"Bagaimana Max?" Jennifer memutar tubuh nya tepat di hadapan Maxi yang saat ini tengah duduk di sofa. "Apa gaun ini cocok dengan riasan ku?"
Maxi terdiam, menatap lamat penampilan Jennifer di hadapan nya yang melebihi kata sempurna.
"Maxi!" Panggil kesal Jennifer.
Pria itu berhedem sesaat sebelum akhirnya ia berdiri. "Tidak ada yang meragukan dalam diri mu, apalagi tubuh mu" Sahut nya merapihkan beberapa helai rambut Jennifer yang menghalangi mata wanita itu.
Sontak saja senyum langsung menghias di wajah cantik itu. "Pengelihatan mu memang yang terbaik, Max!" Puji nya.
Maxi berdecih sesaat sebelum suara dering handphone milik Jennifer membuyarkan fokus kedua nya.
"Kalian sudah sampai?" Tanya Jennifer pada seseorang di sebrang sana.
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan keluar"
Panggilan singkat itu pun berakhir dan tentu Maxi tau siapa yang baru saja menelpon model nya.
"Fedro mengabari, mereka sudah ada di lobi" Jelas Jennifer seraya memasukkan beberapa make up nya ke dalam tas kecil nya.
"Hm, bersenang-senang lah. Siapa tahu setelah ini mata suami mu terbuka"
Jennifer mendelik sesaat namun ia tau maksud dari ucapan Maxi yang baru saja pria itu lontarkan.
"Pesan ku hanya satu, di dalam mobil dan pesawat nanti gunakan waktu mu untuk beristirahat jangan sibuk mencari perhatian suami mu"
Bibir Jennifer mencebik namun setelah nya wanita itu memeluk sesaat tubuh Maxi, berpamitan. "Aku pergi sekarang dan cari lah kekasih agar tidak terus mengurusi ku" Cibir nya yang langsung berjalan meninggalkan Maxi.
"Siall!"
*
"Sayang.." Panggil Jennifer mempercepat langkah nya saat melihat sang suami dan asisten suami nya berada di lobi gedung yang menjadi tempat pemotretan nya.
"Jalan perlahan, honey!" Peringat tegas Garrick seraya berdiri dan menghampiri Jennifer.
Deg!.
Seperti biasa, jantung Jennifer rasanya berdetak berkali-kali lebih cepat saat berada di situasi seperti saat ini.
Dimana bukan hanya diri nya yang menghampiri Garrick, tetapi pria itu juga menghampiri nya dengan mata yang menatap nya. Belum lagi kata-kata yang baru saja pria itu ucapkan.
Cup!
Garrick mengecup singkat pipi Jennifer membuat pipi wanita itu bersemu, belum lagi tangan kekar itu sudah melingkar posesif(?) Di pinggang ramping nya.
"Kenapa kamu seperti bocah hum? Sudah aku bilang jalan nya perlahan saja! Kenapa kamu malah seperti orang berlari?" Celoteh Garrick terlihat khawatir.
Jennifer mengigit bibir dalam nya, mata nya sontak memperhatikan sekitar yang ternyata diri nya dan Garrick tengah menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi banyak dari mereka mengabadikan momen yang menurut mereka adalah momen emas.
Sedikit menghela napas kecewa saat mengingat Garrick seperti saat ini hanya saat di luar, namun Jennifer tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kini wanita itu memeluk pinggang Garrick dengan begitu manja nya.
"Maafkan aku sayang, aku hanya terlalu bersemangat saat suami ku menjemput ku" Ucap nya setengah merengek manja.
Garrick mencubit hidung Jennifer dan perlakuan itu pun mampu membuat beberapa wanita menjerit heboh melihat keromantisan sepasang suami-istri yang selalu menjadi perbincangan hangat di media mana pun.
"Jangan ulangi lain kali, ingat?!"
Jennifer mengangguk cepat dan memeluk erat tubuh yang sangat sulit untuk ia peluk selain dalam momen seperti ini.
"Sudah ayo, kita akan tertinggal pesawat jika terus seperti ini" Peringat Garrick.
"Ah iya, maafkan aku sayang" Ucap Jennifer seraya melepaskan pelukan nya dengan begitu terpaksa.
Kini kedua nya pun berjalan keluar dari lobi gedung tersebut di iringi oleh Fedro dan beberapa pengawal di belakang serta samping mereka.
Memasuki mobil, Garrick pun langsung melepaskan tangan nya dari tubuh Jennifer dan kembali merubah raut nya membuat senyum wanita itu ikut luntur.
