Lena melangkahkan kakinya memasuki gerbang perusahaan. Gadis itu sudah bisa beradaptasi dengan orang-orang baru disana.
“Selamat pagi” Sapa Lena kepada teman-temannya.
“Pagii” Jawab mereka.
“Tumben Lena datengnya agak telat?” Tanya seorang ibu-ibu yang kita katakan saja dia bernama, bu Nur.
“Iya buk, Malang macet banget hari ini” Jawab Lena santai sembari mempersiapkan kebutuhan kerjanya.
“Udah sarapan belum? Ini ibuk bawa sarapan agak banyakan” Tanya bu Nur lagi.
Jadi, loker karyawan diletakkan berdampingan dengan meja kantin. Lena sedang berada di lokernya sedangkan bu Nur tengah menyantap makanannya di meja dekat loker.
“Tidak, bu. Lena jarang makan pagi, takut nanti malah mules, gak biasa soalnya. Makasih ya” Jawab Lena sopan.
Mereka akhirnya berbincang sebentar sebelum jam masuk berbunyi.
Perusahaan yang sedang di tekuni oleh Lena ini adalah salah satu pabrik rokok yang berdiri sejak tahun 1958 silam, memang tidak sebesar perusahaan sejenis yang akrab di telinga kita tapi, jika dilihat dari segi pemasarannya, perusahaan ini memiliki jangkauan pasar yang cukup luas sesuai dengan karakteristik rokok itu sendiri.
Tidak ada masalah bagi Lena meskipun dia harus bekerja sebagai pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) bersama dengan ibu-ibu. Mungkin tidak seperti teman-temannya yang bisa bekerja di perusahaan-perusahaan besar yang lain tapi, entah kenapa seperti ada daya tarik tersendiri bagi Lena ketika melinting rokok.
Entah itu karena dia dilahirkan dari keluarga yang rata-rata leluhurnya adalah pelinting rokok? Atau memang ada daya tarik tersendiri dari rokok itu?
Nyatanya, ibunda juga alm. nenek Lena juga pelinting rokok di perusahaan yang berbeda. Tidak heran bukan jika Lena memiliki ketertarikan di dunia rokok?
“Mas, ini aku pasok” Ucap Lena, memberikan nampannya yang sudah berisi kurang lebih 500 batang rokok kepada mas mandor.
Sudah seminggu tapi, Lena belum hafal dengan 4 mandor yang saat ini ada di hadapannya. No, bukan belim hafal tapi, dia memang belum kenalan dengan mereka.
“Edwyn, tolong itu” Ucap salah seorang mandor tampan, tinggi, mancung, berkulit kuning langsat.
“Eh, ini udah harus ganti bon garapan ya? Siapa namanya?” Tanya mas mandor yang diketahui tadi bernama Edwyn. Lelaki itu cukup manis di mata Lena, suaranya halus, lembut, tatap matanya juga dalam. Tapi, fokus Lena adalah dia yang selalu tersenyum.
Segera gadis itu tersadar sebelum akhirnya menjawab, “Lena mas” Jawabnya singkat.
Gadis itu, Lena. Sama sekali tida menunjukkan perangai sebagai gadis petakilan di awal-awal masa kerjanya disana, namanya juga anak baru. Padahal bagi siapapun yang sudah cukup mengenalnya,…
“Lena. Ya ampun, kamu ada di kelompok mana? Baru ya? Kok baru keliatan sih?” Sapa seseorang disana.
“Loh mbak, astagaaa. Aku duduk di belakang sana,…” Lena menunjukkan tempat dimana meja kerjanya berada, “Kamu duduk dimana? Ih gak nyangka banget bisa ketemu disini” lanjut Lena dengan sumringah. Tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan teman lamanya di perusahaan sebelumnya.
Katakan saja namanya adalah Devi. Seseorang yang dulu sempat menjadi teman kerja Lena di satu kelompok yang sama.
“Ya udah, nanti kita ngobrol lagi ya. Aku bakal ke tempatmu nanti” Sahut Devi sebelum akhirnya pergi karena dia sudah selesai dengan pasokan-nya.
Tanpa Lena sadari, Edwyn diam-diam sedang memperhatikan interaksinya dengan Devi. Entah apa yang sedang dipikirkan, terlihat dari mata lelaki itu memncarkan sesuatu yang berbeda.
Noted:
Garapan \= hasil pekerjaan
Pasok \= Setok
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments