Chapter 12

“Bisakah bapak menyembunyikan fakta bahwa saya ada disini?” 

Rion mengerutkan alis, ia heran dengan permintaan gadis di depannya ini. 

“Dari siapa? dari siapa aku harus menyembunyikan fakta ini?” tanyanya kemudian. 

“Dari semua orang pak, saya tidak mau ada salah paham, nanti saya dikira mau genit-genit sama atasan saya,” jawab Rissa, terkekeh pelan, “dan, utamanya dari pak Aksa,” ucapnya lagi, lebih serius pada kalimat terakhirnya. 

Rion menganggukkan kepala pelan, ia lantas beranjak dari tempat duduknya. 

“Riss, aku ada rapat diluar kantor, kamu mau tetap ada disini?” 

“Ah, tidak pak, saya mau lanjut bekerja saja,” jawab Rissa. 

“Oke. Tutup pintu kalau kamu keluar ya. Jangan keluar bersama. Tunggu beberapa menit setelah aku," ucap Rion, melangkah meninggalkan Rissa sendiri. 

...*******...

Para karyawan satu persatu melangkah meninggalkan kantor, jam dinding menunjukkan pukul 16.00 WIB. Rissa tampak terburu-buru menyelesaikan tugasnya. Hari ini ia ada janji dengan Clara untuk pergi ke suatu tempat. 

“Kita berangkat sekarang Riss?" tanya Clara yang telah berdiri di sampingnya. 

“Aduh, kaget aku Ra. kamu kok tiba-tiba ada disini?”

“Hmm, kamu aja yang kurang fokus, sudahlah masalahmu akan selesai setelah ini, ayo ikut aku.” 

Yah, Clarissa terpaksa menceritakan permasalahan keluarganya pada Clara, ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Clara bilang ia punya kenalan seorang kaya raya, ia menyarankan Rissa untuk meminjam pada kenalannya ini, bahkan Clara menawarkan diri akan menjadi penjaminnya. 

Betapa mulia hati temannya ini. Rupanya tuhan mendengar doanya kali ini. 

“Ra, kamu yakin bakal jadi penjaminku? hutangku banyak loh Ra. Kok kamu percaya banget sih sama aku. Kamu nggak takut kalau aku tiba-tiba melarikan diri?” 

“Coba saja Akan ku kejar kamu Riss, kemanapun kamu pergi,” jawabnya tertawa kecil, "sudahlah, kamu nurut saja. Jangan sampai aku berubah pikiran,” ucap Clara lagi, menggandeng lengan Rissa mengajaknya segera berangkat. 

Rissa melihat Aksa keluar dari dalam lift di lantai dasar, lelaki itu menatapnya tajam. Mata elangnya seakan hendak menerkam mangsa. Rissa ketakutan dibuatnya, gadis itu menghentikan langkah dan bersembunyi dibalik tubuh Clara.

“Kenapa Riss?” tanya Clara, melihat tingkah aneh temannya, “kayak lihat setan kamu,” ucapnya lagi. 

Rissa mengintip kedepan, Aksa telah menaiki mobilnya, mobil mewah seharga hampir sembilan miliar itu melaju cepat meninggalkan pelataran kantor. 

“Yang ini lebih dari setan Ra,” cela nya kesal. Membuat temannya itu terkekeh pelan. 

“Awas lo benci jadi cinta,” godanya pada Rissa. 

“Ih, amit-amit, tuhan, jagalah diriku,” ucap Clarissa, disambut derai tawa oleh Clara.

“Riss, menurutmu Mahesa orangnya gimana?” 

“Apanya yang gimana? Isa ya Isa, ya kaya gitu orangnya, baik, lucu. Kenapa sih? ada masalah kamu sama dia?” 

Clara menggeleng pelan, ia lantas tersenyum dan kembali berkata, “Sudahlah, lupakan saja. Kita cepat berangkat yuk, nanti kesorean.” 

“Oke.” 

Keduanya kembali meneruskan perjalanan, kali ini mereka memilih lebih banyak diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Satu orang memikirkan cinta, sedang satunya memikirkan hutang. 

“Aww, aduh.... hati-hati dong kalau jalan.” ucap Rissa. Gadis bermata coklat itu terjatuh, kemejanya basah oleh tumpahan air berwarna kuning. Ia menatap seorang gadis berambut blow pendek yang tengah berdiri di sampingnya, bersama dua orang perempuan lain. Ditangan gadis itu ada jus jeruk. 

“Ups, sorry,” ucap gadis itu dengan senyum sinisnya. 

“Kamu sengaja kan? aku lihat loh kamu sengaja dorong Rissa. Apa masalahmu?” Clara mulai emosi.

“Hey, aku nggak ada urusan ya sama kamu, urusanku sama dia,” ucap gadis itu menunjuk muka Rissa. 

Gadis berambut pendek itu berjongkok, mendekati Rissa yang terduduk sambil membersihkan tumpahan es jeruk pada kemejanya. 

