Bab 6

"Papi kamu ada pergi, nak. Om disuruh jagain Bobi sama mami Nisa."

Ucap Reza sambil diam-diam mencubit dagu Nisa.

"Nak, tidur lagi, lah. Besok pagi kita pulang, sama Oma juga."

 Dengan gesit Reza mengangkat tubuh Bobi dan mengayunkan berkali kali sambil menyanyikan lagu nina bobo, hingga akhirnya Bocah itu tertidur lagi.

"Lihat aku, Nisa!"

Reza mengangkat dagu wanita muda itu dan memandanginya dengan penuh sayang.

"Kamu, lapar?"

Nisa menggeleng pelan.

Kedua manusia ini saling berpandangan hingga tak sadar kalau tubuh mereka sudah saling berdekatan.

Kedua kaki Nisa diambil Reza lalu memasukkannya ditengah jepitan kedua kakinya, dan menarik kepala wanita ini bersandar di dada bidannya.

***

"Selamat pagi, Ros. Ayo bangun. Aku mau beres-beres dulu, siapa tahu sebentar dijemput sama anak-anak."

Ros yang masih mengantuk, padahal ini sudah hampir jam 7 pagi, terpaksa bangun.

Ke dua wanita tua ini pun pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

"Semoga anak-anak kamu mendapatkan jalan terbaik dari masalah mereka. Ros menghibur Ati yang tampak murung sambil meneguk susu.

Sekitar pukul delapan pagi, Mobil mami Ati Sudah tiba di depan rumah. Nisa dan Reza turun berbarengan dengan Bobi. Ketiganya tampak rapih dan segar, sepertinya sudah mandi.

"Mi, kita pulang hari ini."

Ajak Reza.

Mami hanya menatap Nisa dengan sendu, lalu berbalik memeluk sahabatnya, Ros.

Semuanya berpamitan sama pemilik rumah, dan akhirnya mobil itu membawa mereka pulang.

Lumayan penat melewati perjalanan yang jauh, akhirnya kami tiba dengan selamat.

Nisa tampak mengambil kopor dengan badan lesu..Dari raut wajahnya aku dapat baca betapa tersiksanya perasaan dia saat ini, apalagi suaminya sedang bersama wanita lain di kamar yang sama.

"Nisa, kamu harus semangat. Masih ada aku, Bobi, dan Mami. Jangan merasa sendirian. Kalau mau nangis, nangis saja."

Hiburku sambil memberikan sebotol air dingin yg aku ambil dari freezer.

Nisa mengambil air itu, menatapku agak lama lalu meneguknya sampai habis. Sedangkan mami dan Bobi masih istirahat di kamar sambil menonton drama favorit mami.

Aku rasa mami tidak mau terlalu ikut campur urusan Risal dan Nisa. Mungkin bagi mami, apapun keputusan yang mereka ambil, itulah yang terbaik. Karena, mereka yang menjalani. Aku sedikit salut sama pola pikir mami.

Dia hanya memberikan nasehat seperlunya sama Risal dan Nisa.

"Dek, kamu jangan ke toko dulu hari ini. Aku masih butuh kamu."

Akhirnya Nisa pun bersuara. Aku sempat kaget, akhirnya kehadiran aku berarti buat dia.

"Aku tidak bisa. Atau bagaimana kalau kamu ikut saja. Biar Bobi nanti sama mami. Hitung-hitung biar stres kamu sedikit berkurang."

Aku menawarkan, dan Nisa setuju saja.

Aku ke kamar dan kasih tahu ke mami, tak butuh banyak berpikir, mami ijinkan.

"Ikuti saja maunya, ke mana dia mau pergi. Asalkan hanya untuk hal-hal baik. Jangan sampai kamu lengah, nak. Mami khawatir Nisa berbuat hal buruk yang bisa mencelakakan dirinya."

Begitu pesan mama.

Akhirnya aku mandi secepat kilat, begitu juga Nisa. Kami pun meluncur ke toko buku, dan dalam sekejap sudah tiba di sana.

"Salah satu karyawanku yang menjaga toko langsung berdiri saat kami masuk.

Ternyata selama dua hari ini buku-buku di toko laris manis. Puluhan novel ludes. Aku senang dengan cara kerja karyawan.

Nisa, kamu tunggu abang bakso, ya. Sore-sore begini biasanya lewat di depan toko."

Aku bermaksud melakukan itu ke Nisa agar ada kesibukannya yang menghilangkan sedikit stresnya.

"Siap, dek ipar!"

Tidak lebih dari enam menit, Abang bakso lewat dan langsung dihentikan Nisa.

"Bang, singgah dulu bentar. Baksonya kami borong."

Teriak Nisa senang.

Lima orang karyawan toko yang hari ini masuk aku panggil semua.

"Teman-teman, kalian boleh makan bakso sepuasnya. Kerja kalian memuaskan sekali."

Ucapku senang sambil melirik Nisa, tanpa ku sangka dia pun melihat ke arahku dengan senyuman manis menghias bibir tipisnya.

Mereka makan dengan sangat lahap, dan sesekali melirik ke arah aku dan Nisa yang duduk berhadapan.

Sepertinya mereka tidak tahu kalau Nisa ini istri kakakku, karena memang Nisa tidak pernah ke toko, dan mereka pun hanya kerja secara profesional, tak pernah tahu menahu tentang keluargaku.

"Cantik sekali, boss."

Bisik si Roy, salah satu karyawan saat ku hampiri, sambil menelan bakso tanpa dikunyah.

"Ya ampun, Roy. Tidak begitu juga, kali. Makanan, tuh dikunyah dulu."

 Kelakar ku membuat dia terbahak.

"I..iya, boss. Gugup soalnya."

Aku hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.

Ku ambil tissue lalu membersihkan bibir ranum Nisa yang basah oleh kuah bakso.

"Makan yang banyak. Soal lain nanti dipikirkan lagi."

kali ini Maminya Bobi tak banyak cakap. Dia hanya menuruti apa yang aku suruh.

"Buka mulut, dek."

Dia menyuapi aku bakso.

"Duh, enaknya makin terasa, soalnya disuapin sama wanita cantik."

Godaku yang membuat wajah Nisa memerah.

"Cieee..mesra sekali, boss. Mau, dong!"

Goda Roy dan kami pun tertawa, begitu juga dengan Abang bakso.

"Nisa, kamu habiskan dua porsi?"

"Kamu juga, mas."

Kami saling mencubit di depan beberapa pasang mata yang menatap kami.

aku senang, bisa menghibur Nisa, walaupun tidak seberapa.

Hari makin gelap, dan kami memutuskan untuk pulang. Karyawan kepercayaanku yang menginap di toko hanya memberi kode agar nanti malam aku menghubungi dia.

Beberapa menit mobilku jalan,Nisa mencolek pundak ku.

" Mas, jangan dulu pulang. Aku mau jalan-jalan ke mall."

"Kamu tadi panggil aku dek, sekarang mas lagi.

Candaku sambil mencubit lengannya.

Aku belokkan mobil menuju mall terdekat. Tak masalah, lagian ini baru setengah tujuh malam.

Beberapa pasang baju couple sudah dipilihnya, kini Nisa menggandeng tanganku menuju tangga mall.

"Mau kau culik adikmu ini ke mana, kak?"

kutatap mata Nisa dengan mimik sok ketakutan.

"Ih, lucu, tahu."

Dia mencubit hidungku sampai memerah.

"Nakal sekali tanganmu."

Aku menampar tangannya dengan gemas.

Kami keliling selama satu jam lebih, aku mengikuti maunya Nisa. Aku pilihkan boneka berbulu putih untuknya.

"Pokoknya yang satu ini tidak boleh kamu tolak, ini spesial!"

Tegas ku seraya mengacak rambutnya dan menatapnya dengan tajam namun lembut.

"Jangan menatapku seperti itu, dek! Malu dilihat orang."

"Biarin. Mereka kan tak tahu. Pasti pikirnya kita suami istri." Balasku sambil menggenggam erat tangannya.

Dadaku mulai panas, ingin rasanya cepat-cepat pulang agar bisa melepaskan hasratku padanya. Nisa, kau terlalu sempurna bagiku. Batinku terus berontak untuk segera pulang.

Akhirnya kami sudah aman di dalam mobil. Segera aku meluncur meninggalkan mall, dan tiba di sebuah taman. Sengaja ku parkirkan mobil, dan menatap Nisa dengan mimik aneh.

Geser, lah ke sana sedikit!"

Nisa hanya menurut, lalu ku baringkan kepalaku di pangkuannya.

"Sekarang kamu boleh bercerita, Yank. Aku siap Mendengar."

Kami saling tatap, sementara Nisa mengeluarkan semua isi benaknya. Semua hal tentang Risal dia ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Pantas saja selama ini kamu nyaman saja saat aku dekati? Ternyata kakak iparku ini jarang di belai, ya."

Tatapan kami menyatu lagi, dan selanjutnya pintu mobil kami diketuk dari luar.

"Keluar kamu, Adik kurang ajar. Berani sekali bermesraan sama istri kakakmu sendiri."

Sontak aku dan Nisa kaget bukan main, kenapa Risal ada di sini.

"Keluar, aku bilang!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!