Seorang lelaki muda berjalan cepat di sebuah bangunan kantor, tangan kanannya menggenggam benda pipih berwarna hitam, menggeser layar dan melakukan sebuah panggilan.
Suara seorang lelaki terdengar dari benda di tangannya. “Segera ke kantor,” ucapnya pada lelaki di seberang.
Lelaki muda itu mematikan panggilan, memasukkan benda pipih di tangannya pada kantong kemeja. Berjalan tergesa dengan amarah yang membuncah dalam dada.
Bruk…
Seorang wanita muda berseragam cleaning service jatuh di depan kakinya, tikungan jalan tempatnya berdiri jelas menghalangi pandangan keduanya. Namun, deru nafas wanita itu terdengar memburu.
“Aw, aduh. Kalau jalan lihat-lihat dong.”
Apa? siapa wanita rendahan yang berani membentakku ini. Tak tahukah dia siapa aku? batin lelaki itu.
Wanita itu terus berbicara tanpa henti, membantah semua perkataan lelaki di hadapannya. Sungguh sial, benar-benar hari yang melelahkan, lelaki itu sedang tak ingin berdebat dengan siapapun itu.
“Terserah.” ucapnya berlalu dari hadapan wanita yang masih terus mengomel. Mungkin besok atau lusa kalau suasana hatinya telah membaik ia akan memberi pelajaran pada cleaning service sok tahu itu.
Aksa Damian Axelle, memasuki ruang kerjanya. Seharian ia bekerja di luar, kemudian langsung pulang ke rumah karena panggilan papanya.
Namun siapa sangka sang papa malah seenaknya hendak menjodohkannya dengan putri rekan bisnis. Apa itu perjodohan? kenapa papa menjadi sangat kolot? Hatinya tak mampu berdusta, Aksa membenci pernikahan. Ia memilih menghempaskan badannya di atas sofa ruang kerjanya, merasa sangat lelah.
Pintu diketuk dari luar, seorang lelaki muda masuk dan tersenyum. “Damian, kenapa kau terlihat kacau?”ucap lelaki yang ikut duduk di sampingnya.
“Ck, sial. Papa mulai berulah. Persis seperti dugaanmu Dan.”
Danu Maheswara, lelaki muda tampan, sahabat juga sekretaris Aksa Damian terkekeh mendengar ucapan sahabatnya.
“Apa kubilang, prediksiku tak pernah melenceng.” ucapnya bangga pada pemikiran jitunya. Beberapa hari lalu lelaki itu memang melihat papa sahabatnya tengah berdiskusi penting dengan pemilik Dalvano Group.
Melihat ekspresi kedua lelaki itu, ia tahu, perbincangan mereka kali ini bukan membahas bisnis seperti biasa, apalagi dari apa yang ia dengar ada nama Aksa juga Elena disebutkan.
“Ini, aku sudah mencari tahu tentang wanita yang akan menjadi istrimu. Dia cantik Dam.” senyum simpul menghiasi bibir Danu saat memberikan tablet yang menampilkan gambar seorang wanita tengah tersenyum menatap kamera.
“Namanya Elena, Elena Lovania Dalvano. Putri tunggal keluarga Dalvano. Dia lulusan Harvard university, dia bukan gadis biasa. Dia putri kebanggaan Richard Dalvano.”
“Halah, paling juga gadis manja.” cibir Aksa. Dengan malas diambilnya tablet yang tergeletak diatas meja kerjanya. Kesan pertama yang ia lihat dari gambar itu adalah SEKSI.
“Jangan salah, dia tipemu Dam, very very hot and sexy.” Danu mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara yang terdengar serak.
Aksa mencoba menatap dua gambar di dalam layar tablet. Satu gambar menampilkan wajah cantik Elena, lelaki itu tak bisa memungkiri bahwa gadis bernama Elena memang sangat menawan.
Diusapnya layar tablet ditangannya, kali ini menampilkan gambar seorang wanita yang duduk di kursi tepi pantai. Hanya memakai bikini warna hitam, sangat kontras dengan warna kulit seputih salju.
“Ooow, boleh juga. Setidaknya dia memang seksi Dan. Meski aku tak suka dengan yang namanya pernikahan. Hanya membuatku terikat, tak bisa sebebas sekarang.”
“Saranku Dam, katakan pada Elena, bahwa pernikahan kalian hanya sebatas bisnis. Jangan berharap lebih.” Danu mulai memberikan ide gila.
“Wanita baik-baik seperti Elena pasti akan mendambakan sebuah keluarga cemara, dan itu sama sekali bukan watakmu kawan.” ucapnya lagi.
“Dari mana kamu tau Elena gadis baik-baik Dan?”
“Oh ayolah Dam, bukankah sudah kubilang, ia putri kesayangan Richard Dalvano, wanita ini tak pernah membuat ayahnya kecewa, bahkan sekalipun tak pernah. Ia dikenal sebagai calon menantu idaman di kalangan papan atas. Banyak yang berlomba memilikinya.” jelas sang sekretaris terlalu bersemangat.
“Dan, kamu yang memenangkannya. Tapi, jangan biarkan dia mengalahkanmu. Jadilah lebih dominan. Dalvano group adalah perusahaan besar, bayangkan keuntungan yang akan kita capai kalau seorang Elena bertekuk lutut di bawah kendalimu.”
Senyum smirk tercetak pada bibir sang CEO, Aksa Damian Axelle kini memiliki ide gila di kepalanya, dan semua itu atas saran sekretaris sekaligus sahabat masa kecilnya itu.
“Ah, hampir lupa. Coba kamu cek siapa petugas kebersihan yang bertanggung jawab untuk kantorku?” tanya sang CEO
“Kenapa?”
“Sudah cek aja. aku harus membuat perhitungan dengan gadis gila itu.”
Danu, sang sekretaris mengambil tablet dari tangan Aksa, ia lantas mengecek daftar nama cleaning service. Ada satu nama bertuliskan petugas baru, seorang wanita berkulit sawo matang dengan rambut lurus sebahu.
“Clarissa Diana. Sepertinya dia baru masuk tadi pagi, menggantikan Riko yang selalu salah di matamu.l,” jawab sekretaris yang mulai jengkel karena sikap berlebihan tuannya menyangkut kebersihan.
Yah, Aksa Damian. Memiliki obsesi berlebih pada kebersihan. Pengalaman buruk yang menimpanya dimasa lalu adalah penyebabnya.
“Pergilah ke dokter, coba konsultasikan keadaanmu.”
“Kau kira aku gila? aku sehat, hanya tak menyukai kotor. Para cleaning service sialan itu tak ada yang becus dalam bekerja. Wajar kalau aku memarahinya.”
“Tapi kamu keterlaluan Dam. Kali ini ada apa dengan Clarissa si petugas baru?” tanya sang sekretaris, menghela nafas kasar, lelah menasehati sahabatnya itu.
“Panggil dia keruanganku besok pagi, dia telah melakukan kesalahan besar.”
Menghela nafas seraya mengangguk pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan sang sekretaris.
...*******...
Pagi ini adalah hari kedua Clarissa bekerja di perusahaan Axelle Group. Gadis itu tampak cantik dengan kemeja ruffle berwarna cream yang dipadukan dengan celana panjang berwarna coklat.
Masih dengan rambut lurusnya yang tergerai indah, Rissa berjalan ceria menyapa satpam yang telah lebih dulu datang. Ia sengaja datang lebih pagi, agar bisa segera menyelesaikan tugasnya sebelum para karyawan datang.
Rissa telah sampai di lantai dua, ia bergegas mengganti bajunya dengan seragam kerja, kemudian mengambil peralatan kebersihan yang kemarin diletakkannya sembarang.
“Hmm? siapa yang bawa masuk ya? ah, pasangan menjijikkan itukah?”
Gadis itu kembali mengingat suara dalam gudang, ia sangat memahami hal itu, hobinya menonton drama memberinya pengetahuan tentang sisi gelap para karyawan di kantor, menjalin asmara hingga melakukan perbuatan tercela.
“Amit-amit, tuhan.. jagalah diriku dari melakukan hal buruk. Amin,” ucapnya lirih.
Rissa segera memulai kegiatannya, ia tampak bersemangat. Membuka jendela, membiarkan udara di dalam ruangan berganti. Merapikan meja, menyapu lantai, mengepel, mengecek pengharum ruangan dan lain sebagainya.
Tak lupa saat membersihkan ruang kerja CEO, ia melakukannya dengan segenap jiwa raga, mengingat kabar burung yang didengarnya tentang temperamen buruk atasannya itu.
Rissa melihat bingkai foto di atas meja, gambar seorang wanita cantik berkulit putih tengah tersenyum bersama anak lelaki berusia sekitar lima tahun yang berada di pangkuannya.
Apakah ini istri dan anaknya pak CEO? Cantik sekali, anaknya juga tampan.
Pintu terbuka, Rissa sangat terkejut saat melihat seorang lelaki muncul dari balik pintu, tersenyum menatapnya.
“Kamu petugas baru?” ucap lelaki itu.
“Iya pak, maaf saya baru saja selesai membersihkan ruang bapak.”
“Aaah, kamu mengira saya pak Aksa? bukan. Saya sekretarisnya. Siapa namamu?”
“Oh, nama saya Clarissa pak.” jawab Rissa tersenyum malu.
“Baik Rissa, silahkan kembali bekerja.”
Danu mempersilahkan gadis di depannya untuk pergi meninggalkan ruang CEO. Gadis itu mengangguk lantas bergegas keluar ruangan.
“Sekretarisnya bening sekali. Makin betah nih aku kerja disini," ucap Rissa lirih meninggalkan ruang ceo jauh di belakangnya. Tugasnya belum selesai, masih ada kamar mandi yang harus segera dibersihkan.
Gadis itu melirik arloji pada pergelangan tangannya. “Tepat sekali, masih tersisa banyak waktu sampai para karyawan tiba.” ucapnya pada diri sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments