Aku pamit, Len
Pesan itu masuk dari Bagas. Lena masih ada di jam kerjanya, sekitar jam 12.00 siang ketika Lena sedang mau istirahat.
Saat itu juga, Lena langsung lemas. Gadis itu menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Mbak, Bagas minta putus” Lena spontan mengatakan hal itu pada mbak Devi yang sekarang duduk di sebelahnya.
“Ha? Gimana?” Balas Devi.
Devi bersama dengan bu Nur adalah saksi bagaimana Lena mencintai Bagas. Lena selalu membanggakan Bagas kapanpun, bahkan selalu menceritakan hal-hal menyenangkan ketika sedang bersama Bagas.
Tentu membuat Devi dan bu Nur terkejut, “Kenapa?” tanya bu Nur.
Lena terdiam, melihat ponselnya dengan seksama, memastikan bahwa dia tidak salah baca.
^^^Mas, kamu mau kita putus? Udahan?^^^
^^^Ayo ketemu dulu, aku ijin pulang ya sebentar lagi^^^
Ekspresi Lena saat itu masih bisa dikatakan sedikit tenang karena gadis itu yakin bahwa Bagas tidak mungkin mengakhiri semuanya semudah ini.
Gak usah, Len.
Waktu kerja kamu dibandingkan dengan ketemu aku itu gak sebanding.
Kita selesai, Len. Aku sudah tidak mau memaksakan kamu dan aku sendiri.
Aku sudah serius ke kamu, hanya itu yang aku punya tanpa menyadari
Bahwa aku masih kurang banyak bahkan dari segi pekerjaan.
Aku hanya punya modal serius dan itu masih tidak ada apa-apanya.
Lena langsung menekan gambar telepon di pojok kanan aplikasi chating itu tapi, yang dia dapat adalah penolakan dari Bagas.
^^^Mas??^^^
^^^Kenapa sih?Aku tidak pernah membuang-buang waktu buat kamu^^^
Dengan terpaksa, Lena akhirnya hanya bisa menyesalaikan masalah itu lewat pesan online. Apa daya jika Bagas tidak mau diajak berkomunikasi langsung?
Aku merasa aku ini kekasih kamu
Tapi aku selalu merasa kamu lupa ke aku
Kamu bisa ngurus kerjaan sampai tengah malam
Kamu bisa main kemana-mana sendirian sedang sama aku?
Entah, aku bahkan sampai lupa.
Ini antara kamu yang emang random atau emang se-gak punya waktu itu buat aku?
Lena akhirnya meloloskan air matanya, di meja kerja. Tidak peduli berapa orang yang melihatnya menangis siang itu. Apa-apaan ini?
^^^Mas, ayo ketemu dulu^^^
^^^Aku gak mau menyelesaikan masalah lewat pesan begini^^^
Udah, gak usah.
Sebelumnya aku gak berani minta waktu ke kamu,apalagi kondisi kayak gini. Gak usah kasih waktu lagi buat aku. Aku tidak mau memaksa kamu buang waktu lebih buat aku.
Karena jika memang hati kamu sepenuhnya untuk aku, tanpa kamu sadari sedikit aja waktu yang kamu kasih ke aku, aku pasti menyadari hal itu.
Selamat bebas, Len. Terimakasih untuk setiap detik yang kamu kasih buat aku
^^^Ini gak mau diperbaiki mas?^^^
^^^Aku gak mau^^^
Lena menangis sesenggukan saat itu, Devi dan bu Nur melihat hal itu jelas tidak tega.
“Aku ijinkan ke bu Diah ya, terus kamu pulang, temuin dia” Ucap Devi, dia langsung berlari ke depan, mencari bu Diah untuk mengizinkan Lena.
Lena tidak menjawab, dia bingung sendiri. Bekerja? Tentu tidak mungkin. Ambri adalah kertas tipis, terkena keringat saja pasti akan merusak kualitas rokok, apalagi kalau terkena air mata?
“Sudah Len, cepat pulang. Kata bu Diah, beresin langsung pulang” Ucap Devi.
Saat itu, Lena antara mau dan enggan untuk beranjak. Tapi, dia butuh bertemu Bagas saat itu.
Sampai bu Diah akhirnya datang, “Loh Len kok masih disini? Ayo cepet pulang, bu Diah antar ke mas Rangga buat ijin ya”
Bu Diah membawa Lena ke meja mandor, membawa sisa ambri dan tembakau milik Lena.
“Kurang berapa Len?” Tanya Rangga.
“1000, mas” Jawab Lena lemas, bahkan air matanya sudah berkumpul siap jatuh.
“Iya iya, gak usah nangis” Ucap Rangga, dia mengambil sisa ambri yang dibawa bu Diah, “Disana udah ada pasokan?” lanjut Rangga.
Lena mengangguk, “Ada, 500” jawabnya.
“Dibawa kesini ya”
Lena kembali ke mejanya, membersihkan mejanya lalu kembali ke depan untuk pasok rokok.
“Sakit apa sih Len? Demam kah? Meriang begitu?” Tanya Rangga sembari melihat wajah sembab Lena.
“Sakit hati” Sahut Lena.
Tiba-tiba setengah batang rokok yang tadi digunakan Rangga untuk bermain-main berhasil meluncur di perut Lena, “Ditanya baik-baik juga, bocah ini emang ya” ucapnya.
Jika biasanya Lena akan mendebat Rangga, kali ini dia hanya tersenyum getir.
“Len, pulang dijemput apa gimana?” Tanya Rangga.
Lelaki itu menunjukkan raut wajah khawatir sekarang. Lena yang dikenal ceria mendadak menjadi pendiam, pasti bukanlah hal yang biasa.
“Dijemput mas” Jawabnya.
Padahal, Lena anak pertama. Mas yang mana yang akan menjemputnya?
“Benar? Kalau tidak ada yang jemput, aku antar” Rangga segera menawarkan diri.
“Nggak mas, gak apa-apa. Terimakasih ya”
Edwyn baru saja kembali setelah istirahat, lelaki itu melihat Lena dengan wajah sembabnya dan Rangga sedang berbincang.
“Loh, kenapa Len?” Tanya Edwyn.
Lena hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Sakit mas, mau ijin pulang dia” Sahut Rangga, membantu Lena menjawab pertanyaan yang dilayangkan Edwyn.
“Loh, sakit apa? Pulang dijemput apa gimana? Mau aku antar?” Ucap Edwyn.
“Makasih mas, aku dijemput” Jawab Lena lalu pergi kembali ke meja kerjanya.
Gadis itu pulang dengan angkutan umum, menggenggam erat ponselnya. Beberapa kali dia menelfon Bagas, berharap lelaki itu akan meresponnya.
Tapi, tidak sama sekali bahkan sampai Lena sudah berada tepat di depan kos milik Bagas. Siapa yang tidak se-frustasi Lena jika keadaan malah seperti ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments