Bab 18

Reza baru saja tiba di toko, setelah mengantar pulang pacarnya ke rumah Mina.

Ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Badannya gerah dan terasa lengket, butuh air sepertinya agar badannya kembali fresh. Baru saja mau menanggalkannya baju, ia teringat akan sesuatu yang diberikan Hana.

Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, ia mengambil kertas kecil itu dan membacanya.

Hai, calon adik ipar. Temui aku besok di kafe xx, jam sepuluh pagi.

Demikian tulisan berupa pesan singkat yang tertera di kertas itu.

Ada apa si Hana mau bertemu. Punya urusan penting dan rahasia apa ya sama aku, sehingga ajak ketemu secara empat mata?

Pertanyaan itu ia simpan dan segera mengguyur badannya dengan air.

Di tempat berbeda, Nisa bersantai di depan televisi bersama Mina. Keduanya sangat berisik. Mereka bergoyang mengikuti alunan musik pada televisi, sampai akhirnya mata Nisa menangkap nama Boss ganteng pada panggilan masuk di layar ponsel Mina. Bertepatan dengan saat itu, Mina berlari ke arah belakang sambil memegangi perutnya. Ia bisa menebak, sepertinya Mina berlari ke toilet.

Iseng-iseng ia menjawab panggilan masuk tersebut, tanpa menyapa lebih dulu.

"Halo, Mina. Sudah kamu menjalankan misi kita?" Ucapnya dari seberang. Nisa lagi sama kamu, kan?"

Ia berusaha menangkap arti dari pertanyaan Coki, tapi sayang, Lelaki itu curiga mungkin karena tidak ada suara dari seberang, sehingga ia memutuskan sambungan.

Bersamaan dengan Itu, Mina kembali.

Apa yang tadi ditanyakan Coki lewat telepon terus saja berputar di kepala Nisa. Ia merasakan sesuatu yang janggal pada sahabatnya. Misi? Apa misi yang dimaksud Coki, dan kenapa namaku terbawa dalam misi mereka? Pasti mereka merencanakan hal buruk sama aku. Pikirnya.

Kepalanya mulai menangkap sinyal tak beres dari sahabatnya.

"Baiklah. Jika kamu ingin bermain-main sama aku, maka pasti ku balas dengan permainan yang lebih seru. lembut bukan berarti bodoh." Ucap Nisa dalam hati sambil berusaha mencerna apa misi mereka.

"Kamu sepertinya mengantuk, Min. Kita tidur, yuk!"

Ajaknya sambil merangkul temannya ke kamar.

Mina langsung terlentang saat naik di ranjang. Rasa lelah membuatnya tertidur lebih cepat malam ini.

Nisa pergi ke dapur, lalu menyeduh kopi pahit.

Ia sengaja ingin begadang untuk melakukan misi pembalasan atas rasa penasaran yang tidak bisa terjawab.

Mina semakin terlelap, sampai-sampai dia ngorok. Ini saat tepat untuk beraksi. Pikir Nisa Sambil memegang ponsel Mina dan mengotak-atik dengan cepat. Tak tunggu waktu lama, Aplikasi WA berhasil ia sadap. Tak puas sampai di situ, ia menyadap Instagram dan Facebook sahabatnya ini. Sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Senyum puas terukir di bibir wanita ini. Untuk saja Mina tidak mengunci ponsel dan semua aplikasinya, sehingga memudahkan Nisa untuk bergerak bebas.

Kita lihat saja besok. Apa kamu tipe sahabat sejati atau bukan. Kalau sampai kecurigaan aku benar, aku akan memutuskan hubungan baik kita. pikirnya dalam hati.

Hampir jam Tujuh pagi, Nisa terbangun karena notifikasi di ponselnya berkejaran masuk tak henti-henti. Rupanya aku lambat bangun gara-gara begadang semalam.

"Aku jemput kamu kamu, sekarang!"

Demikian chat WA kiriman Coki buat Mina, namun secara otomatis dapat terkirim ke ponsel Nisa.

"Baik, lah. Hal pertama yang akan ku lakukan sekarang adalah mengikuti mereka."

Ia segera memesan ojek online untuk datang ke alamat rumah Mina.

Setengah jam kemudian, sebuah mobil yang sudah Nisa kenali sebagai mobil milik Coki, berhenti di depan. Tanpa pamit, Mina berlari ke arah mobil dan mereka pun hilang dari pandangan. Buru-buru ditutupnya pintu, dan langsung mendatangi ojol yang sudah menunggu.

"Ikuti mobil yang tadi, pak!"

"Baik, nona."

Mobil berjalan ke arah hotel, dan benar saja. ternyata mereka memang mau berangkat kerja, akhirnya Nisa berbalik arah untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Reza ternyata sedang menunggunya di dalam mobil.

"Dari mana kamu pagi-pagi, Yank? Pantas saj rumah kosong."

Tak banyak cakap, Nisa pun berpindah dari ojol dan masuk ke dalam mobil. Pasangan kekasih ini pun pergi untuk melakukan tugas Mereka mengembangkan bisnis jualan buku.

Di rumah mami Ati, Hana duduk berhadapan dengan Risal. Ia meminta ijin mau keluar sebentar sebab, ada pertemuan dengan sahabat dekat pada jam sepuluh katanya. Risal memberi ijin, Hana pun pamit pergi karena Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan ia membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk sampai ke kafe xx.

Begitu pun Reza. Setelah sampai, ia menurunkan Nisa di toko, lalu berputar arah untuk menuju kafe xx. Sesampainya di sana, ternyata ia lebih dulu datang dari Hana. Lima menit kemudian, wanita itu pun muncul dengan terburu-buru.

"Maaf, Za. Aku pikir nanti kamu yang lambat datangnya."

"Tidak papa, kak. Ayo, silakan duduk!"

Hana memanggil pelayan kafe dan memesan kopi.

"Gini, Za. Aku punya sepupu, namanya Gina. Orangnya cantik dan sangat lembut. Dia pernah melihat kamu di sebuah mall bersama Nisa. Saat itu yang dia kenal hanya Nisa, karena dia itu mahasiswa di kampus tempat Risal mengajar. Sepupuku ini tahu kalau Nisa adalah istrinya Risal. Nah, belakangan dia baru tahu Kalau ternyata aku yang akan menggantikan posisi Nisa di hati Dosennya, yakni Risal. Makanya, dia memintaku untuk mengenalkan dek Reza sama dia. Sepertinya dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat di mall."

Loh, kak. Tapi kan, Kakak sudah tahu kalau aku sama Nisa lagi dekat. Kemungkinan besar aku akan menikahi Nisa tahun depan."

"Tapi Za, dia tak kalah cantik dari maminya Bobi. Lagian kalau kamu sama dia, pasti lebih nyaman karena, kamu dan kakakmu memiliki pasangan dari satu keluarga juga. Pasti hubungan kita semakin harmonis. Berbeda dengan Nisa, ia pasti sering menggoda kakakmu kalau kalian tinggal serumah."

Hana melihat sikap Reza yang sepertinya akan menolak tawarannya, sehingga ia mengambil ponsel Reza dan menyimpan nomor kontak sepupunya ke ponsel itu. Ia berharap penuh semoga, Reza mau jadian sama sepupunya. Bukan tanpa alasan, ia punya niat ingin menjauhkan Nisa dari keluarga mami Ati, sehingga tidak bisa lagi bertemu Risal.

Di tempat lain, Nisa sibuk melayani pembeli buku, sampai tiba-tiba ia didatangi oleh Risal.

Dia yang tidak pernah melihat pria yang sebentar lagi akan menjadi mantannya ini kaget.

"Tumben, mas. Datang ke sini."

"Aku mau mengecek Reza. Dia tidak ada kan?

Saat ini dia sama Hana lagi bertemu di sebuah kafe. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas, sepupunya Hana yang mengirim bukti pertemuan mereka."

Risal lalu memperlihatkan foto keduanya.

Nisa kaget melihat fto mereka yang tampak sangat berdekatan duduknya, sepertinya serius sekali membicarakan sesuatu.

"Aku mau ketemu mereka, sekarang.!"

"Jangan gegabah, Nisa. Sabar dulu."

Risal memegang bahu Nisa dan menghalangi wanita itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!