Jalanan kota jakarta begitu ramai di Minggu pagi ini. Aku menyetir mobil sambil memutar lagu dengan volume kecil. Sekali sekali aku pantau Nisa lewat spion mobil, tampak ipar cantikku ini sedang menidurkan Bobi, ponakan ganteng aku. Kak Risal sudah tertidur begitu lelap, mungkin dia kelelahan. Ah, biarkan saja dia menikmati hari libur sepuasnya. Sedangkan mami yang duduk di sampingku juga sudah ikut tertidur.
Segera aku keluarkan jurus andalanku, berpura-pura batuk agak parah.
Spontan saja Nisa melihat ke arahku dan mata kami pun beradu tatap. Hatiku berdebar, ada perbedaan aku menatapnya lewat spion mobil. Wajahnya memerah, sesekali membuang muka, lalu kembali menatap aku lagi.
"Haus."
Ucapku pelan, tapi terdengar oleh Nisa.
"Minum dulu, dek!"
Nisa menyodorkan sebotol air mineral, aku mengambilnya dengan sengaja menyentuh jemarinya. Lihat, lah! Aku sudah sangat dewasa dan tak pantas dia memanggil aku dengan sebutan adek. Harusnya dia panggil ganteng aja. Iya kan, pembaca?
Seandainya bisa, ingin kubawa lari wanita ini ke ujung dunia, namun, belum ada keberanian .
Perjalanan ke luar kota terasa singkat bagi aku, karena pembaca pasti sudah tebak,kan, apa alasannya?
Sedangkan mami dan Risal tampak bosan dan ingin cepat-cepat sampai.
Akhirnya kami tiba di Bogor, dan langsung menuju rumah kerabat mami.
Begitu sampai, kami disambut dengan penuh bahagia.
"Ati, kamu hebat sekali memiliki cucu seganteng ini."
Ucap kerabat mami yang bernama Ros ini. Dia menyalami kami semua lalu beralih menggendong Bobi kecil.
"Iya dong Ros. Cucu aku memang ganteng. Secara, kan kedua pencetaknya cantik dan ganteng gitu."
Kami langsung tertawa mendengar gurauan mami.
Oh, ya. Ibu Ros ini juga sudah menjanda, Makanya dia bahagia sekali melihat kami membuat ramai rumahnya.
Aku membantu kak Risal mengeluarkan barang bawaan berupa makanan ringan dari dalam mobil, dan memindahkannya ke dalam rumah Ibu Ros.
Mami tampak bahagia bertukar cerita dengan Ros. Mereka kadang tertawa sampai terbatuk-batuk. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Pelan-pelan tertawanya, mi!"
Nisa mengingatkan mami.
Aku berjalan ke luar mengitari halaman rumah Ros yang lumayan luas. Taman bunga yang tampak tertata dengan rapi.
"Om, gendong."
Bobi berlari mendekat sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kok, tidak sama Oma?"
Tanyaku sambil mengangkat tubuh kecilnya.
Risal dan Nisa menyusul aku ke luar.
Sambil mencandai ponakan ganteng, aku melirik ke arah Risal. Dia tampak menggandeng mesra tangan Nisa sambil sesekali mengacak rambut istrinya ini. Pemandangan yang indah, karena akhirnya mereka bisa keluar kota bareng yang memang jarang dilakukan, namun, hal ini juga membuat hatiku sedikit gerah. Ya, aku cemburu. Cemburu terhadap tingkah manja Nisa yang terus ditunjukkan sama Risal. Daripada aku kepanasan melihat kemesraan mereka, lebih baik aku kasih saja Bobi ke mereka.
"Bob, kamu sama mami kamu dulu, ya. Om mau ke luar sebentar, mau ketemu teman."
Jelas aku berbohong sambil menurunkan Bobi dari gendonganku.
Sahabat setiaku alias mobil ini kuarahkan mengikuti arah jalan. Kemanapun setir mobil ini aku putar, biarlah aku ikuti saja arus. Cemburuku bukanlah cemburu yang wajar, tapi ini cemburu buta. Ya, mata hatiku buta, cinta ini pun buta.
Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi berdua malam ini dengan Nisa, bagaimanapun caranya. Apalagi kami akan menginap satu hari di sini.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Begitu keluar dari mobil, aku melihat Kak Bobi naik di belakang motor, sepertinya ojek online. Motor itu pun pergi.
"Nisa, Risal ke mana?"
Tanyaku saat berpapasan dengan iparku ini di depan pintu.
"Oh, itu. Dia ada janjian sama teman Dosen. Palingan tengah malam baru pulang. Kebetulan teman Dosennya tinggal disini."
Dari bahasanya aku bisa tahu kalau Nisa kasih kode ke aku. Padahal, kan, aku tidak tanya kapan pulangnya.
Dengan cepat aku sambar tangan halus Nisa lalu meremasnya. Ada desiran halus di sekujur tubuhku, semoga Nisa pun ikut merasakan demikian. Nanti malam aku traktir makan, ya!" Pintaku sambil menatapnya tajam namun lembut.
"Ya."
Sesingkat itu dia menjawab, lalu menghilang ke dapur, berbaur dengan mami dan Ibu Ros.
"Aku tak akan memakan mu."
Ucapku gemas dan emosi. Padahal seharusnya dia biarkan kami saling bertatapan dulu. Ah,,, aku geram sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
🅱︎𝐨𝐛
wah
2024-07-29
0
Nurul Adawiyah
Aduh.. penasaran aku
2024-01-01
1