“Jadi, bentuk dari marketing communication bisa terbentuk oleh berbagai macam. Mungkin seperti advertising, branding, pemasaran langsung, sales dan lain-lain. Untuk itu, kita perlu untuk memiliki strategi marketing.
Pertama-tama, kita jelas harus tau target marketing. Setelah itu, menyesuaikan gaya bahasa serta menentukan Unique selling point yang bertujuan untuk menarik minat pelanggan kepada produk baru kita, serta kita harus konsisten setelah memilih saluran promosi yang tepat”
“Lalu kenapa marketing communication itu penting?” Tanya sang manajer.
“Karena MC atau Marketing communication ini akan bisa membuat masyarakat memiliki persepsi yang mungkin awalnya tidak suka jadi, penasaran, mencoba dan akhirnya suka dengan produk perusahaan karena kita melakukan teknik persuasif di dalamnya”
“Terus bagaimana cara kamu meningkatkan jumlah konsumen kita nantinya?” Tanya salah seorang lagi disana.
“Karena meskipun perusahaan kita sudah dikenal luas di masyarakat tapi, produk ini adalah hal baru. Untuk menarik minat pelanggan, yang pertama setidaknya kita berikan potongan harga atau diskon sebagai tanda pengenalan atau testimoni masyarakat dengan produk tersebut.
Lalu, kita bisa menggunakan jasa influencer ternama agar produk kita dapat dijangkau oleh jumlah followers dari influencer itu sendiri.
Dan kita bisa meningkatkan brand awareness di dunia media sosial atau digital. Mengingat pada zaman sekarang ini sebagian besar penduduk menggunakan media sosial, tidak perlu jauh-jauh bahkan kita pun sering menggunakan media sosial. Jadi, social media marketing adalah sebuah kesempatan kita untuk meningkatkan promosi.”
Lena Talita, gadis ini berhasil mengubah sudut pandang seluruh orang yang saat itu berada di ruang meeting. Dia hanya diberi waktu satu jam untuk melakukan presentasi progress apa yang akan dia lakukan untuk perusahaan kedepannya.
Background pendidikannya yang hanya tamatan SMK dan sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang tersebut membuat beberapa orang menganggapnya remeh.
Tapi, setelah melihat caranya presentasi dan menjawab setiap pertanyaan dengan sempurna membuat semuanya terdiam dan merasa cukup kagum.
Tidak perlu diragukan, pengalaman kerja Lena cukup banyak. Ingat Lena pernah menyebut bahwa dirinya sempat menjadi content creator di sebuah toko?
Lena belajar dari sana, dirinya mau belajar dan mengasah kemampuan di bidang tersbut sampai ke akar-akarnya. Bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa Lena memiliki royalitas ketika bekerja?
Lalu, apakah Lena resign dari perusahaan sebelumnya?
Jawabannya tidak. Status Lena di perusahaan rokok sebelumnya adalah masih menjadi karyawan yang tidak masuk karena sakit.
“Mbak Lena?” Panggil seseorang, yang satu divisi dengannya, baru saja keluar dan masuk-masuknya memanggil Lena.
“Ada apa, mbak?” Tanya Lena, menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Dipanggil bu manajer ke ruangannya sekarang” Ucap mbak itu sebelum akhrinya duduk di meja kerja miliknya.
“Oke, terimakasih ya” Sahut Lena.
Dengan rasa penasaran dan sedikit takut, apakah dia melakukan kesalahan ketika bekerja? Lena melangkahkan kakinya menuju ruang manajer.
Tok
Tok
Tok
“Selamat sore, bu. Ini Lena” Ucap Lena dari depan pintu.
“Masuk Len” Ucap seseorang itu dari dalam ruangannya.
Lena membuka pintunya lalu dipersilahkan duduk di depan sang manajer.
“Lenaaaa, boleh saya tau kamu bekerja menjadi content creator seberapa lama?” Tanya bu manajer setelah melihat ternyata ada CV milik Lena di tangannya.
“Hanya satu bulan, bu. Itu pun karena saya tidak mau memperpanjang kontrak dengan toko tersebut” Ucap Lena.
“Kenapa?” Tanya bu manajer.
“Karena satu dan lain hal yang perlu untuk saya pertimbangkan. Disana saya merasa senang ketika saya bekerja, mempromosikan barang hingga mencapai target yang sudah ditentukan. Kepuasan owner dari kinerja saya adalah yang utama tapi, kompensasi juga menurut saya adalah sebuah motivator agar kinerja saya stabil”
Lena memang bijak dalam memilih kata dan kalimat, tinggal mengatakan jika gajinya tidak sesuai saja sebenarnya sudag beres bukan?
No, dia tau ini dunia kerja.
Bu manajer menganggukkan kepalanya mengerti, “Lena, melihat kemampuan kamu tadi di ruang meeting, saya menyayangkan jika kamu harus berada di bawah naungan management kami yang terbilang masih sangat fresh. Kamu tau sendiri, ini adalah anak perusahaan yang bahkan masih dalam masa pembangunan, pembukaan perusahaan pun masih akan diresmikan kurang lebih satu tahun lagi, sementara strategi kamu sudah cukup matang dan menarik.
Baru saja, saya meeting dengan petinggi perusahaan untuk memberikan nilai dan laporan kinerja karyawan-karyawan office yang baru. Mereka meminta kamu untuk pindah ke kantor pusat di Tangerang, belajar wawasan yang lebih luas disana dan menjalankan tanggung jawab sesuai dengan passion kamu sekarang”
Deg
Ada perasaan senang tersendiri di dalam dirinya. Apa itu tadi dia sedang mendapatkan privilege?
“Sebelumnya saya mohon maaf, bu karena tidak bisa menjawab hal tersebut hari ini. Saya butuh waktu untuk berdiskusi dengan keluarga terlebih dahulu, apa boleh?” Ucap Lena.
“Oh tentu saja boleh tapi, saya harap kamu juga segera memberikan jawabannya kepada saya, ya. Pihak pusat juga sedang membutuhkan orang-orang yang kompeten seperti kamu, sayang sekali kalau kamu harus digantikan dengan orang lain, kamu masih cukup muda dan ini sebuah kesempatan untuk kamu bisa explore jenjang karir kedepannya” Ucap bu manajer.
Setelah melakukan obrolan-obrolan singkat, Lena keluar dari ruangan tersebut. Namun, hatinya ragu bahwa dia akan diizinkan oleh sang ibunda untuk pergi merantau.
...***...
“Assalamu’alaikum, Lena pulang” Ucap Lena, membuka pintu rumahnya.
“Wa’alaikumsalam” Sahut semua orang yang berada di dalam rumah.
Lena menghela napasnya sedikit berat lalu berjalan masuk ke ruang keluarga dan mendudukkan diri di samping bu Sri.
“Gimana tadi? Lancar semua?” Tanya bu Sri.
Lena mengangguk, “Ma, gimana kalau nanti Lena di pindah ke luar kota?” tanyanya.
“Loh, emang mau dipindah kemana Len?”
“Tadi Lena dapet tawaran buat pindah ke kantor pusat tapi, tempatnya di Tangerang. Menurut ibu gimana?” Tanya Lena.
Gadis itu masih asik dengan camilannya sembari ngobrol dengan sang ibu.
“Semuanya ya tergantung kamunya mau apa nggak, Len. Tapi, kalau bisa sih yang deket-deket sini aja, yaang bisa pulang tiap hari” Ucap bu Sri, seolah mengatakan keberatannya dengan tutur kata yang halus.
Lena menganggukkan kepalanya mengerti, “Tapi, Lena kayaknya mau balik ke rokok aja deh. Entah kenapa, Lena rasanya lebih nyaman disana. Mulai dari lingkungan kerja, temen-temen, atasan, gaji. Semuanya kayak positif vibes disana” Ucapnya.
“Ya kalau ibu sih cuma bisa mendukung. Pilih yang menurut kamu baik aja buat diri kamu sendiri. Memangnya kenapa lebih suka di rokok? Apa karena mas mandor yang pernah kamu ceritain kapan hari?” Sahut bu Sri, menanggapi putrinya.
Rupanya cerita Lena perihal Edwyn masih teringat oleh ibunya.
“Ah, ibu. Bukan itu maksudnya. Lena kan kalau pulang kerja setiap hari juga harus liatin laporan dari online shop kan. Kalau di rokok atau di produksi kan berangkat, kerja, selesai, pulang, lupain. Nah, kalau di yang sekarang ini kayak berangkat, kerja, pulang, lanjut di rumah. Kayak berat gak sih, ma?” Ucap Lena.
Bu Sri terdiam sesaat, meawajarkan anaknya memilih tempat kerja, “Ya sudah, di pikir-pikir dulu. Kamu enaknya gimana ya lakuin aja, ibu mendukung setiap keputusanmu”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments