"Aaaa!!!" teriak Melania.
TOK..
TOK..
TOK..
Melania hanya bisa berteriak keras, dia tidak bisa menemukan keberadaan Jesselyn. sesaat kemudian tiba-tiba dia mengingat mengenai Henry, dia yakin kalau Gadis itu sedang bersama Henry. salah satu tangannya mengambil ponsel. Dia menelpon Henry untuk mencari tahu di mana keberadaannya.
Henry bilang kalau dia sekarang berada di salah satu gudang pemasok barang.
"Apa wanita itu bersamamu, Henry?" tanya Melania.
"Iya, Jesselyn bersamaku." jawab Henry.
Tanpa mengatakan apapun Melania langsung mematikan ponselnya. Dia sedikit lega karena Jesselyn bersama dengan Henry, wanita itu tidak akan membiarkan Jesselyn berusaha untuk mendekati kekasihnya atau berusaha untuk mencari perhatiannya.
"Kalau wanita itu berani macam-macam dengan ku, lihat saja aku pasti akan memberikan dia pelajaran, aku harus meminta Henry untuk mendekati Gadis itu agar dia tidak mencari perhatian Alexander. jika sampai Dia mendekati Alexander lihat saja akan kupastikan Dia segera ke alam baka."
Salah satu karyawan memberikan minuman yang diminta oleh Melania, dia meletakkan minuman setelah itu dia pergi, sekitar satu jam kemudian Jesselyn sudah sampai di perusahaan, dia kembali ke kantornya sedangkan Alex Henry kembali ke tempatnya.
Alexander belum kembali dari pembicaraan dengan rekan bisnisnya, di kantor itu sudah ada Melania yang menunggu Jesselyn. Entah berapa lama wanita itu menunggu Jesselyn, dia benar-benar tidak akan membiarkan Gadis itu berusaha untuk mendekati kekasihnya sama sekali.
"Nona Melania ada di sini?" tanya Jesselyn yang kemudian meletakkan tas yang dia bawa. Gadis itu sebenarnya terkejut ketika memasuki kantor Alexander, di sana sudah ada Melania yang sedang duduk dengan raut wajah yang dilipat-lipat.
"Aku sengaja menunggumu di sini, Dari tadi kamu ke mana saja?" tanya Melania yang kemudian berdiri mendekati Jesselyn.
"Saya tadi bersama Tuan Henry ke salah satu gudang milik perusahaan ini, nona." jawab Jesselyn.
Melania nampak terdiam, wanita itu kemudian mendekati Jesselyn. "Jika kamu ingin melakukan sesuatu lakukan semuanya dengan benar, jika kamu berusaha untuk mendekati Alexander dengan alasan apapun, aku tidak akan membiarkannya. Kamu harus tahu jika kamu berusaha untuk mendekati Alexander kamu harus menghadapiku. Aku akan membuatmu kehilangan nyawa jika sampai kamu berani menggodanya." Melania memberikan ancaman kepada Jesselyn. Kata-katanya itu penuh dengan provokasi, wanita itu belum tahu siapa yang sedang dia hadapi, dia belum tahu seperti apa sosok Jesselyn.
"Memangnya Saya sudah melakukan kesalahan apa, Nona?" tanya Jesselyn yang berpura-pura. padahal dari perkataan yang dia ucapkan Jesselyn sudah tahu kalau wanita itu sebenarnya ingin mengancamnya. Wanita itu ingin memperingatkan Jesselyn, jika sampai dia berani mendekati Alexander maka dia akan membunuhnya.
"Jangan coba-coba untuk mendekati Alexander, jangan coba-coba untuk merayunya. Jika sampai kamu berani merayunya maka kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi." ancam Melania.
Jesselyn sedikit tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Dengarkan saya, Nona. Saya tidak akan mempunyai pemikiran seperti itu, saya ke sini karena saya hanya ingin bekerja. Saya tidak akan mempunyai pemikiran untuk mendekati Tuan Alexander, andaikata Saya ingin mendekatinya mungkin Tuan Alexander tidak akan mau dengan saya, anda adalah wanita yang sangat sempurna, cantik kaya dan saya sangat kagum dengan Nona." jawab Jesselyn. Pandai sekali Gadis itu memberikan pujian kepada musuhnya, yah lebih baik memberi pujian daripada harus berkelahi.
"Oh ya, Aku ingin tahu sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Melania.
pertanyaan itu benar-benar membuat Jesselyn sangat bingung, ketika mereka sedang berbicara tiba-tiba saja tatapan mata Jesselyn menatap gelas kaca yang ada di atas meja.
