda semua ya sama yg di serial sblm nya
2024-10-02
0
mi nah
tinggal nunggu dtgnya iren nih gimana ya ceritanya
2024-09-30
0
Zuhril Witanto
sombong banget
2024-06-03
0