Seperti yang dikatakan Lena pada ibunya, bahwa dirinya hanya akan menyantap bekal ketika pekerjaannya sudah selesai.
“Mau kemana Len?” Tanya bu Diah selaku supervisor disana.
“Mau ke kantin bu, istirahat” Jawab Lena yang disertai anggukan kecil dari bu Diah.
Masih jam 15.00, ada satu jam sebelum jam pulang nanti. Lena dengan santai membuka bekalnya, “Hari ini aku dikasih bekal apa ya?” gumam Lena.
Ah, ternyata makanan kesukaannya. Tempe sambal kecap dan telur kocok. Sederhana memang tapi, tetap saja terasa begitu nikmat ketika sedang istirahat dari lelahnya pekerjaan.
Lena menikmati bekalnya diselingi dengan bermain ponsel, tanpa dia sadari bahwa Edwyn sedang melihatnya dari kejauhan.
Hingga…
“Monggoh mas” Ucap Lena. Sekedar unggah-ungguh saja sih sebenarnya. Ya, akhirnya Lena menyapa Edwyn yang sedang berjalan ke arahnya, oh tidak, lebih tepatnya berjalan ke ruangan khusus mandor yang berada di belakang Lena makan sekarang.
“Oh iya. Lagi istirahat ya?” Sahut Edwyn, seperti biasa dengan senyum manisnya yang menawan.
Lena hanya tersenyum sambil mengangguk dan Edwyn melanjutkan perjalanan menuju ruangannya.
Tidak lama, setelah kondisi kantin terbilang cukup sepi, Edwyn kembali datang menghampiri Lena.
“Len Lena” Sapa Edwyn, pelan tapi, begitu lembut di indra pendengarannya.
“Iya mas? Kenapa?” Jawab Lena. Makanannya sudah habis, dia hanya bersantai sebentar sebelum kembali masuk ke ruang produksi, toh dia juga sudah selesai.
Edwyn memandang Lena sebentar lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa, gak jadi” sahutnya lalu pergi.
Lena hanya bisa diam dengan segala kebingungannya.
Untuk besok dan besok harinya lagi, Lena dan Edwyn terbilang cukup sering dihadapkan di situasi yang membingungkan.
Pernah suatu ketika, Edwyn menanyai Lena di depan bu Diah layaknya seseorang yang sedang interview.
“Lena sekarang umur berapa?” Tanya Edwyn untuk ke-2 kalinya setelah beberapa hari lalu.
“21 mas Ed” Jawab Lena, sembari menunggu rokoknya di sortir bu Diah.
“Udah nikah belum?” Tanyanya lagi.
Lena menggeleng, “Belum atuh” sahutnya.
“Lah kok jadi Sundaan Len?” Ucap bu Diah menengahi pembicaraan keduanya.
Lena tersenyum, “Spontan aja sih bu” jawabnya.
Lalu, Edwyn kembali melayangkan pertanyaan-pertanyaannya di meja itu, “Ikut rombongan ya?”
Lena mengangguk sembari menata rokoknya ke dalam kotak penyimpanan sebelum nanti akhirnya di proses ke bagian verpack.
“Rumahnya emang dimana, Len?” Tanya Edwyn lagi.
“EDWYYYN, udah cukup” Ucap bu Diah mengintrupsikan.
Lena dan Edwyn tersenyum saling tatap sejenak lalu Lena kembali ke mejanya.
Dan ketika Lena istirahat, mungkin sudah menjadi kebiasaan jadi, Lena menganggap itu adalah hal yang wajar bahwa Edwyn selalu keluar dan mengampiri Lena.
“Bekal apa hari ini Len?”
“Sayur sop sama tempe goreng aja sih mas, mau?” Jawab Lena, menyodorkan kotak makannya yang baru saja di buka.
Edwyn tersenyum lalu menggeleng, “Tidak, selamat makan ya Len. Mau sholat bareng gak?” lanjutnya, mengintrupsikan bahwa jam sudah memasuki waktu ashar.
“Di musholla aja aku mas, makasih”
Edwyn akhirnya pergi ke ruangan mandor untuk melaksanakan ibadah, sedangkan Lena berada di tempat biasa ia makan, di depan ruang mandor.
Sore itu, setelah melaksanakan ibadahnya, Edwyn diam memandangi punggung Lena yang masih asik dengan ponselnya.
“Apa ini? Kenapa seperti ini?” Gumam Edwyn, bingung dengan apa yang sedang dia rasakan.
...***...
Lena kembali berkutat dengan buku-buku dan soal-soal, dimana itu adalah soal-soal yang disiapkan untuk anak-anak les di tempatnya.
Bukankah Lena gadis pekerja keras? Menjadi reseller online shop, juga bekerja di pabrik dan malah menambah pekerjaan dengan menerima anak-anak les. Tidak banyak memang, hanya 5 orang siswi-siswi SMP di sekitar rumahnya.
“Kalau cape, udahan Len. Jangan memaksakan diri” Ucap bu Sri, sambil memberikan segelas susu coklat hangat.
“Sebentar lagi, bu” Jawab Lena.
Bu Sri duduk di sebelah Lena, “Gimana tadi di pabrik?” tanyanya.
“Hmm, tidak ada yang istimewa bu. Ya begitu-begitu saja, ibu tau juga gimana pekerjaannya. Cuma kalau disana tuh mandornya cowok-cowok bu, kalau di pabrik rokok yang lain kan biasanya perempuan ya, memangnya mereka bisa melinting rokok? Kok bisa sih jadi mandor?” Ucap Lena.
Dia menjelaskan bagaimana kondisi perusahaan yang saat ini ia tempati, sejak awal masuk ibu dan anak ini memang jarang berbincang, mengingat Lena yang sibuk dengan pekerjaan, hampir tidak ada waktu untuk bercengkrama dengan ibu atau adik-adiknya.
“Ya tergantung perusahaan sih kalau begitu” Jawab bu Sri.
“Ada satu mandor yang kelakuannya tuh aneh sekali loh bu, masa dia sering banget nemenin, eh bukan nemenin tapi, kalau Lena istirahat tuh selalu dihampiri, dia bakal tanya bekal apa Lena hari ini? atau malah mau sholat bareng?”
“Lagi suka sama mandor sendiri? Atau emang lagi pendekatan?” Tanya bu Sri.
Pertanyaan itu seketika membuat wajah Lena merah karena malu. Entah apa yang membuatnya salah tingkah begitu. Bisa jadi juga karena dia tidak terbiasa cerita perihal percintaan kepada ibunya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments