Chapter 13

Malam itu langit terlihat sangat indah, rembulan dan bintang tampak seolah turut berbahagia atas apa yang dirasakan Rissa, gadis itu mencicipi roti bakar coklat yang dipesan temannya. 

“Hmm, enak Ra, coklatnya lumer dan nggak pelit.”

“Nah benarkan yang kubilang, cafe satu ini rekomendasi banget pokoknya, kopinya banyak pilihan, makanannya juga enak-enak, dan dekorasi nya itu sederhana tapi menarik, bikin betah,” ucap Clara bersemangat. 

“Yah, kamu benar. Ngomong-ngomong tentang roti bakar, ada satu cerita lucu tentang roti manis ini,” ucapnya tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun silam.

“Apa itu?” tanya gadis berambut pendek itu. 

“Dulu ayah pernah membeli roti bakar untuk keluarga kami, dan seperti biasa ibu akan membaginya untuk kita. Aku sudah makan habis bagianku, tapi aku masih menginginkan punya adik yang disimpan ibu di atas meja.” Rissa tersenyum sebentar. 

“Dan kamu makan punya adikmu Riss?”

Clarissa mengangguk dan tertawa. “Ya, dan ayah tahu hal ini. Aku tak sadar kalau ibu datang Ra, waktu itu ibu baru saja pulang menjemput adikku yang tengah bermain di rumah tetangga, dan kamu tahu apa yang dilakukan ayahku?”

Clara menggeleng cepat, menunggu kelanjutan cerita gadis di depannya yang masih terus tertawa. 

“Ayah berteriak mengatakan Macan, macan. Tentu saja aku langsung memahami kode ayah, aku berlari cepat, pergi keluar rumah.” 

“Ayahmu menyelamatkanmu Riss?” tanya Clara, merasa lucu. 

“Yaaa, ayah berbohong pada ibu, mengatakan mungkin rotinya dimakan tikus. Dan sejak saat itu, macan menjadi kode rahasia kami, Aku dan ayah.” 

“Astaga, ayahmu sungguh lucu, betapa menyenangkan memiliki ayah seperti beliau. Dan sekarang kamu pasti sangat kehilangan beliau Rissa, aku turut bersimpati," ucap Clara, wajahnya berubah sendu. Gadis itu memegang tangan Rissa, berharap temannya bisa merasakan ketulusan hatinya. 

“Aku sudah berdamai dengan keadaan Ra, aku percaya ayah tengah menjagaku dari sana,” tutur Rissa, tangannya menunjuk pada bintang-bintang dilangit. 

“Kamu percaya orang yang meninggal akan berubah menjadi bintang?” tanya Clara, “ayolah Ra, itu hanya dongeng anak kecil," imbuhnya lagi, tersenyum simpul. 

“Kenapa tidak, aku akan mempercayai isi hatiku, setidaknya ia tak akan mampu berbohong,” jawabnya, mengambil roti bakar dan kembali menikmati setiap gigit penuh coklat itu. 

Clara mengangguk pelan, “benar juga ucapanmu, aku harap yang terbaik buatmu Riss,” ucapnya kemudian. 

...*******...

Diatas sebuah meja makan telah terhidang tumis pare dan tempe goreng, hari ini Rissa yang memasak, karena ia sedang libur kerja. 

Ibu Warni tengah menggosok baju di ruang tengah, sedangkan Nindy sang adik tampak tengah belajar di dalam kamar, gadis kecil itu masih saja terus belajar meski untuk sementara belum bisa kembali bersekolah, selain karena kakinya juga karena dana. 

“Bu, ayo makan dulu, Rissa sudah masak.” 

Ibu Warni memandang putrinya, tersenyum dan berkata, “Baiklah, tunggu sebentar lagi, kamu panggil aja adikmu dulu, bawa ke meja makan.” 

“Baik bu," jawab Rissa, berjalan menuju kamar adik kecilnya.

Tok tok tok.

suara pintu diketuk dari luar. Rissa mengurungkan langkahnya, menatap pada sang ibu yang juga tampak bertanya-tanya, siapakah yang bertamu sepagi ini. 

“Biar Rissa yang buka bu," ucapnya, berlari ke arah pintu, memutar handle dan menarik pintu. Gadis itu terkejut reflek melangkah mundur, di depannya kini berdiri seorang lelaki berbadan besar, bertato dengan rambut panjang sebahu, sedang di belakangnya ada dua orang dengan tampilan mirip, hanya saja yang satu rambutnya merah, dan yang lain tak memiliki rambut, alias botak. Muka mereka terlihat kejam. 

“Siapa kalian? ada perlu apa ke rumah kami?” tanya Rissa dengan suara sedikit bergetar. 

“Mana ibumu gadis cantik?” tanya salah seorang dari mereka yang sedikit mendorong tubuh Rissa, memaksa untuk masuk. 

“Ada apa ini? kenapa kalian datang lagi? bahkan ini belum satu bulan sejak kedatangan terakhir kalian,” tutur ibu Warni, menahan rasa takut, ia berjalan mendekati putrinya yang terjatuh akibat dorongan salah seorang lelaki itu. 

“Hey bu, kami hanya mengikuti perintah, bos kami berubah pikiran, dia mau kalian membayar hutang sekarang juga.”

“Dari mana kami dapat uang kalau mendadak begini, kalian sudah berjanji, kenapa kalian seperti ini?” ucap bu warni, terlihat menahan emosi.

“Haaah, itu bukan urusan kami, terserah kalian mau dapat uang dari mana, cepat bayar sekarang juga, atau kami akan membawa putri kalian yang cantik ini," jawab lelaki tanpa rambut, kepalanya terlihat sangat licin. 

“Jangan, jangan sakiti anakku, aku mohon. Bawa saja aku sebagai gantinya,” pinta ibu Warni, menatap Rissa dan Nindy yang berada di samping pintu kamar, gadis kecil itu ketakutan, ia bersembunyi dibalik kelambu. 

“Saya mohon pak, biarkan saya bertemu bos kalian, saya ingin membuat kesepakatan.” ucap Rissa tiba-tiba, ia mendapatkan sebuah ide yang mungkin bisa menolong keluarganya. 

“Wow, Rusa lemah nan cantik bersedia masuk ke dalam sarang harimau rupanya, santapan gurih ini bang.” ucap si rambut merah dengan suara cemprengnya. 

“Jangan Rissa, apa yang kau pikirkan nak.” Ibu Warni berusaha mencegah putrinya, namun Clarissa Diana bukan orang bodoh, ia memiliki satu keyakinan yang membuatnya berani mengambil keputusan. 

“Tenanglah bu, percaya pada Rissa, ibu tunggu dirumah sama Nindy ya bu. Rissa akan segera kembali.” 

“Lihatlah, putrimu lebih pintar dari dirimu wanita tua. Apakah kau kira bos kami akan suka jika melihat kami membawa daging keras sepertimu? kalau putrimu yang datang kami pasti dapat imbalan besar. ha ha ha.” Tawa ketiga lelaki terdengar menyeramkan. 

Rissa kembali menenangkan sang ibu, ia lantas berdiri mengikuti langkah pria besar itu, masuk kedalam sebuah mobil, dan melaju cepat di jalan raya, hari masih pagi memang, jalanan masih lumayan sepi. 

Tak butuh waktu lama, mobil berhenti di depan sebuah gudang, bangunannya terlihat sudah tua, gudang itu terletak jauh dari keramaian kota, di sisi-sisinya banyak tumbuh rerumputan liar. 

Rissa turun dari mobil, sedikit didorong oleh lelaki bertato dengan rambut merah, ia takut, namun berusaha tetap tenang. 

Rissa kembali mengingat sang ayah, macan, macan adalah hewan pemberani, Rissa akan berusaha menjadi macan untuk ayahnya. 

Kesan pertama yang ia dapat saat memasuki gudang adalah lembab, yah, ruangan besar itu terlihat gelap. Rissa dibawa menaiki anak tangga di sudut ruangan.

Diatas sana pemandangan berbeda, sebuah ruangan bersih namun mengerikan, banyak terdapat benda-benda seperti senapan, kapak, cambuk, yang semuanya terpajang di dinding, ada juga hiasan kepala hewan. 

Rissa melihat seorang lelaki mengenakan jas putih, wajahnya bersih dan rambutnya rapi. Satu-satunya yang terlihat normal di antara puluhan lelaki yang berada disana. Lelaki itu duduk diatas kursi besar. Melihat kedatangan Rissa lelaki itu tiba-tiba tertawa keras, sangat keras hingga Rissa merasa ngeri mendengarnya.

“Siapa kamu wanita cantik?” ucap lelaki yang Rissa kira sebagai bos mereka. 

“Dia putri dari pelanggan kita bos, dia bilang ingin membuat kesepakatan dengan bos.” Si Rambut merah mencoba memberi penjelasan. Lantas menendang kaki Rissa, memaksa gadis itu untuk duduk di lantai. 

“Ha ha ha ha.” Suara tawa terdengar menggema di setiap sudut ruangan, “apa yang akan kau tawarkan padaku gadis pemberani?” pujinya pada Rissa. 

“Tolong beri saya waktu untuk membayar hutang ayah saya. Sekitar dua bulan," ucap Rissa. 

“Satu bulan saja bos kami keberatan, ini dua bulan. Apa kau gila gadis bodoh?” ucapan lelaki botak membuat hati Rissa menciut. Ia mulai meremas kedua tangannya, juga menggigit bibir bawahnya. 

Sang bos besar membuat gerakan stop dengan tangan kanannya, wajahnya mendadak serius, kedua alisnya bertaut, sedang bibir atasnya sedikit terangkat. Lelaki botak terdiam, menundukkan kepala botaknya. 

“Kenapa kau sangat berani gadis cantik? apa yang akan kau tawarkan padaku apabila aku menyetujuinya.”

“Aku, aku akan menawarkan….” 

Terpopuler

Comments

Sumarni Al Fa

Sumarni Al Fa

semangat

2023-11-25

1

Reni Anjarwani

Reni Anjarwani

doubel up

2023-11-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!