Bab 14

Hana tampak tidak suka dengan hal ini. Disikutnya lengan kekasihnya, hingga yang bersangkutan tersadar dari khayalan.

Acara makan terus berlanjut sampai masing-masing orang menyudahi.

Sepertinya perasaannya mulai berubah. Wanita yang awalnya dinikahi hanya sebagai pelampiasan, sekarang malah ia sendiri yang terjebak dalam drama yang dibuatnya. Apalagi di antara mereka sudah ada seorang anak yang menggemaskan.

Tak ingin berlama-lama di situ, Reza bangkit berdiri lalu masuk ke kamarnya. Hatinya terombang-ambing dengan apa yang terjadi. Mencintai orang yang dimiliki saudaranya adalah hal yang rumit. Namun di sisi lain, ia tak bisa menghentikan perasaan yang sudah tumbuh dua tahun belakangan. Beberapa hal penting yang belakangan menjadi bahan pertimbangannya adalah agar, ia tinggal saja di toko bukunya, ketimbang harus serumah dengan saudaranya yang sudah menikah. Hal ini memang akan ia sampaikan sama Mami, dan sepertinya ia memutuskan untuk mengatakannya sekarang.

Ati yang sedang menonton drama Korea kesukaannya, berbalik saat mendengar anaknya ingin berbicara.

Baru saja apa yang disampaikan anaknya adalah keputusan berat bagi Ati sebab, ia tak ingin tinggal terpisah dari anak-anak. Setelah diberikan pengertian bahwa sangat bisa setiap hari berkunjung, karena toko buku tidak jauh dari rumah, akhirnya keinginan anak pun disetujui Ati.

Hari mulai gelap, Hana masih duduk di taman depan rumah bersama Risal dan bocah kecilnya. Wanita ini serius menatap mata Risal yang dari tadi sengaja menghindari dia.

Terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, dia pun angkat bicara.

Sepertinya mas mulai menyukai Nisa, ya? Begitulah ucapnya.

Risal hanya diam, lalu balik menatap kekasihnya yang sempat menghilang ini. Tidak ada tanggapan atas pertanyaan Hana, hanya mata yang mampu berbicara. Seandainya Hana mengerti bahasa tubuh, sudah pasti dia akan menebak isi hati Risal sekarang.

Waktu terus beranjak malam, ada ide sepasang mata yang mengintip dari balik jendela. Ia memperhatikan dengan seksama dua insan yang tengah duduk sambil berpegangan tangan. Ada rasa perih yang tiba-tiba terasa di hati, tatkala ia melihat anak yang dilahirkannya duduk dengan manja di pangkuan wanita lain. Tanpa sadar air matanya jatuh. Apakah ini namanya cinta? Cinta yang sempat hilang, kini mulai bersemi kembali. Nisa, kuatkan dirimu! kamu tidak boleh cengeng seperti ini. Demikian gumamnya pada diri sendiri.

Kemari, lah! Lupakan semua tentang kalian, karena babak baru akan dimulai. Nisa mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya. Tubuhnya ditarik ke belakang dan kini berada dalam dekapan lelaki yang seharusnya pantas dipanggil ipar ini.

Dengan tangannya yang kokoh, dibelainya rambut sang kekasih dan membawanya masuk ke kamar pribadinya.

"Andai kamu tahu, cinta ini sudah tak bisa lagi terbendung. Kenapa Risal terus saja menunda perpisahan kalian?"

Bulu kuduk Nisa berdiri tatkala Reza berbisik di telinganya.

***

Bola mata Bobi yang bulat dan teduh ditatap dengan lembut oleh Hana. Lalu, wanita itu membisikkan sesuatu yang belum tentu disetujui semua orang.

"Nak, kamu boleh ikut tante ke Jakarta. Papimu juga boleh. Tante akan mengurus semuanya, asalkan kamu mau."

Anak ini tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan sehingga, ia hanya melompat kegirangan seraya berkata: "Hore...aku mau ikut ke Jakarta."

Di dalam kamar, Bisikan-bisikan indah mulai meluluh lantakkan hati seseorang. Dengan pasrah diikutinya kemauan pangeran tampan ini. Belaian mesra yang menjalari setiap inci tubuhnya mulai menciptakan suasana yang romantis dan panas.

Tok tok tok

Ketukan di pintu kamar menyadarkan Reza dan Nisa untuk berbalik arah menghindari dunia dongeng yang mulai terpampang di depan mata.

"Aku mau bicara!"

Suara khas dan berat namun, terdengar berwibawa ini sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.

Reza dan Nisa yang kompak membuka pintu pun berjalan mengikuti langkah Risal.

Debaran hati Nisa mengirim sinyal ke otaknya bahwa dia sepertinya sedang berada di antara dua pilihan. Dua orang yang berbeda namun, sama-sama memiliki ikatan cinta terhadap dirinya.

Sepertinya aku berubah pikiran, Dek! Aku tidak bisa melepaskan istriku. Malam ini dia harus sekamar dengan aku sebab, banyak hal yang ingin aku bicarakan.

Deg. Jantung Reza memompa dengan cepat. Apakah ini berarti dia harus ikhlas melepas Nisa? Ah, tapi tak perlu sampai melepas. Bukankah selama ini mereka menjalin hubungan secara diam-diam, bahkan, disaat rumah tangga kakaknya baik-baik saja?

"Kakak kenapa tidak berpendirian seperti ini, sih? Kalau itu mau kakak, aku mah terserah. Aku yakin Nisa tidak akan mau balik lagi setelah, apa yang Hana dan kakak lakukan, apalagi sampai menginap sekamar di hotel.

Kedua saudara yang sama-sama memiliki ketampanan ini untuk sesaat terdiam dalam pikiran masing-masing. Ada rasa ingin memiliki yang dalam terhadap wanita pujaan mereka.

"Lalu bagaimana dengan Hana, Kak?"

"Kalau soal Hana, itu urusanku. Mau terima atau tidak, dia harus menerima semua keputusanku. Bukankah aku begini juga karena salah dia?"

Nisa menguping pembicaraan kedua lelakinya. Hatinya yang sudah ragu akan cinta sang suami, kini mulai berubah. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda, dan ia merasa suaminya serius dengan ucapannya, namun, sekilas bayangan Hana yang tampil seksi di dalam kamar hotel bersama sang suami mulai mengganggu pikirannya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Keputusan ada di tangannya, dan dia pasti tahu jalan apa yang harus diambil.

***

Suasana tampak tegang saat Risal mendekati Nisa yang sedang mencuci piring.

"Mami sudah tidur.Bobi, juga. Ini kan sudah larut malam. Kenapa masih di dapur?"

Bisik Risal sambil menarik pinggang ramping Nisa dan mengangkatnya. Otomatis tangan Nisa yang penuh busa sabun mengenai wajah keduanya

"Awas, mas!"

"Tak apa, kok. Santai aja."

Desah Risal sambil mendudukkan tubuh mungil istrinya di ujung meja.

"Kenapa mas mendadak nakal,begini, sih? Aku tidak mau. lepaskan aku, sekarang.!"

Goyangan tubuh Nisa yang ingin menghindari dekapan sang suami malah menggemaskan di mata pria ini. Diangkatnya tubuh Nisa dan melarikannya ke kamar. Tubuhnya dihempaskan dengan lembut di atas ranjang yang sudah beberapa tahun belakangan menjadi saksi bisu mereka memadu asmara.

"Jangan, Mas.! Nanti Reza dan Hana marah."

Teriakan Nisa tidak bisa menghentikan Lelaki ini. Seminggu lebih mereka pisah kamar, dan itu menumbuhkan rasa cemburu yang tidak pernah subur di hati Risal ini mulai berkembang biak.

"Keganasan Risal malam ini membuat Nisa tidak bisa lagi menghindar. Tak bisa disangkal, jauh di lubuk hatinya, ia ikut merasakan getaran rindu terhadap suaminya.

Dibalik pintu, seorang lelaki menempelkan telinganya ke dinding sambil mendengarkan semua desahan halus dari bibir kekasih serta kakaknya.

Besok aku akan menagih bagianku. Gumamnya dengan penuh emosi sambil mengepalkan tangan.

_____

Perasaan resah yang menemani tidurnya semalam meninggalkan bekas pada moodnya. Dengan berbekal kenekatan, dipaksakan tubuh yang sebenarnya tidak enakan untuk melangkah ke kamar mandi. Diguyurnya tubuh yang lesu dengan air, sehingga raut wajah yang tadinya layu kini tampak bersinar. Aku harus membereskan semua pakaianku. Gumam lelaki ini sambil mengosongkan lemarinya. Dibawanya dua buah kopor besar yang terletak di samping ranjang, lalu mengisinya sampai penuh.

Ya, hari ini Reza akan pindah ke toko buku. Selain untuk memudahkannya dalam mengurus toko tersebut, hal yang menjadi alasan utamanya pindah adalah, tidak ingin hubungan persaudaraannya dengan Risal retak hanya gara-gara wanita.

Baru jam enam, dan semua penghuni rumah masih tidur. Hanya suara mami Ati yang terdengar berbincang lewat telepon di kamarnya. Mungkin dia lagi teleponan sama Ros, Sahabat baiknya.

"Mi, Aku pergi dulu. Pasti tiap hari aku ke sini kalau ada waktu senggang."

Ati tampak tertunduk, lalu memeluk anaknya sangat erat, sambil mewanti wanti agar anaknya hati-hati di jalan.

Toko yang jaraknya hanya satu kilo meter dari rumah bukanlah tempat yang jauh, namun, terbiasa tinggal seatap membuat wanita tua ini merasa agak berbeda di kala salah satu anaknya harus keluar dari rumah.

Mobil Reza tiba di depan toko. Tampak anak buah kepercayaannya yang menjaga toko sedang bersih-bersih di depan.

"Selamat pagi, Bro. Rajin benar kamu ini."

" Eh, Boss. Tumben pagi-pagi ke sini."

Reza pun menyuruh anak buahnya yang bernama Roy ini membawa dua buah kopor dari mobil, seraya menjelaskan kalau mulai sekarang, ia yang sendiri tinggal di toko. Mendengar pernyataan boss-nya, mata Roy Tampak berbinar. Akhirnya dia bisa pulang lagi menemui anak istrinya yang selama ini tinggal terpisah karena, tugas Roy dalam menjaga toko.

"Terimakasih, Boss."

Pria baik ini pun lalu memberikan bonus sebagai rasa terima kasihnya kepada Roy. Pria itu langsung pulang dengan mengendarai motornya. Tapi tetap saja dia akan bekerja di toko buku ini, dan masuk sesuai jadwal yang biasanya.

****

Ditatanya pakaian di dalam lemari kosong yang baru saja dibersihkan. Ah, enak juga tinggal sendiri. Lebih nyaman ternyata. Ucapnya dalam hati sambil menata kamarnya. Ukuran kamar yang tidak terlalu luas namun, bersih dan wangi dengan bau khas cemara. Ya, ia baru saja mengepel kamarnya. Merasa sudah bersih, dihempaskannya bobot tubuhnya ke atas kasur empuk tanpa ranjang. Ponsel ditangan ia tatap dengan mesra. Dilayar itu tampak foto wanita idaman. siapa lagi kalau bukan Nisa.

Kalau pagi ini kamu kaget dengan kepergianku, itu tandanya kamu rindu. Pikir Reza sambil tersenyum sendirian.

Ia berjanji dalam hati, tidak akan lebih dulu menelpon Nisa, sampai kekasihnya itu yang menghubunginya. Hal itu ia lakukan untuk melihat apakah dia berarti dalam hidup seorang Nisa?

****

Pukul tujuh pagi lebih lima menit, Hana datang dengan membawa makanan. Mami Ati yang melihat mobilnya langsung berjalan menghampiri.

"Mi, pasti kalian belum sarapan. Ini Hana sudah siapkan makanannya. Mana Nisa?"

Ati tidak sempat menjawab pertanyaan Hana, karena ia panik pas nama Nisa disebut. Ia panik, karena tahu semalam Nisa sekamar dengan anaknya, Risal. Apalagi jam begini kedua orang itu belum keluar kamar. Sedangkan Bobi sekamar dengan dia.

Mami secepat kilat berlari ke kamar anak-anaknya.

Mendengar suara pintu digedor dan Ati menyebut nama Hana, Reza panik seperti ketahuan selingkuh, begitu juga dengan Nisa. Mereka melompat dari ranjang dan berlari ke luar. Risal kembali ke kamar sebelah yang beberapa hari ini dia tempati, lalu keluar lagi dengan berpura-pura seperti baru saja bangun tidur. Padahal, sebenarnya dia dan Nisa sudah bangun lebih awal sejak Mobil Reza berbunyi. Hanya saja Mereka pikir Reza pergi membeli sarapan.

Ditatapnya tubuh Hana yang sudah wangi dan tampil seksi. Meja sudah terisi makanan, dan semua orang sudah duduk mengelilingi meja itu. Hanya Reza yang belum tampak.

Nisa mengisi piring Risal dengan beberapa potong Cake, lalu menuangkan susu ke gelasnya. Aksinya mendapat tatapan tajam dari Hana yang merasa tersaingi oleh dia. Raut wajahnya yang berubah bak kepiting rebus dipahami oleh Nisa, sehingga wanita ini berdiri dan pergi ke dapur.

Tatapan Risal mengikuti gerak langkah Nisa, sampai akhirnya kakinya diinjak oleh Hana. Wanita ini geram, dan merasa ada hal yang ia lewatkan. Pasti Nisa berusaha menarik perhatian kekasihnya. Begitulah ia berpikir.

Mami sibuk menyuapi cucunya dengan cake yang dibawa Hana, sehingga tidak melihat drama yang dilakukan anak-anaknya.

"Risal mana, beli sarapan kok belum balik-balik." Tanya Nisa yang sudah kembali bergabung di meja.

"Jadi kalian belum tahu? Dia pagi-pagi sudah pergi. Kamarnya juga sudah kosong. Mami tidak bisa melarang, karena alasannya ingin lebih fokus mengurus toko. Dia mulai sekarang akan tinggal di toko."

Nisa dan Risal tentu saja kaget sebab, mereka tidak pernah diberitahu soal ini sama Reza.

Hana mulai menunjukkan sikap cemburunya. Ia menaruh gelas dengan agak keras, lalu pergi ke dapur. Tampaknya ia sangat tidak suka kekasihnya bertatapan dengan Nisa, walaupun itu istrinya sendiri.

Nisa tiba-tiba hilang selera makan.

Dia pun ikut berdiri dan memilih pergi ke luar. Sepertinya taman bunga adalah pilihan yang tepat untuk mengobati hati yang gundah.

Za, Za... Apakah ia marah? Apa semalam ia mendengar suaraku di kamar Risal? Demikian berbagai pertanyaan berkecamuk di hatinya. Diambilnya seikat kembang bunga Flamboyan, dikecupnya dengan mesra. Ia merasa hatinya kacau, tak bisa menetapkan pilihan.

Aku harus menelepon dia.

Begitu pikir Nisa.

Di tempat lain, Reza mengamati tiga orang karyawan nya yang sibuk melayani para pembeli yang sudah berdatangan. Tapi, hatinya gelisah. ponsel di tangan ia bolak balik, kadang juga membuang ke atas dan menangkapnya lagi. Ia ingin sekali menghubungi kekasihnya.

Deringan ponselnya berbunyi tepat saat ia mencari kontak Nisa.

"Halo, Mas. Emang harus, ya. Pergi tanpa pamit."

Suara lembut di seberang memberikan sensasi berbeda di hati. Sengaja tidak mau menjawab pertanyaan dari ujung telepon, ia sibuk memainkan rambutnya seraya memikirkan kata yang tepat untuk Nisa.

"Nanti malam ketemu di luar. Kamu tunggu saja, nanti aku jemput ke rumah."

Sambungan diputuskan sepihak. Ia sengaja bersikap kalem agar mengundang rasa penasaran di hati wanita pujaannya.

Dibalik tanaman bunga, Risal mengintip Nisa. Rupanya lelaki itu mencuri kesempatan di saat Hana sibuk membantu mami mencuci di dapur.

Ia melihat sesuatu yang berbeda dari istrinya.

Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari, yakni wanita cantik dengan badan singset dan mata sayu yang lembut. Amarahnya terhadap di melampiaskan dengan cara menikahi cewek yang pada saat itu tidak pernah ia cintai. Pertemuan sesaat, berawal dari pandangan, membuatnya menemukan cara membalas dendam terhadap Hana. Kesalahan yang baru ia sadari adalah, mulai munculnya benih-benih cinta do hati terhadap wanita yang sudah memberikan dia seorang anak.

______

Tubuh yang wangi dan tubuh atletis sengaja dipamerkan lewat kaos oblong ketat yang ia kenakan, siap berangkat menjemput sang pujaan. Sepanjang jalan, Reza bersenandung. Sepertinya malam ini akan terasa lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Ia sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk meluluhkan hati istri kakaknya.

"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!