Chapter 9

“Aaaah, hentikan pak, saya merinding.” Rissa menjerit seraya mendorong kuat tubuh lelaki di hadapannya itu, membuat Aksa terjengkang kebelakang, jatuh terduduk di atas lantai. 

Di waktu bersamaan pintu terbuka, seorang lelaki muda yang tak asing dimata Rissa masuk kedalam ruangan sang ceo, lelaki itu tampak terkejut. Terlihat dari gerak tubuh yang menjatuhkan map dari tangan, mulutnya menganga sempurna.

“Maaf, aku akan kembali nanti." Pamit Danu maheswara sang sekretaris, seraya berpaling hendak keluar ruangan. 

“Tidak!” jerit Rissa dan Aksa bersamaan, menghentikan langkah Danu dan kembali berbalik menatap keduanya.

“Danu, bawa gadis sialan ini pergi dari hadapanku! beri dia hukuman berdiri di depan kantor, dengan kaki diangkat satu dan tangan memegang telinga,” perintahnya, sambil berusaha berdiri. 

“Dam, kamu kira tengah memberi hukuman pelajar?” tanya Danu pada sahabatnya itu. 

“Kamu mau menemani gadis udik ini Dan, silahkan kalau kamu mau, kebetulan cuaca tengah terik.” Ancam aksa masih dengan seringai kejamnya. 

Danu tampak menghela nafas kasar, ia lantas mengajak Rissa untuk keluar ruangan. Rissa mengikuti langkah sang sekretaris, sesekali melirik kebelakang, melihat atasannya itu memegang bokongnya sendiri. Mungkinkah sangat sakit? batinnya merasa bersalah. 

Rissa dan Danu berjalan dalam diam sepanjang lorong kantor, lantas masuk ke dalam lift, menuju lantai dasar. 

“Apa tadi yang kamu lakukan sampai Damian bisa terjatuh di bawah?” tanya sang sekretaris saat mereka berada didalam lift. 

“Aah, itu nggak sengaja. Lagian pak Aksa sih.” Rissa menghentikan ucapannya, ia mengingat bagaimana tadi bos besarnya mendekatkan wajah pada bibirnya, seakan membuat gerakan hendak mencium. 

Gadis berambut lurus sebahu itu pun menggeleng kuat, membuat Danu akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi. Lelaki itu tersenyum lantas berkata. 

“Dia hanya menggodamu, dia bahkan tak berani,” ucapnya terhenti sebab berusaha menahan tawa. 

“Tak berani apa pak?” 

“Sudahlah, lupakan. Bisa-bisa aku juga dihukum Damian nanti. Cepatlah berdiri diluar sana," perintah Danu saat keduanya telah berada di lantai dasar. 

“Pak Danu, beneran disuruh berdiri nih?” 

“ Yah beneran dong, kamu mau Damian marah? dia pasti tengah menunggumu di jendela hendak melihatmu melaksanakan hukuman dari atas sana.” 

Rissa berlari keluar, diikuti Danu yang berjalan santai di belakangnya. Rissa melihat ke atas, ke lantai dua. Disana berdiri Aksa yang tengah menikmati secangkir kopi.

Lelaki itu lantas membuat gerakan tangan menggorok leher, ia mengancam Rissa. Membuat gadis itu tertunduk seraya memejamkan mata. “Sial,” lirihnya.

“Cepatlah Riss, kamu lihat sendiri kan?” tanya sang sekretaris. Rissa berjalan lesu. Mulai berdiri dibawah sinar matahari, mengangkat satu kaki dan meletakkan kedua tangan di telinga. Sungguh memalukan batinnya.

Danu berbalik meninggalkannya seorang diri, beberapa karyawan yang tak sengaja melewatinya tampak saling berbisik, beberapa dari mereka bahkan terlihat menahan tawa, sungguh hari yang sial, gadis itu mencoba menatap ke atas, ia bisa melihat Aksa tertawa penuh kemenangan. 

...*******...

Danu menarik handle pintu, melihat sahabatnya tengah tertawa di balkon kantor. Ia mendekati Aksa, menggelengkan kepala perlahan. 

“Hai Dan, kapan kamu datang dari Bangkok?” 

“Baru kemarin sore," jawab Danu. Yah, Danu meminta izin cuti beberapa hari. Ia tengah menghadiri acara keluarga besarnya di Bangkok, Thailand. 

Aksa menganggukkan kepala pelan, meneguk kembali kopi dalam cangkir. “Ada banyak hal yang ingin ku bagi denganmu,” ucapnya sambil meletakkan kopi diatas meja kerjanya. 

