Chapter 17

Sejak acara pertunangan putrinya, Rebecca merasa ada yang aneh. Elena jadi sering melamun, terkadang marah-marah, mudah panik, bahkan suka berhalusinasi. 

Ibu mana yang akan tenang menyaksikan keadaan putrinya menjadi kacau, meski sang putri selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. 

Rebecca sempat mengajak putrinya berlibur sebelum acara pernikahan. Dan memang benar, sang ibu bisa melihat bahwa putrinya berangsur-angsur membaik, mungkin hanya stress hendak menikah, pikir sang mama. 

Namun, siapa sangka di tengah-tengah acara, Rebecca harus dikejutkan oleh laporan adiknya Meyran, bibi Elena yang menemukan Elena tengah pingsan di tangga. 

Rebecca meminta untuk merahasiakan apa yang terjadi, bersama sang adik, Rebecca membawa tubuh putrinya diam-diam masuk kedalam salah satu kamar hotel, mengistirahatkan gadis itu diatas ranjang. 

Seorang wanita tua membuka pintu, berjalan pelan menghampiri majikannya. “Nyonya, saya sudah sampaikan pada tuan tentang keadaan non Elena, sebentar lagi tuan akan datang.” 

“Baiklah mbok, sebaiknya mbok Nem segera siapkan teh hangat buat Elena,” perintah Rebecca pada asisten kepercayaan keluarganya. 

“Baik nyonya.” 

Mbok Nem, wanita tua yang sangat setia pada keluarga Axelle itu tampak berjalan pelan meninggalkan kamar. Meyran menutup pintu sesaat setelah mbok Nem keluar, ia bergegas duduk di sisi ranjang keponakan satu-satunya. 

“Mey, ceritakan bagaimana kamu tadi menemukan Elena,” desak Rebecca pada adiknya yang terlihat takut-takut. 

“Maaf, kak. Jangan marah ya.” 

“Kenapa? kamu tau sesuatu?” Rebecca memicingkan mata, penuh selidik. 

“Nggak kak, aku nggak tau apa-apa. Aku memang salah, aku dengan kebiasaan buruk ku. Aku, aku tadi cuma sedang minum-minum. Sedikit.” 

“Kamu gila? ini acara pernikahan keponakanmu. Dan kamu minum-minum?” tanya Rebecca. 

“Maaf kak, inti ceritanya gini, aku tadi merasa sedikit pusing. Jadi, aku bawa minum ke atas, sekalian mau istirahat sebentar. Tapi karena pusing sialan ini, aku tak bisa melihat dengan jelas. Dan inilah akhirnya.” jelas Meyran seraya menunjuk pada gaun pengantin Elena yang tampak basah. 

“Jadi ini alkohol?” geram Rebecca, merasa adiknya sudah keterlaluan meskipun tidak sengaja. 

“Bukan, bukan kak. Aku kan sudah bilang aku pusing, mungkin karena pengaruh alkohol. Jadinya aku bawa air mineral biasa, aku berniat minum air mineral banyak, agar bisa menetralkan mabuk ku.” 

Rebecca memandang gaun putrinya yang basah dan kotor, ia lantas mulai terisak, meratapi keadaan sang putri. Pintu terbuka, Richard, suaminya telah datang. 

Melihat kakak iparnya tiba, Meyran segera memilih pergi, membiarkan sang kakak menyelesaikan urusan keluarganya dulu. 

“Ada apa ini sayang? keluarga Baskara dari tadi mencari Elena, kenapa dia malah tertidur disini?” tanya lelaki paruh baya itu, tanpa mengetahui kondisi sang putri. 

“Kamu tak bisa melihat Richard? bahkan kening putrimu berdarah," sindir Rebecca disela derai tangisnya. 

Baru menyadari kondisi sang putri membuat lelaki itu melunak, “Kenapa dengan Elena sayang?”

“Entahlah, dia pergi dari acara, Mbok Nem melihatnya berjalan menuju lantai sepuluh tadi, dan malah ditemukan Meyran sedang pingsan dibawah tangga, apa yang sebenarnya terjadi?” Sesal Rebecca, merasa gagal melindungi putrinya. 

“El, Elena bangun sayang, apa yang kau pikirkan nak? kenapa kau pergi dari acara pernikahanmu sendiri?" lirih Rebecca kembali. 

"Sudahlah sayang, putri kita hanya pingsan. Tunggulah ia sadar, nanti kita bisa tanyakan alasan perbuatannya ini."

"Ini karena kamu papa, seandainya kamu tak memaksakan pernikahan bisnis yang tak diinginkan putrimu ini, Elena tak akan berakhir seperti ini." 

Richard menarik nafas kuat dan menghembuskannya kasar dari mulut, sudah berulang kali ia menjelaskan posisinya pada sang istri, tapi Rebecca kekasih hatinya itu selalu kembali menyalahkannya atas keadaan yang menimpa putri semata wayangnya. 

Richard berusaha untuk tetap sabar, menghadapi wanita memang harus seperti ini. Ia sangat tahu itu. 

"Sudahlah, gantiin baju Elena, jangan biarkan dia masuk angin. Nanti kalau dia bangun, bawa ke depan. Sudah cukup papa menahan malu pada keluarga Axelle, untungnya mereka tak mempermasalahkan apa yang terjadi," jawab Richard, berusaha menyudahi perdebatan di antara mereka. 

Richard Dalvano mengecup kening istrinya lantas beranjak membuka pintu, meninggalkan kedua wanitanya tetap di dalam kamar. 

"El, kamu sudah bangun sayang? Apa yang kamu rasakan, ada yang sakit dari tubuhmu? tanya sang mama saat melihat putrinya telah kembali sadar. 

"Maaf, anda siapa ya?"

...*******...

Mata gadis itu memicing, pertama kali mencoba membuka matanya, silau yang ia rasakan, cahaya lampu menyorot tepat diatas tubuh lemahnya. 

Rissa merasakan pusing yang teramat menyakitkan, tangannya meraba pada kening, mendapati bercak darah yang mulai mengering. 

"El, kamu sudah bangun sayang? Apa yang kamu rasakan, ada yang sakit dari tubuhmu?” 

Seorang wanita paruh baya berwajah cantik tengah duduk menggenggam tangan Rissa, begitu melihat dirinya terbangun wanita itu memberondongnya dengan banyak pertanyaan.

"Maaf, anda siapa ya?" lirih ucapan Rissa membuat wanita itu terperanjat, ia mundur, melepas tangan gadis yang juga tampak kebingungan di depannya. 

"Elena, jangan bercanda pada mama," ucap wanita itu tampak frustasi, ia kembali mendekati Rissa. 

"Elena siapa yang anda maksud?” 

"Mbok Nem, panggil tuan sekarang juga," perintahnya pada seorang wanita tua yang baru saja muncul dari balik pintu, kedua tangannya membawa nampan berisi teh hangat.

Setelah memastikan nampan di tangannya telah berada di posisi yang tepat, wanita itu tampak berjalan tergopoh meninggalkan ruangan. 

Clarissa mencoba menatap sekeliling, ia bisa menebak dirinya tengah berada dimana, namun ia merasa heran, seingatnya tadi ia tengah terjebak dalam toilet. Lantas apa yang terjadi. Rissa merasakan denyut keras dalam kepala, gadis itu memejamkan mata menahan rasa sakit. 

"Sayang, ini mama, kamu tidak ingat mama nak?" 

Mama? apakah wanita ini sedang stress? batinnya. Rissa lantas mencoba kembali mengingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum kesadarannya hilang. 

Pintu terbuka, seorang lelaki yang Rissa kira berusia sekitar lima puluh tahunan itu berjalan tergesa, mendengar perkataan wanita di depannya yang terus menangis lelaki itu lantas beralih melempar pertanyaan pada Rissa. 

“Elena, kamu sudah bangun?” ucapnya. 

Elena, Elena, kenapa semua orang memanggilku dengan nama Elena? Apakah ada yang mau mengerjaiku? batin Rissa, merasa tak habis pikir. 

“Saya dimana? dan anda siapa? kenapa terus memanggil saya Elena," jawabnya frustasi. 

Rissa mengingat nyonya Adella, ya benar, ia harus segera pergi ke rumah nyonya Adella, memohon sebisa mungkin untuk dikasihani. 

“Maaf saya harus pergi.” Pamit Rissa, berusaha turun dari atas ranjang. Ia sedikit terkejut dengan pakaian yang menempel pada tubuhnya. Apa apaan ini? gaun pengantin, hey apa yang sebenarnya terjadi padaku? Rissa menatap heran pada pakaiannya. 

“Siapa yang gantiin baju saya? kenapa saya pakai baju pengantin?” Rissa memandang semua orang yang tengah memandangnya dengan tatapan iba. 

Rebecca masih terus menangis, ia berdiri dan memeluk erat tubuh putrinya, Rissa ingin melepaskan diri, namun isak tangis yang terdengar pilu itu mengingatkannya pada sang ibu, Rissa akhirnya mengalah, membiarkan wanita itu menumpahkan kesedihan pada bahunya. 

“Sadarlah El, jangan seperti ini. Mama tidak mampu melihatmu begini sayang.” 

Wanita itu merenggangkan pelukan tangannya, memberi ruang kosong diantara mereka.

“Jangan pikirkan apapun, kita kerumah sakit sekarang juga ya,” imbuhnya, menatap dalam mata Rissa. 

“Tapi, saya ada janji tante,” jawab Rissa. 

Wanita itu terkejut, matanya membulat sempurna, mulutnya tertutup dengan satu tangan. “Tante?” lirihnya.

Tanpa Rissa sadari sebuah tamparan mendarat pada pipinya, ia sungguh terkejut. 

Plak!....

“Kamu keterlaluan Elena, kalau kamu tidak mau menikah dengan putra rekan papa, harusnya kamu bilang. Bukan malah bersikap pengecut seperti ini? kamu bahkan telah setuju waktu itu, kenapa sekarang seperti ini? kamu mau menghancurkan papa?” bentak Richard, emosi tak mampu lagi ditahannya. 

tunggu, semuanya terasa aneh. Sepertinya ada sesuatu yang salah. Rissa berlari ke arah cermin, mencoba melihat pantulan bayangan dirinya, namun ia tak melihat dirinya disana, melainkan seorang wanita cantik, bermata biru, dengan rambut panjang sedikit bergelombang. 

“Aaaah…..Siapa, itu?” gagapnya, menunjuk pada bayangan dalam cermin.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!