Rissa mulai merasakan nyeri pada setiap ujung jarinya, bibirnya bergetar hebat, menahan rasa dingin akibat guyuran air pada tubuhnya beberapa saat lalu, sudah sekitar dua jam lebih ia terduduk di atas kloset dalam bilik toilet.
Kamu tak perlu mengenalku pelakor, matilah kamu kedinginan di sana, sampai besok pagi akan kupastikan tak ada orang yang akan menemukanmu.
Rissa kembali mengingat ucapan wanita yang bahkan wajahnya saja tak diketahuinya.
“Pelakor? kenapa dia menyebutku pelakor?” lirih Rissa masih merasa kejadian ini terlalu membingungkan.
Gadis itu menghela napas panjang, jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.12 WIB. Rissa telah gagal mendapatkan uang, perjanjiannya adalah bertemu di jam 18.00 wib, sudah satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Bulir bening mulai jatuh berderai , hangat terasa diatas pipi Rissa, esok para rentenir akan kembali mendatangi keluarganya, seperti kesepakatan mereka sebelumnya. Rissa memejamkan mata, meratapi nasibnya.
Apakah ini akhir dari hidupku tuhan?
Rissa mencoba melihat sekeliling, lagi lagi mencari adakah sesuatu yang bisa membantunya keluar dari toilet ini. Bagaimanapun akhirnya, ia merasa harus tetap mencoba, datang meski terlambat. Menemui nyonya Adella.
Melihat tempat sampah diujung toilet, memberikan ide untuk Rissa, gadis itu mengambil tempat sampah dan meletakkannya di atas closet, mulai naik secara perlahan. Tolonglah tuhan batinnya.
Berhasil berdiri diatas tempat sampah, ia akan mencoba merayap, memanjat pada sekat pembatas, Satu kakinya mulai memijak, tangannya berpegang pada atas pintu. Namun, sayangnya sepatu Rissa menjadi licin saat bertemu dengan partisi toilet. Ia tergelincir dan jatuh, kepalanya membentur ujung closet.
Gedebug!......
“Aaah………!!”
...*******...
Hotel Ambassador. Malam pesta pernikahan.
Beberapa pelayan hotel tampak berlalu lalang, menyajikan berbagai macam menu makanan, mengisi ulang setiap gelas yang kosong. Pesta pernikahan putra putri pemilik perusahaan besar memang berbeda. Kemegahan dan kemewahan jelas terlihat di sepanjang acara.
Prosesi pernikahan telah usai, kini sepasang pengantin tampak sedang berbincang-bincang dengan para tamu.
Richard dan Rebecca istrinya sangat berbahagia, putrinya yang dikhawatirkan sejak beberapa waktu yang lalu terlihat sedang dalam kondisi stabil. Kini keduanya bisa bernapas lega.
Seorang lelaki dengan jas berwarna merah tampak berjalan mendekati pengantin wanita, menyelipkan sebuah kertas kecil pada tangan wanita cantik itu.
“Hey, kak selamat ya. Semoga cepat diberi momongan, biar aku bisa jadi uncle,” goda Rion pada kakak tirinya.
“Kamu bikin aja sendiri Rion, tidak usah menunggu keponakan,” jawab sang kakak.
“Aksa, aku permisi dulu ya," pamit Elena.
Aksa damian hanya mengangguk, pernikahan palsu ini sungguh menyiksa, menikahi wanita yang tidak menginginkannya, bisakah ia menundukkan singa betina dari keluarga Dalvano ini?
Rion hanya memandang calon kakak iparnya yang berjalan menjauh dari kebisingan pesta.
“Kak, aku juga permisi ya, mau nemuin mama dulu," pamit Rion, meninggalkan kakaknya yang masih beramah tamah dengan para tamu undangan.
Lelaki dengan jas merah itu tampak berjalan santai, menyelinap meninggalkan pesta, kakinya mulai mendaki satu persatu anak tangga yang terhubung pada lantai sepuluh, tepat diatas ruang pesta.
Bibirnya bersiul rendah, hentakan kaki pada lantai terdengar berirama, lantai sepuluh saat itu tengah kosong, sebab disewa oleh keluarga pengantin. Untuk menginap para tamu yang datang jauh dari luar negri.
“Elena…Elena…dimana kau gadis sialan?” panggil lelaki itu, berjalan pelan dengan mata tajam menyisir seluruh sudut ruangan, bagaikan seekor kucing mencari cari mangsanya.
“Aku disini, cepatlah kemari. Katakan apa yang kau inginkan lelaki bajingan,” ucap Elena dari samping tangga, tatapan matanya memancarkan aura kebencian.
Tak disangkanya Arion delana axelle, yang selama ini dikenalnya sebagai Delan, mantan kekasihnya saat berkuliah diluar negri adalah putra kedua Baskara Axelle, sahabat papanya, dan kini akan menjadi saudara iparnya.
“Wow, ternyata si tikus ingin berubah menjadi seekor kucing? jangan mimpi,” desis Rion ditelinga mantan kekasihnya itu.
“Apa maumu Delan? aku yakin kau tak ingin kakakmu tau sifat aslimu kan?”
“Oho…. lantas kau akan mengancamku sayang?”
Rahang Elena mengeras, melihat lelaki di hadapannya membuatnya mengingat setiap detail sakit yang ia rasakan dulu, sakit yang membuatnya harus bersahabat dengan berpuluh-puluh obat dari dokter jiwa selama bertahun-tahun.
“Bukankah sudah kukatakan cantik, jangan menikah dengan Aksa. Kenapa telingamu tuli hah?”
“Heh. Apa alasanmu melarangku? apa hakmu mengaturku? hubungan kita telah berakhir, sejak aku melihatmu tidur dengan wanita sialan itu, ah, juga karena kau tak menganggap anakmu.”
“Ha ha ha ha, kau tak perlu tau alasannya, kalau aku bilang jangan, berarti jangan lakukan, kalau aku bilang akhiri, berarti kau harus mengakhirinya, dan satu lagi, anakku? aku saja tak tahu kau telah tidur dengan berapa lelaki selain diriku," hinanya.
“Ternyata kau sangat kejam Delan, aku sungguh menyesal pernah mencintaimu. Kalau saja waktu bisa diulang kembali, aku tak ingin mengenalmu.” Sesal Elena, memandang benci pada lelaki di hadapannya.
“Aaahh… jangan banyak bicara, aku mau kau akhiri pernikahan ini, kalau tidak…”
“Apa? kalau tidak apa yang akan kau lakukan Delan?” tantang Elena.
“Kau akan celaka.”
“Aku tidak takut, aku bukan Elena yang kau kenal dulu, aku sekarang bisa melawanmu,” bisik Elena, suara gadis itu terdengar bergetar, rupanya ancaman yang keluar dari bibirnya tak sepenuhnya benar, tangan gadis itu gemetar, hatinya mulai menciut. Efek rasa panik berlebih yang kembali menyiksanya beberapa hari terakhir.
“Oh iya? oke. Mari kita cepat selesaikan masalah kita Elena, aku sudah muak denganmu.”
Tangan Rion bergerak cepat, mencekik leher gadis di depannya, tubuh Elena bergerak mundur menghantam dinding, gadis itu berusaha mati-matian mendorong tangan mantan kekasihnya itu.
Kakinya ingin menendang, namun gaun pengantin yang dikenakannya membatasi pergerakannya. Elena berhasil menyibak gaun di lutut, ia lantas menendang perut Rion, membuat lelaki itu jatuh terjengkang.
Elena terbatuk-batuk, lehernya memerah membentuk lingkaran bekas tangan, gadis itu tampak berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, namun belum juga ia berhasil menguasai diri, lelaki di depannya kembali mendorong tubuhnya, membanting kuat keatas lantai.
Bruuk…..
Elena jatuh tersungkur, ia meringis menahan sakit. Berusaha kembali berdiri, meski seluruh badan terasa sakit.
“Mana kekuatanmu wanita jalang?” teriak Rion, matanya memerah, nafasnya terengah-engah. Seringai kejam kembali menghiasi bibirnya.
Lelaki itu mengangkat pundak Elena, namun tanpa diduga, Elena menggigit kuat lengannya. “Aw.. aw….lepaskan, ahhh…gadis gila.” jeritnya terdengar menggema.
Elena tak berniat melepas gigitannya, hingga lelaki itu menjambak rambut Elena, membuatnya kesakitan dan reflek mengendurkan gigitan, kesempatan ini jelas tak disia-siakan oleh Rion, ia membanting tubuh Elena, hingga wanita itu terjatuh, berguling diatas tangga.
Gedebug!....
Suara tubuh Elena di atas lantai, gadis itu terlihat menahan sakit, ujung kepalanya berdarah, matanya terpejam, bibirnya berdesis pelan, hingga pada akhirnya kesadarannya menghilang.
Rion terkejut menyaksikan Elena terjatuh di tangga, ia merasa bingung dan takut, lelaki itu terlihat salah tingkah, maju mundur tak jelas.
“Sial..sial..sial,” jeritnya, berjalan mundur, meninggalkan Elena sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments