Chapter 6

Dalam sebuah ruangan besar dengan dinding berwarna putih gading tampak dua keluarga yang tengah menikmati hidangan pada sebuah meja makan. Mereka adalah para konglomerat yang tengah melakukan pertemuan untuk membahas perjodohan putra putri mereka. 

Elena Lovania Dalvano, putri tunggal pemilik Dalvano group, seorang wanita cerdas yang serba bisa. Kebanggaan Richard Dalvano ini tak pernah membantah keinginan orang tuanya, ia selalu berusaha menjadi putri terbaik untuk mama dan papanya. 

Namun, tak ada yang tahu, Elena adalah gadis liar saat ia berada jauh dari pantauan sang papa, ia seorang gadis yang memiliki sudut pandang epistemologis. Baginya sebuah keyakinan tidak boleh dibentuk atas dasar otoritas dan tradisi. 

Ia sangat menjunjung tinggi logika dan nalar. Maka dari itu, gadis bermata biru yang mewarisi gen papanya itu tidak mempercayai tradisi pernikahan, membangun keluarga, memiliki anak, sungguh hal yang merepotkan. 

“Elena sangat cantik ya jeng, mirip mamanya,” ucap Amora, istri Baskara Axelle. 

“Terimakasih tante,” jawab gadis bernama Elena. 

“Ah, justru kecantikan putriku ini menurun dari papanya. Mulai dari kulit putih, mata biru dan hidung mancungnya, hanya rambutnya yang mirip saya.” jawab Rebecca terkekeh pelan. 

Aksa mendengus pelan, lantas mengeluarkan suara tawa kecil yang tertahan, mendengar ucapan mama tirinya yang sengaja dibuat-buat, namun berakhir memalukan. 

Wajah Amora merah padam terbakar amarah, beraninya anak kemarin sore mempermalukannya di depan keluarga Dalvano, namun ia tetap berusaha tersenyum pada tuan rumah. Ia lantas memilih diam menyimak pembicaraan antara suami dan calon besannya itu. 

“Bagaimana perkembangan proyek kita di central tower?” tanya Richard pada calon besannya. 

“Seperti yang kita tahu, semuanya berjalan lancar, kamu tak perlu khawatir. Putraku Aksa telah mengurus semuanya dengan baik,” ucapnya seraya memegang pundak putra kebanggaannya. 

Jawaban Baskara membuat Richard tersenyum puas, sudah lama ia tak merasa setenang ini. Beberapa bulan terakhir perusahaannya mengalami keterpurukan, karena bisnis barunya yang gagal. 

Untung saja sahabatnya datang menawarkan bantuan dana. Juga menyarankan untuk bergabung dalam bisnis barunya. Tentu saja hal itu membuatnya merasa harus mensukseskan proyek ini, selagi ada orang yang menyokong dari belakang. 

Namun ternyata, peribahasa ada udang dibalik batu memang benar adanya, Baskara Axelle meminta satu syarat. Yaitu menjodohkan putra putri mereka. 

“Papa, berhentilah berbicara tentang bisnis, ini hari pertemuan dua keluarga, pertemuan calon pengantin juga. Masa iya harus membahas bisnis?” ucap Rebecca kepada suaminya. 

“Ah, iya maafkan om ya nak Aksa.” 

“Tidak apa-apa om,” jawab Aksa mengangguk sopan. 

“Richard, putrimu sangat cantik. Aku yakin putraku akan menyukainya. Benarkan Aksa?” Pertanyaan Baskara hanya mendapat respon senyum dari putranya itu, meski tak bisa dipungkiri Aksa merasa Elena memang sangat cantik malam itu. 

Tubuhnya yang indah berbalut gaun panjang tanpa lengan, dengan bagian leher yang tertutup, dan belahan sebatas lutut kaki. Gaun indah berwarna putih itu membuat tampilan Elena terlihat semakin seksi.

Kulitnya yang putih bersih, berpadu dengan gaun berwarna cerah terlihat semakin menawan, rambut coklatnya yang bergelombang alami dibiarkannya tergerai di atas pundak.

“Elena, sebaiknya kamu mencoba mengenal putra om, dia sedikit susah diatur. Om harap kamu bisa mengatasinya,” ucap Baskara. 

“Baik om, jangan khawatir,” jawab gadis itu dengan senyum mengembang. 

“Ayo sambil dinikmati hidangannya, jangan sungkan-sungkan,” ucap Rebeca pada tamunya. 

Kedua keluarga tampak menikmati makan malam mereka, mencicipi berbagai jenis masakan yang terhidang diatas meja. Hingga perut terasa begah karenanya. Kini sang tuan rumah mengajak keluarga Axelle untuk bersantai di ruang tamu. 

“Putra keduamu kemana nyonya Amoora, kenapa ia tak turut serta berkumpul bersama kita?” 

Pertanyaan Richard membuat ibu tiri Aksa sedikit bingung. Ia melirik pada suaminya. 

“Maaf Richard, putra keduaku sedang tidak enak badan, jadi terpaksa tidak bisa ikut.” jawab sang ayah. 

“Maaf, aku lupa. Tadi putraku menitip salam untuk Anda dan keluarga.” 

“Oh, baiklah. Semoga dia lekas sembuh nyonya Amoora.” Jawab Baskara yang diaminkan oleh Rebecca. 

Kedua pasangan suami istri yang telah berpindah duduk di ruang tamu itu pun kembali saling melemparkan pertanyaan. Membahas tanggal pertunangan kedua anaknya. Yang kini tengah melaksanakan proses pendekatan. 

...*******...

Taman belakang rumah milik keluarga Dalvano terlihat sangat indah, penataannya yang rapi mencerminkan karakter penghuni rumah. 

Elena tengah duduk pada sebuah kursi rotan yang sengaja diletakkan disamping taman, matanya menatap pada buah apel ditangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang sebuah pisau kecil berhiaskan permata biru pada gagangnya. 

Disampingnya berdiri seorang pemuda tampan yang tengah menikmati segelas jus jeruk yang diletakkannya pada tangan kanan. Lelaki itu mencoba mencuri pandang pada paras indah rupawan sang wanita. 

Memang cantik, tapi aku tak boleh lengah. Aku harus membuatnya bertekuk lutut di bawah kekuasaanku. batin lelaki bernama Aksa itu. Ia tengah berpikir bagaimana memulai sebuah percakapan. 

“Aksa Damian. Aku tau semua tentang kamu. Bahkan kebiasaan burukmu bercinta dengan banyak wanita. Kamu yang terburuk.” ucap Elena dengan senyuman sinisnya. 

Damian terkejut mendengar ucapan wanita yang baru beberapa detik lalu terlihat lemah lembut itu. What? gadis ini.

“Sebelum kamu berharap lebih, aku tekankan. Aku tak mau menikah, aku tak mau terikat. Tapi, karena aku tak ingin membuat papaku kecewa, aku akan berpura-pura. Itu artinya, tak akan ada hubungan apapun diantara kita bahkan setelah pernikahan.” 

“Oke, aku juga tak ingin menikah dengan gadis gila sepertimu. Syukurlah kalau pemikiran kita sama.” ucap Aksa, mencoba menutupi harga dirinya yang terluka. 

Dia ingin menolak, bukan ditolak. Dia berencana mengalahkan, bukan dikalahkan. Bagaimana bisa seorang wanita yang terlihat lemah lembut dan ceria, serta sangat penurut di depan orang tuanya, ternyata berubah total saat hanya berdua dengan dirinya. 

“Kita harus menyembunyikan rencana ini, kalau sampai kamu mengacau, aku tak akan segan-segan menghancurkan bagian intimu, agar tak bisa digunakan lagi.”

Ucapnya dingin seraya menodongkan senjata tajam di tangannya ke arah depan celana Aksa. Membuat lelaki itu reflek menutup pusaka andalannya menggunakan tangan kirinya. 

“Baik, kita sepakat. Kita pasangan di depan orang tua kita, dan kita orang asing dibelakang mereka.” jawab Aksa Damian, berusaha tetap terlihat tenang. 

Bagaimana bisa wanita segila ini? kukira wanita ular di rumahku sudah cukup berbisa, ternyata yang satu ini jauh lebih berbisa. 

“Good boy…” ucap Elena, masih dengan senyum sinisnya. Gadis itu melangkah pergi, menuju ruang tamu. Meninggalkan Aksa masih tetap berdiri ditempatnya. 

“Dan, kali ini prediksimu salah besar," ucapnya lirih. Mengingat perkataan Danu Maheswara, sekretarisnya itu beberapa hari yang lalu. 

Aksa Damian segera berjalan mengikuti langkah sang gadis, ia merasa sangat payah, terintimidasi oleh ucapan seorang wanita? Sungguh memalukan, pikirnya. 

“Ma, pa. El sudah mencoba berbincang dengan Aksa, dia orangnya asyik ternyata. El suka.” 

Aksa Damian terhenyak, wanita penipu, sungguh penipu handal. Entah apa tujuan wanita di depannya itu. Aksa hanya tersenyum memandang papanya yang terlihat gembira. 

Terpopuler

Comments

Ismaya

Ismaya

Huhh lama lama benih benih pun tumbuh:)

2024-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!