"Tentu aku tidak akan melakukan kesalahan yang fatal, Aku tidak akan membuat Mama menderita lagi. Kamu tenang saja." jawab Jesselyn.
Daniel memeluk saudaranya, mereka memang saling menyayangi satu sama lain. Walaupun Caroline adalah wanita yang sangat menyebalkan tapi dia penuh dengan kasih sayang, dia selalu mencintai orang-orang yang ada di sampingnya.
"Aku minta sama kamu untuk melakukan pekerjaanmu dengan hati-hati, mama bilang pria itu sangat berbahaya. Mama takut jika kamu malah terjebak pada permainan Tuan Francisco. Kamu tenang saja, Daniel. walaupun aku tidak tahu orang itu berbahaya tapi aku harus menyelidiki sesuatu, aku menemukan sebuah kejanggalan yang mungkin ada hubungannya dengan perusahaan Papa." jawab Jesselyn.
"Kalau kamu mau melakukan sesuatu katakan padaku dan yang lain, kamu tahu kan kami semua selalu ada untukmu. Kita selalu ada untuk satu sama lain." Daniel memang sosok yang lebih dewasa pemikirannya dari seluruh saudara-saudaranya.
Dua saudara itu nampak tersenyum satu sama lain, mereka memang selalu menjengkelkan jika sudah berkumpul namun jika mereka berpisah mereka seperti anak yang kehilangan induknya.
"Oh ya, kamu menyelidiki pria itu sampai mana?" Daniel memakan makanan yang dimasak oleh saudarinya.
"Sebenarnya kalau kalian tidak kemari aku sudah melihat sesuatu yang membuatku sangat penasaran."
"Benarkah? Aku tidak tahu kalau kamu sudah sejauh itu sih. ini sudah berjalan hampir satu bulan dan Kamu jarang memberi kami informasi, makanya aku dan yang lain serta paman ruhan terbang kemarin untuk melihat bagaimana kondisimu."
"Kamu tenang saja, Daniel. Aku masih sangat baik-baik saja, oh ya. Segeralah tidur kalau kamu bekerja besok cepatlah bekerja, kalau tidak kalian Pergilah ke mana Jangan ganggu aku." Jesselyn kemudian masuk dengan beberapa makanan yang sudah ada di tangannya. Gadis itu mencibir saudaranya dengan begitu keras, selalu saja mereka memperlakukannya seperti anak kecil.
Keesokan hari Jesselyn kembali pergi ke perusahaan, seperti biasanya dia melakukan pekerjaannya.
"Selamat pagi, Jesselyn." sapa beberapa teman perusahaannya.
"Selamat pagi." jawab Jesselyn yang kemudian masuk ke dalam kantor Alexander.
ketika memasuki kantor itu, di sana sudah ada Henry yang memeriksa beberapa berkas perusahaan.
"Selamat pagi, Tuan Henry." siapa Jesselyn.
Seperti biasanya dia selalu menunjukkan senyum yang begitu menyenangkan kepada pria itu, namun sayangnya pagi ini Henry tidak membalas sapaan gadis itu. "Tuan." Panggil Jesselyn.
"Hemm..," jawaban seperti itu yang keluar dari mulut Hendri.
"Tuan, apa Tuan mau saya buatkan sesuatu? kopi atau saya ambilkan minuman yang lain."
"Tidak usah." jawab singkat Henry tanpa menatap Jesselyn sama sekali. Pria itu membuka beberapa lembar berkas perusahaan, dia begitu fokus. kacamata yang dipakai oleh Henry membuatnya semakin terlihat mempesona.
"Apa salahku? Kenapa dari kemarin dia cuek sama aku? Apakah aku melakukan kesalahan atau Aku melakukan sesuatu yang menurutnya tidak baik?" guman Jesselyn dalam hati ketika dia melihat Henry tidak mau menatapnya sama sekali. Bahkan kemarin saja dia menegurnya dengan keras.
Sesaat kemudian Alexander masuk ke kantornya, dia menatap Jesselyn yang sudah berada di tempatnya. "Selamat pagi, Jesselyn." sapa Alexander.
"Selamat pagi, tuan." jawab Jesselyn dengan ramah dan senyum yang merekah.
"Oh ya, Jesselyn. nanti kamu temani aku untuk melihat peluncuran produk yang akan kita iklankan." ucap Alexander.
Baik, tuan." jawab Jesselyn.
mendengar perkataan seperti itu Hendri sedikit kesal, pria itu menatap Alexander dengan tatapan mata penuh pertanyaan.
"Kenapa harus mengajaknya, Alexander?bukan dia masih baru, dia tidak akan mengerti pekerjaan yang harus dia lakukan." tiba-tiba Henry mengatakan itu.
Jesselyn juga sedikit tersentak dengan perkataan yang diucapkan oleh pria itu, dari kemarin dia selalu menepis perkataan Alexander bahkan bisa dibilang dia selalu saja menjatuhkan kinerja Jesselyn.
"Kamu bicara apa sih, Henry. Jesselyn bekerja dengan baik kok, lagi pula hari ini itu aku mau menjadikannya model produk kita. Kamu tahu kan salah satu model kita itu sudah tidak bisa dipakai karena beberapa permasalahan yang dia hasilkan." Alexander berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu bahwa Jesselyn adalah orang yang sangat tepat untuk menjadi modal produk yang akan mereka luncurkan.
"Kita bisa mencari model yang lain, dia hanyalah bekerja amatiran yang baru satu bulan bekerja di tempat ini kan? jadi aku sedikit tidak suka dengan usulan yang kamu berikan, Alexander." jawab Henry.
Entah mengapa Henry benar-benar membuat suasana jadi sangat tidak menyenangkan, kata-katanya pun begitu tidak menyenangkan, dia mencibir Jesselyn dengan keras kalau. Gadis itu tidak mampu bekerja dengan baik
Jesselyn menatap Henry dengan tatapan mata yang begitu kecewa. "Sudahlah, Tuan. tidak usah di permasalahkan, lagi pula masih banyak model di luar sana kan." Jesselyn kembali mengerjakan beberapa pekerjaannya. Dia tidak ingin perasaannya kecewa dengan apa yang terjadi kepadanya.
Henry menatap Jesselyn, pria itu merasa kalau kata-kata yang dia ucapkan itu benar-benar menyakitinya. Jesselyn adalah tipikal seorang gadis yang jika dia terluka maka lukanya itu akan membekas sampai kapanpun.
"Apa kita mempunyai model yang cocok untuk produk kita, Henry?" tanya Alexander.
"Kita cari saja." jawab Henry. pria itu berbicara sembari melirik Jesselyn.
"Oh ya, Tuan. saya keluar sebentar ada berkas yang harus segera saya copy." ucap Jesselyn yang kemudian pergi. tatapan matanya tidak menatap Henry sama sekali, hari itu seharian jesselyn hanya mengerjakan beberapa pekerjaannya.
Setelah jam makan siang dia ke kantin perusahaan untuk makan siang bersama beberapa temannya, tanpa sengaja mereka berdua berpapasan ketika hendak mengambil makanan. Jesselyn tidak mengeluarkan sepatah kata pun bahkan Gadis itu tidak menegur ataupun mencoba berbicara dengan Henry.
"Jesselyn kamu suka makanan ini, tidak?" tanya salah satu karyawan pria kepada Jesselyn.
Gadis itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kamu mau aku ambilkan dua denganmu?" tanya karyawan pria lagi.
Jesselyn kembali menganggukkan kepalanya. "Boleh." jawab Jesselyn yang kemudian kembali ke meja makannya.
Henry menatap Jesselyn, hari ini Gadis itu membalas spa yang dilakukan oleh Henry. mungkin bukan hanya hari ini, untuk beberapa hari atau untuk selamanya Mungkin itu yang akan terjadi. jam makan siang akhirnya selesai, Jesselyn bersama beberapa temannya bercanda gurau. nampak Gadis itu terbawa begitu lepas.
"Ayo kita kembali ke tempat kita, hari ini aku harus mengerjakan beberapa proyek yang diberikan oleh Tuan Alexander." ucapnya. Jesselyn kembali berdiri, dia menarik tangan salah satu karyawan pria yang dari tadi berusaha mendekatinya.
Henry melihat hal itu, tatapan matanya benar-benar tidak begitu suka dengan pemandangan itu. hatinya nampak begitu terbakar, salahkan sendiri karena dia menyulut api yang akan membakar dirinya sendiri.
Ketika memasuki kantor Henry menatap Jesselyn yang sudah mengerjakan beberapa pekerjaan. "Ada pekerjaan yang harus kamu tangani." ucap Hendri yang kemudian memberikan beberapa berkas.
Jesselyn menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*My jodoh duren(duda keren)
*Mr. Dracula (Gadis bermata biru)
*Isteri bar-bar bos mafia(the legend)
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Oi Min
kmu salah langkah Henry
2024-05-11
0
Hafrian Faroli
Semangat thor buat karya nya.Lanjut thor
2023-11-25
1
itanungcik
lanjut bestie..
2023-11-25
0