Lena berjalan menyusuri perusahaan tempat dimana ia melakukan interview kerja hari ini, langkahnya terdengar mantap sekali. Jilbab hitam, kemeja putih dan celana bahan hitam juga makeup tipis yang memoles wajahnya seolah menunjukkan kerapihan juga kesiapannya menghadap HRD pagi ini.
Wow, ternyata hanya ada beberapa kandidat hari itu yang datang atau mungkin hanya itu yang diundang. Lena cukup paham, pasalnya proses penyaringan di perusahaan tersebut memang tidak mudah.
“Lena Talita” Ucap (mungkin) sang sekretaris HRD. Kini giliran namanya yang dipanggil untuk masuk ke ruang HRD.
Lena menengadahkan kepalanya, tersenyum lalu akhirnya berdiri.
“Selamat pagi” Sapa Lena dengan senyum manisnya.
“Pagi, silahkan duduk” Ucap bu HRD, wanita itu mengulurkan tangannya dan tentu saja disambut dengan baik oleh Lena. Jabatan tangannya pun terasa mantap, tidak terlalu lemas karena itu akan menunjukkan dirinya minder juga tidak terlalu kuat karena akan menunjukkan dia terlalu berambisi.
Merasa gugup ketika kita akan melakukan tes interview itu hal yang wajar bukan? Lena menarik napas sedikit dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya menarik kursi untuk ia tempati.
“Mbak Lena Talita” Tanya bu HRD sambil membolak-balikkan surat lamaran pekerjaan yang Lena kirim, “coba ceritakan sedikit tentang diri anda” lanjutnya.
“Baik, perkenalkan nama saya Lena Talita, biasa dipanggil Lena saya berdomisili di kecamatan Purwosari, kabupaten Pasuruan.
Saya adalah seorang lulusan Rekayasa Perangkat Lunak, SMK Negeri 1,- . Alasan saya memilih jurusan tersebut karena saya tertarik dengan dunia IT.
Sebelumnya, saya telah bekerja selama satu tahun sebagai quality control di salah satu perusahaan plywood, sebagai content creator di sebuah toko aksesoris, customer service di apotik dan juga satu tahun pengalaman di pabrik rokok.
Selama masa kerja tersebut, saya memiliki banyak pengalaman dan banyak hal baru yang bisa saya pelajari serta tidak banyak kesulitan yang saya hadapi. Seluruh tim dan atasan bekerja sama dengan baik.
Selama menjadi jobseeker saya menghabiskan waktu dengan menulis novel dan mengikuti beberapa organisasi seperti tegak budaya dimana dalam organisasi tersebut kami belajar tentang teater, tari, nembang, dan kegiatan positif lainnya.
Itulah hal yang bisa saya sampaikan kepada ibu, semoga itu bisa menjadi acuan ibu untuk dapat menilai saya, terimakasih”
Selama perkenalan diri itu, Lena menjaga kontak mata dengan HRD guna menunjukkan minatnya di perusahaan tersebut.
Lena dengan tenang menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan oleh interviewer di hadapannya. Sama sekali tidak terlihat gugup atau sejenisnya.
“Kamu saya saya terima, persiapkan diri kamu untuk bekerja besok. Saya tunggu disini pukul 07.00 pagi dan jangan terlambat. Semoga kita bisa bekerja sama degan baik” Ucap bu HRD mengakhiri sesi interview-nya dengan Lena hari itu, tidak lupa dengan mengulurkan tangannya sebagai rasa senang atas diterimanya Lena disana.
Lena tersenyum lega, menerima uluran tangan tersebut, “baik, bu. Terimakasih” Jawab Lena sebelum meninggalkan ruangan.
...***...
Seorang wanita sedang terduduk di teras rumahnya sembari mengelus perutnya yang sudah amat besar.
“Mas, dapet cuti berapa hari?” Tanyanya pada seorang lelaki yang jelas saja itu suaminya, baru saja keluar sembari membawa satu mangkuk buah apel dan segelas susu ibu hamil.
“Dapet cuma lima hari sayang, gak apa-apa ya” Ucapnya sembari menyuapi sang istri.
“Iya mas, mau bagaimana lagi namanya juga keadaan” Jawabnya, mari panggil dia dengan Mei.
Wanita berusia 24 tahun, setelah lulus kuliah dia malah dinikahi oleh kakak tingkatnya yang tidak lain adalah Gledwyn, hal itu mengharuskan dirinya sekarang menjadi ibu rumah tangga, apalagi di tengah kondisinya yang sedang hamil besar, membuat Gledwyn atau Edwyn sama sekali tidak mengizinkan sang istri melakukan hal-hal berat.
Edwyn terdiam memandangi wajah sang istri lamat-lamat, sesekali menyuapi istrinya dengan telaten.
“Kenapa mas?” Tanya Mei, menyadari sikap Edwyn yang tiba-tiba begitu.
Edwyn menggelengkan kepalanya, tersenyum dengan tulus, “Tidak apa-apa, sayang. Terimakasih ya sudah bersedia menjadi istri dan ibu dari anakku nanti, kalau aku salah tolong diingatkan, kalau aku ada kurangnya tolong dilengkapi” ucapnya lalu mencium tangan sang istri dengan lembut.
“Mas, kenapa sih kok tumben banget” Ucap Mei.
Sebenarnya wanita itu merasa terharu dengan apa yang disampaikan suaminya. Bukan karena Edwyn tidak pernah melakukan hal-hal manis begitu tapi, entah kenapa terasa seperti menyentuh lubuk hatinya, atau karena mungkin sedang hamil?
“Aku hanya merasa bersyukur dengan kehadiran kalian, apa salah?” Sahut Edwyn sebelum akhirnya mencium puncak kepala istrinya, mengajak wanita itu masuk rumah karena matahari sudah semakin turun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments