“Clariss, sayangku. Kamu dipanggil pak Aksa, diminta menghadap ke ruangan beliau,” ucap Mahesa dengan bibir dipenuhi remahan roti, ia tengah sarapan tatkala Danu memberinya perintah memanggil Clarissa.
“Aku? ada apa Is?”
“Mana kutahu, palingan juga karena kerjaanmu kurang bersih, versi beliau pastinya,” jawab lelaki kemayu itu.
“Tapi, aku yakin tadi sudah melakukan yang terbaik dari yang kubisa.”
Mahesa membuat gerakan bahu terangkat dengan bibir mencebik serta mata sedikit menyipit.
“Pergilah Rissa, kulkas kejam tak suka menunggu. Saranku, apapun yang diucapkannya teruslah minta maaf. Hanya maaf, kalau kamu masih ingin bekerja disini,” ucap Clara dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ya Ra, Is. Doain nggak terjadi hal buruk.”
Entah kenapa hati Rissa berdetak kencang, ia terlihat gelisah, berjalan dengan menggigit ujung jarinya. Di depan ruang Ceo, gadis itu mengetuk pintu, lantas membukanya perlahan.
Sang Ceo tampak duduk membelakanginya, bukankah ini seperti adegan drama? biasanya setelah ini akan ada ada hal buruk yang terjadi. Apa itu?
Rissa sibuk bermonolog dalam hati, ia menggigit-gigit bibir bawahnya, meremas ujung seragam dengan tangannya, pikirannya tak mampu menebak hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Permisi pak, bapak cari saya?” Sopan santun, senyum manis, suara yang terdengar lemah lembut, gadis itu tampak berusaha keras membangun kesan baik di pertemuan pertama mereka.
Kursi ceo mulai berputar, Rissa membiarkan kepalanya tetap tertunduk, menatap lantai. Ia hanya bisa melihat siluet pergerakan bosnya dari tempatnya berdiri.
“Kamu cari apa di lantai? bukankah bosmu ada di depanmu hah?”
Suara bariton itu? ia mengingat suara itu. Detak jantung Rissa terdengar berlompatan, tentunya hanya ia yang bisa mendengarnya. Rissa menatap wajah sang ceo yang terlihat murka. Mulutnya terbuka membentuk huruf O, nafasnya tersengal bagai lari maraton.
“Kamu mengingatku gadis udik?” Suara rendah sedikit mendayu membuat gadis bermata coklat itu merinding. Mati aku batinnya dalam hati.
Melihat gadis di depannya ketakutan, membuat sang ceo merasa diatas awan, tapi tentu ia belum puas sebelum memberikan pelajaran pada gadis itu.
“Ya, ini aku. Karyawan yang tak memiliki sopan santun, dan harus kembali sekolah SD, bukankah begitu?”
“Tidak pak, bapak ceo Axelle group, sudah pasti bapak orang hebat, siapa yang berani mengatakan hal buruk itu pak?” Rissa membungkukkan badannya dalam-dalam, ingin rasanya ia lenyap saat itu juga, mengingat bagaimana ia mengomeli lelaki itu.
Aksa kembali menyeringai, wanita pembohong, tunggu saja pembalasanku.
“Haruskah aku membantumu mengingat ucapan siapa itu?” kata Aksa.
Rissa melihat sang ceo mulai berjalan mendekat, tatapan mata yang tajam, mengintimidasi lawan bicaranya. Senyum jahat menghiasi bibir, Rissa bergerak mundur saat sang ceo terus saja berusaha memotong jarak diantara mereka.
Rissa merasakan tubuhnya menyentuh benda padat nan dingin, ia telah sampai di batas tembok ruangan. Tubuh sang ceo bergerak maju, bertumpu pada tangan kanan yang sengaja diletakkannya pada dinding samping kanan Rissa.
Dalam jarak sedekat ini gadis bermata coklat itu bisa merasakan deru nafas sang ceo, serta aroma woody musk yang menguar dari tubuhnya. Rissa memejamkan mata, ia merasa terbakar pada wajahnya, detak jantungnya yang terdengar bertalu-talu semakin membuatnya kacau.
“Gadis murahan seperti kamu, selalu memiliki cara yang sama,” bisik Aksa disamping telinga Rissa, membuat gadis itu kembali tersadar, membuka mata dengan ekspresi terkejut.
“Cuih, kamu kira aku bakal tertarik padamu? Kamu butuh berapa duit? bahkan tubuhmu bisa kubeli, katakan berapa hargamu,” hina sang ceo meninggalkan Rissa yang masih tetap berdiri ditempat.
Gadis itu merasa terguncang, ia tak menyangka kulkas kejam memiliki mulut yang kotor, memberinya hukuman pekerjaan lebih disukainya daripada hinaan fisik seperti ini.
“Maaf pak.” Satu kata yang keluar dari bibir Rissa membuat air matanya jatuh berderai, meski ingin mengumpat dan menyumpahi lelaki di hadapannya, namun gadis itu memilih menahan amarahnya. Dirinya, bukan, adiknya Nindy lah yang butuh berobat. Ia tak mau dipecat.
Sejak memutuskan bekerja ia bahkan tak peduli pada jenis pekerjaannya, asal bisa mendapatkan uang, ia rela meski harus meregang nyawa. Hinaan seperti ini, telinganya bisa saja berpura-pura tuli.
“Maafkan saya pak, apapun hukuman dari bapak akan saya terima. Apapun perintah bapak akan saya lakukan. Asal jangan pecat saya pak, saya sangat butuh pekerjaan ini.” Clarissa membiarkan dirinya berlutut memohon pada atasannya itu.
“Haruskah ku maafkan?”
“Tolong saya pak, beri saya perintah apapun itu, tolong pak.”
“Dimana sikap kurang ajarmu kemarin? kenapa kau begitu tak konsisten?” hardik Aksa.
Clarissa merasa terpancing, “Bapak maunya apa sih? saya kurang ajar bapak marah, saya minta maaf bapak mengatakan saya tidak konsisten?”
Runtuh sudah pertahanan hati Rissa, ia merasa sangat kesal pada lelaki di hadapannya itu. Sedikit menyesal namun kepalang basah, apa boleh buat.
“Wow, ini baru Clarissa si gadis sombong.” tawa meledak dari mulut sang ceo, suaranya menggema di setiap sudut ruangan.
Clarissa mengerutkan kening, ia heran dengan sikap aneh sang ceo. Apakah pak Aksa sudah gila? hatinya bertanya-tanya.
...*******...
“Sabar Ris,” ucap gadis berambut bob pendek belah pinggir, ia mengusap punggung temannya yang terlihat menahan emosi.
“Bagaimana bisa sabar coba Ra, udah aneh, kasih hukuman nggak kira-kira. Dasar ceo mesum, kalau saja aku tak butuh dana besar buat pengobatan adikku.”
Mata Rissa mulai mengembun, namun masih ditahannya tangis yang siap luruh kapan saja ia mau, menangis karena lelaki model Aksa Damian, cih, tak sudi.
“Setidaknya wajahnya tampan Claris, tubuhnya juga sangat atletis, dada bidangnya terlihat sangat macho.” Mahesa membayangkan tubuh terawat ceo nya.
“Kalau dipikir-pikir pak Aksa memang terlewat menawan, pak Rion sih masih kalah. Cuma sayang, sikapnya itu loh," ujar Clara.
“Nah akhirnya kamu setuju pemikiranku Ra.” Mahesa melompat dan bertepuk tangan, membuat Rissa semakin kesal dibuatnya.
“Ih kalian apaan sih? perintahnya nggak masuk akal tau, mana ada coba cleaning service merangkap jadi tukang pijat, dikiranya aku gadis apaan coba?”
“Claris, bukankah itu karena kamu bilang akan melakukan apapun? yah ini konsekuensinya. Makanya sebelum ngomong disaring dulu cantik.”
Ucapan Mahesa memang benar, tak dapat dipungkiri oleh Rissa bahwa ini karena ulahnya sendiri. Mau tak mau ia harus melakukan hukumannya, berharap hanya pijat dalam arti sesungguhnya yang akan diminta sang ceo padanya.
“Ris, kamu nggak takut kalau tiba-tiba sesi pijatnya jadi plus-plus?” tanya Clara lirih, namun masih bisa didengar jelas oleh telinga Rissa.
“Amit-amit, amit-amit. Jangan gitu ah.” Rissa bergidik ngeri, mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat sang ceo menghukumnya menjadi tukang pijat.
“Pijat tubuhku sampai aku tertidur.” ucapnya dengan suara yang terdengar menakutkan.
Rissa berjalan pelan mendekati kursi ceo, ia mulai memijat punggung lelaki kejam itu, lantas beralih pada tangan besarnya.
Rissa bisa merasakan otot-otot sang ceo yang kokoh dan keras, dadanya yang bidang memang membuatnya terlihat gagah di matanya. Membuat Rissa tak berhenti curi-curi pandang ke arah tubuh ceo kejam itu.
Rissa tak menyadari bahwa lelaki itu menatap pada pergerakan bola matanya, ia terkejut saat sang ceo menarik tangannya, dan meletakkannya pada dada bidangnya. Seraya berkata “Inikah yang kau mau?”
Rissa menggelengkan kepala cepat, ia tersadar tengah melamun saat Mahesa memanggil namanya berulang-ulang.
“Clariss…Woy lah ini anak, ayo kita ke kantin dulu. Cacing dalam perutku sudah demo minta dikasih makan. Setelah ini jam kerja siang, kita butuh tenaga untuk itu.”
“By the way, aku bakal selamanya sendirian kah bertugas di lantai dua? luas banget loh itu. Belum lagi sekarang ketambahan tugas nyeleneh dari kulkas kejam.” tanya Rissa seraya berdiri mengekor langkah kedua temannya yang berjalan terlebih dahulu menuju kantin.
“Nggak, berdoa saja semoga cepat dapat teman,” jawab Clara, menoleh dan tersenyum.
Rissa merasa sangat beruntung mendapat teman kerja sebaik mereka, meski akhirnya harus mendapat bos gila sebagai gantinya. Beginilah hidup, selalu ada plus minusnya, ia tak bisa serakah, dengan meminta segala hal baik terjadi dalam hidupnya. Mendapat pekerjaan saja sudah untung batinnya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Teteh Lia
per episode nya panjang bgt kak. keren 👍
aq kirim 🌹
2023-11-25
1