Chapter 15

Dua bulan kemudian…

Berdiri di depan bangunan kantor di tengah cuaca panas membuat Clarissa tampak memicingkan mata, lamat-lamat dilihatnya dari kejauhan bayangan seorang wanita yang amat dikenalnya. Ia tampak sangat bersemangat, sesekali bersenandung meluapkan rasa bahagia.

“Ra? kenapa kamu? kelihatannya bahagia sekali.” Rissa mengajukan pertanyaan saat wanita itu mulai mendekat. 

Clara yang tampak berbeda dengan polesan make up sedikit lebih tebal dari biasanya, tampak malu-malu. Ia lantas berjalan mendekati Rissa, bersiap-siap hendak membisikkan sesuatu yang amat penting rupanya. 

“Jangan kaget ya, Riss. Sebenarnya aku….astaga!” pekiknya terkejut, lantaran sebuah tangan yang menepuk pundaknya secara tiba-tiba. 

“Apa sih sayang, gitu aja kaget,” ucap seorang lelaki.

“Isa? suara kamu? tunggu, sayang? ada apa ini?” Rissa semakin kebingungan. 

“Maaf Claris, sekarang panggil aku dengan nama lengkapku, Mahesa,” ucapnya penuh penekanan. 

“Dan maaf juga baru bisa kasih tau sekarang. Ehm….sebenarnya kita, jadian. tadaaa….” 

“What? Kalian jadian? sejak kapan?” selidik Rissa. 

Sudah sejak satu minggu yang lalu,” jawab Mahesa seraya meraih pundak clara, memeluknya mesra, membuat sang kekasih tampak salah tingkah. 

“Kok bisa?"

“Rissa ih, ya bisalah orang kita saling cinta. iya nggak beb?” jawab Clara masih dengan sikap malu-malunya. 

Rissa merasa mual melihat pasangan bucin di depannya, bisa-bisanya si Mahesa kemayu mendadak berubah menjadi lelaki normal, batinnya, namun tentu saja itu bagus, sangat bagus malahan. 

“Ya udah, selamat ya. Tapi, untuk sekarang berhenti peluk-peluk. Aku belum terbiasa melihat kalian seperti ini,” tutur Rissa, berjalan memisahkan dua muda mudi yang tengah dimabuk cinta. 

“Iiih Rissa ganggu aja…” reflek Mahesa mendorong tubuh Rissa, gayanya kembali menjadi Isa si lelaki kemayu. 

“Sayang!!” Clara berdecak kesal melihat kekasihnya kembali melupakan peraturan dasar hubungan mereka. 

“Oh, maaf sayang. Reflek, gara-gara Rissa ini. Maaf ya sayang masih belum terbiasa." Sesal Mahesa memohon ampun, melihat kekasihnya yang tengah cemberut. 

Rissa tak bisa menahan tawa menyaksikan kedua sahabatnya itu. Ia lantas membiarkan tawanya berderai mengalun bak melodi sebuah lagu. “Kalian ini, lucu sekali tau," ucapnya lantas kembali tertawa. 

“Udah ah Riss, kita pergi duluan ya. Maaf mulai sekarang kamu pulang sendiri ya.” Mahesa terpaksa meminta temannya sementara tidak mengganggu mereka. 

“Ih, kalian jahat, ya udah pacaran aja, aku nggak bakal ganggu. Asal kita tetap pulang bareng ya.” Rengek gadis bermata coklat itu. 

“Sorry ya Riss, tapi untuk sementara kita butuh privacy, oke?? oh iya jangan lupa besok kita bertemu nyonya Adella. Kamu jangan terlambat, sudah tau kan peraturannya?” 

“Yah, beliau nggak suka orang telat.” 

“Nah, cakep. Besok saja kita pulang bareng, sekarang aku sama ayang beb dulu yah,” ucap Clara, mengedipkan mata genit. 

Pasrah, satu kata yang bisa Rissa lakukan saat ini, membiarkan kedua sahabatnya menikmati masa-masa indah mereka.

