Jarum jam menunjukkan pukul 20.20 WIB, para tamu undangan masih asyik menikmati setiap hidangan yang tersaji diatas meja, alunan suara merdu dari penyanyi terkenal yang sengaja diundang oleh tuan rumah, menambah meriah acara malam itu, semua orang tampak tersenyum puas, berbahagia menikmati acara.
Namun berbeda dengan keadaan di salah satu kamar hotel bintang lima itu, seorang gadis muda duduk diatas karpet, wajahnya pucat pasi, bibirnya sedikit bergetar, pandangan matanya kosong. Berkali-kali mencoba mencubit tangan, pipi. Memukul pundak, lengan bahkan kaki.
Sakit, semuanya terasa sakit, apakah ini nyata? gadis itu merasa terlalu takut menghadapi kenyataan yang terjadi, bagaimana bisa dirinya terbangun di tubuh wanita lain? yang bahkan tengah menikah?
“Hentikan El, singkirkan tanganmu nak. Jangan menyakiti diri sendiri.” Pedih hati sang mama melihat tingkah putri tunggalnya.
Richard tak mampu menahan gejolak dalam jiwa, air matanya jatuh berlinang membasahi pipi, lelaki itu terenyuh menyaksikan pemandangan di hadapannya, putrinya memukul-mukul dadanya sendiri, menangis tanpa suara.
Kaki Richard melemah, ia jatuh terduduk, merangkak pelan mendekati sang putri. Memeluk dalam tangis pedih bagai tersayat sembilu.
“Maaf, maafkan papa Elena, maafkan papa. Maaf sayangku, maafkan papa.”
Hanya mampu mengucap maaf tiada henti, merasa bersalah telah menampar pipi putri kecilnya. Benar-benar pemandangan yang mengharukan. Seisi ruang ikut menangis, bahkan sang bibi yang hanya mengintip dari balik pintu pada akhirnya memutuskan untuk masuk, terisak memeluk mbok Nem sang asisten rumah tangga.
Richard mengambil gawai dalam saku jasnya, menekan tombol, dalam waktu sekejap benda pipih di tangannya telah tersambung dengan suara seorang lelaki.
“Rendra, bisa segera kemari? Aku ingin kamu memeriksa putriku, tapi tolong, segeralah, karena ini sangat penting,” pintanya.
“Aku ada dikamar 802,” ucap Richard mematikan handphone nya. Kembali memeluk gadis kecilnya yang masih menangis.
“Om, biarkan saya pergi ya, saya bukan Elena om, saya, saya…hiks hiks,” ucap Rissa ditengah tengah tangisnya.
“Ssst, diamlah. Sebentar lagi dokter datang. Kamu akan sembuh putriku,” lirih suara Richard memandang kedua netra gadis kecilnya, lelaki itu telah luluh hatinya, ia tak lagi memikirkan bisnis, andaikata putrinya meminta menggagalkan pernikahan, pasti akan dilakukannya.
“Mey, temani kakakmu menjaga Elena, aku harus menemui Baskara dan para tamu undangan.”
Richard melangkah gontai, pasrah dengan keadaan, menjadi seorang papa untuk putrinya, sekaligus bapak perusahaan, dimana ada banyak jiwa yang menggantungkan urusan finansial padanya, sungguh tidak mudah.
Hatinya gamang, disatu sisi masalah ini menyangkut keadaan sang putri, malaikat kecil yang bertahun tahun dinantikan hadir dalam rahim sang istri. Dan disisi lain, ancaman PHK para karyawan, tangis pilu para kepala keluarga yang bernaung dibawah perusahaannya.
langkah terasa berat menuruni anak tangga, menuju ruang pesta.
“Richard, dari mana saja kamu?”
Richard Terkejut, menyaksikan besannya telah berdiri dihadapan.
“Dimana putrimu? lihatlah putraku berdiri sendiri menyambut para tamu, dia terlihat seperti lelaki yang ditinggal kabur pengantinnya,” kelakar Baskara terdengar menyesakkan jiwa.
“Ah, tidak mungkin Elena meninggalkan Aksa, putriku hanya sedang berganti pakaian. Tunggu saja sebentar lagi.” Hiburnya, menepuk pundak Baskara.
“Aku tahu itu, putrimu pasti menuruni sifatmu yang selalu menepati janji.”
Richard tersenyum masam, ia lantas mengajak besannya pergi menyapa para tamu.
Lihatlah El, betapa lemahnya papamu ini, maafkan papa nak batinnya dalam hati.
Detik berganti menit, pengantin wanita tak kunjung tiba. Banyak tamu undangan menanyakan keanehan ini, Baskara kembali bertanya, membuat Richard pada akhirnya mengalah. “Baiklah, tunggu sebentar, aku akan jemput putriku,” jawabnya mencoba menenangkan.
Richard kembali ke lantai sepuluh, ia berjalan perlahan dalam diam, pikirannya tengah kalut, di hari spesial yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi keluarganya.
“Tuan tuan, nona telah selesai pemeriksaan,” ucap mbok Nem, berjalan tergesa mendekati majikannya.
“Ssst, jangan keras-keras mbok, takut ada yang dengar. Bagaimana mbok hasilnya?”
“Ah, maaf tuan,” lirih mbok Nem, memukul pelan mulutnya sendiri, “kata dokter, nona Elena menesia tuan.”
“Menesia? amnesia mbok?” selidik Richard, berharap ucapan wanita itu memang salah.
“Ya itu tuan, lupa itu istilahnya.”
Richard terdiam, kepalanya terasa sangat sakit, bagai menghantam batu karang dilautan lepas, ia tengah terombang ambing oleh keadaan, tak tahu kemana tangan harus berpegang.
Langkahnya terasa berat, memasuki kamar dimana putrinya berada. Dokter Rendra masih disana, menatapnya dengan tatapan iba.
Dokter pribadi yang juga sahabat kecilnya itu mendekat, tersenyum simpul dan berkata “Amnesia retrograde, Elena akan lupa kejadian beberapa tahun silam, ini bisa bersifat sementara, dan bisa juga permanen.”
“Tak bisakah kau menyembuhkan putriku? kau sebut dirimu dokter, Rendra?” umpat Richard terdengar putus asa.
Rendra memegang lengan teman masa kecilnya, menghalangi tangan kokoh yang siap menyerang wajahnya. Namun sang dokter menyadari kekuatan lengan kokoh itu telah hilang, bersama dengan tangis yang berderai dari kedua netranya.
Clarissa hanya mampu menatap pemandangan memilukan di depan mata, betapa Elena sangat dicintai papanya, sama seperti ia dicintai mendiang ayahnya.
Rendra berpamitan, ia melangkah keluar ruangan. Diikuti mbok Nem dan juga Meyran, menyisakan Richard bersama istri dan putrinya.
“Sayang, kamu harus kuat. Agar Elena kita juga bisa kuat.” Nasehat Rebecca pada suaminya. Lelaki itu tersenyum, menyentuh bahu sang istri, lantas memilih mendekati Elena yang duduk ditepi ranjang.
Sang putri tampak tengah berpikir keras, pandangannya menunduk, maniknya bergerak pelan kekanan dan kekiri.
Ia menggigit bibir bawahnya, menghembuskan nafas panjang, seakan telah berhasil mengambil keputusan besar.
“Papa,” panggilnya, mata memandang lurus pada manik hitam Richard.
“Iya, El.”
“El mau menikah, tapi…”
“Ya nak? tapi apa sayang? katakan.” Richard terdengar sangat antusias, ia menunggu dengan mata berbinar keinginan putri semata wayangnya.
“Elena mau…..uang.”
“Uang?” ucap kedua orang tua Elena serentak.
“Ya, lima puluh juta,” jawab Elena yakin. Ia telah banyak berpikir sejak dokter memeriksanya tadi. Kenyataan bahwa dirinya adalah Rissa tak akan ada yang tahu, bahkan mungkin tak akan ada yang percaya.
Ia juga telah kehilangan kepercayaan nyonya Adella, ibu dan Nindy dirumah juga tak akan mengenalinya, setidaknya selama ia belum menemukan cara untuk kembali, ia tak ingin ibu dan adiknya yang merana.
“Hanya itu El?” tanya Richard pada putrinya.
Apa? hanya itu? Orang kaya memang berbeda. Batin Rissa, dari awal ia memang bisa menebak bahwa keluarga ini bukan keluarga biasa, dari cara berpakaian, dan lingkungan.
“Ya,” jawabnya yakin. Ia tak akan serakah, masih cukup waras baginya untuk bertindak sopan.
“Baiklah,” jawaban Richard membuat Rissa tak mampu menahan senyum. Setidaknya masalah konyol ini dapat membantunya membayar hutang.
Gadis itu benar-benar tak menyadari bahaya apa yang akan dihadapinya kelak di masa depan. Sampai kapankah dirinya akan terjebak dalam tubuh wanita asing itu. Sementara, ataukah selamanya.
Elena, siapapun kamu, dimanapun kamu. Maafkan aku, aku akan meminjam tubuhmu, orang tuamu dan uangmu, aku berjanji kelak akan menggantinya.
Rebecca menarik tubuh sang putri dalam pelukannya, setidaknya untuk malam ini semuanya telah selesai, kesembuhan Elena, akan diupayakan bersama mulai esok.
“Terima Kasih Elena, terimakasih putriku,” ucap sang mama.
Gadis itu hanya mengangguk, dalam hati, ia tanam kuat-kuat sebuah keyakinan. Aku Elena, setidaknya untuk sementara waktu aku adalah Elena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments