Chapter 10

Mahesa dan Clara  segera menarik tangan Rissa, meletakkannya pada pundak masing-masing. Membawa gadis yang tengah memejamkan mata itu menaiki lift, menuju lantai dua, ruangan Arion delana Axelle. 

“Is, nggak apa-apa nih kita masuk ruang pak Rion?” tanya Clara, ketika mereka telah sampai di depan pintu ruang kerja Rion. 

“Diamlah, ini perintah pak Rion sendiri,” jawab Mahesa, membuka handle pintu, melangkah masuk dengan tubuh sahabatnya yang masih dipapah. 

“Kita letakkan Rissa di atas sofa itu Ra, aku udah nggak kuat.” 

“Ih, kamu cowok, bawa beban gini aja nggak kuat? kita berdua loh,” ucap Clara, memberengut kesal, “oh iya lupa, kamu kan cowok letoy,” sindirnya kemudian.

“Apa kamu bilang Ra? aku juga bisa jadi jantan, aku masih normal,” jawab Mahesa sedikit tersinggung. Kali ini dengan suara jantan tanpa dibuat-buat.  

“Nah gitu dong, makanya pertahanin kejantananmu. Jangan jadi Isa, Mahesa aja cakep.”

Clara tersenyum kecil saat mengungkapkan kata terakhirnya, gadis itu sebenarnya memendam perasaan pada sahabat letoynya, memang tidak bisa dipungkiri wajah Mahesa tidak bisa dikatakan jelek. Menurutnya sahabatnya ini mirip pemain film, Dimas Anggara. Versi kurang dana. 

Mahesa tersipu mendengar ucapan Clara, ia lantas mendorong pelan pundak sahabatnya itu. Nampak malu-malu. 

“Lah, malah kembali ke setelan sesat," ucap Clara kecewa. 

Pintu terbuka, muncul Rion dengan membawa sekantong plastik di tangannya. “Bagaimana keadaan Rissa?”

“Masih belum sadar pak," jawab Mahesa. 

“Coba kamu, dalam kotak P3K ada minyak kayu putih. Ambil dan usapkan pada hidung dan keningnya.”

Rion menunjuk Clara, gadis itu pun berdiri, melangkah ke arah kotak P3K yang ada di pojok ruangan, mengambil sebotol minyak kayu putih, lantas bergegas mengikuti instruksi Rion. 

Benar saja tak butuh waktu lama, mereka melihat Rissa mulai tersadar. Gadis itu merintih pelan, memegang kepalanya. Clara membantunya untuk duduk, bersandar pada sofa. 

“Kamu nggak apa-apa Riss?” tanya Clara. 

Rissa hanya mengangguk, ia lantas melihat Rion berdiri di depannya. “Pak Rion?” 

“Iya Ris, kamu tenang saja, sekarang kamu di ruanganku,” Jawab Rion santai.

“Loh, kok bisa?” ucap Rissa merasa heran. “kok bisa kalian bawa aku kesini?” Kali ini gadis itu bertanya dengan suara lirih pada kedua sahabatnya. 

“Aku yang minta. Disini tempat yang tenang buat kamu istirahat, nggak akan ada yang tahu, jadi nggak bakal ada yang nyuruh-nyuruh kamu,”  jawab Rion. 

Ketiga sahabat itu hanya terdiam, saling melempar pandangan heran. 

“Ya sudah, kalian berdua. Bukankah ini jam kerja? pergilah, untuk bagian Rissa biar nanti aku minta pengganti sementara, dan kamu Rissa istirahat saja dulu disini.” 

Ketiga sahabat itu saling berpandangan, terlihat Rissa enggan ditinggal oleh keduanya, namun apa yang bisa mereka lakukan selain menuruti perintah putra pemilik perusahaan? 

“Tunggu apa lagi?” ucap Rion datar. 

“Baik pak,” jawab Clara dan Mahesa serempak. Keduanya pergi meninggalkan Rissa. Rissa menggenggam erat tangan Clara, berharap gadis itu tak meninggalkannya sendiri bersama Rion. Namun apa yang bisa diperbuatnya, meski ia menggelengkan kepala, tetap saja tak mampu menghentikan Clara. 

Kini kedua sahabatnya telah lenyap dibalik pintu, hanya ada dirinya dan putra kedua pemilik perusahaan. 

“Ini, makanlah Riss, kebetulan aku belum makan siang, maukah menemaniku?” tanya Rion, mengeluarkan dua nasi box premium dari dalam kantong plastik. 

Rissa melihat Rion membuka kotak nasi, lantas mulai menyuapkannya kedalam mulut. 

“Hmm, ini enak sekali Riss, cobalah." Desaknya pada Rissa, gadis itu pun menganggukkan kepala sungkan. 

Pak Rion ternyata orangnya baik, tapi kenapa aku malah tidak nyaman berada disampingnya, batin Rissa.

Rissa yang kelaparan tak menyadari bahwa nasi beserta lauk pauk dalam box telah tandas tak tersisa, ia sangat kenyang. Gadis itu bersendawa cukup keras. Membuat Rion reflek menoleh padanya. 

“Ups, maaf pak, aduh aku nggak sopan sekali ya. Maafin ya pak,” ucapnya sedikit ketakutan.

Rion tertawa keras, lantas berkata “Kenapa kamu lucu sekali Riss, sepertinya sekarang aku tahu kenapa kakakku mempertahankanmu disisinya.”

Rissa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak mengerti kenapa lelaki dihadapannya tertawa lepas, apakah memang hal itu lucu? Rissa merasa apa yang dilakukannya sungguh tidak sopan. Kalau saja ini pak Aksa sudah pasti dia akan menghukumnya. 

“Baiklah Rissa, lain kali kalau aku butuh teman buat makan kamu bersedia kan menemaniku?” 

“Ehm… kita lihat nanti ya pak," jawab Rissa tak berani menjanjikan hal yang mungkin saja tak dapat dilakukannya. 

“Wow, kamu memang sesuatu Riss, biasanya seorang wanita akan memohon untuk diajak makan bersamaku, dan kamu?” 

Rion tak melanjutkan ucapannya, ia malah tertawa semakin keras. Sekali lagi, Rissa merasa bingung dengan keadaan ini. Kenapa dia ditertawakan. Namun akhirnya Rissa memilih ikut tertawa bersama, daripada terlihat bodoh karena tak mengerti. 

...****************...

Sebuah angkutan umum berhenti di depan seorang gadis, ia lantas masuk dan memilih duduk di pojok belakang. Hari yang sangat melelahkan, batinnya. 

Clarissa kembali mengingat Aksa, bisa-bisanya kulkas kejam itu melupakan dirinya, menghukum tanpa batas waktu. Ingin rasanya Rissa menjambak rambut lelaki itu, meremas wajah galaknya, menendang perutnya. Aaah andai saja bisa, betapa nikmat sekali rasanya.

Angkutan berjalan perlahan, menepi tepat didepan gang kecil. Clarissa segera turun, membayar sesuai tarif, lantas berjalan memasuki gang kecil nan kumuh. 

Yah, disinilah Clarissa tinggal bersama keluarganya, ibu Rissa hanya buruh cuci baju, beliau akan membawa baju kotor pelanggannya pulang ke rumah, mengerjakannya sembari menjaga putri keduanya yang lumpuh. 

“Ibu… Rissa pulang.” ucapnya membuka pintu depan. 

“Ada apa ini ibu?” Rissa terkejut mendapati rumahnya berantakan, ibu Warni keluar dari kamar dengan mata sembab. 

“Ah, Rissa. Kamu sudah pulang nak?” 

“Ada apa ini ibu? kenapa rumah kita berantakan? tunggu, ibu habis menangis?” 

Ibu Warni hanya tersenyum, memandang wajah putri pertamanya, tulang punggung keluarga. 

“Duduklah terlebih dulu, ibu akan bercerita,” ucapnya seraya membawa tubuh putrinya untuk duduk diatas kursi kayu. 

“Ada apa bu?”

“Rissa, sepertinya ayahmu meninggalkan hutang sebelum dia meninggal, tadi ada rentenir yang datang, mereka marah dan mengacaukan seluruh rumah," ucap ibu Warni disertai isakan tangis. 

“Ibu memohon agar mereka memberi waktu, karena kami benar-benar tak tahu masalah hutang itu. Mereka memberi waktu satu bulan untuk ibu membayar semua hutang beserta bunganya," imbuh sang ibu disela tangisnya. 

Rissa memeluk ibunya, mencoba menenangkan. “Tenanglah bu, ada Rissa. Kita akan membayar hutang ayah bu, berapa hutang ayah ibu?” 

“Sepuluh juta hutang pokoknya nak, karena ini sudah nunggak terlalu lama maka membengkak menjadi lima puluh juta Riss. dapat dari mana kita uang segitu dalam waktu satu bulan?”

Rissa merasakan sesak dalam dada, tangis sang ibu semakin terdengar memilukan. Kini air mata mulai mengalir dari pipi gadis muda itu. Ia sungguh tak mengerti, kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga kini dihadapkan pada ujian hidup yang terasa amat menyiksa. 

Rissa melihat adiknya yang turut menangis diatas kursi roda, ia pun lantas berusaha tersenyum menatap sang adik kecil.

“Kakak, biarlah Nindy tidak perlu berobat, kakak bisa pakai uang gaji kakak untuk membayar hutang ayah," ucap gadis kecil itu. 

“Apa yang kamu katakan Nindy? kamu harus sembuh. Kamu harus kembali bersekolah, menggapai semua mimpi, dan kita sama-sama bekerja untuk pindah dari rumah kecil ini, bukankah impianmu tinggal disebuah rumah yang ada kolam renangnya? Nindy suka berenangkan?” 

Gadis kecil itu mengangguk mendengar pertanyaan terakhir kakaknya. “Makanya Nindy harus sembuh. Janji ya? jangan bicara hal seperti itu lagi. Urusan hutang serahkan sama kakak.” 

“Ibu, ibu juga tidak perlu mengkhawatirkan masalah hutang. Rissa akan berusaha mencari pinjaman lain, ibu hanya perlu mendoakan Rissa, iya bu?” ucap Clarissa menenangkan dua orang kesayangannya itu. Meski hatinya sendiri juga butuh mendapat ketenangan. 

“Ya sudah, kita bersihkan rumah bersama yuk bu,” anjur Rissa yang mendapat anggukan kepala dari ibu dan adiknya. 

Mereka mulai membersihkan rumah, Nindy membantu meletakkan barang-barang yang mampu dijangkaunya bersama sang ibu, sedangkan Rissa memilih mengambil sapu dan mulai menyapu seluruh bagian rumah. 

Terpopuler

Comments

Ais Twin

Ais Twin

Ayo Rissa, ku bantu menjambak Aksa 😅

2023-12-04

1

Sumarni Al Fa

Sumarni Al Fa

hadir thor

2023-11-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!