Bab 3

Senja berganti malam, aku sudah rapih dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wangi beraroma hipnotis lawan jenis pun sudah aku semprotkan ke tubuhku. Apa lagi yang kurang?

"Mi, Bobi mana? Tadi siang dia merengek minta dibelikan mobil-mobilan. Mumpung lagi mau keluar, skalian."

Tanyaku mencari alasan ke mami.

"Bobi masih di kamar, tuh mamanya datang."

Mami menunjuk Nisa yang keluar dari kamar sambil menggandeng tangan Bobi.

Nisa, mau ikut sama aku dan Bobi? Skalian makan malam."

Tawaranku langsung disambut dengan anggukan. Berbeda dengan mami, dia lebih memilih bersantai dengan Bu Ros.

"Aku dudukkan Bobi disamping aku, sedang mamanya duduk disebelahnya.

Sepanjang perjalanan, ku genggam erat tangan Nisa sambil tangan kananku memegang setir mobil.

"Jangan gini, Resa!"

Nisa setengah berbisik, tapi tetap saja tangannya tak mau dilepaskan.

"Bob, kok, malah tidur?"

Nisa berusaha membangunkan anaknya, tapi dengan cepat aku menghalanginya.

"Sepertinya kita harus cari penginapan."

Ajakku sambil memandang tajam Nisa penuh napsu.

"Tidak perlu, Dek!" Ucap Nisa sambil membalas tatapanku.

"Baik, lah. Tapi, ijinkan aku memilikimu satu jam saja. Aku memelas sambil menepikan mobil di pinggiran jalan..Dengan cepat aku ganti posisi duduk ke bagian belakang mobil.

"Cepat sedikit, Nisa!"

Perintahku dia ikuti tanpa protes. Kini kami duduk di dalam mobil, jari-jari kami bertaut erat. Kutarik napas dalam-dalam dan keluarkan untuk mewaraskan kerja otak.

"Nisa, aku sepertinya mulai gila sama kamu."

Ucapku sambil menarik rambutnya dan menyandarkan kepalanya di leherku.

"Gigit aku, Nisa!

Sepertinya aku sedang bermimpi. Karena ocehanku tidak dia tanggapi, maka dengan cepat aku membaringkan dia lalu ku lumat bibir tipisnya. Makin lama, dia mulai membalas serangan aku.Kami bergulat layaknya sepasang suami istri, tanpa peduli ini di dalam mobil.

"Kenapa kamu tidak sudahi saja perasaan ini?"

"Tidak bisa, Nisa. Aku cinta mati sama kamu. Kita akan begini terus sampai kapanpun."

Aku mulai mabuk lagi. Ku kecup dengan rakus lehernya yang jenjang.

"Aku akan membawamu ke suatu tempat, begitu ada kesempatan. Besok kita pulang, tapi ingat, kita masih serumah. Bersikaplah biasa saja di depan mami."

Ucapku serak.

"Kau buat aku gila, Nisa."

Hanya kalimat itu yang terus keluar dari mulutku sepanjang perjalanan.

Di depan rumah, mami dan Tante (Ros) menikmati secangkir teh sambil membahas soal bunga.

"Loh, kenapa cepat sekali pulangnya?"

Tanya mami sambil melirik Nisa yang menggendong Bobi.

"Bobi tidur, mi. Kami tidak jadi belanja, hanya keliling sebentar karena tak mungkin membangunkan Bobi.

Mami begitu percaya sama aku. Dia yakin, aku bisa menjaga ipar dan ponakanku. Begitulah rasa percaya yang kami tanamkan satu sama lain, hingga Nisa datang dalam kehidupan kami, dan, saat itulah semua berubah. Perasaan ini benar-benar tak bisa aku kendalikan.

"Risal, sudah pulang?"

Tanyaku sambil berusaha menyembunyikan kepanikan saat Risal masuk ke kamar.

"Justru aku yang mau tanya. Sedang apa tadi kamu luar? Sepertinya aku tidak salah lihat mobil, deh."

Pertanyaan Risal berhasil membuat jantungku nyaris copot.

"Oh..eh, i..iy...ya, Kak. Tadi sama Bobi mau beli mobil-mobilan, tapi balik lagi karena Bobinya tidur di perjalanan." Jawabku gagap.

"Permisi, Bu. Ada Rizal?

Mendengar suara asing, kami pun kompak pergi ke luar.

Benar saja. Seorang wanita seksi berambut pirang datang sendirian. Penampilannya seperti seorang bule. Hanya saja, wajahnya wajah Indonesia.

"Hanya? Tahu dari mana kalau aku di sini?"

Tanya Risal penasaran.

"Aku tahu dari Pak Rian." Jelas Hana menyebut teman Dosennya Risal yang baru saja Risal temui tadi.

"Mereka pun Masuk dan mengobrol di ruang tv.

"Itu siapa, dek?"

Nisa menghampiri Reza yang sibuk menyeduh kopi.

"Itu selingkuhan suami kamu"

Gurau Reza sambil mencubit dagu Nisa

"Ah, jangan bercanda begitu, dek. Aku takut.

"Kalau benar juga, tak apa. Kan, ada aku."

Reza memasang mimik serius.

Sekilas Nisa membuang muka ke arah suaminya. Tanpa di duga, wanita seksi itu mendaratkan ciuman di bibir Risal. Walau hanya sekilas, namun Nisa benar-benar tak salah lihat.

"Kamu?"

Belum sempat Nisa berteriak, Risal dengan cepat membalas ciuman wanita itu.

Reza mulai panik melihat Nisa memegang pisau dan berlari ke arah Risal.

jangan...!

Terpopuler

Comments

🅱︎𝐨𝐛

🅱︎𝐨𝐛

lanjut thor

2024-07-29

1

Nurul Adawiyah

Nurul Adawiyah

Lanjut, Thor.

2024-01-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!