Kediaman Richard Dalvano.
"Pokoknya aku nggak mau ma, pa. Please, aku nggak mau dijodoh-jodohin begini." Mata wanita muda itu mulai berkaca-kaca, dadanya nampak naik turun menahan emosi yang terasa menyesakkan.
"El, dengerin mama dulu, maksud.."
"Mama juga, kenapa sih ikut-ikutan papa." tukasnya memotong ucapan sang mama.
"Apa kamu punya pacar Elena?" Pertanyaan Richard membuat kedua wanita didepannya reflek menoleh.
"Bukan begitu papa, Elena hanya, hanya." ucapan tercekat, setetes air jatuh membasahi pipi seputih salju dibulan Desember.
"Hanya apa? coba bicaralah El, agar papamu mengerti." Sang mama mencoba menengahi.
"Elena hanya ingin menikahi lelaki yang Elena cinta."
"Cinta bisa bertumbuh seiring waktu putriku, lihatlah mama dan papa. Bahkan kita dulu selalu bertengkar. Benarkan ma?" Richard Dalvano tersenyum simpul, mengingat masa masa mudanya bersama sang istri.
"Benar ucapan papamu El. Sudahlah jangan menangis."
"Minggu depan keluarga Axelle akan datang. Mereka ingin menemuimu. Meskipun ini pernikahan bisnis, papa tidak sembarang pilih untuk calon menantu papa. Untuk suami putri kesayangan papa."
Richard memilih pergi meninggalkan kedua wanita kesayangannya itu, memberikan kesempatan ibu anak untuk berbicara dari hati ke hati.
"Mama… " rengek gadis itu.
"Sudah, sudah. Turuti saja keinginan papamu, kalau sudah begini, papamu tak ingin dibantah. Mama sangat mengerti itu."
...******...
Diwaktu yang sama, namun berbeda tempat Rissa tengah mencoba peruntungannya, berjalan sejauh kaki melangkah, sekuat badan menahan, ia bertekad akan mendapat pekerjaan secepatnya.
Gadis berkulit sawo matang itu melirik cincin pemberian sang ayah, kado ulang tahunnya yang ke 20 tahun, sebulan sebelum pak Ridwan, ayah Rissa mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya meregang nyawa.
Cincin inilah satu-satunya harapannya untuk digunakan membayar terapi kaki adiknya esok lusa. Namun, untuk minggu-minggu selanjutnya entah apa yang akan digunakan.
"Ya tuhan, tolonglah aku. Pertemukan aku dengan orang baik yang akan menolongku mendapat kerja hari ini." Bisiknya lirih.
Gadis bermata coklat itu kembali menatap perusahaan besar yang ia lihat kemarin, rasa nyeri kembali menyapa hati nya, melihat perusahaan ini mengingatkan impiannya, juga nasib kuliahnya yang harus terhenti.
"Neng, dari kemarin bapak lihat neng lihatin gedung ini terus, ada apa neng? mau cari seseorang?" Suara lelaki paruh baya berseragam satpam mengejutkan Rissa.
"Ah, tidak pak. Saya, mau cari kerjaan, tapi kayaknya nggak bisa deh disini. Saya cuma lulusan SMA." Berbisik pelan saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Kebetulan neng, kayaknya ada lowongan kosong di bagian cleaning service neng, kalau neng mau bapak bisa antar ke bagian HRD."
"Serius pak? mau mau, saya mau pak. Saya sangat butuh kerjaan ini." Mata coklat gadis itu terlihat berbinar.
"Oke, mari neng, ikut saya."
Clarissa berjalan penuh semangat mengikuti langkah kaki satpam, ia merasa dewi keberuntungan telah berpihak padanya kali ini. Sebab mencari kerja hanya berbekal ijazah SMA sangatlah sulit. Apalagi di kota sebesar ini, mengingat ia yang tak memiliki banyak teman.
Satpam berambut putih itu hanya mengantar ke depan ruang HRD. Ia meminta Rissa untuk melanjutkan langkah sendiri. Gadis itu mengangguk setuju, setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.
Clarissa menarik nafas panjang, lantas menghembuskannya perlahan. Ia membuka kembali berkas yang dibawanya dari rumah, meneliti apakah ada kekurangan. Ia lantas tersenyum, berdoa pada tuhan, semoga dewi keberuntungan tak meninggalkannya pada detik-detik ini.
Mengetuk dan membuka pintu, Rissa melihat seorang wanita muda tengah duduk dibalik meja kerjanya. Kesan pertama yang ia dapat dari wajah wanita itu adalah, cantik. Semoga saja hatinya juga baik, harapnya sedikit cemas.
"Iya, ada yang bisa dibantu?"
"Maaf bu, ini benar ruang HRD ya?" tanya Rissa, mencoba bersikap sesopan mungkin.
"Iya benar, silahkan duduk."
Rissa mengangguk, ia mengambil posisi duduk persis didepan wanita yang diduganya berumur sekitar tiga puluhan ke atas itu.
"Perkenalkan saya Clarissa Diana, saya mau melamar sebagai cleaning service."
"Oh, baik. Boleh lihat berkasnya." ucap wanita tersebut, tampak ramah di mata Rissa.
Clarissa menyerahkan berkas yang dibawanya, ia menjadi sangat bersemangat, setiap pertanyaan yang diajukan padanya, dijawabnya dengan baik.
Wanita yang pada akhirnya memperkenalkan diri dengan nama ibu Susi itu memberikan informasi, bahwa keputusan diterima atau tidaknya Rissa akan segera dikabarkan lewat email.
Clarissa melihat ibu Susi berdiri dan mengulurkan tangan kanannya, gadis itu sedikit gugup, namun ia berusaha menguasai keadaan dengan menerima jabat tangan calon atasannya itu.
"Ditunggu kabar selanjutnya ya Rissa, semoga kita bisa bekerja sama kelak."
"Terimakasih bu, saya permisi dulu." ucap gadis bermata coklat dengan tatapan bersinar.
Rissa berjalan keluar dari bangunan pencakar langit itu, ia sangat senang. Bekerja di perusahaan sebesar ini adalah impiannya, meski untuk saat ini hanya bisa sebatas cleaning service. Tak mengapa pikirnya.
"Ini hanya batu loncatan Rissa, semangatlah!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
...******...
Ibu Warni terlihat sangat bahagia, pagi ini Clarissa mengatakan bahwa ia diterima bekerja menjadi cleaning service di sebuah perusahaan besar. Sang ibu menyiapkan masakan sederhana kesukaan putrinya di atas meja, nasi goreng masakan rumah ala bu Warni.
Rissa terlihat rapi, ia memakai kemeja putih berbalut blazer hitam. Juga celana berwarna senada dengan bagian atasnya. Rambut lurus sepundak yang ia biarkan tergerai, juga polesan make up tipis menambah kesan segar pada penampilannya pagi ini.
"Ibu, Rissa udah cantik?" Gadis itu berputar sejenak, memamerkan penampilannya pada sang ibu.
"Cantik sekali putri ibu." jawab ibu Warni memberikan dua jempol pada penampilan putrinya.
"Doakan Rissa ya bu, semoga hari pertama diberikan kelancaran."
"Selalu, doa ibu selalu menyertaimu."
"Terimakasih ibu, Rissa akan bekerja keras demi ibu dan Nindy." Rissa tampak bersemangat.
"Terimakasih kak. Semoga kakak selalu diberikan kemudahan."
Ketiga orang yang tengah menikmati nasi goreng panas di atas meja itu serentak mengucapkan Amin.
"Oh iya kak, nama perusahaan tempat kakak bekerja apa?"
"Axelle Group. Kerenkan? bahkan namanya saja terdengar sangat keren." ucapnya kegirangan.
Nindy tersenyum lebar melihat kakaknya yang bersemangat. Ia berjanji dalam hati, kelak kalau dirinya telah kembali sehat, ia akan tumbuh menjadi sehebat sang kakak, dan ia juga akan membalas semua kebaikan kakaknya selama ini.
...******...
Axelle Group.
"Nah teman-teman perkenalkan ini anggota baru kita. Namanya Clarissa Diana. Ia yang akan menggantikan Riko yang kemarin resign. Tolong perlakukan dia dengan baik ya, ajari dia segala hal yang belum diketahuinya." ucap ibu Susi pada beberapa rekan sesama cleaning service.
"Baik bu."
"Terimakasih." jawab ibu Susi, menatap Rissa dan berkata "ibu tinggal ya, selamat bekerja."
"Baik bu, terima kasih." Rissa menunduk sopan.
"Claris, aku panggil claris boleh ya." seorang lelaki yang terlihat lemah gemulai menyapa Rissa, "perkenalkan, aku Mahesa, panggil saja Isa." ucapnya seraya mengulurkan tangan, Rissa menyambut baik uluran tangan pria kemayu itu.
"Kenalkan aku Clara, nama kita hampir mirip, ngomong-ngomong kamu nggak usah kaget Ris, si Isa memang kayak gini orangnya." jawab wanita berambut pendek.
"Kenapa dengan aku, hmmm?"
"Agak letoy." Clara tertawa terbahak-bahak. Membuat Isa cemberut karenanya.
"Sialan kau Ra, awas ya."
"Sudah sudah, oke maaf." Clara memutuskan segera meminta maaf sebelum lelaki letoy disampingnya menjadi murka.
"Ris, ini seragam kamu ya, kamu bisa ganti di toilet. Dan untuk tugas pertama, kamu ikut aku dulu ya, biar nanti aku jelaskan."
"Baik Kak." jawab Rissa.
"Hey, panggil saja Clara, sepertinya kita sepantaran, biar bisa cepat akrab." ucap gadis itu seraya memberikan seragam baru Clarissa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments