Pov Skylar Lavina Geraldy part 2

Akhirnya selesai juga Skylar menangani banyaknya pasien di ruang Instalasi Gawat Darurat. Bahkan sampai malam begini.

Jam setengah sepuluh malam.

"Syukurlah selamat semua," tukas Cacha sambil menghembuskan nafas lega. Dia pun menuangkan air panas di kopinya dari dispenser yang tersedia. Setidaknya dia butuh kopi agar ngga ngantuk kalo pulang nanti.

Bukan hanya Cacha aja, Yuma, Otis, Sherly, bahkan Skylar juga melakukan hal yang sama.

"Sky, cerita, dong, gimana kencan kamu tadi," desak Yuma ngga sabar. Walaupun agak kecewa karena pasien tampan itu lebih memilih mengajak Skylar pergi berkencan.

"Iya, tadi kalian kenapa bisa langsung akrab gitu? Iri banget aku," lanjut Sherly agak melipat bibirnya.

"Kamu yang cuek banget malah jadi yang paling beruntung," tambah Cacha kemudian nyengir. Melirik kasian Yuma yang kini cemberut setelah mendengar ucapannya.

Padahal Yuma yang paling bersemangat mendekati pasien spesial itu. Dia ngga bisa menyembunyikan perasaan kecewanya.

"Sky, kamu harus jujur. Benar, kamu sama pasien tampan itu ngga saling kenal?" todong Yuma sambil menatap tajam Skyla.

Dia beneran penasaran. Padahal Skylar tadinya cuek dan ngga peduli. Tapi malah dia yang beruntung bisa makan siang bareng.

"Nggak," bohong Skylar. Tapi ngga sepenuhnya bohong, karena dia dan pasien yang sampai sekarang Skylar ngga tau namanya itu memang ngga saling kenal.

Tapi sialnya malah sudah saling berciuman. Ciuman keduanya yang direnggut paksa. Yang pertama saat dia hampir meninggal dunia karena tenggelam di kolam renang.

Tapi ciuman itu ngga akan disesalinya dan akan selalu dia kenang sebagai ciuman terendah sepanjang hidupnya.

Yang kedua ini membuat dia erus memaki kebodohannya, yang malah sempat membalas ciuman laki laki mabok itu.

Entah beruntung atau sial, mereka malah dipertemukan sebagai dokter dan pasien.

Karenanya dia jadi bermasalah dengan Yuma dan pengagum pasien itu yang sebagian besar adalah teman teman akrabnya di rumah sakit.

Tanpa sadar Skylar menghembuskan nafas kesal.

"Kalian ini para dokter malah suka numpukin nikotin dalam tubuh."

Skylar dan teman temannya tersenyum karena tau kalo barusan yang menegur mereka dokter Fadel, senior mereka yang sudah jadi dokter spesialis bedah.

Kebetulan dulu pernah jadi kating Skylar dan Cacha di fakultas kedokteran.

"Biar ngga ngantuk, pak dokter," sahut Sherly cuek kemudian menyesap kopinya.

'Tul," sahut Yuma dan Chaca kompak.

Harum kopi menyeruak di ruangan itu memang memanggil manggil mereka untuk menikmatinya.

Tapi Fadel menahan keinginannya. Bukan dia alergi kopi. Tapi karena dia sudah menghabiskan tiga cangkir. Itu rahasianya.

"Kalian pulang hati hati," tukas Fadel kemudian pergi meninggalkan pantry.

"Ya, dokter," sahut mereka berbarengan. Mereka.pun melambaikan tangan pada dokter idola tim medis.

Tampan, pintar, datar, angkuh, sedikit misterius, tapi sangat memperhatikan para pasiennya dan ngga pernah pilih pilih. Dia selalu disayang oleh pasien dan keluarganya.

Tapi ngga ada yang tau siapa dokter Fadel sebenarnya. Nama keluarganya pun ngga pernah di gunakan. Kesehariannya menggunakan motor balapnya saja. Juga ngga ada yang tau dimana dia tinggal. Dia memang banyak menyembunyikan hal hal.pribadinya.

Setelah menghabiskan kopinya, mereka pun jalan bareng ke parkiran.

"Kalian mau diantar aja?" tawar Otis, ngga tega melihat para hawa itu pulang sendiri. Apalagi sudah cukup larut juga. Hanya Skylar yang membawa mobil seperti dirinya. Yang lainnya menggunakan motor matic.

"Memangnya dinas besok mau dijemput?" ledek Cacha menggoda.

"Ya besok naek ojek atau taksi online saja," sahut Otis ringan.

"Dasar Otis gila."

"Otis Saraf."

"Ngga berperikemanusiaan." Hujat Cacha, Sherly dan Yuma kemudian terkekeh.

Otis hanya nyengir. Skylar tersenyum lebar.

Tapi langkah mereka terhenti melihat seorang laki laki yang selama ini dikagumi dan dipuja, berjalan mendekati mereka.

*

*

*

"Aku pulang duluan, ya." Eldar bangkit dari duduknya.

"Buru buru banget." Jayden nenatap heran.

"Aku mau istirahat."

"Oooh oke."

Setelah menepuk bahu Erland dan Jayden, Eldar beranjak pergi. Keduanya saling tatap dengan mmberikan kode

Eldar memang ingin rebahan, karena efek tabrakan beberapa hari yang lalu membuatnya masih merasa cukup nyeri pada bahunya.

Mobil sport yang dikendari oleh dirinya bukan hanya mengubah arah tujuan pulangnya, tapi malah singgah ke rumah sakit. Dia tau dirinya ngga akan mungkin bertemu lagi dengan dokter cantik itu, karena pasti mereka sudah pulang sejak sore tadi. Dan kalo ada pun dokter yang berbeda shift dengan mereka.

Tapi keberuntungan masih berpihak padanya. Eldar melihat rombongan dokter yang mendekati tempat parkiran kendaraan mereka.

Eldar yang sudah ngga sabar pun mendekat membuat langkah para dokter itu tertahan dan suara suara yang mereka perdengarkan tadi lenyap dibawa angin malam.

"Hai," sapanya ramah.

Tidak ada sahutan dari Skylar dan rombongannya, sampai sepuluh detik kemudian. Dia masih terpaku menatap sosok Eldar.

"Hai juga," sapa Yuma dan Cacha. Berbarengan. Tapi mereka sangat terkejut melihat kehadiran tiba tiba pasien tampan yang sudah membuat mereka meleleh.

"Ikut aku." Tangan kokoh Eldar meraih tangan kecil milik Skylar dan langsung membawanya pergi, diiringi tatapan patah hati teman temannya. Otis tertawa pelan sambil melambaikan tangannya pada Skylar.

"Aku bawa mobil," cicit Skylar ketika Eldar membukakan pintu mobilnya.

"Pengawalku yang akan mengantarnya."

Skylar terdiam.

"Mana kuncinya?" Eldar mengulurkan tangannya.

Bagai terhipnotis. Skylar menyerahkan kunci mobilnya pada Eldar.

Ngga lama kemudian seorang pengawal mendekat. Eldar memnberikan kumci mobil Skylar padanya.

"Ikuti kami."

"Siap tuan muda."

Mobil pun melaju pelan meninggalkan tatap tatap mata sarat makna kecewa dan patah hati.

"Kok, kamu bisa di sini?" Skylar menatap heran sekaligus deg degan. Sejak kedatangan Eldar yang tiba tiba sudah membuat jantung Skylar sangat ngga aman.

"Iseng aja. Ternyata aku masih beruntung," senyum Eldar dan sejenak melirik dokter cantik itu yamg ternyata sedang melihatnya.

Memang itu kenyataannya. Dia beruntung karena dokter utu ngelembur sampai malam

"Mau kuantar pulang atau mau kemana dulu?"

"Pulang. Udah malam banget."

" Rumah kamu di mana?"

Skylar menyebutkan alamatnya.

Eldar terdiam, teringat dulu sekali teman kecilnya juga tinggal di sana.

Matanya menatap Skylar dengan tatapan ngga terbaca.

"Ada apa?" Skylar merasa aneh.

"Dulu temanku tinggal di sana."

"Oooh."

"Nama kamu siapa?" Eldar menunggu jawabannya dengan jantung berdebar keras.

"Vina." Skylar tanpa sengaja memberikan nama tengahnya. Nama tengahnya itu keluar begitu saja dari bibirnya.

"Oooh." Walau merasa lega, tapi Eldar sedikit kecewa.

"Nama kamu siapa?' ganti Skylar yang bertanya.

Eldar menatap dalam.wajah Skylar membuat jantung gadis itu berdetak aneh.

"El."

"Hanya El?" reflek Skylar bertanya. Netranya kini balas menyorot seksama wajah pasien tampan di depannya.

"Just El."

Mereka saling menatap. Skylar sudah lupa wajah Eldar. Karena keluarga seperti menyembunyikan Eldar dari publik.

Lagi pula keluarga Jennifer sepertinya menghindari segala bentuk eksploitasi.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

judul part ini keren banget 👍

2023-12-04

1

Bunda'nya Alfaro Dan Alfira

Bunda'nya Alfaro Dan Alfira

nah pakai nama El aja ya thor biar enak bacanya

2023-11-24

1

Zea Rahmat

Zea Rahmat

duhh knapa ga bilang jujur aja sih namanya.. gregetan akuuu...

2023-11-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!