"Bagaimana dengan yang ini, tuan?" Tanya Fedro menunjuk salah satu gaun. "Gaun ini begitu elegan dan cocok untuk nyonya" Lanjut nya.
Garrick memperhatikan sejenak gaun tersebut, namun kepala nya langsung menggeleng. "Bagian dada nya terlalu rendah, aku tidak suka" Ucap nya.
Fedro yang mengerti pun mengode sang pramuniaga yang membawa gaun tersebut untuk pergi.
Garrick berdiri, mengelilingi butik langganan nya itu dimana saat ini ia tengah mencari gaun untuk Jennifer pakai di acara undangan rekan bisnis nya.
Mata nya tertuju pada sebuah gaun yang begitu menarik perhatian nya sejak pertama kali Garrick melirik nya.
Memperhatikan gaun yang di pakai oleh manekin itu, kemudian Garrick melirik sang asisten.
"Yang ini saja" Ucap nya.
"Baik tuan" Sahut Fedro yang berniat pergi untuk memberitahu sang pramuniaga untuk mempersiapkan gaun tersebut.
"Tunggu"
Fedro menghentikan langkah nya saat mendengar seruan sang bos.
"Seperti biasa" Ucap Garrick lagi.
Fedro mengangguk. "Baik tuan, saya mengerti" Tentu pria itu sangat mengerti arti dari dua kata itu.
'Seperti biasa' yang arti nya saat Jennifer bertanya gaun tersebut di pilihkan oleh siapa. Maka Fedro harus mengaku bahwa diri nya lah yang memilihkan gain tersebut, bukan Garrick.
Padahal kenyataan nya, dalam acara apapun itu Garrick lah yang selalu memilihkan gaun untuk wanita itu.
...----------------...
"Tadi asisten mu menelpon" Ujar Garrick yang mampu menghentikan sesaat kunyahan Jennifer di mulut nya.
"Maxi?"
Garrick mengangguk samar. "Dia mengingatkan mu untuk mengecek email yang dikirim kan oleh brand Vegos"
"Astaga benar" Jennifer menepuk kening nya, berniat mengambil ipad nya namun tangan nya di tahan oleh Garrick.
"Habiskan makanan mu terlebih dahulu" Peringat tegas Garrick.
Jennifer pun mengurungkan niat nya saat mendapat peringatan tersebut, ia tau dengan jelas Garrick sangat tidak suka jika diri nya makan sambil memainkan gadget nya.
Pada akhirnya Jennifer dengan terburu-buru menghabiskan makanan nya, makanan yang ada di kamar nya setelah ia selesai mandi.
"Sudah 'kan?" Tanya Jennifer melirik piring nya yang kosong.
Garrick hanya mengangguk, sedangkan Jennifer dengan cepat mengambil ipad nya dan membuka salah satu aplikasi yang di sebutkan oleh suami nya.
"Wah.." Gumam Jennifer takjub saat melihat foto-foto desain pakaian yang nanti nya akan ia pakai untuk promosi bersama beberapa tas brand ternama itu.
Mendengar gumaman itu, Garrick sedikit menggeser posisi nya dan melirik ke arah ipad sang istri.
"Ck, kenapa model pakaian mu selalu terbuka pada bagian punggung?!" Decak kesal Garrick.
"Tentu, karena pesona ku ada di punggung" Ujar bangga Jennifer seakan menyiramkan minyak pada api yang berkoar itu.
"Tunggu!" Jennifer tersadar dan memicing ke arah Garrick. "Kamu memperhatikan setiap pakaian ku?" Tanya nya yang tersadar akan kekesalan Garrick.
Garrick malah diam, membalas tatapan Jennifer dengan ekspresi seperti biasa nya.
"Garrick, jawab!" Desak Jennifer.
"Berisik" Celetuk Garrick yang mampu membuat Jennifer langsung bungkam.
Tanpa berkata apapun lagi wanita itu kembali menggulir layar ipad nya, namun sebelum itu ia bergeser menjauhi Garrick.
Melihat itu Garrick kembali berdecak kemudian menarik pinggang Jennifer hingga tubuh kedua nya lebih rapat kali ini.
"Ishh lepas!" Jennifer marah, ralat. Wanita itu dalam mode ngambek hingga dengan kasar nya ia melepaskan tangan Garrick yang melingkar di pinggang nya.
Padahal beberapa tahun ini pelukan, posisi dan suasana seperti ini yang sangat ia rindukan.
"Fedro selalu melapor pada ku, jadi--"
"Ya ya ya, Fedro memang sangat perhatian pada ku. Berbeda dengan suami ku sendiri" Potong Jennifer malas.
Garrick tidak mengatakan apapun, pria itu hanya diam karena percuma yang ada Jennifer akan semakin merajuk.
Namun lain hal nya dengan Jennifer yang mencebikkan bibir nya. "Benar-benar pria bunglon!" Maki nya dalam hati.
...----------------...
"Kenapa akhir-akhir ini kamu sangat sulit untuk di hubungi, Jen?" Tanya Maxi sedikit kesal.
Pasal nya beberapa hari ini semenjak Jennifer mengangkat telepon nya tanpa bersuara apapun, wanita itu sangat sulit untuk di hubungi.
Hingga berakhir lah saat ini Maxi yang datang ke rumah wanita itu, untuk memastikan sesuatu.
"Aku malas memegang handphone" Jawab Jennifer yang menuntun langkah Maxi ke ruang tamu nya.
"Bagaimana? Tangan mu sudah membaik?" Tanya Maxi.
Jennifer mengangguk. "Besok kita sudah bisa melanjutkan jadwal yang tertunda" Putus nya.
"Benar?" Maxi memastikan, pasalnya ia merasakan sesuatu yang berbeda dari ekspresi wajah Jennifer.
"Ck, ada apa dengan tatapan mu itu?" Decak kesal Jennifer.
Maxi menggeleng, kemudian pria itu menatap sekitar. "Apa kamu tidak merasa bosan? Beberapa hari ini di dalam rumah terus?"
"Huh, tentu aku bosan" Jawab nya. "Tapi jika aku keluar, tidak mungkin aku memakai pakaian tertutup di musim panas begini. Akan terlihat aneh di mata orang" Lanjut nya.
Mengingat bahwa tanda-tanda yang Garrick tinggalkan itu tidak mungkin ia keluar dengan pakaian terbuka.
"Keluar, dan bermain di time zone?" Tawar Maxi.
Mata Jennifer lantas berbinar, kepala nya mengangguk cepat.
"Tunggu, aku ganti baju dulu!" Jawab nya semangat.
Tanpa banyak berkata-kata lagi wanita itu langsung berlari, tujuan utama nya adalah kamar untuk menganti pakaian nya.
Memoles sedikit wajah nya dna menutupi beberapa tanda yang masih terlihat jelas di leher serta dada nya.
Kini Jennifer pun telah siap dengan pakaian nya dan langsung menghampiri Maxi yang saat itu tengah meneguk kopi nya.
"Ayo!" Ajak Jennifer.
Maxi pun mengangguk, meninggalkan kopi yang di buatkan oleh pelayan di rumah itu laly mengikuti langkah Jennifer yang berjalan terlebih dahulu.
Melihat langkah ceria itu senyum menghias di wajah Maxi, sungguh membuat wanita di depan nya merasa bahagia adalah kebahagiaan tersendiri bagi nya.
Namun, baru saja keluar dari rumah langkah Jennifer terhenti membuat Maxi bingung dan berjalan lebih cepat.
Ternyata di depan sana ada Garrick yang seperti nya baru saja pulang. Saat-saat seperti ini lah yang paling tidak Maxi sukai.
Dimana ia harus bertemu dengan pria yang membuat Jennifer selalu merasa kesepian.
"Kok udah pulang?" Tanya Jennifer bingung.
Pasal nya sekarang baru saja pukul tiga sore, yang artinya masih terlalu cepat untuk Garrick yang biasa nya saja pulang pukul delapan malam.
"Mau kemana?" Tanya balik Garrick, menatap sekilas Maxi dengan mata elang nya.
"Emm.." Jennifer tidak langsung menjawab, wanita itu melirik Maxi yang sudah berdiri di samping nya.
"Mau kemana?" Ulang Garrick yang terdengar tajam.
"Bermain sebentar ke tine zone" Jawab singkat Jennifer. "Hanya sebentar setelah itu--"
"Pergi" Potong Garrick membuat Jennifer terdiam.
...****************...
Udah tiga bab nih, jangan lupa saweran nya yaa🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝕾𝖚𝖑𝖆𝖐𝖘𝖒𝖎 𝕬𝖎𝖘𝖞𝖆𝖍
ahh.... si pocecippp
2024-03-16
0
Ida Hamidah
Santai... Tdnya Aku pikir si Jeni bakal Minta cere itu lebih seru kayanya
2023-12-19
3
YuWie
jeni aja masih blm paham dg suaminya..apalagi aku yg cmn pembaca 😁
2023-12-11
0