“Dam, jangan lama-lama kasih hukuman. Matahari lagi terik-teriknya ini. Kasihan anak orang, nanti pingsan kamu sendiri yang bingung,” saran Danu saat kembali mengingat gadis malang itu. 

“Ngapain aku bingung?” jawab Aksa, berjalan menuju sofa, menghempaskan bokongnya di atas kursi empuk itu. Rasa sakit akibat terjatuh tadi membuatnya ingin duduk beralaskan sesuatu yang empuk. 

“Aku tahu kamu bro, kamu tertarik kan pada Rissa?” 

“Sok tau kamu Dan, wanita seperti Rissa bukan tipeku, yang seperti Elena lah tipeku," jawab sang ceo terlihat kesal.

“I know Dam, kamu tertarik pada sikapnya, kamu tertarik pada perilakunya, bahkan mungkin pada pijatan tangannya. Kamu hanya merasa nyaman, meski kamu tak tertarik pada fisiknya.” 

Aksa terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, Danu memang paling tahu tentangnya melebihi dirinya sendiri. Namun ia merasa gengsi untuk mengakui hal itu. 

“No, kamu salah besar. Aku sama sekali tak tertarik pada gadis udik itu. Oh iya Dan, sepertinya sekarang prediksi mu tak sejitu dulu, kenapa?” tanya Aksa mengalihkan pembicaraan. 

“Apa maksudmu?” 

“Elena, dia bukan gadis baik-baik. Dia tak mendambakan keluarga cemara. Dia gadis berbisa Dan, bahkan pusakaku hampir saja ditebasnya.” Aksa menutupi celana bagian depan dengan kedua tangannya, ia merasa ngeri saat kembali mengingat pisau tajam Elena. 

“Bisa ceritakan detailnya?” tanya Danu, lelaki itu tertawa meski tak mengerti cerita selengkapnya, dia hanya merasa lucu menyaksikan ekspresi sahabatnya itu. Dan jika Aksa bisa setakut ini, berarti memang gadis bernama Elena itu sangat luar biasa. 

...*******...

Matahari siang terasa membakar kulit Rissa, peluh berjatuhan dari kening gadis itu. “Makin coklat, makin coklat deh kulitku,” desisnya lirih, hanya mampu didengar telinganya sendiri. 

“Rissa.” Suara wanita yang amat dikenalnya, Rissa melihat Clara dan Isa tengah berlari menghampirinya. 

“Claris? ngapain kamu?” Isa tampak menahan tawa, memegang pundak clara dengan tangan kanannya, sedang satu tangan yang lain ia gunakan untuk menutup mulut.

“Kamu dihukum pak Aksa Ris? tanya Clara. 

“Hah? beneran Ris. Wah nggak kira-kira itu orang. Nggak lihat apa cuaca lagi panas banget kayak gini.” Isa telah berubah menjadi Mahesa sang lelaki sejati. 

“Woooo, pejantan tangguh kita telah kembali.” Clara menggoda sahabatnya yang tanpa sadar mengeluarkan suara aslinya. 

“Ih kamu mah,” ucapnya malu-malu, kembali menjadi Isa lelaki kemayu. 

“Kalian ini, aku sudah nggak kuat.” Rissa mulai memejamkan mata, ia merasa pusing, pandangannya menjadi buram, tubuhnya juga melemah. 

“Eh Rissa, kamu nggak apa-apa?” tanya Clara, menyadari tubuh temannya hampir terjatuh.

Kedua sahabat itu membantu Clarissa untuk berjalan masuk ke dalam kantor. Memapah gadis bermata coklat untuk duduk diatas kursi. Mahesa berlari membeli air mineral di kantin, dan segera memberikannya pada Rissa. 

“Hey, Clarissa, kamu kenapa?” tanya seorang lelaki, membuat kedua sahabatnya reflek melihat ke arah suara. 

“Pak Rion… Rissa baru saja dihukum sama pak Aksa pak, berdiri diluar dibawah matahari.” jawab Clara, sedikit terkejut, seorang Rion peduli pada sahabatnya.

“Di tengah cuaca panas ini?” tanya Rion dengan nada khawatir. 

“I iya pak," jawab clara. 

“Ayo, kalian bawa Rissa ke ruanganku ya. Biarkan dia istirahat disana. Nanti akan saya susul," ucap Rion, bergegas pergi ke luar kantor. 

“Is, aku nggak lagi mimpi kan?” tanya Clara pada Mahesa. 

“Nggak dodol, udah cepet sini bantuin aku, Rissa pingsan nih kayanya,” jawab Mahesa terlihat panik. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!