Jennifer membalas tatapan Garrick dengan tatapan marah nya, lalu wanita itu melepaskan paksa tangan Garrick di pinggang nya sambil berucap.
"Benar, ini karena Garrick" Jawab nya akan pertanyaan Victoria sebelum nya.
Sepasang suami-istri setengah baya itu tentu kaget, terlebih lagi Wilson yang terlihat menahan amarah nya.
"Tadi sore.." Jennifer menjeda perkataan nya dan mengalihkan pandangan menatap mertua nya. "Garrick mendorong ku yang saat itu aku sedang duduk di pangkuan nya"
Victoria menutup mulut nya tidak percaya atas apa yang di katakan menantu nya, namun berbeda dengan Garrick yang hanya terdiam.
"Garrick.." Panggil Wilson penuh penekanan akan kemarahan nya.
"Bagaimana bisa? Kenapa Garrick sampai dorong kamu?" Tanya Victoria.
"Coba tanya sama anak mommy" Jawab Jennifer yang kembali duduk dan mengompres pergelangan tangan nya.
"Gar--"
"Kita ke rumah sakit sekarang" Ujar Garrick seraya menarik lengan Jennifer agar berdiri.
"Garrick!" Wilson menghempaskan tangan putra nya yang terlihat mencengkram erat lengan menantu nya.
"Cukup dad, jangan mencampuri urusan rumah tangga ku dan sekarang aku harus membawa Jenni untuk memeriksa pergelangan tangan nya!"
"Jangan mencampuri kata mu?" Ulang Wilson tidak senang. "Kamu lupa kalau sejak berumur tiga tahun daddy dan mommy yang merawat Jenni?!"
Deg!
Mendengar itu Jennifer benar-benar terdiam, teringat akan masa lalu nya dimana kedua orang tua nya mengalami kecelakaan pesawat yang menewaskan ratusan penumpang.
Dan saat itu Jennifer yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis terlebih lagi saat paman nya mengusir diri nya dari rumah nya sendiri.
Beruntung Wilson sebagai sahabat kedua orang tua nya datang di waktu yang tepat dan membawa diri nya ke rumah besar ini, lalu di rumah ini pula diri nya bertemu dengan Garrick.
"Jika saja daddy tidak mengingat ucapan Nando yang ingin menikah kan kalian ketika sudah dewasa. Mungkin saat ini Jenni hanya adik mu dan Jenni akan menikah dengan pria lain!" Celoteh nya sudah di ambang amarah.
Ekspresi wajah Garrick terlihat begitu tenang, tanpa membalas perkataan sang daddy. Garrick pun langsung mengangkat tubuh Jennifer ala bridal.
"Yak!" Pekik kaget Jennifer.
"Makan malam nya kita ganti di lain waktu" Ujar dingin Garrick langsung pergi meninggalkan kedua orang tua nya.
"Garrick!" Teriak marah Wilson.
Namun pria yang saat itu sedang menggendong istri nya tidak menghiraukan teriakan sang daddy.
Ia terus melangkah keluar rumah dengan Jennifer yang juga hanya diam.
*
*
"Kamu benar-benar berubah" Ucap Jennifer membuat Garrick yang baru saja memasuki mobil langsung menatap nya.
"Dulu sebelum kamu melanjutkan sekolah mu dan kamu memilih untuk meninggalkan rumah, kamu tidak seperti ini" Lanjut Jennifer dengan tatapan lurus ke depan.
Mengingat pada beberapa tahun lalu dimana Garrick begitu menyayangi nya bahkan begitu hangat. Namun setelah pria itu menyelesaikan pendidikan nya dan kembali ke rumah sikap nya langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat pada nya.
Jennifer menoleh membalas tatapan Garrick yang terlihat tajam menatap ke arah nya.
"Apa sebenarnya selama ini kamu sudah memiliki wanita lain yang kamu temui semasa sekolah dulu?" Tanya Jennifer, mempertanyakan hal yang sedari dua tahun ini ia tahan.
"Dan kamu terpaksa menikah dengan ku karena kita sudah bertunangan sejak kecil 'bukan?" Tanya nya lagi.
Air mata Jennifer sudah berkumpul di pelupuk mata nya, bersiap meneteskan bulir bening itu.
"Setiap bulan selama dua minggu juga kamu pasti akan dinas, dan itu ke tempat yang sama. Kota Seattle"
Tes..
Air mata Jennifer menetes begitu saja sebelum akhirnya wanita itu kembali bersuara. "Apa dia ada di sana?"
Garrick masih bungkam, pria itu tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Jennifer dengan tatapan tajam nya tak lepas sedikit pun.
Sedangkan Jennifer yang tidak sanggup lagi langsung memalingkan wajah nya dan menahan tangis nya di sana.
"Sudah?" Tanya Garrick begitu dingin.
Jennifer diam, tidak menyahut atau pun menatap Garrick.
"Kita pulang sekarang dan untuk seminggu ke depan kosongkan jadwal mu karena pergelangan tangan mu dalam masa pemulihan" Tutur nya yang langsung menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudikan nya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Tangis Jennifer pecah, namun sebisa mungkin wanita itu menahan isak kan nya.
Semua keluh kesah di dalam hati nya yang ia ucapkan beberapa saat lalu hanya di anggap angin oleh Garrick.
Pria itu tidak menjawab atau pun merespon nya, sungguh kali ini benar-benar sakit.
......................
"Ngapain ke sini?" Tanya ketus Jennifer pada Maxi yang baru saja memasuki ruang tengah rumah nya.
"Ck, aku ini tamu seharusnya di sambut dengan baik seperti raja" Celetuk Maxi tidak senang.
Setelah nya pria itu langsung duduk di samping Jennifer, membuat tatapan wanita itu menajam.
"Sebenarnya ada apa dengan tangan mu?" Tanya langsung Maxi seraya memegang lengan Jennifer.
Memperhatikan dengan teliti pergelangan tangan wanita itu yang sedikit membiru.
"Apa ini ulah Garrick?" Tanya nya menatap Jennifer.
Wanita itu tidak langsung menjawab, melainkan menyandarkan punggung nya dan menatap sedih ke arah Maxi.
"Aku lelah dengan semua ini, Max" Jujur nya.
Maxi terdiam selama beberapa saat, memperhatikan wajah Jennifer yang tadi pagi mengabari nya untuk mengundur semua jadwal nya selama satu minggu ke depan.
"Jika lelah, menyerah lah" Jawab Maxi.
Jennifer menggeleng. "Tidak mungkin, bagaimana dengan daddy dan mommy? Mereka pasti akan kecewa pada ku"
Maxi berdecak kesal. "Untuk apa di pertahankan jika itu hanya membuat mu terluka?"
"Come on Jen, masih banyak pria di luar sana dan lagi di antara mereka pasti akan jauh lebih baik dari pada Garrick!" Lanjut nya saat melihat Jennifer hanya diam.
"Sudah satu tahun berlalu, tapi dia masih bersikap acuh pada mu 'bukan?"
"Huh.." Jennifer menghela napas nya, kemudian kembali menegakkan tubuh nya. "Apa sudah saat nya aku menyerah?"
Maxi mengangguk. "Tenang saja ada aku yang akan membiayai hidup mu" Canda nya.
Puk!
Jennifer menepuk kepala pria itu dengan tawa mengejek nya. "Aku lebih kaya dari mu, Maxi"
Mendengar itu Maxi memutar bola mata nya malas kemudian pria bersandar pada sofa yang ia duduki.
"Minuman nya nyonya, tuan" Ujar seorang pelayan yang membawakan secangkir kopi dan jus strawberry untuk sang nyonya.
"Terima kasih bi" Ujar Jennifer dan Maxi secara bersamaan.
"Sama-sama nyonya, tuan. Bibi pamit ke belakang" Setelah nya pelayan itu langsung berlalu meninggalkan Jennifer dan Maxi.
"Minum lah" Titah Jennifer yang saat itu sudah memegang jus nya.
"Hanya kopi?" Tanya Maxi dengan nada mengejek.
"Ck, apa mata mu buta?" Decak kesal Jennifer. "Lihat baik-baik di atas meja itu sudah berjejer makanan!"
Sontak mendengar itu Maxi membungkam, memang benar banyak makanan di meja sana yang seperti nya sedang di makan oleh Jennifer sebelum nya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Andriyati
ayo jen jangan stuk di suami mu itu aja, untuk apa berjuang sendiri, aku rasa suami mu punya wanita lain
2024-07-20
1
𝕾𝖚𝖑𝖆𝖐𝖘𝖒𝖎 𝕬𝖎𝖘𝖞𝖆𝖍
kalo sudah lelah ya sudah lepaskan... waktu tidak akan berhenti kalo kamu memang sudah menyerah..
2024-03-16
0
Cari Perhatian
ya udah si cerei aja.. gak sanggup aq. yg benar mana yg salah mana.. masih menduga duga
2023-12-13
6