"Jalan" Ujar dingin Garrick dengan tatapan lurus yang begitu tajam, seperti biasa nya.
"Baik tuan"
Mobil pun mulai melaju meninggalkan gedung tersebut, menyisakan keheningan di dalam mobil itu. Jika biasa nya Jennifer akan menggunakan ruang sempit ini untuk mendekati suami nya, tetapi kali ini tidak.
Wanita itu mengikuti pesan Maxi, agar menggunakan waktu seperti ini untuk beristirahat. Karena memang ia sangat lelah akibat mengejar jadwal pemotretan agar waktu nya cukup.
Dengan tubuh yang bersandar, mata Jennifer pun kali ini menatap ke luar kaca mobil. Memperhatikan jalanan di luar sana.
"Setidaknya aku sudah merasakan kehangatan yang selama satu bulan ini aku rindukan walau hanya sebentar" Batin Jennifer seraya memejamkan kelopak mata nya.
Lelah, sangat lelah.
*
*
"Nyonya"
"Bangun nyonya, kita sudah sampai"
Kelopak mata Jennifer bergerak, wanita itu mulai tersadar dari tidur panjang nya hingga ketika membuka mata nya ia langsung melotot kaget.
Tentu kaget saat melihat bahwa diri nya sudah berada di dalam pesawat.
"Kita sudah sampai di Chicago, nyonya" Jelas Fedro membuat mata membola itu langsung tertuju pada nya.
"Apa? Sudah sampai?" Ulang kaget Jennifer.
"Benar nyonya dan saat ini tuan sedang berada di dalam toilet. Nyonya tolong tunggu sebentar agar keluar bersama tuan"
Setelah mendapat anggukan dari Jennifer yang terlihat masih linglung, Fedro pun berbalik hendak meninggalkan istri dari bos nya, tetapi tiba-tiba saja suara wanita itu menahan nya.
"Tunggu"
Fedro berbalik dan kembali menunduk. "Ada apa nyonya?"
"Tadi aku tertidur di mobil 'bukan?" Tanya Jennifer.
Karena memang ia sangat ingat bahwa diri nya tertidur di dalam mobil dan kapan ia bangun lalu berpindah ke dalam pesawat?.
"Benar nyonya" Jawab Fedro.
Mendengar itu lantas Jennifer menegakkan posisi nya. "Lalu siapa yang memindahkan aku ke sini, Garrick?"
Tidak langsung menyahut tetapi Fedro malah membungkuk. "Maaf nyonya, tapi itu saya. Maaf atas kelancangan saya"
Hancur, begitu lah kata yang tepat setiap kali Jannifer berharap bahwa suami nya lah yang peduli pada nya. Harapan itu selalu hancur, tidak pernah sekali pun terwujud.
"Baiklah, terima kasih Fedro" Sahut mengerti Jennifer.
"Sekali lagi saya minta maaf, nyonya"
Jennifer hanya tersenyum tipis dan menghela napas nya dengan tubuh yang kembali bersandar dan mata terpejam.
"Apa yang kamu harapkan dari pria itu, Jen?" Gumam Jennifer terkekeh miris.
Tak.. Tak.. Tak..
Suara langkah kaki itu membuyarkan Jennifer dari kekecewaan nya, dengan cepat ia menoleh dan mendapati Garrick yang tengah berjalan.
"Astaga maaf, tunggu sebentar" Ujar terburu-buru Jennifer seraya membuka tas kecil nya.
Mengambil make up untuk kembali melakukan touch up pada wajah nya agar terlihat lebih fresh.
...****************...
Halo semuaa,,
Terima kasih sudah mampir dan selalu setia bersama novel-novel aku hingga akhir.
Aku baru bisa nyapa di bab dua ini dan semoga kalian dalam keadaan sehat🤗🤍
Sampai jumpa di bab selanjutnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Andriyati
jen kamu cantik jen,, jadi jangan terpaku pada suami mu itu,,kamu bisa cari uang, perhatian pun tak kamu dapat kan,, bagus pisah jen,,jadikan hidup mu berati,, kenapa harus di sia sia kan
2024-07-19
0
𝕾𝖚𝖑𝖆𝖐𝖘𝖒𝖎 𝕬𝖎𝖘𝖞𝖆𝖍
kok aku ikutan ngerasa nyesek ya🥺🥺
2024-03-16
0
Dewi Yanti
ko aku ikut ngerasa sakit ya, berada di posisi jennifer
2024-01-10
6