Chapter 3

Clara, gadis dengan rambut pendek itu menjelaskan secara detail apa saja yang harus dikerjakan Rissa setiap harinya. 

"Kamu kebagian tugas membersihkan lantai dua Ris, jadi sekitar jam 06.30 WIB kamu sudah harus datang, pertama buka semua ventilasi udara yang berada dilantai dua. Lantas mulai bersihkan ruangan, seperti meja, lantai, jendela." 

Clarissa menyimak dengan baik instruksi Clara. Ia terlihat mencatat beberapa hal penting yang disampaikan rekannya dalam sebuah buku kecil.

 "Setelah itu, jangan lupa hidupkan ac, dan selalu cek pengharum ruangan, pantri juga. Dan yang terakhir membersihkan toilet." 

"Setelah itu Ra?" 

"Hmmm, kamu bisa istirahat sebentar, dan mulai mengontrol hal hal yang mungkin diperlukan oleh para atasan kita." ucap gadis bernama Clara. 

"Oh iya, hampir lupa. Di lantai dua hanya ada tiga ruangan, selain meja karyawan. Ruang pertama ditempati oleh CEO perusahaan ini, kamu harus sangat berhati-hati saat membersihkan ruang pak Aksa."

"Namanya pak Aksa?" tanya Rissa.

"Ssst, jangan sembarang sebut namanya dengan suara keras." ucapnya dengan wajah terlihat panik.

"Kenapa?" 

"Sini." Clara meminta Rissa untuk mendekat.

"Orangnya galak, beliau nggak kenal ampun pada kesalahan bawahannya. Dan kamu, pendatang baru yang bernasib sedikit sial." ucapnya seraya menepuk pundak Clarissa. 

"Kamu tahu? Riko anak yang baru saja resign. Sebelumnya dialah yang bertugas di lantai dua. Alasan resign nya sudah jelas, pasti tekanan dari kulkas kejam." 

"Hah? kulkas kejam?" Rissa merasa heran dengan nama aneh itu. 

"Ah, pak Aksa dijuluki kulkas kejam oleh semua karyawan di perusahaan ini, sebab selain galak beliau juga sedingin kulkas. Nggak ada hangat-hangatnya."

Clarissa merasa sedikit ngeri, namun ia harus tetap bertahan. Ia yakin hidupnya lebih mengerikan daripada tuan kulkas kejam. 

"Lantas dua ruang lainnya?" ia kembali bertanya pada Clara. 

"Ruang kedua tepat di samping ruang pak Aksa adalah ruang adiknya. Namanya pak Rion, nama lengkapnya Arion Delana Axelle." Clara tersenyum manis saat mengatakan nama yang satu ini. 

"Kenapa kamu Ra?" 

"Perlu kamu tau Ris, pak Rion ini orangnya berbanding terbalik dari kakaknya. Selain tampan beliau juga sangat hangat pada semua orang. Meskipun itu cleaning service seperti kita." Clara menarik nafas dalam.

"Jadi meski nasib sial menimpamu, kamu juga dapat anugrah bisa berjumpa dengan pak Rion sepanjang hari." ucapnya lagi. 

"Oke. Baiklah, lantas ruang satunya?" tanya Rissa, tampak acuh.

"Itu gudang, tempat penyimpanan peralatan tempur kita, dan ini kunci gudang. Setiap pagi ambil kunci ini pada petugas di pintu masuk, pulangnya setelah memastikan menyelesaikan tugas kunci kembali gudang, dan kembalikan kuncinya pada petugas lagi, kamu mengerti?"

Gadis bermata coklat itu mengangguk cepat. Jam dinding menunjukkan pukul 06.50 WIB, Rissa segera berpamitan untuk mulai melaksanakan tugas, kantor akan aktif di jam 08.00 WIB. Masih tersisa sekitar satu jam baginya untuk menyelesaikan tugas pertamanya. 

...******...

Clarissa melirik jam pada pergelangan tangannya, hari ini tugasnya berjalan lancar tanpa hambatan, semoga saja seterusnya seperti itu. Gadis itu baru saja selesai merapikan kursi dan meja karyawan, ia hendak mengembalikan peralatan kebersihan ditangannya. 

Kantor telah sepi, semua karyawan telah pulang, mungkin di lantai dua gedung besar ini hanya ada dirinya. Gadis itu berjalan cepat menuju gudang, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara desahan bersahutan dari balik pintu gudang.

Rissa tahu persis suara apa itu, ia kebingungan, haruskah ia tetap masuk? Atau meninggalkan peralatan kebersihan di depan pintu gudang? Waktu terus berjalan, telinga gadis itu terasa panas.

Suara laknat ini, ah sudahlah. Masa bodoh. Clarissa berlari cepat meninggalkan peralatan kebersihan tergeletak begitu saja di depan pintu gudang, ia berlari bagai dikejar setan. 

Bruk…

“Aw, aduh. Kalau jalan lihat-lihat dong.” Nyalang mata gadis itu menatap lelaki di hadapannya, “tolongin, ayo tolongin.” Lelaki di hadapannya hanya diam, memandang heran gadis itu, membuat Rissa terpaksa berdiri sendiri. 

“Kamu karyawan disini kan? siapa namamu?” ucap Rissa sesaat setelah berhasil berdiri.

“Kamu sudah gila?” Suara bariton itu terdengar menakutkan di telinga Rissa, namun ia mencoba tetap terlihat tenang.

“Kamu lah yang gila, sudah salah nggak minta maaf malah ngatain aku.” 

“Bodoh, kamu yang lari.” Umpat lelaki di depannya, membuat Rissa sadar kalau tadi ia memang tengah berlari ketakutan. 

Gadis itu berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk membantah ucapan lelaki di depannya ini. 

“Justru karena aku berlari dan kamu berjalan, harusnya kamu yang menghindar, bukankan begitu?" jawabnya tak mau kalah.

“Maumu apa? aku sedang tidak dalam kondisi hati yang baik.” 

“Idih, memangnya siapa kamu. Kita sama-sama bekerja disini. Yah bedanya, emang aku cuma cleaning service. Tapi, tanpa adanya orang seperti aku, kamu nggak bakalan nyaman kerja disini.” omel Rissa.

“Terserah kamu.” Lelaki itu lantas pergi meninggalkan Rissa dengan emosinya.

"Dasar, tak punya sopan santun, belajar lagi sana di SD!” Rissa berteriak memandang punggung bidang lelaki itu, menjauh dan hilang dibalik tikungan.

Gadis itu lantas turun ke lantai dasar, disana ia berjumpa dengan Isa dan Clara yang juga hendak pulang. “Bagaimana Claris kerjamu hari ini?”

"Baik Is. Semuanya lancar.” tapi tidak dengan kejadian di depan gudang dan karyawan lelaki tadi, ah... Menyebalkan. Rissa menghela nafas kasar.

“Syukurlah kalau begitu sayangku, oh iya by the way kamu sudah bertemu duo Axelle? Dua putra group Axelle maksudku.” tanya Isa.

Clarissa menggeleng cepat, ia sungguh tak peduli pada para konglomerat itu, ia hanya ingin bekerja dalam damai. 

“Semoga kamu nggak pernah terlibat masalah dengan tuan Aksa Ris, tuan Rion juga.” Kali ini Clara yang berkomentar.

“Kenapa begitu? tuan Rion kan baik Ra.” Isa merasa heran dengan harapan temannya itu. 

“Karena, tuan Rion milikku.” Clara mengakhiri ucapannya dengan derai tawa bahagia.

"Emang dia mau sama kamu Ra.” Mahesa mendorong pelan pundak sahabatnya itu. Ketiganya pun larut dalam canda tawa selepas bekerja.

...*******...

Dua jam yang lalu, di kediaman Axelle. Baskara Axelle tengah duduk didampingi oleh Amora Christabel istrinya.

Wajah Pria tua itu masih menyisakan gurat ketampanan dimasa mudanya, ia mengetuk ngetukkan ujung sepatunya pada lantai marmer, menimbulkan suara yang menggema dalam ruangan. 

“Papa tidak mau tau, kamu harus menikah dengan putri sahabat papa. Ini untuk kebaikan perusahaan kita.” 

“Berapa kali Aksa bilang pa, Aksa menolak menikah. Menikah hanya akan membatasi langkah Aksa.” 

“Membatasi kebiasaanmu bercinta dengan banyak wanita, itukah maksudmu Aksa Damian?” Gertakan sang papa membuat lelaki itu memejamkan mata, semakin emosi.

“Apakah kamu akan menyerah pada perusahaan? dan membiarkan adikmu mengambil alih?” ucap Baskara. 

Mendengar ancaman sang papa membuat Aksa reflek menoleh, rahangnya mengeras, giginya berkertak. Ia tak percaya papanya mengatakan hal itu didepan wanita yang dibencinya. 

“Sayang, sudahlah. Jangan terlalu keras pada Aksa, kasihan dia. Toh, untuk saat ini yang pantas mengelola perusahaan menggantikan kamu hanya Aksa, bukan Rion.” senyum sinis mengakhiri ucapan Amora yang terkesan dibuat-buat. 

“Apa maksud ucapanmu wanita ular?” bentak Aksa seraya melempar kasar ponselnya di atas meja. 

“Aksa Damian, jaga ucapanmu. Dia mamamu.”  

“Mamaku bernama Laras Pa, Diandra larasati. Bukan wanita ular ini, dan selamanya akan tetap begitu. Papa ingat itu.” 

Jawaban menohok dari putranya, mampu membuat sang papa sedikit melunak. 

“Baiklah, baiklah. Kembali pada topik utama kita. Besok malam pulang tepat waktu. Kita sekeluarga akan pergi ke rumah calon mertuamu, papa tidak mau dibantah untuk hal ini.” 

Lelaki tua itu berjalan pelan dalam pelukan istri mudanya, meninggalkan sang pewaris tahta mencerna keadaan sekitarnya.

Keputusan sang papa sepertinya memang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Papanya yang telah lanjut usia ingin segera menyaksikan putra pertamanya menikah dan memiliki cucu. Agar bisa melepas perusahaan pada putra pertamanya itu, dan kelak jika kematian datang ia bisa meninggal dalam tenang. 

Terpopuler

Comments

Ade Diah

Ade Diah

menarik

2023-12-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!