"Apakah nona Melania habis minum?" tanya Jesselyn.
"Iya, Memangnya kenapa?" tanya balik Melania.
"Tidak apa-apa, nona. Soalnya nanti mau saya bersihkan sebelum tuan Alexander datang." jawab Jesselyn.
"Aku peringatkan lagi padamu, Jika sampai kamu berani mendekati Alexander aku tidak akan membiarkanmu, aku pasti akan mengulitimu, membunuhmu dan akan membuang mayatmu entah ke mana."
"Saya berani bersumpah, Nona. Saya tidak akan menggoda Tuan Alexander ataupun mendekatinya. Saya tidak mempunyai keinginan untuk mendekati Tuan, lagi pula dalam segi apapun Nona Melani yang menang banyak, saya hanyalah seorang gadis biasa wajah saya tidak secantik wajah Nona Melania. Jadi saya tidak akan berani untuk bersaing dengan anda." jawab Jesselyn.
Mendengar pujian seperti itu Melania serasa melayang ke atas udara, dia menganggukkan kepalanya. "Baguslah kalau begitu, kalau kamu mengerti itu akan lebih baik, tapi jika kamu berusaha untuk mendekati Alexander maka kamu harus tahu hukumannya."
"Tenang saja, Nona. Saya tidak akan mendekati Tuan Alexander, lagi pula kalaupun Saya ingin mendekati seseorang mungkin saya akan mencari tingkatan saya." jawab Jesselyn.
Padahal dalam hati tingkatan menurut dia itu lebih dari standar kelas atas, Tapi menurut Jesselyn sih cinta tidak harus dipandang dari kekayaan, kalau dia dan pria itu sama-sama suka sama-sama cocok Kenapa tidak.
Setelah mendengar pujian dari Jesselyn Melania nampak tersenyum, wanita itu malah tidak marah-marah seperti tadi, padahal sebelum bertemu dengan Jesselyn Melania sudah membuat begitu rencana untuk memarahi Gadis itu. Namun ketika sudah bertemu malah dia kena rayuan gombal dari gadis itu.
"Oh ya, kalau tuanmu ke sini bilang aku tadi menunggunya dari tadi, aku menunggu dari tadi tapi dia tidak kembali juga." ucap Melania.
"Baik, Nona. Oh ya nona, hati-hati ya. Wanita secantik Nona itu seharusnya memiliki bodyguard yang banyak, takutnya Nona itu diganggu oleh para pria hidung belang." ucap Jesselyn yang malah membuat Melania tersenyum. Kata-kata Itu membuat dia seperti seorang wanita yang baru jatuh cinta.
"Ya sudah kalau begitu, katakan pada tuanmu untuk menelponku."
"Baik, nona."
Setelah Melania pergi Jesselyn kembali duduk kemudian menghela nafasnya, Gadis itu menatap gelas yang dipakai oleh Melania. sidik jari itu ada di sana, tentu saja Jesselyn tidak akan membuang waktu, dia segera mengambil gelas itu untuk membuat sidik jari palsu agar bisa membuka gudang yang terkunci.
Sekarang tinggal mencari sidik jari Alexander. sekitar 10 atau 15 menit kemudian Alexander sudah kembali ke kantornya, pria itu terus memijit kepalanya.
"Oh ya, kamu tadi Dari mana Jesselyn?" tanya Alexander.
"Saya tadi bersama Tuan Henry melihat beberapa barang yang datang, tuan." jawab Jesselyn.
"Oh begitu ya." Alexander kemudian duduk.
kedua tangannya memijat kepalanya sendiri, kepalanya terasa pening, terasa ingin pecah.
"Tuan apakah Tuan mau aku buatkan kopi?" Jesselyn bertanya ketika dia melihat Alexander terus memijat kepalanya.
"Tidak usah, hanya saja kepalaku sangat pusing, aku mau memejamkan mataku sebentar." jawab Alexander.
"Tuan, apa Tuan mau saya pijit kepalanya?mungkin sakit kepala Tuan sedikit reda."
Alexander yang memejamkan matanya langsung membuka kedua bola matanya, dia menatap Gadis itu. memijit kepalanya mungkin itu akan bisa membuatnya sedikit rileks.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*My jodoh duren(duda keren)
*Mr. Dracula (Gadis bermata biru)
*Isteri bar-bar bos mafia(the legend)
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Endangdaman
bukan jeslyn yang pergi tapi kamu yang akan pergi
2023-11-23
0
Feri Fatama
lanjut tor
2023-11-23
0
Silvia Karundeng Manampiring
hahaha titisan ibunya ini.. bayak akalnya..
2023-11-23
2