“Aku akan menawarkan….diriku,” ucap Rissa.
Entah dari mana ide gila itu ia dapatkan. Ia hanya berpikir bukankah ketika seseorang terjepit, menjadi gila bisa dijadikan salah satu alternatif terbaik?
Suara tawa kembali terdengar memekakkan telinga, bagai peribahasa terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Gadis itu tak mampu lagi untuk mundur, ia harus menghadapi kenyataan di depannya.
“Kau menawarkan tubuhmu? ternyata kau sangat murahan gadis cantik. Baiklah, aku menyukainya. Dua bulan, jangan pernah ingkar jika tak ingin anak buahku merasakan keindahan tubuhmu itu.”
Rissa menelan ludah, sedikit terintimidasi oleh ucapan bos rentenir itu. Ia lantas mengangguk, menyetujui kesepakatan mereka. Sang bos menggerakkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Rissa pergi dari hadapannya.
Si Botak berjalan cepat, menundukkan kembali kepala botaknya, lantas menyeret Rissa keluar ruangan, kembali menuruni anak tangga, dan diusir tepat di depan gudang.
“Pergilah sendiri, kami tak akan mengantarmu,” ucap lelaki botak itu.
“Ehm…maaf ini jalan besarnya dimana ya?” tanya Rissa karena sejauh mata memandang ia hanya melihat ladang kosong dipenuhi rumput ilalang.
“Jalan saja lurus ke kanan, kamu akan menemukan jalan besar disana," jawabnya seraya kembali memasuki gudang.
Rissa terpaksa berjalan sendiri, ada rasa lega dihatinya, setidaknya masih ada waktu dua bulan sebelum kembali menemui mereka, kini ia sangat berharap semoga nyonya Adella akan menepati janjinya.
Benar saja, gadis bermata coklat itu melihat banyak mobil berlalu lalang di depannya, ia ingin mencari angkutan umum, namun sayangnya Rissa lupa tidak membawa dompet. Hanya ponsel yang selalu ia letakkan dalam saku jaketnya.
“Aah, sial,” desisnya putus asa. Haruskah aku berjalan kaki lagi? bahkan sekarang aja aku nggak tau sedang ada didaerah mana.
Rissa merasa sedikit gerah, hari telah beranjak siang, perutnya juga terasa melilit, ia tadi belum sempat sarapan saat para rentenir datang ke rumahnya. Lengkap sudah rasanya penderitaan yang ia alami.
Gadis itu melepas jaketnya, menyisakan crop tee berwarna ungu muda. Terlihat sangat serasi dengan celana jeans yang dipakainya, ia lantas mengikat rambutnya sedikit ke atas membentuk kuncir kuda.
Rissa siap berjalan, hingga suara dering gawai mengejutkannya. “Aduh mak, bikin kaget aja. Nomor siapa ini?” ucapnya lirih saat melihat nomor baru berada dalam panggilannya.
“Hallo, Clarissa.” Suara lelaki di seberang.
“Iya, siapa ini?”
“Rion, kamu dimana Riss?”
“Pak Rion? saya ah, dimana ya ini,” ucapnya bingung.
“Apa kamu tengah memakai kaos berwarna ungu dan membawa jaket ditangan?” tanya Rion
“Kok bapak tau?” Rissa mencoba melihat sekeliling, memastikan apakah bosnya berada disana.
“Kalau begitu benar dugaan ku, tunggu disitu, aku akan mendatangimu.”
Panggilan dimatikan, Rissa merasa sedikit lega, tak jadi pulang berjalan kaki, ia akan meminta bantuan adik bosnya itu.
Sebuah mobil mini cabrio dengan atap terbuka melaju di depan Rissa, seorang lelaki muda mengenakan pakaian santai terlihat sangat berbeda dimata gadis itu.
Tampannya pak Rion, batin Rissa, matanya tak berkedip menatap lelaki yang tengah tersenyum padanya.
“Rissa, ayo naiklah.”
“Ah iya pak," ucapnya tersadar dari lamunan.
Mobil mulai berjalan, lincah di antara para pengendara lain, ia kembali menatap lelaki di sampingnya. Hatinya tak mampu berdusta, ia berandai-andai kalau saja Aksa juga bisa seramah ini, betapa sempurnanya lelaki itu.
Rissa menghembuskan nafas pelan, matanya kembali fokus pada jalanan.
“Sedang apa kamu tadi disana Ris?” tanya Rion memecah keheningan diantara keduanya.
“Ah, jalan-jalan pak,” jawab Rissa berbohong, tentu saja tidak mungkin gadis itu mengatakan kebenarannya.
“Rumahmu di sekitar sini?”
“Ya, ehmm..agak jauh pak.”
Rion tertawa, matanya tetap fokus pada jalan di depannya, “Kamu sudah sarapan Riss?”
“Belum pak.” Rissa sedikit malu mengatakan hal ini, namun rasa perih di lambungnya membuatnya tak mampu berdusta.
“Oke, kita sama. Bagaimana kalau kita sarapan bareng? aku akan mentraktirmu nasi pecel langgananku di sekitar sini.”
“Bapak juga makan pecel?” tanya Rissa seakan tak percaya.
“Ya, kenapa? ada yang salah dengan hal itu?”
“Tidak, saya kira orang kaya seperti bapak tak akan pernah makan pecel," jawabnya malu-malu.
“Apa maksudmu, aku bukan tipe pemilih dalam makanan. Aku suka semuanya.”
Rissa tersenyum mendengar hal itu, ia kembali teringat Aksa, betapa lelaki satu itu sangat pemilih, pernah sekali waktu ia diminta membeli ini itu, dan berakhir dengan kaki Rissa yang bengkak dibuatnya.
Tentu saja karena terlalu capek bolak balik kantor kedai, lantaran lelaki itu tak cocok dengan rasa makanannya.
Kalau diingat-ingat bukankah gadis itu terlalu sering mengingat Aksa. Ada apa dengannya?
“Selesai makan kamu ada acara Riss?” tanya Rion kembali membuat Rissa tersadar.
“Ehm… tidak pak.”
“Maukah kamu menemaniku pergi membeli kado ulang tahun untuk mamaku?” tanya Rion, memarkirkan mobil di depan sebuah warung makan.
“Boleh pak,” jawab Rissa. Merasa harus membalas kebaikan lelaki itu, yang telah mentraktirnya sarapan.
“Riss, panggil aku Rion. Kita tidak sedang bekerja.” Saran Rion, memandang Rissa dan tersenyum. Mobil telah terparkir, lelaki itu lantas mengajak Rissa untuk turun.
...*******...
Mana bisa aku memanggil dengan sebutan Rion tanpa embel-embel pak. Rasanya canggung sekali. Batin gadis itu tatkala atasannya tak bosan-bosan mengingatkan kesalahannya.
Kini mereka berdua berada dalam sebuah mall, mencari kado ulang tahun mama Rion.
“Riss, menurutmu apa yang cocok buat kado mamaku?”
“Apa ya pak? tas?”
“Pak lagi, pak lagi, aku setua itu ya Riss?” protes Rion, sedikit cemberut.
“Aduh, baiklah saya jujur. Nggak nyaman sekali kalau harus panggil nama pak, bapak kan memang atasan saya.”
“Ahh….aku kecewa. Tapi, ya sudahlah mana yang membuatmu nyaman,” ucapnya kemudian, mengalah pada wanita di depannya.
“Kalau tas mamaku sudah punya banyak Riss, gimana kalau perhiasan saja?” usul Rion kemudian.
Rissa mengangguk, tersenyum. Namun dalam hati berkomentar, buat apa tanya pendapat kalau ujung-ujungnya diputusin sendiri, dasar pak Rion.
Rion mengajak Rissa melihat lihat sebuah gelang emas, setelah beberapa menit akhirnya pilihan jatuh pada sebuah gelang berukuran kecil dengan model serut bagian ujungnya, pada bagian atas gelang terdapat aksen mutiara-mutiara kecil yang tertata indah.
Rion melakukan pembayaran, dan menerima paperbag berisi kotak kecil yang didalamnya terdapat gelang pilihan mereka.
“Terimakasih ya Riss kamu sudah luangkan waktumu untuk menemaniku.”
“Santai saja pak, saya tidak keberatan," jawab Rissa.
“Kamu aku antar pulang ya.”
“Ah, tidak perlu pak, saya sudah ada yang jemput.”
“Siapa?” tanya Rion penasaran.
“Teman saya pak, ini dia sudah ada di bawah nungguin. Kita pisah disini saja ya pak. Saya mau turun duluan. Terimakasih pak traktirannya,” ucap Rissa segera berlalu dari depan Rion, berjalan cepat menuju eskalator.
Gadis itu sesekali menoleh dan melambaikan tangan, dia memang telah meminta Mahesa untuk menjemputnya, sebelumnya jelas Clara yang dihubunginya, namun gadis itu tengah berada diluar kota, acara keluarga.
Rissa tak menyadari, kebersamaannya dengan Rion tengah diawasi oleh sepasang mata yang menyimpan dendam, berkilat penuh amarah. Mata yang sama dengan sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments