Ternyata

Hari itu Lena manyantap bekalnya dengan lahap, entah kenapa dia merasa begitu lelah atau mungkin karena sudah memasuki weekend?

“Ah, aku tidak mau bekerja” Gumam Lena.

Rambut pendeknya masih terlihat acak-acakan, bahkan matanya masih tertutup rapat meskipun badannya sudah bangun dan duduk, dia bahkan masih menggunakan selimut untuk menyeka hawa dingin pagi itu.

Tapi, gadis itu segera tersadar saat alarm ponselnya berbunyi dengan nyaring memenuhi seisi kamarnya. Matanya terbuka sempurna, segera mengambil ponselnya lalu mematikan alarm maut itu.

“Apa tidak kurang kencang itu tadi? Siapa yang memasang alarm dengan volume sekuat itu?” Lena menggerutu sembari menurunkan kakinya ke lantai tapi, segera di naikkan lagi ke kasur “Ah, dinginnya”

“Lenaaaa”

Itu adalah suara alarm kedua yang akan terus berulang dan tidak bisa dimatikan jika Lena tidak segera beranjak dari kasur empuknya.

“Iya, bu Lena bangun” Jawabnya.

Gadis itu menyambar handuk miliknya, memilih dulu baju apa yang nyaman untuk bekerja di cuaca yang begini dan segera bersiap.

...***...

Ketika memasuki ruang produksi, Lena tidak sengaja melihat Edwyn sudah menunjukkan batang hidungnya pagi itu.

“Selamat pagi, bu Diah” Sapa Lena, seperti biasa gadis itu selalu terlihat ceria.

“Pagi, Len” Jawab bu Diah.

Tidak menyapa Edwyn?

Tidak, Lena tidak akan melakukannnya. Mengagumi dalam diam sudah menjadi pilihannya, terlebih dia sama sekali belum mengenal Edwyn.

Setelah doa bersama, Edwyn mulai keliling melihat kinerja anak buahnya, sampai di tempatnya beberapa orang mengatakan, “Selamat ya pak, Edwyn. Akhirnya sekarang jadi bapak beneran”

“Selamat ya pak Edwyn”

Banyak sekali yang mengucapkan selamat kepada pak mandor satu itu.

Ah iya, kita sering memanggil bu Diah dengan ibu kita dan mas-mas mandor dengan bapak kita, batin Lena. Gadis itu mencoba berpikir positif, sama sekali tidak ada pikiran buruk apapun kepada wajah kalem pria itu.

Lena hanya fokus kerja, sementara Edwyn berada di seberangnya, sampai ada seseorang yang bertanya, “Loh, pak Edwyn itu sudah menikah atau belum sih?” Tanyanya.

“Sudah, ya makanya ini tadi aku mengucapkan selamat jadi bapak beneran ya karena anaknya baru lahir dua hari yang lalu. Iya kan, pak?” Jawab bu Nur.

Deg

Seketika itu Lena langsung mengangkat kepalanya, menatap Edwyn yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.

Lelaki itu juga spontan menoleh kepada Lena, menatap gadis itu sekilas lalu mengangguk dengan senyum canggung sebagai jawaban dari pernyataan bu Nur.

Rasanya bagi Lena begitu campur aduk.

Lalu apa maksud dari perlakuannya selama ini? Lalu kenapa kami bisa sedekat itu selama ini? Apa maksudnya? Apa yang dia inginkan.

Pertanyaan-pertanyaan itu tersu berputar di kepala Lena, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Jadi, selama ini kedekatan kami apa?Ternyata dia sudah punya istri? Bahkan sudah punya anak? Berarti selama dia mendekatiku kemarin-kemarin istrinya sedang hamil besar? How’s shit is it?

Lena hampir menangis memikirkannya saja, salahnya juga yang salah paham dengan kedekatan mereka. Dia lalu melanjutkan pekerjaan, sama sekali tidak bersuara. Pikirannya kalut, drama apa-apaan ini???

Ketika pasokan pertama, Lena dan Edwyn hanya diam, tidak seperti biasanya yang kadang ada saja obrolan random keduanya. Hawa dingin seolah menyelimuti mereka, entah apa sebabnya. Seharusnya, bukankah baik Lena ataupun Edwyn bersikap biasa saja? Toh, mereka tidak memiliki hubungan apapun, bukan?

Ah tapi, entah bagaimana Lena juga Edwyn menjelaskan isi hati mereka?

...***...

Ini salahku, ya salahku. Salahku karena mengharapkan sesuatu yang belum tentu bisa aku gapai. Salahku juga sejak awal tidak bertanya atau sekedar ingin tau dia itu sudah memiliki pasangan atau belum.

Ini salah, sangat salah. Bahkan perasaanku yang tumbuh karena terbiasa dan nyaman dengan sikapnya selama ini pun turut salah.

“Aku hampir gila rasanya” Gumamku sebelum melahapkan satu sendok penuh makanan bekal dari ibuku ini.

Dan lebih gila lagi ketika aku melihat Edwyn yang seperti biasa, bedanya kali ini dia hanya melihatku dari kejauhan sambil tersenyum lalu pergi.

Aku ingin mengumpat, serius. Sepertinya mulai besok dan seterusnya ada baiknya jika aku tidak lagi menyantap bekalku di kantin atau pemandangan dan hal-hal seperti tadi atau seperti sebelum-sebelumnya kembali terulang.

Kali ini aku tidak istirahat lama-lama karena memang ingin segera pulang, aku menyetorkan rokok terakhirku.

Karena garapanku yang terakhir ini pasokannya hanya 250 batang, aku memilih gandengan dengan temanku yang memiliki pasokan terakhir yang sama. Jadi, nantinya pasokan kami genap 500 batang seperti biasanya.

“Mas, ini aku gandengan sama bu Nur 250-an” Ucapku menyerahkan rokok juga bon garapanku dan milik bu Nur untuk dicatat.

“Lah terus aku gandengannya sama siapa?” Gumam Edwyn lirih tapi, masih bisa terdengar di telingaku.

Seandainya saat itu aku tidak tahu kalau dia sudah memiliki istri, mungkin aku akan melayang tinggi, berhubung aku sudah mengetahuinya ya jadi batinku seperti, dasar gila.

“Ya gak tau mas” Ucapku santai lalu pergi meninggalkan Edwyn di mejanya.

Episodes
1 Mendapat Pekerjaan
2 Lingkungan Baru
3 Rumah
4 PDKT?
5 Bagaimana Jika Tidak Seperti yang Kamu Pikirkan?
6 Panggilan Interview Lena
7 Interview Interaksi
8 Pesona Lena
9 Izin Kerja
10 Ternyata
11 Bagas Adiatma
12 Ketemu mantan
13 Balikan
14 Terikat
15 Fokus Kehidupan Sendiri
16 Satu Tahun Berlalu
17 Putus
18 Galau
19 Pingsan
20 Self Healing
21 Menemani Lena
22 Rumah Edwyn
23 Oh Baru Putus
24 Telur Naga
25 Senada
26 Bertemu Bagas
27 Resign
28 Kemarahan Edwyn
29 Babak Baru
30 Healing bikin Pusing
31 Setelah Bertemu
32 Masalah
33 Pengasuh, Dahlia
34 Dari Jauh
35 Takdir
36 Hukuman Ekmal
37 Bertemu
38 Bunda
39 Akrab
40 Deeptalk
41 Curhat
42 Bagaimana Bisa?
43 Sial, tapi Sempurna
44 Tidak Gratis
45 Rumah Lena
46 Makan Malam
47 Cerita Ekmal
48 Rahasia
49 Nenda
50 Mulut Tetangga
51 Memberi Pengertian
52 Gelandangan Pinggir Jalan
53 Kok gak sama?
54 Janjian
55 Mau Adik
56 Imam
57 Malang Night Paradise
58 Kapan-kapan Lagi
59 Tetangga Julid
60 Perhatian Edwyn
61 Godaan Lia
62 Makan Siang
63 Apakah Kita Bisa Mencobanya Lagi?
64 Kita Bisa Mencobanya
65 Akrab
66 Pertemuan Pertama.
67 Godaan Edwyn
68 Lamaran di Bawah Senja
69 Persiapan
70 Semakin Dekat
71 Hari itu Tiba
72 Suami Istri
73 Keluarga Hangat
74 Sempurna
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Mendapat Pekerjaan
2
Lingkungan Baru
3
Rumah
4
PDKT?
5
Bagaimana Jika Tidak Seperti yang Kamu Pikirkan?
6
Panggilan Interview Lena
7
Interview Interaksi
8
Pesona Lena
9
Izin Kerja
10
Ternyata
11
Bagas Adiatma
12
Ketemu mantan
13
Balikan
14
Terikat
15
Fokus Kehidupan Sendiri
16
Satu Tahun Berlalu
17
Putus
18
Galau
19
Pingsan
20
Self Healing
21
Menemani Lena
22
Rumah Edwyn
23
Oh Baru Putus
24
Telur Naga
25
Senada
26
Bertemu Bagas
27
Resign
28
Kemarahan Edwyn
29
Babak Baru
30
Healing bikin Pusing
31
Setelah Bertemu
32
Masalah
33
Pengasuh, Dahlia
34
Dari Jauh
35
Takdir
36
Hukuman Ekmal
37
Bertemu
38
Bunda
39
Akrab
40
Deeptalk
41
Curhat
42
Bagaimana Bisa?
43
Sial, tapi Sempurna
44
Tidak Gratis
45
Rumah Lena
46
Makan Malam
47
Cerita Ekmal
48
Rahasia
49
Nenda
50
Mulut Tetangga
51
Memberi Pengertian
52
Gelandangan Pinggir Jalan
53
Kok gak sama?
54
Janjian
55
Mau Adik
56
Imam
57
Malang Night Paradise
58
Kapan-kapan Lagi
59
Tetangga Julid
60
Perhatian Edwyn
61
Godaan Lia
62
Makan Siang
63
Apakah Kita Bisa Mencobanya Lagi?
64
Kita Bisa Mencobanya
65
Akrab
66
Pertemuan Pertama.
67
Godaan Edwyn
68
Lamaran di Bawah Senja
69
Persiapan
70
Semakin Dekat
71
Hari itu Tiba
72
Suami Istri
73
Keluarga Hangat
74
Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!