“Hey kamu, siapa namamu? Rissa ya, aku peringatkan ya Riss, Jangan berani-berani cari masalah denganku, sekali lagi aku lihat kamu genit-genit, kamu akan mati.” 

Ancamnya. “Yuk guys,” ucapnya pada kedua temannya, melenggang pergi meninggalkan Rissa dan Clara.

“Siapa dia Riss?” tanya Clara saat tiga gadis itu telah pergi menjauh, ia membantu Rissa berdiri, dan membersihkan bulir jeruk yang menempel pada kemeja Rissa. 

“Itu bu Keyla, bagian administrasi.” 

“Kamu kenal sama dia? kamu punya masalah sama mereka?”

“Tidak, aku hanya tau namanya,” jawab Rissa pelan. 

“Lantas kenapa dia melakukan ini padamu? dia tadi bilang apa? suaranya lirih sekali.” 

“Sepertinya dia salah paham padaku, tapi aku benar-benar tak mengerti, apa dia punya kekasih di kantor ini," gumam Rissa, mencoba mengingat beberapa lelaki yang mungkin tak sengaja berbincang dengannya selama ini. Banyak, yah jawabnya banyak lelaki yang berbincang dengannya, mana dia bisa tau siapa kekasih gadis itu.

“Siapa Riss kekasihnya?” tanya Clara. 

“Entahlah, apa mungkin Bagas si anak baru. Atau pak Doni dari tim keamanan? kemarin aku kesana atas perintah pak Aksa. Atau mungkin Mahesa?” tanya Rissa. 

“Ngawur kamu Ris, mana mungkin Mahesa.” Clara cemberut demi mendengar salah satu nama lelaki yang disebut Rissa. 

"Apa mungkin kekasihnya nggak bekerja disini, kamu sedang dekat sama siapa akhir-akhir ini?" Selidik Clara.

"Boro-boro Ra, aku nggak punya waktu untuk hal seperti itu."

"Benar juga." Clara membenarkan ucapan temannya.

"Sudahlah Riss, kita lanjut saja, salah orang mungkin dia, atau orang stress," ucap Clara lagi, tertawa pelan. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan mereka, bertemu bos besar bernama Nyonya Adella.

...*******...

Dua orang gadis tengah menikmati secangkir kopi di cafe pinggir jalan, wajah mereka tampak berbinar, sesekali tertawa oleh gurauan salah satunya. 

“Makasih ya Ra, aku berjanji akan membalas semua kebaikanmu.” 

“Nggak perlu, lunasin aja tepat waktu," candanya pada gadis di depannya. 

“Tentu saja, aku akan berusaha dengan segenap jiwa ragaku Clara, agar aku tak merepotkanmu lagi,” jawab Rissa dengan senyum mengembang. 

Yah, mereka berhasil mendapat pinjaman uang untuk Rissa, dengan Clara sebagai penjaminnya. Namun, uang itu baru akan Rissa dapatkan dua bulan kedepan. Kini ia hanya akan fokus pada uang terapi adiknya, Nindy. 

“Kamu tahu Ra, dulu ayahku selalu bilang, Clarissa anakku, dunia ini angkuh, dia tak akan melunak. Kamulah yang harus bertambah kuat.”

“Oh iya?” tanya Clara sembari menyantap roti bakar pesanannya. 

Rissa mengangguk pelan, ia tersenyum dan netranya mulai berkaca-kaca, kembali mengingat sang ayah yang telah tiada, cinta pertamanya, satu-satunya hero dalam hidupnya. 

“Saat itu aku masih kecil Ra, aku tak mengerti maksud ayah. Ayah selalu mengumpamakan kekuatan itu dengan seekor macan, beliau sangat suka hewan satu ini,” ucap Rissa tersenyum sebentar lantas kembali melanjutkan ucapannya.

“Ayah bilang macan lah sang raja rimba, bukan singa. Karena ketika dua hewan ini bertarung, maka macan memiliki kekuatan yang jauh lebih baik daripada singa. Meski diseluruh dunia mengenal singa sebagai raja rimba, dan ayah ingin aku menjadi seperti macan, meski dunia tak mengakuiku, tapi aku tetaplah aku. Kuat dengan caraku sendiri," tutur Rissa, menahan isak tangis. 

“Kamu memang kuat Riss, kalau aku jadi kamu mungkin sudah memilih mengakhiri hidup, dari ditinggal ayah, adik kecelakaan, berhenti kuliah, bekerja, dapat atasan gila, dan harus membayar hutang.” Clara menghembuskan nafas kasar

Rissa hanya tersenyum mendapat pujian demikian, menjadi kuat bukan hal yang patut dibanggakan baginya, terkadang ia ingin menjadi lemah, dimanja dan diperhatikan oleh orang lain. Sama seperti saat ada sang ayah disisinya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!