...*******...

Kediaman Axelle, H-1 pernikahan.

Aksa Damian Axelle, putra pertama dari pasangan Baskara Axelle dan Diandra larasati, lelaki tampan itu tengah menatap gambar seorang wanita dalam bingkai foto di tangannya. 

“Mama, mama tahu? putra mama akan segera menikah. Harusnya ini menjadi hari bahagia buat Aksa. Namun, entahlah ma, banyak sekali hal yang Aksa pikirkan,” ucapnya lirih pada gambar sang mama. Seolah mamanya masih bisa mendengar keluh kesahnya.

Aksa kini tengah duduk pada sebuah kursi dalam ruang pribadinya, besok malam adalah hari pernikahannya dengan Elena, namun lelaki itu merasa enggan, bayangan seorang wanita yang akhir-akhir ini dihindarinya kembali muncul dalam pikiran.

“Ah, sial. Mana mungkin aku menyukai gadis udik itu,” gumamnya, frustasi. 

Pintu terbuka, Danu muncul dengan wajah tengilnya, ya, hanya Danu lah yang bisa keluar masuk kamar Aksa setiap saat. 

“Hey Dan, ada perlu apa?” tanya Aksa sedikit malas. 

“Haruskah aku punya alasan untuk datang kesini Dam? lagian kenapa dengan wajahmu?” 

“Kenapa?” 

“Bukankah seharusnya kamu bahagia bisa menikahi wanita secantik dan seseksi Elena?” ucap Danu, mengerlingkan mata, menggoda sahabatnya, "lantas kenapa kamu terlihat uring-uringan?” 

“Entahlah, aku suka Elena, tapi sikapnya yang aneh…” Aksa tidak meneruskan ucapannya, memilih merebahkan diri pada sofa panjang di sampingnya. 

“Dan kamu lebih menyukai sikap Rissa, sudah pasti benar tebakanku.” 

Aksa hanya terdiam, membiarkan sahabatnya bermain-main dengan pikirannya sendiri.

“Kamu hanya tak mau mengakuinya Dam," ucapnya lagi, masih dengan tebakannya yang tak bisa disalahkan seratus persen. 

“Sudahlah Dan, jangan lagi membicarakan hal itu, besok aku akan menjadi suami dari Elena, dan setelah itu aku akan memecat Rissa. Sejauh ini gadis udik itu telah membuatku kacau.” 

“Terserah kamu Damian. Pastikan kamu tak akan menyesal. Yang jelas aku hanya akan selalu ada disampingmu. Katakan saja, bila kamu butuh sesuatu.” 

Kesetiaan yang dimiliki lelaki jangkung itu memang tidak perlu diragukan lagi, Ia menganggap Aksa Damian, bukan hanya sebagai atasannya, melainkan saudara mengingat persahabatan mereka sejak dari kecil.

Bunda Danu adalah sahabat mama Laras, mama Aksa, dalam diri bundanya jugalah selama ini Aksa menemukan sosok mama yang sangat dirindukannya, maka sudah sangat wajar apabila mereka menjadi sedekat saudara sedarah. 

Aksa Damian  mendorong pelan tubuh sang sekretaris. “Jangan pernah ulangi ucapan terakhirmu Dan, aku merinding dibuatnya.” 

“Kenapa? aku akan selalu disampingmu Dam, selamanya," goda Danu. 

...*******...

Axelle group, 4 jam sebelum pesta pernikahan.

Di dalam sebuah toilet wanita, tampak seorang gadis tengah sibuk merapikan alat-alat kebersihan, sepertinya ia baru saja selesai membersihkan area toilet itu. 

Suasana sekitarnya terasa lengang, para karyawan telah pulang, mungkin sekarang hanya ada dirinya disana. gadis bernama Clarissa diana itu tiba-tiba merasakan panggilan alam. 

Bergegas diletakkannya sapu dan alat pel ditangan, ia lantas masuk kedalam salah satu bilik toilet. Rissa meraih gawai yang selalu disimpannya di kantong seragam. Jari gadis itu mulai bergerak lincah diatas layar, menyentuh huruf-huruf membentuk kalimat. 

Tak butuh waktu lama balasan chat yang ditunggunya telah tiba, Rissa bergegas membuka chat baru itu, lawan chattingnya diseberang meminta maaf, karena terpaksa harus membiarkannya bertemu nyonya Adella seorang diri. 

Rasa kecewa sudah pasti ada, namun mau bagaimana lagi, Clara mengatakan ibunya tengah sakit, gadis itu harus segera pulang kerumah. Rissa kembali membalas pesan sahabatnya, mengatakan akan datang menjenguk nanti sepulang bertemu nyonya Adella. 

Rissa membersihkan diri,  bersiap untuk menyelesaikan pekerjaannya kembali, dan berangkat ke rumah nyonya Adella. Gadis itu mendengar suara beberapa perempuan yang tengah berbincang, mengatakan kalau malam ini adalah malam pernikahan Aksa, sang ceo. 

Rissa sudah tahu itu, namun ia sengaja tidak peduli. Sudah sekitar satu bulan sang ceo menjaga jarak darinya, entah salah apa dirinya, hingga ceo kejam itu bersikap aneh. 

Namun, setidaknya Rissa bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan kulkas kejam. Suara para wanita telah hilang, sepertinya mereka telah pergi. Rissa hendak membuka pintu toilet, saat mendengar suara gagang sapu yang beradu dengan handle pintu. 

apa itu tadi? batin Rissa. Gadis itu segera mendorong pintu toilet, namun sayangnya pintu terkunci dari luar. 

“Hallo, siapa diluar? apakah ada orang? tolong saya, sepertinya saya terkunci. Haloo…” 

Hening, tak ada satupun suara di sekitarnya, Rissa mulai panik, ia harus segera pergi ke rumah nyonya Adella, gawainya kembali berbunyi, ada satu pesan disana. 

Rissa membuka pesan yang ternyata dari Clara, gadis itu mengingatkan Rissa untuk tidak terlambat, nyonya Adella sangat tidak menyukai orang yang tidak tepat waktu. Bahkan beliau akan sangat tegas menghadapi orang-orang yang telat. 

Rissa hendak mengabarkan bahwa dirinya terkunci dalam toilet, namun rupanya nasib sial masih ingin mempermainkannya, ponsel gadis itu kehabisan daya. 

“Ah, tidak. Tolong jangan sekarang. Ahh..sial!” jeritnya frustasi. 

Rissa kembali menggedor pintu, namun bukannya bantuan yang didapat, seember air mendarat mulus di atas kepalanya. 

Byuuur

“Aaaaah…..” 

Rissa menjerit, ia bisa mendengar suara cekikikan seorang wanita diluar sana. 

“Siapa itu, siapa disana?” 

“Sudah pernah ku ingatkan dirimu wanita gatal. Masih juga tak tahu diri. Rasakan sekarang akibatnya.” Suara seorang wanita di balik pintu. Rissa kembali menggedor pintu, dalam pikiran hanya teringat uang nyonya Adella, ia harus segera pergi. 

“Tolong, tolong maafkan aku. Untuk kali ini saja, tolong bukakan pintu, aku harus segera pergi ke suatu tempat, ini menyangkut nyawa dan masa depan keluargaku. Siapapun itu diluar tolonglah aku," pintanya terdengar putus asa. 

“Aku tak peduli, karna kamu hidupku hancur. Aku juga mau kamu hancur. Apa salahku padamu, kenapa kamu muncul dan mengacaukan segalanya.” 

Isak tangis wanita itu terdengar menyedihkan di telinga Rissa, siapa wanita ini, apa masalahnya denganku? 

“Kamu yakin tidak salah orang? aku bahkan tidak mengenalmu.” 

“Kamu tak perlu mengenalku pelakor, matilah kamu kedinginan disana, sampai besok pagi akan kupastikan tak ada orang yang akan menemukanmu.” 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!