Satu bulan berlalu, Lena selalu bercerita pada teman-temannya perihal, “Bagas,…”, “Bagas,…”, dan “Bagas,…” bahkan sambil bekerja kadang tidak terasa air matanya jatuh. Apalagi semalam, ada seorang wanita yang tiba-tiba mengikutinya di media sosial. Karena Lena adalah seseorang yang hanya akan merespon teman yang dia kenal, tentu dia akan melihat profil seseorang itu lebih dulu.
Betapa terkejutnya Lena ketika mendapati bahwa seseorang itu adalah kekasih Bagas yang baru.
“Oh, kekasih mas Bagas” Gumam Lena. Di kamarnya yang tamaran, Lena memangis dalam diam. Sesekali menertawakan dirinya sendiri, selama ini berharap Bagas kembali dalam versi terbaik masing-masing adalah suatu kesalahan terbesar yang di pikirkan Lena.
“Udah, jangan terlalu dipikir” Ucap mbak Devi.
Hari itu Lena ingin pulang lebih awal, mungkin karena semalaman menangis jadi di pagi harinya gadis itu merasa sangat pusing.
Tapi, mandor baru yang sebut saja bernama mbak Rina itu tidak memberinya izin, bahkan garapannya malah ditambah.
Ah iya, Rangga beberapa hari yang lalu sudah resign. Lelaki itu memilih pekerjaan baru yang mungkin menurutnya lebih baik. Apalagi istrinya sudah melahirkan, mungkin mencari pekerjaan yang jam kerjanya lebih normal adalah pilihannya.
“Mas Edwyn hari ini libur. Katanya sih lagi sakit” Ucap bu Nur, sekedar berbincang ringan dengan orang-orang, hanya saja Lena mendengarnya.
“Sakit apa, bu?” Tanya mbak Devi.
“Kayaknya demam” Jawab bu Nur.
Mbak Devi adalah satu-satunya orang yang tau perihal apa yang terjadi antara Lena dan mas Edwyn. Wanita itu bahkan sering mengatakan informasi-informasi tentang Edwyn jika Lena tidak masuk, padahal Lena tidak tanya.
Lena yang saat itu sedang ada di fase patah hati, mana sempat memikirkan Edwyn. Memangnya apa pentingnya lelaki itu untuk Lena? Yang dia inginkan saat ini hanya Bagas, tapi Bagas malah memilih orang lain.
“Mbak, kok aku pusing” Ucap Lena memegang kepalanya.
“Loh, Len. Kenapa?” Tanya mbak Devi.
Lena merasakan kepalanya berputar, dia bisa mendengar apapun yang dikatakan orang-orang, tapi pandangannya sudah kabur.
“Maaaas, Lena pingsan” Mbak Devi berteriak kepada siapapun yang ada di meja mandor.
Lena dibawa ke ruang kesehatan, gadis itu digendong oleh salah seorang lelaki karyawan harian.
Setelah dibalur minyak kayu putih di beberapa bagian, Lena dibiarkan beristirahat. Dia sudah sadar, tapi kepalanya masih begitu pusing. Sialnya, hari itu selimut di ruang kesehatan masih ada di tempat laundry.
“Boleh aku masuk?” Tanya mas Cipta, seseorang yang tadi menggendong Lena.
Lena hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ternyata Cipta membawa jaket untuknya, tapi tiba-tiba mendekat, melihat wajah Lena dengan seksama, itu terlalu dekat menurut Lena, “Apa?”, Lena mendorong halus tubuh Cipta.
“Ini, pakai untuk selimut” ucapnya sembari menyodorkan jaket warna merah itu.
“Gak usah mas, makasih” Ucap Lena. Dia tau bahwa jaket itu adalah milik Cipta.
Tanpa menunggu persetujuan Lena, Cipta tiba-tiba membeberkan jaket itu di tubuh Lena, “Kalau dibilangin itu nurut, kan ini buat nutupin tubuh kamu biar gak keliatan dari luar” Ucapnya.
“Sudah makan?”
Lena mengangguk, padahal gadis itu mana pernah sarapan. Tanpa pamit, Cipta segera keluar dari ruang kesehatan. Tapi, tidak lama setelah Lena ingin menidurkan diri tiba-tiba Cipta kembali masuk membawa satu gelas air putih hangat dan satu mangkuk.
“Aku gak tau kamu kenapa, kalau teh hangat tidak baik untuk asam lambung. Ini, makan dulu terus diminum mumpung masih hangat”
“Mas, kok repot-repot” Sahut Lena.
“Udah, makan aja dulu. Bisa bangun sendiri?” Tanya Cipta.
Tubuh Lena terlalu lemas, tapi dia memaksakan diri untuk bangun demi menghargai lelaki itu.
“Kalau gak kuat itu bilang, kan bisa dibantu” Cipta langsung membantu Lena untuk duduk. Tanpa menunggu Lena menye-menye, lelaki itu dengan sigap malah menyuapi Lena.
“Kalau sudah cukup, bilang. Jangan paksa ini dihabiskan”
Cipta, sama sekali tidak ada interaksi antara Lena dan lelaki itu sebelumnya. Bahkan lelaki itu terkesan cuek selama berada di dalam ruang produksi. Tugasnya sebagai karyawan harian terbilang berat, angkat-angkat barang dan biasanya membenahi alat giling karyawan produksi bila ada yang bermasalah.
Entah kenapa, di hari pertama interaksi mereka hari itu kesannya seperti keduanya sudah benar-benar dekat sebelumnya. Atau memang Cipta aslinya karakter yang respect dengan orang lain? hanya saja caranya menunjukkan yang berbeda?
“Sudah mas” Ucap Lena. Lelaki itu lalu mengambil air putih hangat tadi, memberi Lena obat penambah darah.
“Aku dengar tadi dari teman kamu yang didalam, katanya bisa jadi tekanan darah rendahnya kambuh”
Lena menerima obat dan minuman itu, meneguknya dengan pelan ditunggui Cipta. Bahkan sambil menunggu, lelaki itu menyantap makanan yang tadi tidak dihabiskan Lena tanpa rasa jijik atau apa.
“Sudah kayak suami siaga ya kamu, Cip” Bu Diah mengatakannya ketika masuk ke ruang kesehatan. Tadinya ingin melihat kondisi Lena, tapi malah mendapati Cipta berada di samping ranjang Lena yang masih meneguk obatnya.
“Ah nggak juga, bu. Ayo keluar, biarkan dia istirahat” Cipta mengajak bu Diah keluar. Sampai di depan pintu lelaki itu menoleh, “Tidur ya” lanjutnya lalu menutup pintu ruang kesehatan.
Gadis itu dikelilingi oleh orang-orang baik, tapi pikirannya masih saja tertuju oleh seseorang yang mungkin telah menjahatinya?
Hari itu, sampai dengan jam pulang sembari menunggu mobil langganannya datang, Lena hanya diam di ruang kesehatan. Sesekali Cipta masuk untuk melihatnya, beberapa kali juga lelaki itu bertanya, “Butuh sesuatu tidak?” atau menawari Lena, “Mau diantar pulang? Gak apa-apa jauh, yang penting bisa istirahat dengan enak di rumah”.
Kira-kira seperti itu, bahkan ketika Lena mau pulang.
“Mas, ini jaketnya. Terimakasih” Ucap Lena, memberikan jaket yang sudah ia lipat rapi itu ke Cipta.
“Pake aja, bawa pulang”
“Loh terus samean?”
“Gak apa-apa, rumahku kan di dekat sini”
“Gak deh, aku sudah bawa jaket sendiri di dalam” Ucap Lena, menunjukkan jaket miliknya yang dibawa mbak Devi dari dalam ruang produksi.
Ceritanya, sore itu ketika Devi sudah selesai dengan pekerjaannya, dia membawa barang-barang milik Lena, menjemput gadis itu untuk naik ke mobil langganan mereka.
“Itu ada aroma tembakaunya, nanti kamu pusing. Pake aja jaket itu” Ucap Cipta mutlak.
Akhirnya, dengan rasa sungkan Lena memakai jaket tersebut dibantu oleh Devi, “Makasih ya, mas”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments