Jarum jam menunjukkan angka sepuluh pagi. Keluarga mami Ati sudah berkumpul semua di meja makan, namun, hari ini ada yang berbeda. Hana ikut bergabung dengan mereka, bahkan, dia duduk berdampingan dengan Risal. Hal semacam ini sedikit aneh, karena Nisa masih berstatus istri Risal. Namun, kesepakatan di antara mereka sudah fix, dan, Nisa sudah tak peduli lagi dengan apapun yang akan dilakukan lelaki yang masih berstatus suaminya ini. Bagi dia, mendapatkan pengganti Risal bukanlah hal yang sulit, walaupun di awal memang menyakitkan, tapi rasa sakit ini berusaha ia bunga jauh-jauh.
Yang paling mengejutkan, Nisa sedikitpun tidak mau menunjukkan ketidaksukaannya pada Hana. meski di awal bertemu memang ada percekcokan, tapi ia tidak mau lagi merendahkan dirinya hanya demi mengemis cinta seorang lelaki yang tidak pernah tulus menyayanginya.
"Nisa, kamu masuk kerja jam delapan, kan? Ayo kita langsung jalan."
Tawar Reza sambil melirik Risal. Sepertinya kakaknya ada sedikit perasaan cemburu, tapi berusaha dia tutupi. Apalagi pagi ini Nisa pertama kali memakai seragam kerja, walaupun hanya sebagai karyawan biasa.
Seusai mengecup kening Bobi, Nisa pergi bersama Reza, sedangkan Risal dan Hana masih menemani Mami dan Bobi di meja makan.
"Nak, sebenarnya mami agak aneh dengan hubungan kalian yang seperti ini. Apa perasaan cemburu di hati kamu dan Nisa benar-benar tidak ada?"
Risal hanya diam menanggapi pertanyaan mami.
"Tidak mungkin Risal cemburu, mi. Dia cinta matinya sama Hana. Ucap wanita itu sambil menatap Risal. Iya, kan, mas?"
Risal masih tanpa suara, hanya mengangguk mengiyakan ucapan Han.
__________________
Di tempat berbeda.
"Dek, kalau sudah sampai di hotel, kamu langsung pergi, ya. Ini hari pertama aku kerja dan tidak boleh bertingkah aneh dulu."
Nisa meminta pengertian Reza.
"Baik, lah. Tapi janji, nanti pulangnya aku yang jemput, ya."
"Tak perlu, Dek. Sepertinya aku ikut saja sama Mina."
Balas Nisa sambil mengambil pakaian kerja Mina yang dibelinya kemarin sama Coki dan memasukkannya ke kantong untuk nanti diberikan di hotel sama Mina.
"Janga panggil aku adek terus, Yank."
Hubungan kita sudah sejauh ini, bahkan sebelum mas Risal ketahuan ada wanita lain."
Tegur Reza sambil mencium bibir kakak iparnya.
"Bro, posisikan diri sebagai boss, ya. Jangan kegenitan seperti ABG!"
Seru Reza marah saat Nisa turun dari mobil, langsung digandeng tangannya oleh Coki."
Meski mereka belum pernah ketemu, tapi Reza sudah bisa menebak, pasti dia adalah Coki. Selain dia, siapa sih yang sudah berteman lama sama Nisa?
"Itu siapa, sih? Supir atau suami kamu?"
Coki memandang ke arah Reza yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pak, boss. Jujur, aku tidak enak sama karyawan lain. Apalagi bapak terang-terangan memperlakukan aku kayak gini."
"Dengar, Nisa. Aku begini karena kamu. Aku tidak mengerti apa sebenarnya magnet yang kamu gunakan untuk menarik aku, sehingga sejak SMA aku menahan rasa cinta ini hingga sekarang."
Mina yang baru tiba Langsung memisahkan tangan Coki dari Nisa."
"Ini seragam kamu, Min. Ayo, berganti sana!"
Dengan gesit Mina menangkap kantong berisi seragam yang dilemparkan Nisa.
Coki mengumpulkan karyawan yang bertugas di resto, lalu memperkenalkan Mina dan Nisa sebagai karyawan baru.
"Nisa, kalau ada yang kurang dipahami, bisa langsung ke ruangan saya." Ucap boss lalu pergi.
Di depan hotel, ternyata Reza tidak pulang. Pria muda ini kembali ke hotel dan menanyakan ruangan boss yang bernama Coki. Seorang satpam menunjuk ruangan yang di maksud, lalu Reza pergi dan langsung mengetok pintu.
"Masuk!"
Terdengar suara dari dalam.
Reza masuk dengan tetap menjaga sikap sopan, tapi, dari raut wajahnya terlihat tidak begitu suka dengan Coki.
"Bro, Kalau boleh tahu, kamu siapanya Nisa?"
Tanya Reza tanpa basa-basi ataupun menyapa terlebih dahulu.
"Aku ini calon pacar, sekaligus calon suaminya. Siapa anda? Menanyakan tentang urusan pribadiku, padahal aku tidak kenal sama kamu. Sepertinya kamu supir yang mengantar Nisa tadi, ya."
"Kurang ajar. Aku bukan supir-nya. Aku ini calon suami Nisa, tahu?"
Resa menarik kerah baju Coki dari balik meja dan menghajarnya.
"Berani sekali kamu mengakui Nisa calon istri. Ketemu saja baru tadi."
Reza terus menghajar Coki yang belum sempat memberikan perlawanan.
Mendengar keributan dari dalam ruangan boss, beberapa satpam yang berjaga langsung berlari masuk tanpa permisi.
"Hei, kamu siapa? Berani sekali menyentuh boss kami!"
Reza tak bisa lagi melawan karena dia dikeroyok oleh tiga orang sekaligus.
salah satu satpam menghajar bibir Reza, sehingga darah segar keluar begitu deras.
"Sudah, hentikan!"
Beberapa orang tamu dan karyawan yang mulai berkumpul mulai memisahkan mereka.
"Kamu, sadar? Apa yang kamu lakukan hari ini membuat malu aku, Reza!" Teriak Nisa yang ikut berkumpul karena mendengar keributan.
Ayo, bubar semua!"
Karena perintah boss, semua langsung bubar dan hanya tersisa Nisa, Coki dan Reza.
Nisa menunduk, tak mampu menatap ke arah boss. Tentu saja ia malu besar atas sikap Reza.
Pasti aku menjadi bahan gosip karyawan lain, Reza. Baru hari pertama masuk kerja, sudah bikin kacau begini." Nisa mulai sesenggukan.
"Boss, aku terima kalau memang mau boss pecat."
"Tidak, Nisa. Justru aku semakin yakin untuk memperjuangkan kamu, setelah apa yang terjadi."
Nisa hanya diam sambil mengambil tissue basah dan membersihkan darah yang masih menetes di bibir Reza.
Ketiga orang ini duduk dan mulai berbicara dengan kepala dingin.
"Lihat saja, nanti. Aku akan merebut Nisa dari tanganmu." Begitulah bisikan di hati Reza.
"Lihat saja, siapa yang akan mendapatkan dia." Coki pun ikut membatin.
Karena di desak Nisa, ke dua pria ini bersalaman lalu Reza pergi meninggalkan hotel dengan emosi yang belum sepenuhnya reda.
Di tempat lain, Hana sibuk merapikan kamar Risal. Kamar itu dia dan Risal mengecat ulang sehingga warnanya berubah putih, sesuai pilihan Hana tentunya.
Posisi lemari dan Beberapa barang pun di tata ulang, hingga tidak lagi meninggalkan kesan seorang Nisa.
Hana semakin yakin dengan hatinya bahwa dialah yang bisa memberikan kebahagiaan penuh pada Risal.
Mani yang asyik mengamati tanamannya kaget melihat anaknya pulang dengan wajah kusut dan bibir terluka.
"Kamu kenapa, nak?"
Kepanikan mama mengundang jiwa kepo Hana, sementara Risal serius dengan laptopnya, menyiapkan materi untuk para mahasiswanya nanti di kampus.
"Reza kenapa?"
Hanya ikut menghampiri mami.
"Cepat ambil kotak p3k di kamar mami."
Hana langsung berlari ke kamar dan mengambil kotak berisi obat-obatan.
"Sini, ma. Aku saja yang bersihin. Tangan mami masih kotor, sebaiknya di cuci dulu."
Mami menuruti perintah Hana, sedang Hana pun mengambil alih dagu Reza dan mengamati lukanya.
"Ah, perih."
Ucap Reza sambil memegang tangan Hana dan memindahkan dari bibirnya.
"Tahan saja, sebentar. Mau aku kasih obat biar cepat kering."
Hana memegang lagi bibir reza agak lama, seraya mengusap usap pinggiran lukanya dengan jemarinya yang lentik.
"Ah, sakit, kak."
Seru Reza lagi.
"Ya, dikit lagi. Tahan, ya."
Bisik Hana sambil membalurkan bubuk obat, lalu menutupnya dengan plester.
"Haus, kak."
Bisik Reza masih menahan perih lukanya.
"Hana pergi ke dapur, lalu membuat minuman untuk calon iparnya itu.
Sedang mami sibuk memasak sup kesukaan Reza.
" Mi, luka Reza sudah aku obati. Mami tak apa masak saja. Reza lukanya tidak parah, kok."
Mami hanya mengangguk dan melanjutkan memasak.
Hana menghampiri Reza yang sudah masuk dan berbaring di sofa.
"Bangun, Za. Minum dulu biar seger, tapi pake sedotan. Sayang kalau luka kamu terkena minuman. Kan, obatnya belum mengering."
Bisik Hana dengan nada penuh perhatian.
Reza y
Hanya diam dan memberikan tangannya untuk ditarik Hana. Dengan satu tangan Hana membangunkan calon iparnya itu, lalu membantunya bersandar di sofa. Ia kemudian berlutut di depan sofa, dan memasukkannya sedotan melalui ujung bibir Reza yang tidak terluka.
"Habiskan, ya! Awas kalau disisakan."
Dengan nada sedikit mengancam namun penuh kelembutan, membuat Reza merasakan getaran aneh di dadanya.
"iya, kak."
Jawab Reza dengan menatap tajam namun lembut ke arah calon kakak iparnya ini, lalu menyeruput minumannya hingga tak bersisa.
"Duh, enaknya diurus seperti ini. Jadi ingat ke masa kecil." Kelakar Reza sambil menatap intens mata Hana.
"Han, lama sekali. Bisa bawakan aku minum ke kamar?"
Risal muncul dari balik pintu kamar.
___________
Tolong tinggalkan komentar, agar aku semangat dalam berkarya. Dukungan kalian adalah semangatku, dan amal jariah untuk kalian. Salam sayang. Allah bersama kalian.💜🙏
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Ani Kurniasari
msh krg faham dg karakter asliny reza,nisa yg kesan ny gampangan bgt
2023-12-09
2