Rissa baru saja selesai membersihkan toilet. Pagi ini harusnya ia merasa senang, sebab ibu Susi tadi memperkenalkannya dengan seorang anggota baru yang akan membantunya bertugas di lantai dua. Seorang lelaki muda bernama Bagas.
Namun, keinginan mendapatkan pinjaman sebesar lima puluh juta dalam waktu cepat membuatnya malas untuk sekedar tersenyum, membuat Bagas sedikit sungkan padanya.
“Kak Riss, tugas saya apa lagi kak?” tanya Bagas, sesaat setelah mengecek pengharum ruangan.
“Ehm, pantry sudah?”
“Sudah kak, ruang pak Aksa dan pak Rion juga sudah beres,” ucap Bagas bersemangat.
“Baiklah, kamu bisa istirahat dulu. Biar aku cek dan selesaikan sisanya.”
“Baik kak.”
Clarissa menatap kepergian Bagas, sebenarnya ia sangat bersyukur, karena baru jam tujuh pekerjaannya sudah selesai semua, biasanya kalau ia sendirian hampir selalu tugasnya selesai di jam 8 tepat.
Rissa sengaja menghindari bertemu duo axelle, ia sedang tidak dalam mood baik, apalagi Aksa. Rissa berharap kulkas kejam punya jadwal padat hari ini, agar tidak ada waktu baginya untuk mengganggu Rissa.
Gadis itu telah selesai mengecek hasil kerja rekannya, ia lantas mengistirahatkan diri, duduk di kursi taman. Melihat para karyawan yang mulai berdatangan, memenuhi area kantor.
Sebuah mobil bentley bentayga berhenti tepat di depan matanya, mobil mewah berwarna silver itu tampak berkilat dibawah sinar matahari pagi. Seorang lelaki dengan setelan jas yang terlihat mahal turun dari dalamnya, tampilannya sangat serasi dengan kendaraannya.
Rissa menatap kagum pada mobil dan pemiliknya yang gagah walaupun hanya terlihat dari pundak belakang, sebab posisi lelaki itu membelakanginya.
Kalau dalam drama, ini pasti pangerannya, dan ia gadis miskin yang akan mendapatkan cinta sang pangeran, ah kenapa bermimpi dipagi hari? Batinnya senyum-senyum sendiri.
“Hey, gadis udik. Ikut keruanganku.”
Clarissa sedikit terhenyak, lamunannya tentang drama pangeran pun sirna sudah, pecah berkeping-keping menjadi serpihan kecil yang menyakiti hatinya.
Gadis itu terpaksa menyeret langkah kakinya yang tiba-tiba terasa berat, ia sedang tidak ingin berurusan dengan kulkas kejam di hadapannya ini, setidaknya, untuk hari ini saja.
“Gadis udik kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya sang ceo sesaat setelah keduanya masuk ke dalam ruang kerja sang bos.
Rissa menggeleng pelan, “tidak pak.”
“Kamu memang lamban, otakmu tidak bisa diharapkan. Berapa IQ mu? pantas saja kalau kamu hanya mampu menjadi cleaning service di perusahaan ini," hinanya.
Rissa merasakan serpihan kaca yang semakin melesak menusuk jantungnya, sakit dan marah secara bersamaan. Netranya mulai berkaca-kaca, menyerukan apa yang terpendam dalam lubuk hatinya.
“Apa maksud bapak? tidak bisakah langsung mengatakan kesalahan saya tanpa harus menghina dan menyakiti? saya lelah pak kalau terus begini. Saya punya bat…”
Clarissa belum sempat menyelesaikan ucapannya, saat sebuah tangan kokoh mendorong tubuhnya hingga menabrak lemari buku, membuat beberapa buku yang berukuran lumayan besar jatuh berserakan ke lantai, bahkan beberapa ada yang menimpa kepalanya.
“Siapa kamu berani membantahku hah?? Aku Aksa Damian, pewaris Axelle group, membenci orang-orang yang meremehkanku,” gertak sang ceo dipenuhi amarah.
Rissa menyadari perbuatannya, harusnya ia bisa lebih bersabar, ia tidak ingin dipecat, nasib adik dan ibunya, juga hutang ayahnya berada di atas pundaknya sekarang.
Gadis itu berlutut di depan kaki sang ceo, meminta ampunan. “Maafkan saya pak, maaf, maaf. tolong, beri saya satu kesempatan lagi. Maafkan kebodohan saya pak, saya akan melakukan apapun agar bapak mau memaafkan saya.”
“Kenapa kamu kemarin pergi saat menjalankan hukuman dariku? kamu tidak menghargaiku gadis udik?”
Akhirnya Clarissa mengetahui alasan dibalik kemarahan sang ceo. “Maafkan saya pak, kemarin saya pingsan. Dan saya ditolong pak Rion.”
“Apa kamu bilang? Rion?” ucap Aksa menjambak rambut Rissa. Membuat gadis itu mengiba minta dilepaskan.
“Lepaskan pak, sakit, saya mohon pak. Saya minta maaf.” ucapnya berlinang air mata.
Entah kenapa, mendengar nama Rion menyelamatkan gadis itu membuat Aksa menggila. Apakah memang ucapan Danu sahabatnya kemarin adalah kenyataan? Bahwa dia tertarik pada Rissa, dan kini ia tengah cemburu?
“Sialan,” umpat Aksa melepas kasar tangannya, berdiri, lantas memejamkan mata sejenak, “Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Cepat pergi!!” bentaknya membuat Rissa bergegas meninggalkan ruangan.
Clarissa meninggalkan ruangan sang ceo dengan keadaan kacau, rambutnya berantakan, juga mata yang menghitam karena riasan wajah yang luntur sebab menangis.
Clarissa melewati ruangan Rion, ia mengingat kembali ketika Aksa semakin murka saat dirinya menyebut nama Rion telah menolongnya. Kenapa? ada apa dengan pak Rion.
Pintu ruang kerja Rion terbuka, membuat Rissa segera menundukkan kepala, berjalan cepat menghindari lelaki yang muncul dari balik pintu.
“Riss, kenapa kamu?”
Rissa merasakan tangan hangat Rion melingkar pada pergelangan tangannya, hatinya yang terlanjur sakit tak mampu berpura-pura kuat saat mengetahui ada seseorang yang memperdulikannya.
Bahu gadis itu bergetar hebat, menahan tangis yang tetap saja luruh berderai, bersamaan dengan kakinya yang melemah tak mampu menopang berat tubuhnya.
Rissa terduduk, memeluk lutut dan menangis, melihat hal itu Rion segera mengangkat pundak Rissa, membawa tubuh Rissa berada dalam pelukannya, mencoba menenangkan.
Tanpa disadari keduanya, sepasang mata dengan kilatan amarah memandang mereka penuh kebencian. Sepertinya akan ada hal besar yang terjadi setelah ini.
...*******...
Rissa menyesali keputusannya sendiri, emosi sesaat membawanya kembali duduk diatas sofa hitam yang sama dengan kemarin, kini ia merasa bingung harus melakukan apa.
Rion tampak sibuk di depan layar laptopnya, ia meminta Rissa untuk menenangkan diri sejenak dalam ruang kerjanya.
Rissa mengakui dalam hati bahwa Rion sama tampannya dengan Aksa. Namun kepribadian dua lelaki itu sangat berbeda. Rion yang sangat baik hati, dan peduli terhadap orang-orang disekitarnya, sedangkan Aksa? Ia bahkan baru saja dianiaya oleh lelaki itu.
Rissa berpikir, andaikan ia berani meminjam uang pada Rion, akankah lelaki itu akan menolongnya?
Rion menatap Rissa, mata keduanya beradu pandang sejenak. Namun, sesegera mungkin Rissa mengalihkan pandangannya.
“Ada yang ingin kamu bicarakan Riss?”
“Ah, tidak pak,” jawab Rissa berbohong, mana mungkin ia akan berani meminjam uang kepada lelaki ini.
Rissa mengenyahkan ide meminjam uang pada Rion, ia lantas kembali berpikir keras, mencari-cari seseorang yang mungkin bisa membantunya.
“Riss, apakah kamu tidak ingin memberitahuku apa yang terjadi padamu tadi?”
Pertanyaan Rion mengejutkan Rissa, ia segera membenarkan posisi duduknya, tersenyum menatap Rion yang berjalan mendekat, lantas mengambil posisi duduk di sofa seberang meja.
“Ehm, bukan apa-apa pak. Hanya sedikit masalah keluarga.” Bohongnya tak ingin Rion mengetahui kebenaran yang dialaminya.
“Kamu yakin? bukan karena dihukum kakakku lagi?”
“Ah, bukan pak. Bukan karena pak Aksa.”
Mendengar Rion mengatakan hukuman dari Aksa, membuat Rissa tiba-tiba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Akankah pak Aksa marah lagi kalau tau pak Rion kembali menolongku?
“Pak Rion, saya boleh minta tolong?” pinta Rissa.
“Apapun itu, katakanlah. Aku akan berusaha menolongmu.”
Rissa tersenyum lega mendengar jawaban adik ceo nya, ia lantas menarik nafas panjang, mengatur detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.
“Bisakah bapak menyembunyikan fakta bahwa saya ada disini?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ais Twin
Benar-benar si Aksa 😡 minta di 👊👊
2023-12-04
1