"Selamat sore nyonya" Sapa seorang kepala pelayan bernama Red yang saat ini tengah menata bunga ke dalam vas.
"Garrick sudah pulang, bi?" Tanya Jennifer.
"Sudah nyonya, tuan berada di ruang kerja nya"
"Baik terima kasih"
"Sama-sama nyonya"
Jennifer pun langsung melangkah menuju lift rumah nya, dimana rumah besar itu memiliki empat lantai sedangkan tujuan nya saat ini berada di lantai tiga yaitu ruang kerja Garrick.
Ceklek~
Tanpa permisi atau pun mengetuk pintu terlebih dahulu, Jennifer langsung masuk ke dalam ruang kerja suami nya.
Namun seakan sudah terbiasa Garrick tidak kaget atau pun mengalihkan tatapan nya dari layar laptop nya.
"Sayang, aku pulang" Seru Jennifer berlari kecil menghampiri suami nya lalu melayangkan kecupan pada bibir nya.
Garrick hanya diam masih terfokus pada pekerjaan nya. Sedangkan Jennifer, wanita itu mulai menganggu suami nya dengan menggeser kursi yang di duduki Garrick lalu ia duduk di atas pangkuan pria itu tanpa permisi.
"Hari ini sangat melelahkan" Keluh Jennifer dengan nada setengah merengek.
Tangan nya melingkar memeluk leher Garrick lalu menenggelamkan wajah nya di leher pria itu. Bukan hanya sekedar menenggelamkan nya saja, tetapi sesekali Jennifer menggesek batang hidung nya pada kulit leher Garrick.
Jika kalian pikir Garrick akan merespon keluhan wanita itu atau pun sekedar memeluk pinggang nya, itu salah. Sangat salah!.
Karena nyata nya Garrick malah melepaskan paksa pelukan Jennifer lalu langsung berdiri hingga membuat tubuh Jennifer hampir saja terjatuh ke lantai jika wanita itu tidak sigap.
"Garrick!" Kesal Jennifer seraya memegang pergelangan tangan nya yang terasa sakit karena ia menahan tubuh nya secara sembarangan dengan sebelah tangan nya.
"Bersiap lah, kita akan berangkat setengah jam lagi" Ujar Garrick tanpa menatap Jennifer dan pergi begitu saja.
"Dasar pria menyebalkan, kejam, jahat, es batu!!" Teriak Jennifer memaki Garrick yang baru saja melewati pintu.
Tidak ada respon dan seperti nya Garrick terus melangkah meninggalkan Jennifer yang sedang menahan sakit di pergelangan tangan nya.
"Hikss.. Mommy, Garrick jahat" Isak nya dengan mata berkaca-kaca.
*
Garrick menggenggam tangan Jennifer yang saat ini berdiri di samping nya, hal itu pun mampu membuat Jennifer langsung mendongak menatap nya.
Tidak mengatakan apa pun Garrick langsung melangkah membuat Jennifer ikut melangkah.
Wanita itu terus diam sejak di dalam mobil, jika boleh di katakan Jennifer sedang marah pada Garrick akibat perlakuan pria itu di ruang kerja nya.
"Selamat malam dad" Sapa Garrick pada sang daddy yang saat ini tengah duduk di ruang tengah dengan mata yang terfokus pada televisi sebelum akhirnya menatap diri nya.
"Sudah datang?"
Garrick mengangguk, melepaskan genggaman nya pada tangan Jennifer dan memeluk sesaat sang daddy sebagai salam nya. Begitu juga dengan Jennifer.
"Menantu daddy semakin cantik" Puji Wilson, Daddy Garrick.
"Terima kasih dad" Jawab Jennifer tersenyum.
"Mommy dimana?" Tanya Garrick.
"Mom ada di dapur"
Mendengar itu Jennifer pun melirik Garrick yang di balas dengan sebelah alis pria itu yang terangkat.
"Emm,, kalau gitu aku ke dapur ya" Pamit Jennifer.
Melepaskan genggaman Garrick yang sesudah bersalaman pria itu kembali menggenggam nya, lalu Jennifer pergi meninggalkan ruang tengah yang luas itu.
"Sudah satu tahun" Ujar Wilson membuka percakapan saat Garrick baru saja duduk.
Mendengar tiga kata yang baru saja di ucapkan oleh sang daddy sontak Garrick menatap serius pria setengah baya itu.
"Kapan daddy bisa mengendong cucu daddy?" Tanya nya seperti sebuah desakan tersendiri bagi Garrick.
"Jangan mendesak ku, dad" Peringat Garrick.
"Daddy tidak mendesak mu, tetapi apa kamu sendiri tidak merasa bosan?" Tanya Wilson.
"Bosan? Karena?" Tanya balik Garrick.
Wilson mengusap kasar wajah nya. "Rumah kalian, bukan kah terasa sepi? Andai kalian sudah memiliki anak, pasti rumah kalian akan terasa ramai dengan suara mereka" Celoteh nya.
Ekspresi wajah Garrick seketika berubah, tatapan pria itu sangat sulit untuk di artikan setelah mendengar celotehan sang daddy.
"Ya, anggap saja daddy sedang mendesak mu. Karena daddy ingin segera menggendong cucu sebelum daddy meninggal"
"Dad!" Seru marah Garrick.
"Waktu daddy sudah tidak banyak lagi" Sahut singkat Wilson seraya kembali menatap televisi di depan nya.
Benar, waktu yang di miliki oleh Wilson yang menderita kanker usus besar stadium 4 tidak banyak lagi. Kurang lebih hanya satu tahun ke depan setelah di nyatakan empat tahun lalu.
"Aku yakin daddy akan sembuh" Ujar Garrick yang malah mendapat kekehan dari pria itu.
Kepala Wilson menggeleng pelan, kemudian pria itu berucap. "Daddy tarik ucapan daddy sebelum nya, intinya daddy mendesak agar kamu segera memiliki anak" Putus pria itu.
"Memiliki anak bukan hal yang mudah dad, aku sudah berusaha tapi memang belum waktu nya" Jawab Garrick tegas.
Wilson tidak menyahut lagi, pria itu hanya diam dengan mata yang terfokus pada televisi nya.
Begitu pun dengan Garrick yang menyandarkan punggung nya pada sofa serta tatapan lurus nya.
"Eh kok diam-diaman gini?" Tegur Victoria yang baru saja memasuki ruang tengah.
"Mom" Garrick berdiri, menyapa sang mommy dengan pelukan nya.
"Ada apa nih? Kalian bertengkar?" Tebak Victoria.
Garrick menggeleng, begitu pun dengan Wilson.
"Jenni dimana mom?" Tanya Garrick.
"Oh iya mommy sampai lupa gara-gara liat kalian diam-diam gini" Seru Victoria yang teringat akan tujuan nya.
"Ada apa?" Tanya Garrick lagi.
Victoria langsung menatap putra nya dengan serius. "Ada apa dengan tangan kanan Jenni?"
Kening Garrick mengkerut bingung membuat Victoria kembali bersuara.
"Tadi Jenni mau bantu mommy potong buah, tapi dia kesakitan terus mommy lihat pergelangan tangan nya membengkak"
"Lalu dimana Jenni sekarang?"
"Di dapur, lengan nya lagi di kompres sama bibi"
Mendengar itu Garrick langsung berlalu meninggalkan ruangan tersebut, menyisakan Wilson dan Victoria yang kebingungan.
Sedangkan di sisi lain, langkah besar Garrick mampu mengalihkan fokus Jennifer dan pelayan yang membantu mengompres tangan wanita itu.
"Pergi lah" Titah Garrick pada sang pelayan.
"Baik tuan, saya permisi" Pelayan paruh baya itu pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke dapur.
"Kenapa?" Tanya Garrick memegang lengan Jennifer dan memperhatikan pergelangan tangan wanita itu.
"Masih bertanya?" Ketus Jennifer.
Lagi, setiap bingung sebelah alis pria itu akan terangkat sebagai pertanyaan.
"Cih, lepas!" Jennifer menarik tangan nya dan berdiri berniat menjauhi Garrick.
Namun sebelum itu terjadi, suami nya sudah merengkuh pinggang nya dan menatap nya begitu dingin.
"Kenapa?!" Ulang Garrick penuh penekanan.
Jennifer memejamkan mata nya sesaat, menahan untuk tidak berteriak di depan wajah pria itu.
"Kamu melakukan kekerasan pada Jenni, Rick?" Tanya Wilson yang baru saja datang.
Garrick tidak menyahut, pria itu fokus menatap Jennifer.
"Katakan Jen, apa Garrick yang membuat pergelangan tangan kamu sampai membengkak?" Desak Victoria.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝚀𝚞𝚎𝚎𝚗 𝚁 ʀᴜʙʏ
pasti mata nya melotot nih
2023-12-02
3
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝚀𝚞𝚎𝚎𝚗 𝚁 ʀᴜʙʏ
diam mulu ikh garrick
2023-12-02
0
fiee
crazy up thorr/Tongue//Smile/
2023-11-27
0