Izin Kerja

“Loh Len, sudah masuk? Sudah sehat?” Tanya bu Diah ketika melihat Lena menampakkan diri setelah dua hari izin kerja yang katanya sakit.

“Alhamdulillah, sudah bu Diah” Jawab Lena, kalem. Seperti ya Lena biasanya yang selalu menurunkan nada bicaranya.

“Aku pikir kamu kenapa-kenapa, jaga kesehatan ya Len, nyari karyawan yang niat kerja sekarang tuh susah soalnya” Lanjut bu Diah.

Lena terkesiap, niat hati nanti ingin sekalian berpamitan malah sekarang dirinya seperti semakin enggan meninggalkan perusahaan itu. Meskipun baru masuk beberapa minggu tapi, rasa kekeluargaan disana tercipta dengan sempurna. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang ketika bekerja?

Atasan baik, teman-teman saling support, gaji memadahi, minum perjalanan saja yang jauh.

“Semoga kedepannya selalu sehat bu, terimakasih perhatiannya” Lena akhirnya memasuki gedung produksi dengan perasaan lega.

Tapi, hari itu Lena sama sekali tidak melihat keberadaan Edwyn. Tentu saja dia tidak mau terlalu ambil pusing, yang penting fokus kerja aja dulu.

“Len, kemana kemarin?”

Deg

Itu pertanyaan dari bu Nur, sukses membuat Lena bingung harus menjawab apa. Sedikit berbohong kepada bu Diah itu masih memungkinkan, karena posisinya bu Diah adalah supervisor, kalau sampai beliau tahu jika dia baru saja memasuki perusahaan lain, dari tadi pasti sudah di depak ke luar.

“Anu bu,..” Lena menggantung sebentar ucapannya, bingung mau menjawab apa.

“Loh, kenapa?” Tanyanya lagi sedikit mendesak.

“Ah iya itu tidak enak badan, bu Nur. Biasalah anak muda kalau banyak begadang” Sahut Lena cepat.

Berbohong demi kebaikan tidak apa-apa, kan?, batin Lena.

Gadis itu akhirnya mengatakan bahwa tekanan darahnya sedang turun jadi, tidak bisa masuk kerja.

Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang mengatakan, “Pak Edwyn hari ini libur lagi ya? Padahal mandor yang paling enak tuh dia, kira-kira kenapa ya?”

“Iya loh tapi, ya siapa tahu memang ada kepentingan yang gak bisa ditinggal” Ucap salah seorang yang lainnya.

Oh, sudah tidak masuk beberapa hari, batin Lena lalu melanjutkan pekerjaannya.

...***...

“Sayang, tenang ya. Kamu kalau butuh apa-apa bilang aja” Ucap Edwyn pada istrinya.

Mereka sedang berada di ruang persalinan, menunggu Mei pembukaan lengkap untuk melahirkan. Edwyn menggenggam tangan istrinya lembut, menyalurkan kekuatan disana.

Sedang sebagai jawaban, Mei hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Mau makan lagi? Kata dokter, kamu harus punya asupan yang cukup untuk nanti” Tanya Edwyn.

“Sudah, mas. Aku baik-baik saja” Ucap Mei. Senyumnya itu sama sekali tidak pernah luntur dari wajahnya, dia bahkan terus mengelus perutnya yang membuncit.

“Adek, jangan nakal ya. Keluarnya nanti harus lancar, kasian mama” Edwyn berucap tepat di depan perut istrinya, seolah mengajak anaknya berkomunikasi, lelaki itu juga mengecup perut Mei berkali-kali, menunjukkan sayangnya sebagai seorang suami juga ayah.

“Selamat siang, ibu Mei mari kita lohat sudah pembukaan ke berapa ya” Ucap sag dokter ketika memasuki ruangan.

Karena pembukaannya sudah lengkap, akhirnya dokter dibantu beberapa perawat segera bersiap untuk melakukan persalinan.

“Bu, tetap tenang dan ikuti instruksi saya. Ingat, jangan diangkat meskipun terasa tidak nyaman” Ucap bu dokter, mengingatkan.

Persalinan pun dimulai, Mei berusaha dengan sekuat tenaga ditemani dengan sang suami, Edwyn di sampingnya.

Tentu saja kehadiran lelaki itu seperti sebuah kekuatan tersendiri untuk Mei.

Siapa sangka juga, jika Edwyn yang kala itu meng-kadernya sebagai mahasiswa baru di kampus ternyata malah sekarang meng-kader dirinya seumur hidup.

“Kamu kuat, kamu pasti bisa, sayang” Ucap Edwyn di telinga Mei, dia juga sesekali menyeka keringat yang mengucur di dahi sang istri.

Hingga akhirnya suara bayi terdengar nyaring di seisi ruangan.

“Alhamdulillah” Ucap seluruh orang yang berada di ruangan itu.

Ada kelegaan di hati Edwyn, juga Mei setelah mendengar tangisan anak mereka.

“Anaknya cowok, tampan sekali” Gumam bu dokter, wanita paruh baya itu bahkan melambai-lambaikan tangan bayinya kepada Mei, “Halo ma, pa” ucapnya untuk menghibur sepasang suami istri yang baru saja menjadi orang tua itu.

Seketika itu juga, Mei langsung menangis haru.

Sedangkan Edwyn terus menemani sang istri, menunggu anaknya dibersihkan sebelum akhirnya di-adzani olehnya.

Proses persalinan Mei hari itu berjalan dengan lancar, selama masa kehamilannya juga tidak rewel sama sekali. Wanita itu berperan menjadi ibu rumah tangga yang baik selama menjalani kehidupan pernikahannya dengan Edwyn.

Melahirkan memang menguras tenaga, waktu juga pikiran. Tapi, itu tentu saja tidak sebanding dengan apa yang didapatkan, bertemu dengan sang bayi bukankah sesuatu yang sama sekali tidak ada tandingnya.

“Terimakasih, sayang” Ucap Edwyn setelah hanya tersisa mereka berdua, dia mengecup kening istrinya dan membiarkan wanita itu beristirahat.

Episodes
1 Mendapat Pekerjaan
2 Lingkungan Baru
3 Rumah
4 PDKT?
5 Bagaimana Jika Tidak Seperti yang Kamu Pikirkan?
6 Panggilan Interview Lena
7 Interview Interaksi
8 Pesona Lena
9 Izin Kerja
10 Ternyata
11 Bagas Adiatma
12 Ketemu mantan
13 Balikan
14 Terikat
15 Fokus Kehidupan Sendiri
16 Satu Tahun Berlalu
17 Putus
18 Galau
19 Pingsan
20 Self Healing
21 Menemani Lena
22 Rumah Edwyn
23 Oh Baru Putus
24 Telur Naga
25 Senada
26 Bertemu Bagas
27 Resign
28 Kemarahan Edwyn
29 Babak Baru
30 Healing bikin Pusing
31 Setelah Bertemu
32 Masalah
33 Pengasuh, Dahlia
34 Dari Jauh
35 Takdir
36 Hukuman Ekmal
37 Bertemu
38 Bunda
39 Akrab
40 Deeptalk
41 Curhat
42 Bagaimana Bisa?
43 Sial, tapi Sempurna
44 Tidak Gratis
45 Rumah Lena
46 Makan Malam
47 Cerita Ekmal
48 Rahasia
49 Nenda
50 Mulut Tetangga
51 Memberi Pengertian
52 Gelandangan Pinggir Jalan
53 Kok gak sama?
54 Janjian
55 Mau Adik
56 Imam
57 Malang Night Paradise
58 Kapan-kapan Lagi
59 Tetangga Julid
60 Perhatian Edwyn
61 Godaan Lia
62 Makan Siang
63 Apakah Kita Bisa Mencobanya Lagi?
64 Kita Bisa Mencobanya
65 Akrab
66 Pertemuan Pertama.
67 Godaan Edwyn
68 Lamaran di Bawah Senja
69 Persiapan
70 Semakin Dekat
71 Hari itu Tiba
72 Suami Istri
73 Keluarga Hangat
74 Sempurna
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Mendapat Pekerjaan
2
Lingkungan Baru
3
Rumah
4
PDKT?
5
Bagaimana Jika Tidak Seperti yang Kamu Pikirkan?
6
Panggilan Interview Lena
7
Interview Interaksi
8
Pesona Lena
9
Izin Kerja
10
Ternyata
11
Bagas Adiatma
12
Ketemu mantan
13
Balikan
14
Terikat
15
Fokus Kehidupan Sendiri
16
Satu Tahun Berlalu
17
Putus
18
Galau
19
Pingsan
20
Self Healing
21
Menemani Lena
22
Rumah Edwyn
23
Oh Baru Putus
24
Telur Naga
25
Senada
26
Bertemu Bagas
27
Resign
28
Kemarahan Edwyn
29
Babak Baru
30
Healing bikin Pusing
31
Setelah Bertemu
32
Masalah
33
Pengasuh, Dahlia
34
Dari Jauh
35
Takdir
36
Hukuman Ekmal
37
Bertemu
38
Bunda
39
Akrab
40
Deeptalk
41
Curhat
42
Bagaimana Bisa?
43
Sial, tapi Sempurna
44
Tidak Gratis
45
Rumah Lena
46
Makan Malam
47
Cerita Ekmal
48
Rahasia
49
Nenda
50
Mulut Tetangga
51
Memberi Pengertian
52
Gelandangan Pinggir Jalan
53
Kok gak sama?
54
Janjian
55
Mau Adik
56
Imam
57
Malang Night Paradise
58
Kapan-kapan Lagi
59
Tetangga Julid
60
Perhatian Edwyn
61
Godaan Lia
62
Makan Siang
63
Apakah Kita Bisa Mencobanya Lagi?
64
Kita Bisa Mencobanya
65
Akrab
66
Pertemuan Pertama.
67
Godaan Edwyn
68
Lamaran di Bawah Senja
69
Persiapan
70
Semakin Dekat
71
Hari itu Tiba
72
Suami Istri
73
Keluarga Hangat
74
Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!