Chapter 19

Gadis muda itu tampak cantik dengan gaun keduanya, gaun tanpa lengan dengan rok puff panjang, bordir indah pada bagian pinggang menambah kesan manis pada pemakainya. 

Gaun berwarna solid itu memiliki garis leher berbentuk v dalam, membuat leher gadis itu terlihat lebih jenjang. 

Rissa berjalan dengan diapit Meyran di samping kiri, dan Rebecca sang mama disebelah kanannya. Sedangkan Richard berjalan lebih dulu di depannya. 

Rissa menggigit bibir, ia sedikit grogi, melihat banyaknya tamu undangan yang menatap kagum padanya. Tidak, lebih tepatnya menatap kecantikan Elena. 

“El, tante akan menemanimu sepanjang acara, kalau ada yang kamu bingung bilang tante," kata Meyran, berbisik di telinga Elena. Sedangkan mama dan papanya berpamitan akan menemui para tamu undangan.

Rissa mengangguk setuju, dalam hatinya berusaha terus meyakini bahwa saat ini ia tengah berperan menjadi Elena, putri seorang kaya raya yang hendak menikah. 

Rissa melihat seorang lelaki yang tampak tak asing di matanya, lelaki itu berdiri bersama beberapa orang. Pak Danu? sedang apa dia disini? pikirnya, merasa heran, ia melihat Danu tersenyum padanya, tampak begitu tampan dimata Rissa. 

“El, tante akan membawamu pada suamimu," ucap Meyran, menyadarkan lamunannya tentang ketampanan Danu. 

Rissa berjalan pelan, mendekati sekelompok lelaki yang tengah berbincang santai dengan segelas cocktail di tangan. 

“Wah, menantuku sudah datang. Sini nak mendekatlah. Kami semua menunggumu," ucap seorang lelaki yang Rissa yakini sebagai mertua Elena.

Rissa mengangguk pelan, berusaha menyapa dengan sopan beberapa orang yang berdiri di depannya. 

“Aksa, kemarilah. Istrimu ada disini.” Baskara memanggil putranya dengan lantang, mendengar itu membuat jantung Rissa seakan berhenti berdetak. 

“Apa? Aksa?” lirihnya langsung mendapat remasan pelan pada lengan oleh Meyran. 

“Diamlah El, jangan bikin bibi terkena masalah ya,” bisik Meyran, tersenyum kaku. 

Rissa melihat sang ceo berjalan mendekat, seperti biasa lelaki itu memang tampan, namun malam ini ia jauh terlihat tampan, Rissa tak bisa membohongi dirinya sendiri. 

Aah, benar. Pak Rion pernah bertanya tentang tunangan kakaknya. Jadi aku tersesat ke dalam tubuh istri pak Aksa? Apa-apaan ini? 

“Hai sayang, aku menunggumu dari tadi. Kamu nggak apa-apa kan?” ucap Aksa, tangannya merangkul pinggang Rissa. 

Rissa hanya mengangguk pelan, ia terlalu syok menghadapi kenyataan ini. “Tapi kamu pucat Elena.” 

“Ah, saya tidak apa-apa,” jawab Rissa canggung. 

“Smile baby…” desis Aksa di telinga Rissa, hembusan nafas sang ceo menyapu lembut lehernya, Rissa merasa bagai tersengat listrik aliran rendah. Selalu begitu, kalau Aksa tengah menggodanya, sebagaimana yang dilakukan sang ceo selama ini.

“Ini menantuku Gilbran, bukankah dia cantik?” Baskara terus memamerkan menantunya. Ia terlihat sangat bahagia malam itu. 

“Iya, menantumu sangat cantik, sangat cocok untuk putramu yang juga tampan,” jawab lelaki paruh baya bernama Gilbran itu. 

“Papa, kami permisi dulu ya, kami harus menyapa tamu yang lain,” pamit Aksa, menggandeng lengan Rissa. Keduanya pun berjalan meninggalkan Baskara sesaat setelah sang papa mengangguk memberi izin. 

Meyran mengekor di belakang keponakannya, ia tampak sedikit canggung. Tak ingin terlihat menonjol, sang bibi berusaha bersikap senatural mungkin. 

Setelah berputar beberapa kali, dan berkenalan dengan banyak orang, Aksa mengajak Rissa untuk duduk di salah satu kursi. Rissa merasakan nyeri di kakinya, ia memijat pelan pada betis.

Pikiran gadis itu tengah berkelana, mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapinya kini. 

“Elena, perkenalkan ini sahabatku, Danu," ucap Aksa, disampingnya telah berdiri Danu maheswara sang sekretaris. 

Rissa segera berdiri, menyambut uluran tangan Danu, jelas ia sangat tahu lelaki satu ini, orang kepercayaan Aksa. 

“Hai, kenalkan aku Danu maheswara. Sekretaris Damian, juga sahabat masa kecilnya.” 

“Ah, iya salam kenal,” jawab Rissa.

“Kalau kamu punya keluhan tentang Damian, boleh hubungi aku. Dengan senang hati aku akan membantumu. Dia…agak sedikit sulit untuk dijinakkan,” kelakarnya mencoba menghangatkan suasana. 

Rissa sudah sangat tahu itu, seorang Aksa damian dengan sifat aslinya. Benar-benar menjengkelkan. 

