Lena pulang dengan wajah lesunya, “Assalamu’alaikum” gumamnya sembari membuka pintu.
“Lesu banget, kak. Baru putus ya?” Ucap Levi, adiknya yang kedua.
Lena anak pertama dari tiga bersaudara, ia dan adik pertamanya berbeda hanya satu setengah tahun, ya Levi ini. Sedangkan dengan Lita, mereka berjarak 7 tahun.
“Apaan sih, nggak. Cape aja, ibu kemana?” Tanya Lena ketika menyadari ibunya tidak ada di ruang keluarga.
“Di dapur, masak” Jawab Levi.
Lena mengangguk lalu berjalan ke kamarnya, mengambil handuk dan pergi membersihkan diri.
Gadis itu mengguyur tubuhnya perlahan, meresapi dinginnya air itu malam ini, pikirannya masih kalut, memang seharusnya dia menenangkan diri.
Diam-diam gadis itu menyesali telah meninggalkan pekerjaan barunya kemarin. Kata ‘seandainya’, ‘seandainya’ berputar di kepalanya.
Seadainya aku tetap disana, mungkin hari ini aku tidak akan mengetahui semuanya
Seandainya aku tetap disana, aku mungkin akan melupakan dia perlahan-lahan dan menganggap perasaan ini hanya rasa penasaran biasa
Seandainya aku tetap disana, aku tidak akan terjebak di situasi ini sekarang
Begitu kira-kira isi hati Lena.
“Ah tapi, itu bukan apa-apa Len. Beruntung kamu tau lebih awal, kan? Ayo lupakan dan anggap yang terjadi kemarin hanya sebuah perkenalan” Gumamnya lalu mematikan kran air dan keluar dari kamar mandi dengan senyum ceria seperti biasa.
“Makan dulu, Len” Ucap bu Sri.
“Iya, bu. Lena mau ganti dulu” Jawab Lena menuju kamarnya.
Lena memandang foto yang terpajang di nakasnya, fotonya bersama mantan kekasih masih tertata rapi disana. bu Sri jelas tahu Lena masih memikirkan lelaki itu tapi, apa boleh buat? Sebagai orang tua dia tidak mungkin memaksa anaknya melupakan lelaki itu dengan cepat.
“Kamu tahu, mas Bagas? Lelaki itu punya suara lembut seperti kamu. Dia selalu bertanya aku bekal apa hari ini? juga sama seperti kamu. Sampai hari ini seseorang itu kuanggap sikapnya seperti kamu, itu yang membuatku jatuh di pesonanya tapi, memang tidak ada yang lebih meyakinkan selain kamu” Gumam Lena, mengelus bingkai foto itu dengan perlahan, seolah mengatakan bahwa siapapun yang ia sukai setelah lelaki itu, memiliki karakter yang sama dengan lelaki itu.
Bagas Adiatma adalah mantan kekasih Lena, bekerja di salah satu toko perhiasan ternama di kota itu. Mereka berkenalan ketika Lena sedang menjajakan uangnya untuk membeli beberapa perhiasan dari hasilnya menabung. Saat itu, Bagas adalah customer service yang melayani Lena.
“Lena” Gumam Bagas sembari menulis nama Lena di kertas nota pembelian.
“Masih sekolah atau…?” Tanyanya lagi.
Saat itu Lena bersama dengan bu Sri, Lena bahkan fokus dengan berbagai model perhiasan di balik kaca itu. Dia sama sekali tidak begitu mengindahkan sosok Bagas sebenarnya, terkesan dingin mungkin?
“Oh nggak, dia udah kerja” Jawab bu Sri.
“Oh, lulus tahun berapa?” Tanya Bagas lagi.
“Tahun 2020” Jawab Lena singkat.
“Kalau kamu? Baru lulus kah?” Tanya bu Sri.
Bagas segera menggeleng, “Oh tidak, bu. Saya lulus tahun 2017 lalu” Jawabnya.
Saat itu Lena banyak diam, yang lebih terlihat friendly malah ibunya. Lena pikir itu hanya basa-basi Bagas saja dengan customer service-nya.
Tapi, ketika Lena hendak pulang Bagas mencegahnya, “Mbak, boleh kenalan gak?” ucapnya bahkan di depan rekan-rekan kerjanya.
Lena saat itu tentu kebingungan dengan sikap Bagas yang tiba-tiba begitu. Jujur, Lena tidak tertarik sebenarnya. Dia tau lelaki itu sopan, tutur katanya lembut juga sopan tapi, apa daya jika dirinya masih tidak mau dipusingkan dengan urusan lelaki misalnya?
Tapi, dengan cepat bu Sri langsung menjawab, “Boleh boleh” jawabnya.
Yang akhirnya, mau tidak mau Lenan memberikan nomor whatsapp-nya kepada Bagas di depan sang ibu juga rekan-rekan kerja Bagas.
Saat berada di motor, bu Sri berkata, “Dia sopan, sudah dewasa juga sepertinya. Kan hanya berteman dulu, tidak ada salahnya”
Momen manis itu teringat di benak Lena seketika. Nyatanya, Tuhan memang sang Maha pembolak-balik hati. Hanya berawal dari makan seblak bersama, membicarakan hal random kesana-kemari juga membiarkan semuanya berjalan begitu saja, melah membawa keduanya berada di suatu hubungan yang indah.
“Aku gak mau kalau kita hanya jalani aja dulu, kesannya hubungan ini tidak tahu mau dibawa kemana, aku mau kita menginjakkan diri di level selanjutnya, Len. Kamu siap gak untuk itu?” Tanya Bagas.
Tidak butuh waktu lama, hanya satu bulan setelah perkenalan mereka hari itu, Bagas segera mengungkapkan keinginannya melamar Lena.
“Aku tidak bisa basa-basi tapi, aku jelas sudah merasa cocok dengan kamu, Len” Ucap Bagas hari itu.
Lena menelan salivanya kasar, sama sekali tidak terbayang jika lelaki itu mengungkapkan hal yang begitu mengejutkan di pertemuan ke-tiga mereka.
“Mas”
Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Lena sebagai jawaban, seperti tenggorokannya tercekat dengan pernyataan yang disampaikan lelaki itu. Terkesan sangat to the point, jangankan pacaran, Bagas bahkan tidak pernah mengucapkan ‘Lena aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu’, malah tiba-tiba mengajak menikah?
“Aku…”
Lena ragu-ragu menjawabnya tapi, malam itu Lena akhirnya menjawab dengan tenang, “Mas, aku tidak masalah dengan pernyataan kamu. Aku yakin dengan kamu, dengan planning, etika, juga sikapmu. Monggoh bilang ke ibu dan kita lihat jawabannya, semoga kita sama-sama diberi kelancaran jika memang berjodoh”
Jawaban itu adalah yang membuat Lena terjebak dengan sosok Bagas sampai hari ini.
Tidak ada kata putus diantara keduanya, hanya saja entah apa penyebabnya tapi, mereka tiba-tiba kehilangan komunikas hinga hari ini.
Hingga akhirnya Lena bertemu dengan Edwyn, lelaki yang menurutnya tidak jauh berbeda karakter dengan Bagas. Kehilangan Bagas membuatnya memandang Edwyn berbeda dari segi perasaan.
“Lena keburu dingin makanannya, nduk” Ucap bu Sri dari luar kamar.
Gadis itu segera menyeka air matanya dan menjawab, “Iya, bu Lena dataaang” jawabnya dengan ceria, seperti biasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments