"Apa yang mereka bicarakan? Kalau memang itu hal biasa, kenapa tidak di rumah saja. Saya rasa ada sesuatu yang disembunyikan sama Reza."
"Jadi sepupunya Hana itu mahasiswa saya di kampus. Cuma, yang saya herankan, kenapa dia mengirim foto Mereka. Apa dia tidak suka sama Hana, sehingga mau membuatnya berada di dalam posisi sulit? Tapi tidak papa, yang penting kita ambil positifnya Saja. Toh, tanpa dia, kita tak akan tahu mereka berdua bertemu secara diam-diam."
"Ya, kamu benar sekali. Oh, ya. Boleh saya minta nomor kontak sepupunya Hana?"
Risal pun memberikannya atas nama Gina.
Ia memandang Nisa dengan perasaan berkecamuk. Sebentar lagi mereka akan resmi bercerai. Ada rasa menyesal yang dalam, karena tidak pernah benar-benar mencintai wanita yang sudah memberikan dia anak ini dengan tulus. Namun, hal berbeda mulai terasa, yaitu perasaan cemburu dan cinta yang kini bertumbuh subur di hatinya, tapi sekali lagi, penyesalan memang selalu datang terlambat.
Risal menatap Nisa dengan intens, ada bara api cinta yang menyala di bola matanya. Nisa hanya menatap balik dengan senyuman tulus, seraya berusaha bersikap biasa. Ia sadar orang ini bukan lagi miliknya.
"Aku akan menemani kamu di sini sampai Reza pulang." Nisa hanya diam, juga tidak menolak. Itu artinya dia mengijinkan.
Risal berjalan ke belakang meja kasir dan duduk bersama Nisa.
Mereka ngobrol seperti biasa, tanpa ada rasa tegang. Meski sedang menunggu surat cerai dari pengadilan namun, keduanya terlihat tidak saling menyimpan dendam. Itu terbaca dari sikap mereka.
Dua jam berlalu tanpa terasa, Reza datang. Ia kelihatan terburu-buru memasuki toko namun, tiba-tiba berhenti di depan kasir begitu melihat Reza duduk berduaan dengan Nisa.
"Kak, sedang apa?"
"Nah, justru Kakak yang mau tanya, kamu dari mana?"
"Aku habis dari luar, ketemu teman."
"Oh, teman cewek atau cowok?"
Nisa ikut bertanya.
"Ya, cowok, lah, Yank."
Nisa Risal saling berpandangan, merasa ada sesuatu yang tengah disembunyikan, sehingga ia takut untuk berkata jujur.
Tanpa mereka sadari, Hana dan Gina sengaja mau membuat hubungan ke tiga orang ini menjadi kacau, karena tujuan Hana adalah ingin mengusir Nisa secara halus dari kehidupan keluarga mami Ati. Itu sebabnya ia sengaja meminta sepupunya untuk memotret mereka dan mengirimkannya ke Risal, karena dia tahu pasti Risal memberi tahu ibu dari anaknya. Ternyata benar, semua yang dipikirkan Hana matang-matang sudah terjadi.
Risal pamit pulang, dan lain halnya dengan Reza. Ia agak sedikit kesal dengan kedatangan Kakaknya, dengan alasan ia tidak sedang di tempat. Jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia takut Nisa tak bisa melepaskan Risal.
Notifikasi chat masuk di aplikasi WA Nisa. Ia membaca pesan yang datang dari Reza.
"Nis, jangan bertanya apapun soal pertemuan mereka di kafe. Takutnya kalian malah salah paham dan bertengkar. Biar nanti aku yang cari tahu Secara diam-diam."
Nisa pun balas mengiyakan, lalu menghapus pesan tersebut dari ponselnya.
Reza muncul dari dalam dengan tubuh yang sudah fresh sambil menyisir rambutnya dengan jari.
"Kamu mandi? Gerah sekali, ya?"
"Ya, gerah, Yank."
Ia duduk di samping Nisa dan bersandar di pundak kekasihnya itu, membuat yang disandari semakin penasaran dengan perihal pertemuan Hana dan kekasihnya ini.
"Aku sepertinya akan membajak akun Watsapp kamu juga, Yank. Maafkan kelancanganku, ya."
Bisik Nisa dalam hati sambil tersenyum getir.
Ia mulai menyusun rencana agar malam ini bisa menginap di tempat Reza
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments