Bulan demi bulan berlalu, Lena bahkan memasuki masa lembur-lembur terus, sampai tidak terasa satu tahun sudah keadaan berjalan monoton. Rangga tiba-tiba sudah menjadi seorang ayah dari anak yang sempat membuat Rangga kelimpungan tengah malam.
“Istrinya gak pernah ngidam kah mas?” Tanya bu Nur ketika Rangga sedang kontrol rokok di siang hari.
“Pernah bu. Yang bikin pusing itu yang kemarin lusa, tengah malam minta anak ayam yang warna-warni itu loh” Jawab Rangga, ekspresi wajahnya turut meyakinkan bahwa hal tersebut benar-benar membuatnya pusing.
“Terus dapat tidak?” Tanya bu Nur lagi.
“Aku menjanjikan keesokan harinya, memangnya siapa yang jual ayam warna-warni jam 2 dini hari? Akhirnya pulang kerja kemarin aku cari-cari sampai dapat” Sahut Rangga.
Itu cukup menghibur bagi Lena, diam-diam berterimakasih pada anak Rangga di hari itu karena sudah membalaskan kekesalannya pada Rangga.
Komunikasi Edwyn dan Lena mulai kembali membaik, lelaki itu sekarang sudah sempat menggoda Lena lagi. Seperti kapan hari misalnya.
“Aku hari ini minta kurang garapan satu bison ya, mas. Kasihan supirku ibunya meninggal pagi ini dan tidak ada yang menggantikan jadi, hari ini biar dia bisa membantu lebih untuk acara tahlilan kalau pulangnya agak siang” Ucap Lena, berpamitan untuk orang-orang satu bison pada Edwyn di pagi hari.
Lalu, Edwyn mencondongkan dirinya ke depan. Hal itu tentu membuat Lena spontan menarik dirinya mundur, takut saja jika terlalu dekat dengan lelaki itu, “Sama aku gak kasian?” Tanya Edwyn, sorot matanya bahkan begitu menggoda.
Atau ketika Lena membawa kardus untuk menempelkan bon garapannya agar tidak mudah hilang karena hanya selembar kertas? Gadis itu membalut kardus tersebut dengan kertas kado yang dibalik, dimana berarti hanya putih polos lalu ditempeli dengan foto Park Jimin BTS, katanya sih untuk menambah semangat ketika bekerja.
Pagi hari, Lena memamerkan foto tersebut ke mandor-mandornya. Sampai saat dimana Lena memasok rokok pertama di hari itu.
“Nah, Mas” Ucap Lena, dia juga memberikan bon garapan miliknya.
Edwyn membolak-balik bon garapan itu, melihat foto park Jimin terpampang besar disana.
“Ini harusnya foto aku aja yang ditaruh disini, Len” Ucap Edwyn.
“Gak mau”
“Gantengan juga aku” Sahut Edwyn lagi.
“No, gantengan ini dong mas”
“Manisan aku kalau gitu” Ucap Edwyn lagi.
“Dih” Lena memicingkan mata pada Edwyn.
Dalam hati, Lena setuju bahwa lelaki di depannya saat itu memang manis, tapi siapa yang mau mengakui hal itu?
“Aku kasih tahi lalat ya disini” Edwyn sudah siap mencoret bagian dagu kanan Jimin dengan bulpoin yang ia pegang.
“Bu Diah, Mas Edwyn jahat” Ucap Lena, mengadu pada bu Diah yang saat itu berada di samping Edwyn.
Akhirnya Edwyn dan bu Diah tertawa ringan mendengar rengekan Lena.
“Kamu loh Wyn, jail banget ke Lena” Ucap bu Diah sembari menepuk pundak lelaki itu pelan.
Lena dan Edwyn tidak lagi canggung seperti dulu, entah Lena harus menganggap apa. Sejak kembalinya Bagas, gadis itu merasa bahwa Edwyn sudah tidak semenarik dulu atau karena dari awal dia menganggap sikap Edwyn mirip dengan Bagas?
Tapi, yang sangat disayangkan adalah komunikasi Lena dan Bagas kembali tidak baik seperti satu tahun lalu.
Lena bingung dengan sikap Bagas akhir-akhir ini, lelaki itu kerap tidak membalas pesannya, bahkan sama sekali tidak menghubunginya lebih dulu, bisa dikatakan komunikasi antara keduanya terbilang hanya formalitas.
Yang lebih menyedihkan, tiga bulan terakhir mereka sama sekali tidak bertemu dan satu minggu ini sama sekali tidak ada komunikasi apapun. Lena memang niat menahan diri untuk tidak menghubungi Bagas lebih dulu lagi.
“Kamu harus sadar, Len. Kalau kamu adalah prioritasnya, kamu tidak perlu mengemis waktu darinya” Gumam Lena, gadis itu selalu melihat ponselnya, sesekali juga melihat status media sosial dari kekasihnya.
Dari Senin hingga Sabtu, Lena hanya bolak-balik melihat media sosial Bagas tanpa menghubungi lelaki itu. Rasa ingin bertanya kabar, membuat Lena hampir gila sendiri.
^^^Mas, nanti pulang kerja telfon aku ya. Ayo kita bicara^^^
Pesan itu berhasil dikirim Lena pada Bagas. Minggu malam, di jam kerja Bagas yang hampir selesai, Lena akhirnya yang tidak tahan dengan kebungkaman keduanya.
Sudah ada waktu?
Aku pulang nanti gak bisa, mau jemput mbak di rumah suaminya
Lena mendapatkan balasan itu setelah satu jam menunggu. Rasanya getaran takut, ingin nangis, ingin marah menyelimuti hati Lena.
Jawaban macam apa itu? Apa Bagas sama sekali tidak ingin menyelesaikan masalah kami?
^^^Terus mas maunya gimana? Apa mau begini terus?^^^
Kalau kamu sudah punya waktu yang bener-bener luang
Kamu boleh hubungi aku kapanpun
Deg
Entah ada apa dengan Bagas, perasaan Lena sama sekali tidak enak. Gadis itu memiliki firasat buruk perihal hubungannya dengan Bagas kali ini.
^^^Mas, selama aku gak menguhubungi^^^
^^^Apa mas sudah dinyamankan oleh wanita lain?^^^
^^^Maunya mas gimana?^^^
Lena tidak tahan, dia mengucapkan kekhawatiran akhirnya hanya lewat pesan singkat itu.
Jam kerjanya dan Bagas selalu bersebrangan. Ketika Lena berangkat kerja, Bagas masih tidur. Ketika Bagas istirahat, Lena masih di jam kerja. Sampai ketika Lena pulang, Bagas masih di jam kerja. Dan ketika Bagas pulang, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, dimana Lena sudah ketiduran.
Malam itu Lena sengaja tidak merebahkan tubuhnya agar tidak ketiduran. Gadis itu menunggu Bagas membalas pesannya, mungkin ketika kekasihnya sudah pulang bisa membalas?
Tapi, nihil. Bahkan hingga pagi menyapa, Lena ketiduran di meja belajarnya. Gadis itu segera melihat ponselnya, sama sekali tidak ada pesan masuk dari Bagas.
Hal yang wajar bukan jika Lena overthinking pada Bagas? Sikap lelaki itu seperti memperkuat dugaan-dugaan buruknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments