Masalah semalam membuat mata rasanya berat sekali, masih mengantuk. Baru jam enam pagi, tapi aku dan Risal memutuskan untuk pergi ke hotel.
Kami harus terus berusaha semampunya untuk mencari keberadaan Nisa. Semua yakin Nisa tidak mungkin melakukan hal ini, meskipun ia dan Risal sudah memutuskan berpisah. Apalagi dia tidak bisa jauh-jauh dari Bobi.
Satpam yang bertugas menghampiri saat kami tiba di depan hotel.
Sepertinya ini orangnya yang tahu alamat rumah Coki.
Setelah kami bertanya, ternyata dia pun tak tahu alamat rumah boss-nya.
Sudah dua jam menunggu, si Coki lelaki brengsek ini tidak datang juga, padahal hotelnya ramai sekali dengan para tamu. Ini tak bisa dibiarkan. Sudah jelas pasti ia tahu keberadaan Nisa. Atau, bisa jadi Nisa sedang bersama dia.
Semua karyawan hotel kami tanyakan alamat boss, tapi tidak ada yang tahu. Entah mereka bohong atau tidak.
Karena putus asa, kami balik ke rumah. Kasihan Mina, pasti dia mau pulang. Sengaja aku menyuruhmu tadi pagi untuk menjaga Bobi, karena kondisi mami kurang baik.
"Hana, kamu di sini?"
Aku menyenggol lengan Risal dan menunjuk ke dapur, di mana Hana berdiri.
Kakakku ini langsung berjalan ke dapur mendekati kekasihnya.
"Mina, kamu boleh pulang. Kasihan, nanti siang berangkat kerja, kan? Tapi jangan lupa bantu cari tahu di mana boss dan Nisa."
Sahabat Nisa ini langsung mengangguk dan pamit pulang.
Hana membuat Sop ayam, pasti mami yang minta. Mami masih di kamar sama Bobi. Aku jadi kasihan. pasti ia memikirkan Nisa sampai-sampai badannya lemas begitu.
Sampai malam kalau belum ada berita tentang Nisa, maka aku akan membuat laporan ke polisi saja.
______________________________
"Coki, biarkan aku pulang. Kasihan anakku. Saat ini pasti dia tidak tenang."
"Kamu tak akan kubiarkan pergi, sayang. Kamu itu adik yang paling aku cintai."
Percuma saja memohon, tidak akan semudah itu mereka melepaskan aku. Begitulah pikir Nisa.
Ternyata Coki yang dikira benar-benar menyukainya, hanya dusta belaka. Papa yang disebut Coki sebagai pemilik hotel ternyata adalah almarhum papanya. Luar biasa sekali kegilaan ini.
Nisa akan terus berusaha untuk melarikan diri dari sini, walaupun semua pintu dikunci. Bahkan seharian direktur hotel itu tidak ke hotel, namun sibuk mengawasi Nisa.
Tepat jam dua belas siang, Nisa disuruh mandi. Mau tak mau wanita malang ini mandi, Karena memang dia butuh hal itu. Setelahnya, Mirna memberikan baju dan celana pendek untuk dipakai Nisa. Meski pun kebesaran, tapi dia harus memakainya, karena tidak ada pilihan lain.
"Kita berangkat sekarang."
Ujar Coki sambil menggandeng tangan mungil Nisa dan membawanya ke mobil.
"Kita berangkat sekarang, ya, Nisa. Kamu tidak usah panik."
"Mau ke mana? Lepaskan aku, Coki! Aku harus pulang."
Tak mau menggubris Nisa, sebuah tamparan keras melayang di wajahnya.
"Tiket sudah Aku pesan, mana bisa kamu membatalkannya. Kamu pikir beli tiket pesawat itu murah?"
Teriak Mirna sembari mendorong tubuh Nisa masuk ke mobil.
Tak butuh waktu lama, Mirna dan kedua anak lelakinya tiba di bandara. Nisa berusaha kabur, tapi terus saja Coki menahan tangannya.
Orang-orang yang berada di ruang tunggu sesekali melihat ke arah empat orang ini, karena merasa ada yang aneh.
"Maaf, pak. Adikku ini jiwanya sakit dan kami ingin membawanya berobat ke Malaysia."
Jelas Coki kepada bapak-bapak yang dari tadi terus menatap mereka.
Kali ini kesabaran Nisa habis. Dia harus nekat Agar bisa lolos. Dengan sekali hentakan, dia lepas dari genggaman Coki. Sekuat tenaga ia berlari menerobos orang-orang yang berada di sana.
"Aku harus bisa. Aku bisa." Bisiknya sambil terus berlari. Coki dan kakaknya tidak tinggal diam. Aksi kejar mengejar pun tak bisa lagi dielakkan. Di dalam tong sampah yang penuh dengan kotoran, Nisa menunduk sambil menangis. Dia berharap kedua penjahat jahanam itu tidak melihatnya masuk di wadah sampah ini.
Dari arah berlawanan, sebuah mobil berhenti. Tampak dua pria berbadan tinggi turun dan menghadang Coki yang posisinya sedang berlari. Siapa lagi kalau bukan Risal dan Resa.
"Hei, lelaki brengsek. Di mana kamu sembunyikan istriku!?"
Pukulan keras dari Risal tak sempat dihindari, Coki terhuyung dan jatuh terduduk. Kepalanya berat dan matanya berkunang-kunang.
sosok yang bersembunyi itu pun tentu saja mengenali suara Risal.
"Mas!"
Pekik Nisa sembari keluar dari tong sampah.
"Istriku!"
Risal berlari dan memeluk Nisa dengan erat. Untuk saat ini tak ada alasan untuk cemburu. Reza sangat bahagia dengan ditemukannya Nisa. Kakak Coki yang datang dari arah belakang langsung kabur saat melihat adiknya sudah tak berdaya. Ia berlari menemui Mirna dan memberitahu apa yang telah terjadi. Kedua ibu dan anak itu pun gagal berangkat. Mereka lebih memilih Kabur sebelum terkena masalah.
Nisa terus saja menunduk. Badannya bau dan kotor, sehingga Risal melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
Tiba di rumah, ruang pertama yang Nisa tuju adalah kamar mandi. Sabun cair yang penuh dia tumpahkan sampai setengah. Digosoknya setiap inci tubuh hingga bersih.
"Mas, bawakan aku handuk.!"
Teriaknya dari dalam, karena memang ia tidak sempat membawa handuk tadi.
Risal dan Reza saling menatap, akhirnya.
"Aku saja."
Ucap Reza sambil pergi mengambilkan handuk untuk ibu dari anaknya ini.
Bobi dan Mami yang tidur siang terbangun karena mendengar suara Risal dan Reza.
"Om, mamiku belum pulang, ya?"
Suara polos Bobi terdengar menggemaskan.
"Nah, ini om ada kejutan untuk Bobi. Makanya mata Bobi harus ditutup dulu."
Ia mengambil masker dan menutupi wajah bocah kecil ini.
"Tapi jangan kelamaan ya, om!"
"Iya."
Nisa yang sudah sangat bersih dan wangi langsung memakai baju kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut.
Ia keluar dari kamar sambil membungkus rambutnya yang masih basah.
Jangan bersuara dulu, Nisa!"
Bisik Reza dengan memberi kode.
"Nak, sekarang om buka maskernya, ya. Ini kejutannya sudah berada di depan Bobi."
"Mami!"
Bobi menghambur dalam pelukan wanita yang sangat disayanginya. Begitu juga dengan mami Ati. Dia memeluk erat Nisa, dan tangisan mereka pecah.
Ati masih tidak percaya mendengar cerita dari Nisa. Ternyata menantunya masih memiliki kakak- kakak tiri, tapi sayang mereka sangat kejam.
Reza sebenarnya ingin sekali membawa kasus ini ke ranah hukum, namun dilarang Nisa dengan alasan mereka memiliki hubungan darah.
Reza terus mengamati Nisa dari balik pintu. Tiba-tiba hatinya jadi ragu. Ia menyayangi Hana, namun, beberapa hari belakangan ini ia terus saja kepikiran istrinya. Rasa bimbang yang mulai mengganggu tak bisa dianggap sepele. Hal yang agak sulit karena menyangkut soal hati.
Ada rasa ingin memeluk, setelah beberapa hari pisah ranjang. Apalagi hampir dua hari Nisa menghilang bak ditelan bumi.
Kupingnya terasa panas saat mendengar tawa Reza dan Nisa yang sedang mencandai Bobi di ruangan tv. Apa ini namanya cemburu?
Karena sudah tak tahan, akhirnya Risal keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Papi, godain mami, dong!"
Bobi polos sekali bicaranya. Dia menatap mata papi sambil berharap papinya mau menuruti maunya dia.
"Ya, sudah. Papi godain, ya.
Mami, maminya Bobi kok, cantik sekali hari ini."
Nisa hanya tersenyum melihat tingkah konyol Bobi dan papinya.
Reza diam saja. Sepertinya ia kurang suka iparnya di goda sang kakak. Aneh, ya. Keluarga yang unik.
Bunyi ketokan di pintu.
Sore-sore siapa yang datang. Ucap mami Ati sambil membuka pintu. Yang datang rupanya Mina.
Melihat sahabatnya datang, Nisa langsung melompat dan memeluknya erat.
Kemudian mereka berdua menyingkir dari tempat itu ke halaman depan rumah. Mina sangat kaget mendengar cerita Sahabatnya ini. Ternyata selama belasan tahun mereka di tipu, dan selama itu pula Coki pura-pura mencintai Nisa, yang sebenarnya dia sangat benci. Drama yang begitu langka, Mina tak henti-hentinya dibuatnya berdecak.
Risal memandang adiknya dengan sangat lama, hingga Reza serba salah dibuatnya
"Kakak apaan, sih? Biasa saja kali lihatnya."
"Bukan begitu, dek. Ada hal penting yang mau kakak sampaikan. Sepertinya kakak akan memutuskan hubungan dengan Hana. Cinta kakak sudah terbagi."
Reza tidak terima dengan ucapannya, karena tinggal beberapa hari lagi, mereka akan mengurus perceraiannya.
Kenapa sekarang Risal malah berubah pikiran.
"Menurut aku, Kakak harus bertanya dulu sama Nisa. Apakah dia mau balik lagi, atau pisah. Aku yakin Nisa akan tetap pada keputusannya."
Risal mengangguk, sepertinya dia sependapat.
"Reza, Risal. Tolong angkat makanan ini ke luar."
Mami membuat banyak cemilan dan beberapa menu makanan, lalu menyuruh anak-anak nya menata makanan tersebut di meja bundar yang terletak di halaman depan rumah. Mami begitu gembira menyambut kepulangan menantunya, sehingga ingin merayakannya dengan menikmati beberapa menu masakan yang menurut mami paling lezat.
Mereka semua menyambutnya dengan hati gembira. Menikmati makanan yang enak sambil memandangi aneka bunga yang begitu subur sangat membantu menjernihkan pikiran.
Hawa semakin sejuk di taman bunga mami Ati, karena waktu menunjukkan pukul empat sore.
Suara bunyi mobil terdengar memasuki halaman. Rupanya Hana yang datang. Wanita itu memang sudah seminggu ini sengaja tidak mau balik ke jakarta, dengan alasan biar lebih dekat dengan Risal. Sementara ia tinggal bersama sepupunya.
Hana ayo, gabung." Ajak Mami sambil memberikan tempat untuk wanita ini. Satu hal yang istimewa dari Mami Ati, dia tidak pernah mau ikut campur urusan anak-anaknya, selama hal itu bisa ditangani oleh mereka. Jiwa mudanya begitu kental, sehingga ia mengerti bagaimana perasaan anak-anak yang sedang jatuh cinta pada lawan jenis, dan hal itulah yang membuat ia bisa menerima wanita yang disukai mereka sukai.
"Mas."Hana menepuk bahu Risal dan duduk di sampingnya.
Risal melirik sejenak ke arah Nisa, dan mata mereka pun seperti terkunci. Dalam beberapa detik ada gelora aneh yang membara di hati keduanya. Siapa yang tahu?
Reza agak gerah menangkap tatapan kedua kakaknya ini. Ia pun berdehem dengan maksud untuk menghentikan keduanya, namun, mau tahu apa yang terjadi? Risal dan Nisa masih tidak sadar dengan kondisi ini. Tatapan mereka semakin dalam, hingga lupa kalau ada orang didekat mereka.
Sepertinya dunia fantasi yang berada di dalam bola matanya membawa masuk mereka ke dalam cerita dongeng yang berkepanjangan.
"Kak."
Kali ini Reza agak mengeraskan suara, tapi masih tak ada respon.
_______
Assalamualaikum para pembaca. Merupakan kesenangan besar bagiku jika kalian menikmati cerita ini. Salam hangat.💜🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Aditya HP/bunda lia
nah nah nah ... apa Bisa akan luluh dan kembali sama Risal?
2024-01-01
1