Bab 5

Nisa cepat-cepat duduk di atas ranjang dengan posisi memangku Bobi yang juga ikut terbangun karena mendengar teriakan bapaknya. Sedang Reza berusaha untuk bersikap biasa saja. Dibukanya pintu, tampak Risal dan Hana berdiri sambil mengamati ke dalam kamar dengan wajah gusar.

"Maksudnya apa ini, kak? Aku hanya mengamankan keadaan, ini juga mau balik lagi ke mami."

Reza sukses menutupi kegugupannya.

"Kamu yang kenapa, tega menyakiti hati istrimu?"

"Kalau tega, kenapa?" Hana ikut menimpali.

"Ini di hotel, mas. Jangan bikin keributan di sini. Kasihan, Bobi."

Nisa yang dari tadi berusaha sabar, akhirnya mendidih juga.

"Pergi, kamu. Kamarmu ada di sini, kan, sama selingkuhan mu itu?"

Nisa memegang ponsel dan melemparnya ke wajah Hana.

Sebelum semua makin parah, Reza mengambil kunci kamar, mendorong tubuh Risal menjauh dari pintu lalu menguncinya dari luar.

"Kak, biarkan Nisa dan anakmu tenang dulu di kamar. Sekarang kita pergi dulu, ini bukan waktu yang tepat untuk kalian berbicara. Lagian kenapa Hana tidak pergi saja. Nisa juga pasti butuh penjelasan.

Tak mau ambil pusing dengan omongan Reza, Hana menarik tangan Risal dan pergi ke kamar sebelah.

"Dasar pengecut! Takut sama wanita lain tapi tega menyakiti istri dan anak sendiri."

Nyaris saja Reza hilang kesabaran.

"Buat kamu saja, Reza. Aku tak minat lagi dengan Nisa."

Ucapan Risal barusan benar-benar membuat kaget Reza. Kakaknya ternyata selama ini tidak benar-benar cinta sama istrinya.

"Oke, kak. Aku pegang omongan kamu."

Ada rasa sedih di hati Reza karena dia tahu pasti Nisa kecewa, namun, sebagian hatinya menginginkan perpisahan antara kedua kakaknya.

Kalian akan menyesal sudah membuat Nisa dan Bobi menangis. Begitulah pikiran Reza sepanjang dia berjalan menuju kamar hotel pesanannya.

"Nisa, bukakan pintunya, dong! Ini aku, Reza, calon suamimu."

Rupanya Reza berusaha menghibur Nisa di saat-saat berat seperti ini.

Tak tunggu lama, pintu terbuka dan Nisa menghambur dalam pelukan Reza.

"Aku mau pulang, Mas. Aku tak nyaman disini."

Ucapan Nisa membuat Reza kaget

"Kamu panggil aku, mas?

Nisa hanya diam dan menarik Reza ke dalam kamar, tidak lupa mengunci pintu, lalu merebahkan tubuhnya di sisi Bobi yang sudah tertidur pulas.

Reza mendekati Nisa, lalu memeluknya dari belakang. Posisi tidur mereka sudah seperti suami istri, namun, Nisa tak peduli lagi. Dia biarkan adik suaminya memperlakukan dirinya sesuka hati, sampai tak sadar mereka ketiduran.

Di tempat lain, Risal dan Hana menumpahkan semua kerinduan yang terpendam selama bertahun tahun.

Wangi tubuh Hana seperti membius setiap saraf Risal. Lelaki itu bergerak lembut mengitari tubuh Hana yang sedang membuka laptop. Disisirnya rambut Hana dengan jemarinya, lalu menggenggam jemari Hana seraya mengecup kening kekasihnya dengan lembut.

"Buka pintunya, Mas. Kita harus bicara!"

Kini giliran Nisa yang mendatangi kamar Suaminya. Rupanya dari tadi dia pura-pura tidur, dan begitu Reza lebih dulu tidur, cepat-cepat dia mendatangi kamar Suaminya, tentu saja dia tahu nomor kamar dari si Mega.

"Buka....buka...Mas! Aku mau bicara, mumpung anak kamu lagi tidur."

Akhirnya ada tanggapan dari dalam.

" Ya, sudah. Boleh masuk, tapi janji jangan bikin keributan!"

"Iya, cepat!"

Pintu pun terbuka, dan Nisa kaget dengan pemandangan di depannya. Hana hanya memakai celana pendek di atas paha dan baju kaos kurang bahan.

"Mas, aku tidak bisa lagi bersama kamu. Secepatnya urus perpisahan kita. Besok aku ikut mami dan Reza pulang. Kalau mas mau pulang, silakan pakai mobil lain saja."

"Tidak usah khawatir soal kendaraan, aku pasti antar pulang calonku."

Tanpa diminta, Hana ikut bicara.

"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan, mas. Semua sudah jelas. Permisi.!"

Nisa pergi dengan sedikit membanting pintu.

Melihat perubahan Nisa, tentu saja suaminya agak kaget, namun, di lain sisi, dia senang akhirnya berjumpa cinta sejatinya.

"Dari mana saja, kamu, yank?"

Reza yang rupanya sudah terbangun lagi begitu marah melihat Nisa keluar sendirian.

"kamu tidak mengerti isi pikiranku, Nisa. Aku takut kamu diapakan kalau pergi sendirian."

lelaki tampan ini memandang Nisa dengan wajah memerah.

"Mami sama om kenapa? Mana papi Risal?"

Bobi yang terbangun rupanya kaget melihat omnya satu ranjang dengan mereka.

"Mana papi Bobi, om? Jawab!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!