Hana kaget melihat tatapan tajam dari Risal.
Dengan cepat wanita ini berlari ke dapur dan mengambil minuman untuk kekasihnya.
Sementara Reza hanya geleng-geleng kepala melihat perhatian yang diberikan kekasih kakaknya.
"Ah, sepertinya Masalah hari ini agak merusak otakku." Gumamnya sambil mengetok kepala sendiri.
Sementara di hotel, Mina berlari ke ruangan boss setelah mendengar berita yang terjadi tadi.
"Nisa, Nisa. Baru juga masuk, sudah bikin Masalah. Ipar kamu itu kenapa bersikap seperti itu, seakan- akan kamu ini istrinya."
Coki memasang wajah ketus ke Mina, sehingga ia diam dan berbalik pergi.
"Nisa, iparmu itu terobsesi sekali dengan kamu. Aku harap kamu menjauhi dia, agar aku bisa leluasa pergi bareng kamu."
Akhirnya, tanpa menjalankan tugasnya di hotel, Nisa memilih pulang..Namun, tidak segampang itu karena tentu saja Coki tidak memberikan ijin, dengan alasan ini perintah boss.
***
Beberapa jam berlalu, Risal masih mendiamkan Hana. Hari semakin gelap dan Risal siap-siap berangkat ke kampus, karena jam mengajarnya kurang dari jam tujuh malam.
Hana yang merasa diabaikan pun berpamitan untuk Pulang. Ia sadar, memang salahnya karena bersikap kegenitan di depan adik pacarnya.
Sementara Nisa dan Coki masuk ke dalam mobil, lalu pergi ke suatu tempat yang Nisa tak tahu sama sekali itu di mana.
Sebuah bangunan megah tampak di depan mata, dan berdiri seorang wanita berumur sekitaran enam puluhan tahun. Dia memegang ponsel dan tampak mengetik sesuatu.
"Nisa, ini rumahku dan yang berdiri di ujung sana itu mamaku."
Coki membuat Nisa seketika kaget, karena baru pertama kali datang ke rumah orang tua Coki, tapi penampilannya malah pakai baju kerja dan tubuhnya penuh keringat.
"Co, apaan, sih, kamu. Kenapa membawaku ke sini tanpa memberitahu lebih dulu, setidaknya biar aku mandi dan berganti baju."
Seketika mulut Nisa terkunci tatkala wanita tua bernama Mirna ini menghampiri mereka.
"Nak Coki, ternyata sekian lama kamu menyendiri, akhirnya kamu membawa pulang juga calon menantu mama."
Wanita tua yang berpenampilan mewah ini lalu menatap Nisa dengan seksama, lalu memeluknya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
""Tante, maaf, saya bukan pacarnya Co..."
"Ssssst..."
Belum sempat Nisa menyelesaikan kalimatnya, Coki sudah buru-buru menutup mulutnya.
"Jangan kamu beralasan, nak. Coki sudah berjanji sama mama kalau hari ini dia akan memperkenalkan calon pacarnya, dan mama yakin itu kamu. Coki sebelumnya tidak pernah membawa wanita ke rumah ini. Rumahku sunyi seperti kuburan, nak. Coki anakku satu-satunya, dan jangankan cucu. Wanita saja tidak ada yang berhasil merebut hatinya. Kamu ini pasti bukan wanita sembarangan, sehingga bisa membuat anakku jatuh cinta."
Coki hanya mengangguk membenarkan ucapan mamanya.
"Tapi, Tante. Aku ini sudah memiliki anak satu. Bahkan sekarang masih berstatus istri orang, hanya sekarang dalam proses cerai."
"Tidak masalah, nak. Mama tak peduli apapun status kamu. Cukup kamu setia sama anak mama, tak ada lagi alasan untuk menolak kamu."
"Ma, ini Nisa, teman SMA yang sudah membuat Coki tak pernah pacaran Sampai sekarang. Dia seperti memiliki magnet, yang selalu menarik Coki. Sekarang dia melamar kerja di hotel kita, Ma. Di bagian FB service, kerjanya."
"Tidak perlu, nak. Calon menantu mama tidak boleh bekerja. Besok kamu ganti posisinya, dan biarkan ia bebas agar bisa menemani mama di rumah ini."
Bagai terhipnotis, Nisa tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya mengikuti kemauan dua orang ini dan masuk ke dalam rumah.
Saat mereka duduk di meja makan, muncul seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan Nisa. Dadanya bidan, badannya besar tinggi dan memiliki rambut ikal, namun sangat tampan.
"Hahahaha... akhirnya manusia hina yang selama ini aku incar telah masuk ke dalam jebakanku. Hahaha."
Otomatis Nisa kaget melihat gelagat pria asing ini. Dia berdiri dari kursi dan mendorongnya, lalu berusaha lari ke luar, tapi terlambat. Pria asing itu mengunci pintu rumah dan mencabut kuncinya.
'Mau ke mana kamu, hah? Belasan tahun aku dan ibuku menderita karena perlakuan papa kamu. Papamu itu bodoh! Dia sudah merusak kehidupan kami, lalu tidak mau bertanggung jawab, tapi seenaknya saja meninggal. Berhubung orang tua kamu sudah tidak ada, maka kamu yang harus bertanggung jawab!"
Ucapan pria ini terdengar seram bagi Nisa, karena dia sambil berteriak ke arah Nisa.
"Tidak begini caranya. Coki, tolong aku, please.! Kenapa ada orang ini di rumahmu?"
____________
Assalamualaikum wr wb.
Silakan komen, ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
Nah ..lho apalagi ini
2024-01-01
1