Keesokan harinya Lena tidak masuk bekerja, dia berada di rumah saja seharian. Ditemani dengan beberapa berkas online shop-nya yang masih berjalan.
Sekarang, dia bertekad ingin memperbaiki diri dan membuat Bagas menyesal telah meninggalkan dirinya. Lena tentu tidak bisa merelakan apa yang terjadi. Satu bulan sudah memilki kekasih baru? Bukankah suatu hal yang patut dicurigai, mengingat mereka bahkan sudah memiliki tanggal pernikahan.
Kerja, kerja, kerja. Hanya itu yang saat ini ada dipikiran Lena.
“Kamu tidak bisa seperti ini terus kan, Len?” Gumam Lena, lalu pergi ke meja belajarnya.
Dia menatap wajahnya di cermin, kusam. Jangankan untuk perawatan ke salon seperti dulu, sekedar cuci muka sebelum tidur saja tidak sempat. Setiap malam dia hanya menangis dan berakhir ketiduran sampai pagi.
“Nduk, tidak seharusnya kamu seperti ini. Bukankah dia sudah meninggalkan kamu? Berbahagialah dengan kesendirianmu. Nanti, pasti akan dapat ganti yang lebih baik dari Bagas” Ucap bu Sri, sembari memberikan satu piring kecil camilan untuk Lena.
“Iya, bu” Jawab Lena, gadis itu terus fokus dengan laptop di depannya.
Tidak peduli dengan rasa pusing yang menimpa dirinya. Setelah periksa tadi, benar ternyata jika dirinya tekanan darah rendah.
Puas dengan laptopnya, Lena memilih membersihkan diri lalu pergi ke salon.
“Facial akan membuatku lebih segar” gumamnya.
Gadis itu mengambil tasnya juga kartu kredit cadangannya. Dia mengambil sejumlah uang, yang mana itu adalah tabungannya untuk menikah.
Itu sudah tidak berarti apapun sekarang, dia hanya ingin puas mengobati lukanya tanpa orang baru. Bahkan jika itu harus menghabiskan tabungannya, tidak masalah.
“Mau kemana, Len?” Tanya bu Sri ketika melihat putri pertamanya keluar dari kamar sudah rapi.
“Ke salon, bu. Mau menyegarkan diri, lihat ini” Lena menunjuk beberapa bagian wajahnya, “Jerawatnya sudah tumbuh dimana-mana” lanjutnya.
Bu Sri tersenyum singkat, “Baiklah, hati-hati”
Lena menyalami tangan sang ibu lalu pergi menggunakan motor kesayangannya. Lama sekali dia tidak berkendara seorang diri. Apalagi jika di pikir-pikir, bekerja di perusahaan yang sekarang, gadis itu selalu di antar jemput ibunya sejak satu tahun yang lalu.
Berulang kali Lena menarik dan menghembuskan napasnya pelan, berharap semua hal yang saat ini membebaninya bisa terangkat seiring dengan hembusan napasnya.
“Selamat, siang” Lena segera melakukan reservasi dengan mbak-mbak resepsionis salon.
Setelah puas dengan berbagai treatment, gadis itu pergi ke sebuah café yang tidak jauh dari tempatnya melakukan treatment.
Ada uang, ada ponsel, bensin full, tidak ada masalah jika harus keluar seorang diri. Bukankah sejak dulu dia juga selalu kemana-kemana sendiri, lalu kenapa sekarang tidak?
Beberapa kali dia update di sosial media miliknya, sebenarnya itu untuk membuat kenangan saja, tapi siapa sangka jika hal itu malah ramai.
Loh, Lena sama siapa?
Aduh, ngeri ya wanita mandiri kalau sakit hati. Kerjaannya main terus
Cara efektif move on adalah healing dengan diri sendiri
Kira-kira begitu balasan yang ia terima dari teman-temannya, khususnya yang mengetahui keretakan hubungannya dengan Bagas.
“Mereka memang ada-ada saja. Kenapa tiba-tiba pengen kuliah ya?” Gumam Lena.
Gadis itu langsung mencari referensi kampus-kampus di sekitarnya. Setidaknya mungkin di area Malang, dimana dia bisa bekerja dan kuliah di satu kota yang sama. Meskipun Lena ingin kuliah di kelas karyawan, yang mana itu bisa untuknya bekerja full time dan kuliah online. Tapi, kan tentu akan lebih menghemat biaya, Lena juga bisa kos atau kontrak juga jika memang berhasil masuk kuliah.
Sejak dulu Lena memang ingin meneruskan pendidikannya. Awalnya, dia harus menunda kuliahnya selama satu tahun karena masalah kesehatan, tapi ternyata dia tidak bisa karena kendala di ekonomi. Akhirnya dia memilih bekerja saja dan menabung, jika diberi kesempatan, mungkin akan meneruskan pendidikan.
Rencananya, Lena ingin kuliah nanti setelah menikah dengan Bagas. Mengingat Bagas tidak mengizinkan dia bekerja setelah menikah. Bukan tidak mengizinkan, hanya saja Bagas tidak setuju jika Lena bekerja di tempat yang jauh dan lebih susah dari dirinya.
“Aku gak ada masalah kamu kerja, Len. Hanya saja aku tidak mau kalau kamu kerjanya lebih berat dari aku, bagaimanapun yang punya tanggung jawab mencari nafkah itu tetap aku. Kamu kalau mau kerja, itu hanya karena mungkin kamu suntuk di rumah karena aku tidak di rumah selama kerja”
Begitu dulu Bagas mengatakannya. Menurut Lena, dia akan kuliah sambil fokus denan bisnis online shop-nya. Lena bahkan ingin mengeluarkan brand dari namanya sendiri jika diberi kepercayaan.
Sayangnya, manusia memang hanya bisa berencana. Semua itu harus rela ia kubur lagi. Mimpi saja sekarang jika ingin menikah dengan Bagas.
Lena saat ini malah bertekad untuk fokus dengan dirinya sendiri. Gadis itu mungkin sadar bahwa berharap dengan manusia seperti Bagas adalah kesalahan.
Dia membulatkan niat untuk ‘lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan sekarang’.
Setelah mendapatkan kampus yang diinginkan, Lena segera melakukan pendaftaran. Urusan nanti bagaimana izin kepada sang ibu, itu mudah selama Lena tidak membebani wanita paruh baya itu nantinya.
“Okey, waktunya kita bersenang-senang dengan hal lain” Gumam Lena, dia membereskan barang-barangnya lalu pindah ke pusat perbelanjaan untuk menikmati waktu me-time nya.
Dia berjalan kesana dan kemari, membeli sepatu, dress, sandal, celana, printilan-printilan aksesoris dan masih banyak lagi sebelum akhirnya dia pulang membawakan beberapa camilan untuk keluarganya.
“Bu, Lena mau bicara” Ucap Lena pada bu Sri.
“Mau bicara apa?”
“Lena mau kuliah ya, di Malang. Lena ambil kelas karyawan biar bisa tetap kerja full time untuk biayanya. Kalau diizinkan, Lena mau ngekos aja setelah masuk kuliah nanti”
Bu Sri mengangguk, “Boleh untuk kuliahnya, tapi apa tida membebani kamu dengan jam kerja yang begitu panjang terus masih harus kuliah ngurus tugas-tugas, belum lagi dengan urusan online shop yang masih kamu kerjakan ini” Ucapnya. Agaknya wanita paruh baya itu khawatir dengan kesehatan sang anak.
“Tidak apa-apa, bu. Lena pasti bisa kok” Sahut Lena.
“Ya sudah kalau begitu, ibu doakan kamu lancar-lancar sampai selesai ya, nak. Biaya kuliah itu mahal, kalau bisa jangan sampai berhenti di pertengahan jalan” Ucap bu Sri, memberi wejangan kepada Lena.
Lena hanya mengangguk, gadis itu lalu berpamitan pergi ke kamarnya. Bohong jika dia mengatakan dia baik-baik saja. Tekanan darah rendah tidak semudah itu sembuh, dia dan fisiknya mungkin masih merasa pusing, tapi setidaknya hatinya sudah tidak begitu terluka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments