Chapter 8

Axelle Group. 

Clarissa terlihat masih lelah, semalam ia begadang menonton drama favoritnya. Sedikit menyesal, gadis itu berjalan pelan dengan membawa kantong sampah di tangannya. 

Sesekali Clarissa menguap, baru beberapa hari bekerja, seluruh badannya terasa sakit. Membersihkan bangunan seluas lapangan bola sendiri, ditambah harus menuruti keinginan gila sang ceo. 

Usai membuang sampah, ia ingin beristirahat sebentar, gadis itu mencuci tangan, lantas pergi ke ruang khusus cleaning service. 

Baru saja menyandarkan punggung pada kursi, ia mendadak dikagetkan oleh suara chat masuk dari gawainya. Rissa mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celana, ternyata pesan grup yang dibuatnya bersama kedua temannya, mengatakan dirinya dicari pak Aksa. 

“Ishhhh, apa lagi sih? tadi minta kopi, terus minta beli roti. Apalagi sekarang?” Rissa mengomel sendiri. 

Clarissa berjalan sedikit cepat, kulkas tajam benci kata lama. Ia berlari-lari kecil saat hendak memasuki lift. Lagi-lagi dewi keberuntungan berpihak padanya, seorang lelaki menahan pintu lift, menunggu Rissa disana. 

“Terima Kasih,” ucap Rissa, sesaat setelah memasuki lift, pintu lift tertutup. Hanya ada dirinya dan pria di sampingnya. 

“Kamu karyawan baru? sepertinya aku belum pernah melihatmu.” 

“Ah, iya. masih baru beberapa hari,” jawab Rissa sopan. 

“Baiklah, salam kenal Clarissa, semangat ya kerjanya,” ucap lelaki itu melirik name tag yang terletak pada saku depan seragam Rissa.

Pintu lift terbuka, lelaki itu keluar lebih dulu. Berbelok kanan dan menghilang. 

“Siapa dia ya? ganteng,” ucap Rissa tersenyum sendiri, “eh, kok dia tau namaku sih? padahal kan aku nggak bilang nama,” gumamnya. Lirih suaranya beradu dengan suara hentakan sepatunya di atas lantai. 

Rissa baru menyadari kekonyolannya saat melirik pada name tag yang terletak pada saku depan seragam, gadis itu menepuk jidatnya sendiri, tersenyum malu dan bergegas menuju ruangan ceo, mengetuk pintu dan masuk. 

“Kenapa lama sekali hah?”

“Maaf pak, tadi saya di lantai dasar, jadi butuh waktu buat naik kesini,” jawabnya. 

“Alasan saja kamu, ya sudah aku lelah. Cepat pijat, sampai aku tertidur.” 

“Baik pak,” jawab Rissa mulai mendekat, memijat pundak dan tangan sang ceo. Aksa terlihat menikmati pijatan tangan Rissa, gadis itu pandai memijat. 

Pijatan tangannya terasa nikmat, dan memberikan efek mengantuk. Sangat pas untuk dirinya yang tak bisa tidur sejak malam pertunangannya. 

Kembali Aksa mengingat kejadian malam itu. Kenapa dengan gadis gila itu. Sakit? alasannya sih. Tapi, aku tak percaya. Aku yakin ada sesuatu yang menjadi alasan kenapa wajahnya mendadak pucat pasi dan pingsan. 

Aksa Damian tengah berpikir keras, hingga tak sadar tangan gadis di belakangnya telah berhenti lama dalam satu posisi. 

“Hey, manusia udik. Kenapa malah kamu yang tertidur?” Aksa membalikkan kursinya, menyadari gadis di belakangnya tengah terkantuk-kantuk.

Clarissa terkejut, ia kehilangan keseimbangan, jatuh dalam dekap tubuh sang ceo. Rissa melihat alis tebal tapi rapi, bibir tipis tapi memberikan warna cerah di kulit yang pucat, juga hidung mancung yang tak terlalu besar.

“Lepaskan tanganmu gadis udik.” Suara bariton sang ceo membuyarkan lamunannya, sedikit salah tingkah Rissa segera meminta maaf.

Pintu terbuka, menghentikan ucapan maaf yang beruntun dari bibir gadis itu.

“Kamu?” suara lelaki yang muncul dari balik pintu membuat Rissa sedikit terkejut.

"Kalian saling kenal?” tanya Aksa, memandang keduanya secara bergantian. 

“Kami hanya berbincang sebentar di dalam lift, iya kan?” jawab Rion, yang diikuti anggukan kepala Rissa. 

“Oh iya, maaf karena tadi tak memperkenalkan diri dengan baik. Perkenalkan aku Rion, Arion Delana Axelle. Adiknya Aksa.” ucapnya lagi. 

“Ngapain kamu berkenalan begitu sopan dengan cleaning service hah? tak punya kerjaan kamu Rion? Kembalilah ke ruanganmu, kakak sibuk,” ucap sang ceo mengusir adik tirinya. 

“Sibuk apa? Kulihat kakak tengah menganggur," ucapnya, menatap Rissa dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat gadis muda itu merasa tak nyaman diperhatikan secara intens.

"Clarissa, apakah kakakku macam-macam padamu?" Rion kembali bertanya.

“Diamlah Rion!” hardik Aksa. 

“Oke, aku akan kembali ke ruanganku, asal izinkan aku bertanya satu hal,” ucap Rion mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja kakaknya. 

“Apa? cepat katakan!”

“Bagaimana kabar tunangan kakak? Apakah dia sakit?” 

"Apa urusanmu seandainya dia benar sakit ataupun tidak," jawab Aksa setengah hati, menutupi kenyataan bahwa ia tidak tahu kabar Elena lagi semenjak malam pertunangan mereka.

"Bukankah aku harus belajar menjadi adik ipar yang baik dan perhatian kakakku?" kilah Rion, tersenyum simpul.

“Ya, dia memang sakit. Tapi sekarang dia sudah sehat, cukup? kalau iya cepat pergi. Kakak mau istirahat.” 

“Oke, oke. Aku pergi, dan untuk kamu Rissa, bolehkah aku merasakan pijatan tanganmu juga?” Rion tampak tersenyum menggoda. 

“Pergi Rion, sialan kamu.” Aksa melempar bantal sofa. Rion menangkap bantal dan tersenyum puas, berhasil memancing amarah sang kakak.

Ia lantas kembali melempar bantal ke arah Aksa dan berjalan mundur menuju pintu, mengedipkan mata pada Rissa sebelum tubuhnya benar-benar hilang di balik pintu. 

Dari mana pak Rion tahu kalau aku tadi memijat kakaknya? Ah, masa bodoh, Sepertinya mereka berdua tak jauh berbeda, hanya pak Rion sedikit lebih ramah, batin Rissa.

“Gadis udik, Rissa, gadis sialan, kamu tidur lagi?” 

“Ah tidak pak, maaf.” Rissa tersadar dari lamunannya, dan segera kembali memijit pundak sang ceo. 

“Seperti biasa ya gadis udik,” ujar Aksa seraya menutup kedua mata. 

Rissa mendengus pelan, merasa sangat kesal pada tingkah atasannya ini. Selalu meminta pijat sampai ia tertidur lelap, tangan Rissa serasa mau patah dibuatnya. Tubuh kekar sang ceo membuat gerakan pijatnya harus ekstra kuat, kalau tidak tentu saja ceo kejam itu akan protes. 

kau ku minta mengelus? kenapa gerakan tanganmu sama sekali tak bertenaga. Kalau terus seperti ini sekalian saja elus seluruh tubuhku, dan kita akan berpindah tempat ke atas ranjang. 

Rissa mengingat ancaman sang ceo, yang selalu dikatakan padanya saat tangan Rissa mulai melemah, lantaran ia merasa lelah. Dasar ceo mesum, Rissa mengumpat dalam hati.

“Hmm, hmmm. Mau kubawa ke ranjang?”

Nah, benarkan? batin Rissa seraya menguatkan pijatannya pada pundak sang ceo. 

“Good, yah yah benar, ini baru enak," ucap Aksa kembali memejamkan mata. 

...*******...

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB, sudah satu jam lebih ia memijat atasannya ini, tapi sang ceo belum juga tertidur. Rissa mulai merasa lelah, ia menyesal telah begadang semalam. Sejak bekerja gadis itu tak ada waktu untuk menonton drama korea sebagaimana yang sering dilakukannya dulu. 

Sehingga, ia memilih menonton saat malam tiba, namun apesnya semalam ia malah lupa waktu, drama yang menarik membuatnya lupa keadaan. 

Jam segini malah nyantai, pak Aksa niat kerja nggak sih? apa memang seorang ceo itu bebas, bisa santai-santai begini ya? pikir Rissa berkelana. Ia sungguh ingin mempertanyakan hal itu pada lelaki yang tengah menikmati pijatannya itu. 

“Pak Aksa,” panggilnya lirih namun mampu membuat lelaki dihadapannya membuka mata. 

“Hmmm, ada apa?” 

“Maaf pak, boleh tanya?” Rissa tampak takut-takut. Rupanya rasa penasaran mengalahkan rasa takut itu sendiri. 

“Apa?” 

“Bapak nggak kerja? kok selalu santai, dan tertidur dalam kantor.” Hati gadis itu bergemuruh hebat, ia siap menerima amukan sang ceo apabila ternyata pertanyaannya membuat pria temperamental itu tersinggung. 

“Suka-suka aku, ini perusahaan keluargaku, beda denganmu, kalau kamu yang tidak kerja, maka sudah pasti akan kupecat.” 

Rissa mencebikkan bibirnya. Selalu ancaman pecat, ancaman ranjang, apa cuma itu yang bisa dikatakan lelaki ini? batin hatinya.  

“Terus pak, kenapa bapak selalu mengancam saya dengan ajakan naik ke ranjang?” 

Kali ini pertanyaan gadis bermata coklat itu membuat Aksa menegakkan punggungnya, menepis tangan sang petugas kebersihan yang tampak terlihat takut. Aksa berdiri, berpaling ke arah Rissa, mendorong kursi ceo menjauh dari tubuhnya. 

Lelaki itu mendekati gadis yang tampak berjalan mundur, semakin mencoba mengikis jarak diantara keduanya, menampilkan seringai kejam pada bibirnya, membuat Rissa ketakutan. 

“Apakah kamu tak tahu rumor tentangku yang menyebar di luar sana? Kalau aku mau, aku bisa merasakan tubuhmu sekarang juga,” bisik Aksa terdengar sangat sensual di telinga Rissa. 

Terpopuler

Comments

Ais Twin

Ais Twin

Aska bikin emosi aja😡

2023-12-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!