“Apa maksudmu Dan? kamu kira aku hewan harus dijinakkan?” tegur Aksa, Rissa tersenyum melihat kedua lelaki dihadapannya tengah bercanda.

“Kamu tersenyum El? wow, ku harap kita bisa rukun Elena,” imbuh Danu lagi. 

Rissa hanya mengangguk, tersenyum simpul. Danu memberikan segelas cocktail pada Rissa, menawarkan gadis itu untuk minum meski sedikit. 

“Minumlah, non alkohol, khusus untukmu,” ucapnya. Rissa menerima gelas dari tangan Danu, ia merasa tak nyaman karena Aksa terus menatapnya. 

“Dan, kenapa tadi kamu telat?” pertanyaan Aksa membuat Danu tersedak. Ia terbatuk-batuk, mengambil tisu diatas meja, dan mengelap ujung bibirnya.

“Kenapa kamu?” 

Danu menggeleng pelan. “Aku tadi mampir ke kantor. Ada yang tertinggal.” 

Mendengar kata kantor membuat Rissa tersadar, kalau dirinya terbangun pada tubuh Elena, lantas bagaimana dengan tubuhnya sendiri disana? Bukankah tadi ia sedang di toilet? 

Rissa mencari-cari Meyran, ia mendapati wanita itu tengah menikmati segelas cocktail, duduk tak jauh dari tempatnya berada. 

“Bibi,” panggil Rissa. Ia merasa semakin mahir memerankan sosok Elena. Memanggil sang bibi tanpa rasa canggung. 

“Whay?” Gerakan bibir Meyran tertangkap mata Rissa, wanita itu berbicara tanpa suara. 

“Kemarilah,” jawab Rissa melambai-lambaikan tangan didepan wajah. Meyran berjalan mendekat, menyapa Danu dan Aksa, lantas duduk didekat Rissa. 

Suara musik terus mengalun tanpa jeda, hal ini sedikit menguntungkan Rissa karena suara lirihnya jelas tak akan terdengar oleh Aksa dan Danu yang tampak tengah bercengkrama. 

“Bi, boleh pinjam ponsel?”

“Ponselmu mana El?” tanya Meyran, merasa enggan. 

“Entahlah bi, mungkin tertinggal di kamar,” jawab Rissa asal. Ia jelas tidak tahu dimana dan bagaimana rupa ponsel Elena. 

“Buat apa?” pertanyaan penuh selidik sang bibi membuat Rissa sedikit kesal. Bibi Elena masih terlihat muda, mungkin hanya berpaut beberapa tahun diatasnya. 

“Telpon bi, sebentar saja. ya?” pinta Rissa lagi. “Teman bi.” 

“Oke, tapi jangan buka yang lain ya El,” ucap Meyran, bukan tanpa alasan ia merasa berat meminjamkan ponselnya, karena Elena yang asli memang suka menjahilinya. Hubungan keponakan dan bibi yang satu ini memang terlewat dekat. Mereka berdua bagaikan sahabat. 

“Sejak kapan kamu punya teman El? selama ini kamu selalu mengekorku kemana-mana,” sindir Meyran yang hanya mendapat lirikan tajam dari Rissa. 

Meyran menyadari Elena sedikit berubah, mungkinkah amnesia juga bisa merubah karakter seseorang? batinnya. Namun mendapat lirikan tajam membuatnya memutuskan diam, dan kembali ketempat duduk semula. 

“Kalau sudah panggil aja bibi,” katanya, seraya berlalu. 

Rissa mencoba mengingat nomor telepon Clara, hanya gadis itu yang ia pikirkan saat ini, hanya Clara lah yang mungkin akan mempercayainya. 

Setelah beberapa kali mencoba, ia merasa lega karena mendengar suara temannya dari ponsel dalam genggaman, Rissa berdiri dan berjalan sedikit menjauh. Mengaktifkan mode speakerphone.  

Hallo, siapa ini?  suara nyaring seorang wanita terdengar dari ponsel. 

“Ra, ini aku, Rissa.” 

Rissa? kenapa dengan suaramu? terdengar berbeda. Dan ini nomor siapa? 

Rissa mematikan fungsi speaker ponsel. “ Ra, dengarkan baik-baik. Aku butuh bantuanmu. Datanglah ke….hotel Ambassador, sekarang juga. Tunggu aku di lobby, aku akan menemuimu,” ucap Rissa setelah melihat tulisan nama hotel pada alas meja disampingnya.

“Sekarang Riss? ibuku baru saja tertidur," jawab Clara. 

“Tolong Ra, aku sedang dalam kesulitan, hanya kamu yang bisa menolongku," mohon Rissa. 

“Baik, aku akan berangkat, tunggu ya."

“Oke Ra, aku tunggu, nanti kamu kirim pesan saja ke nomer ini, katakan kamu sudah datang, jangan sebut namaku. Oke?” tutur Rissa. 

“Kenapa Riss? kamu diculik?” 

“Nanti saja aku jelaskan Ra, cepatlah datang, sampai ketemu nanti.” 

Rissa mematikan sambungan telepon, ia tidak ingin temannya ini akan semakin banyak bertanya. Biarlah nanti akan ia ceritakan detailnya kalau mereka telah berjumpa, meski Rissa tidak yakin, akankah Clara dapat mengenalinya dalam tubuh Elena?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!