Gledwyn Kurniawan. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Lena bahwa lelaki ini memiliki pesona yang berbeda.
“Aku selalu gugup jika sedang bertatap mata dengannya, entah apa yang membuatku jatuh dengan karismanya padahal, jelas tidak ada sesuatu yang istimewa jika dilihat lebih seksama” Gumam Lena.
Gadis itu sedang berbicara dengan dirinya sendiri di cermin. Sudah satu minggu dia tidak masuk bekerja karena sakit. Demam tiba-tiba saja melanda tubuhnya satu minggu yang lalu, menyebabkan dia harus di opname selama beberapa hari di rumah sakit terdekat.
“Lena, kok tidak keluar-keluar. Ini sudah siang, cepat berangkat” Ucap ibu Lena dari luar kamarnya.
“Iya bu” Jawab Lena, mengambil tasnya lalu keluar kamar.
Seperti biasa, ibunya sudah menyiapkan bekal untuk Lena. Bahkan sarapan energen hangat sudah siap di meja makan. Kurang enak apa lagi?
Ini bukan karena Lena yang manja atau sok ke-kota an. Masa sarapannya harus energen terus sih?
“Lena kan tidak biasa sarapan nasi atau sesuatu yang berat, takut mules” Jawab Lena ketika dirinya ditanya oleh beberapa orang, persis seperti jawabannya kapan hari saat bu Nur menanyainya di loker.
“Kamu ini, tetep aja. Tempat kerjamu itu jauh, nduk. Jangan dibiasakan gak sarapan. Emang awalnya enak, gimana nanti-nantinya?” Sahut ibunya, kita sebut saja namanya bu Sri.
“Ya mau gimana lagi bu” Jawab Lena santai.
“Terus ini bekal di makan pas kapan?” Tanya bu Sri lagi.
“Ya kalau udah selesai garapannya, baru keluar, makan. Kadang juga makan di mobil” Sahut Lena.
Jadi, Lena ada sebuah angkutan rombongan dari daerahnya tinggal untuk mengantar jemput karyawan di perusahaan tersebut.
“Jangan dibiasakan seperti itu terus loh ya. Lambung loh Lena taruhannya, kamu ini gimana. Kita itu cari kerja untuk makan, gimana ceritanya kalo kita kerja tapi kamu gak mau makan?” Omel ibu Sri. Sebenarnya, itu hanya seperti sebuah nasehat seorang ibu yang khawatir dengan anaknya.
“Iya bu iya, Lena berangkat dulu ya” Lena menyalami tangan ibunya lalu berangkat menggunakan motor miliknya, yang nantinya motor itu akan di parkir di dekat jalan raya tempat biasa Lena menunggu angkutan langganannya.
“Hati-hati, gangsar rejekine” Ucap bu Sri.
...***...
Kali ini, Lena kembali di hadapkan dengan tembakau juga tumpukan ambri di mejanya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan melinting rokok.
“Kamu masih muda. Kenapa gak cari kerjaan yang lain aja?” Tanya bu Nur.
“Melinting rokok itu menurut Lena sebuah kesenangan buk. Kenapa? Karena disini kita itu ya cuma duduk, kerja, pulang. Aku suka jam istirahat yang bisa kita atur sendiri jadi, tidak banyak ngerumpi dengan orang-orang” Jawab Lena, realistis sekali.
Setelah itu, Lena pergi untuk menyetorkan rokoknya ke depan. Mencari letak bon garapannya lalu menuju mas mandor, Edwyn.
“Ini mas” Ucap Lena.
Edwyn memandang Lena dan bon-nya bergantian.
“Kenapa mas?” Tanya Lena bingung.
“Aku kok jarang liat kamu ya, masih baru?” Tanya Edwyn.
Buset, ternyata Edwyn lupa dengan Lena. Padahal, baru seminggu dia tidak masuk.
“Iya mas. Baru masuk 1 minggu tapi, habis itu opname beberapa hari kemarin jadi, harus ijin gak masuk” Sahut Lena.
Edwyn menganggukkan kepalanya, “Umur berapa Lena?” Tanyanya.
“21 tahun mas”
“Oh masih muda ya. Ini kamu mau dikasih garapan berapa?” Tanya Edwyn.
Jadi, sistem kerja di perusahaan tersebut adalah borongan, dimana semakin tinggi hasil kerja kamu ya jelas gajinya akan semakin tinggi.
“2000 aja deh mas, masih belum fit banget soalnya” Jawab Lena.
Tanpa banyak ina ini itu, Edwyn segera menulis dan memberikan ambri-nya pada Lena, “Tembakaunya langsung ambil lunas ya, Len” ucapnya.
“Siap” Sahut Lena.
Noted :
Genduk/nduk \= Panggilan sayang untuk anak perempuan di Jawa
Ambri \= Kertas pembungkus rokok
gangsar rejekine \= lancar rezekinya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments